Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Serangan Fajar


__ADS_3

Lu terus menatap lekat wajah wanita cantik yang masih terlelap di sampingnya. Meski sudah bangun dari satu jam yang lalu, dia sama sekali tak ada niat untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya bangun sebentar membersihkan tubuh, setelah itu kembali naik ke ranjang. Terlalu manis untuk dilewatkan. Karena dua bulan yang lalu pemandangan indah inilah yang selalu menyambut indra penglihatan Lu saat pertama kali membuka mata. Briana-nya, gadis galak ini sekarang ada di hadapannya. Membuatnya jadi ingin berlama-lama menatap wajahnya setelah sekian lama erpisah.


"Kau terlihat menggemaskan sekali saat sedang diam begini, Bri. Aku suka," gumam Lu sembari menyusuri bibir Briana dengan jari telunjuk. Dia kemudian tersenyum saat wanita ini menggumam karena merasa terganggu akan ulahnya. "Kau tahu. Sejak kita berpisah aku selalu merindukan momen-momen seperti ini setiap hari. Dua bulan aku terbiasa menikmati pemandangan cantik dengan kau berada di sisiku, dan tiba-tiba saja kita dipisah oleh keadaan. Semua itu hampir membuatku menjadi gila, Briana. Tapi sekarang ... sekarang kau ada di sini bersamaku. Terima kasih karena sudah datang menemui pria pesakitan ini. Aku mencintaimu!"


Samar-samar mata Briana mulai terbuka saat dia mendengar ada seseorang yang sedang bicara. Terpaku, itu yang pertama dia rasakan ketika mendapati ada wajah tampan yang terpampang jelas di depan mata. Antara sadar dan tidak sadar, satu tangan Briana bergerak mengusap wajah tampan di hadapannya. Dia kemudian tersenyum, suka.


"Selamat pagi." Lu menyapa dengan lembut. Matanya kemudian terpejam, meresapi belaian tangan wanita yang belum sepenuhnya sadar. Ah, betapa manis pagi ini. Briana-nya memberikan sesuatu yang sangat Lu butuhkan. Dan tangan ini ....


Tangan ini ... sentuhan tangan ini sama persis dengan sentuhan tangan anak laki-laki itu. Pasti, pasti mereka ada hubungan. Aku harus segera mencaritahu.


Melihat Lu yang terus mengernyitkan kening, membuat Briana tersadar kalau pria idiot ini sedang tidak baik-baik saja. Trauma akan kejadian semalam, dengan cepat dia melompat turun dari atas ranjang kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sesampainya di sana Briana dibuat bingung karena lupa membawa sikat giginya. Segera dia berteriak bertanya pada Lu apakah di rumah itu ada sikat gigi baru atau tidak.


"Lu, aku lupa membawa sikat gigiku. Kau punya sikat gigi baru tidak?"


"Di dalam lemari. Kau ambillah," sahut Lu yang masih kaget karena Briana tiba-tiba melompat turun dari ranjang. Dia kemudian berbaring telentang, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum kecil. "Betapa bahagianya jika kebersamaan ini bisa berlangsung selamanya. Aku pasti akan menjadi pria paling beruntung karena beristrikan wanita berisik seperti Briana. Hmm,"


Di dalam kamar mandi, Briana dengan cepat menyikat gigi dan membasuh wajah. Setelah itu dia buru-buru keluar kemudian menghampiri Lu yang sedang tersenyum tidak jelas. Aneh sekali. Bukannya tadi pria idiot ini sedang kesakitan ya? Kenapa sekarang malah berkamuflase seperti orang gila? Membuat heran saja.


"Kenapa menatapku seperti itu, Bri? Ada yang salahkah?" tanya Lu bingung.


"Ya. Kau!" jawab Briana. "Kau kenapa cepat sekali berubah ekpresinya. Tadi aku melihatmu mengernyitkan kening seperti sedang menahan sakit, tapi kenapa begitu aku keluar dari kamar mandi kau malah sedang asik tersenyum-senyum sendiri. Kau tidak gila kan, Lu?"


Tangan Briana kemudian terulur ke arah keningnya Lu. Setelah itu dia menempelkan punggung tangan ke pantat, mengukur perbedaan suhu tubuh mereka lewat cara jitu. "Oh, panasnya sama rata. Seharusnya sih kau tidak sedang sakit!"

__ADS_1


"Briana?"


"Apa?"


Lu menghela nafas. Dia kemudian duduk, menatap lekat wajah Briana yang terlihat manis meski tak memakai riasan.


"Ayo kita menikah!"


Plaaakkk


"Woaaahhhh, sepertinya cara yang tadi kugunakan sudah tidak akurat lagi. Fikss, kau gila, Lu!" amuk Briana setelah menggeplak lengan Lu. Kaget sekali dia saat pria idiot ini tiba-tiba mengajaknya untuk menikah. Sambil berkacak pinggang, Briana mengomeli Lu yang baru saja mengucapkan kata-kata melantur. "Lu, aku tahu kau sedang sakit. Tapi tidak begini juga caranya. Kau pikir aku ini apa hingga semudah itu kau mengajakku menikah, hah?"


"Aku menyukaimu. Dan rasa ini aku sudah tak mampu lagi untuk membendungnya. Aku ingin kau menjadi milikku, Briana. Milik yang hanya aku seorang yang berhak. Aku sudah jatuh cinta sejak awal kau mengulurkan tangan untuk menolongku. Kau sangat berharga untukku, dan aku tidak mau lagi kita terpisah. Aku ingin terus melihatmu berada di sisiku setiap aku membuka mata, dan aku juga ingin kau menjadi orang terakhir yang aku lihat sebelum memejamkan mata. Aku mencintaimu, Briana. Sangat mencintaimu!" ucap Lu dengan lantang menyatakan perasaannya. Sudah kepalang tanggung, jadi sekalian saja dia mengungkapkan isi hati.


Haduhh, bagaimana ini. Kenapa mulutku tiba-tiba kram. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Astaga, jantungku. Ayo cepat berdetak yang kuat supaya aku pingsan. Ayo cepat!"


"Briana?" Lu kembali memanggil. Dia lalu meraih satu tangan Briana ketika melihatnya hanya berdiri diam tak menjawab. Lu tahu kalau wanita ini terkejut mendengar pengakuannya, tapi dia tak berniat untuk mengulur waktu. "Aku tahu mungkin pengakuanku terlalu mengejutkanmu. Tapi Briana, bisakah kau memberikan jawabannya sekarang juga. Dan aku harap kau jangan berkata tidak kepadaku. Oke?"


"Lu, bisakah kau memberiku kesempatan untuk bernafas sebentar? Kau ... kau bagaimana bisa membuat pengakuan di saat-saat seperti ini? Bukankah seharusnya itu dilakukan dengan suasana yang syahdu dan romantis ya? Kenapa harus sekarang? Lihat. Bahkan kutu yang tinggal di rambutku masih belum bangun. Bagaimana sih!" protes Briana antara malu dan juga gugup. Dia yakin sekali kalau wajahnya pasti sudah berubah menjadi merah padam karena Lu terus menatapnya lekat. Briana salah tingkah sendiri jadinya.


"Seperti apapun keadaanmu, di mataku kau tetap terlihat cantik, Briana. Dan mengenai suasana syahdu dan romantis, aku janji suatu hari nanti aku pasti akan mengulang momen ini di tempat yang jauh lebih baik. Akan tetapi untuk sekarang, tolong terima pengakuanku yang sederhana ini. Aku ingin kita menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Bisakah?" sahut Lu penuh harap. Dia kemudian tersenyum melihat semburat merah di wajah Briana. "Kau cantik saat sedang malu-malu begini. Aku suka,"


Briana meng*lum senyum. Tubuhnya tak berhenti bergerak karena salah tingkah setelah di puji cantik oleh Lu.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Kau mau tidak menjadi kekasihku?" tanya Lu tak sabar ingin segera mendengar jawaban atas pengakuannya.


"Aku tidak tahu," jawab Briana pelan. Mendadak dia jadi seperti putri keong yang langsung mengkerut saat ada yang menyentuhnya. Untung Julia sedang tidak ada di sana. Kalau ada, pasti sahabat tengiknya itu akan langsung mengejeknya habis-habisan. Biasalah. Si biang onar.


"Baiklah. Aku anggap itu sebagai persetujuanmu. Mulai hari ini kau resmi menjadi kekasihku!"


"Haa??"


Briana membeo kaget. Kapan-kapan dia menyebutkan kata setuju? Astaga.


"Haruskah kita membuat nama panggilan khusus untuk menunjukkan pada semua orang kalau sekarang kita adalah pasangan kekasih?" iseng-iseng Lu bertanya. Dia lalu menyentak kuat tangan Briana sehingga membuat tubuh wanita ini berpindah duduk ke atas pangkuannya. "Aku ingin semua orang tahu kalau kau sudah resmi menjadi milikku. Kau tidak keberatan, bukan?"


"Lu, kau kenapa jadi agresif begini. Aku kan jadi malu," ucap Briana dengan kepala tertunduk. Dia malu sekali duduk dengan kondisi intim begini. Membuat jantungnya berlompatan tidak jelas saja.


"Tapi kau suka 'kan?"


"Tidak. Siapa yang bilang begitu?"


"Aku," Lu menjawab sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga Briana. Dia kemudian berbisik. "Aku mencintaimu. Terima kasih sudah datang dalam hidupku. Aku mencintaimu, Briana,"....


Ya Tuhan, tulang-tulang di tubuhku seperti meleleh. Bagaimana ini? Aaaaaa, kenapa Lu jadi manis begini sih. Akukan jadi berna*su ingin menerkamnya. Ya ampun,...


***

__ADS_1


__ADS_2