Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Terbongkar


__ADS_3

"Tuan Gavriel, bagaimana?" tanya Wildan begitu melihat atasannya datang. Segera dia mendekat saat pria ini menggerakkan jari. "Semuanya baik-baik saja, kan?"


"Bahkan kelewat baik kalau kau mau tahu," jawab Gavriel seraya tersenyum puas. "Akhirnya teka-teki ini berhasil terbongkar juga, Wil. Sekarang kita hanya tinggal menunggu hasil tes DNA-nya keluar. Doakan saja semoga hasilnya nanti sama seperti yang kita harapkan!"


"Tes DNA? Maksud Anda Nona Briana dan Nyonya Jenny ... mereka sudah saling tahu tentang rahasia itu?" kaget Wildan.


"Tidak hanya Briana dan Nyonya Jenny saja, tapi Tuan Hendar juga. Rahasia ini tak sengaja terbongkar setelah aku memberitahu Nyonya Jenny kalau Tuan Hendar itu tak pernah menolak kalaupun harus mempunyai anak perempuan. Dan kau tahu tidak Wil apa penyebab Nyonya Jenny memberi nama Briana sebagai Kellen Origan?"


Wildan menggeleng. Dia menunggu dengan seksama kelanjutan dari perkataan atasannya ini.


"Ternyata dulu kedua orangtua Tuan Hendar memberitahu Nyonya Jenny kalau Tuan Hendar akan memberikan anaknya pada orang lain jika terlahir dengan jenis kelamin perempuan. Karena panik dan ketakutan, Nyonya Jenny beserta dokter yang menanganinya sepakat untuk melakukan kebohongan. Itulah kenapa Briana yang kukenal dua puluh tahun lalu berpenampilan seperti laki-laki. Dia adalah korban dari kekejaman yang dilakukan oleh Kakek dan Neneknya sendiri. Kasihan!"


"Astaga, kejam sekali mereka. Berarti selama ini Nyonya Jenny sudah salah paham pada Tuan Hendar. Ckck, aneh. Bagaimana mungkin ada orangtua yang tega ingin merusak rumah tangga anaknya sendiri. Saya benar-benar tak habis pikir dengan hal ini, Tuan!" sahut Wildan seraya menggelengkan kepala. Fakta tentang teka-teki Kellen dan Nona Briana sungguh sangat mencengangkan.


"Mau bagaimana lagi. Tuhan menciptakan manusia dalam berbagai rupa dan perangai. Mungkin ini sudah menjadi nasib Briana harus terlahir dari sebuah fitnah yang sangat kejam. Yang tidak bersalah harus menanggung kesalah-pahaman selama berpuluh tahun lamanya. Sedang pelakunya mati tanpa meminta maaf ataupun memberi penjelasan. Benar-benar kisah yang cukup menyayat hati. Semoga saja Tuhan mau mengampuni dosa yang telah dilakukan oleh kedua orangtua Tuan Hendar!"


Gavriel menghela nafas panjang setelah berkata demikian. Agak terenyuh dengan nasib kekasihnya yang sedikit tragis.


"Oya, Tuan Gavriel. Apa Anda sudah memberitahu Nona Briana kalau sebenarnya ingatan Anda sudah pulih semua?" tanya Wildan penuh rasa ingin tahu.


"Belum, Wil. Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu Briana tentang keadaanku sekarang. Tadi di sana suasananya kurang cocok untukku mengaku. Briana sedang syok, aku takut dia mengamuk jika tahu kalau aku sudah tidak jujur padanya!" jawab Gavriel. "Nanti saja setelah hasil tesnya keluar dan Briana sudah bersedia untuk menerima kehadiran Tuan Hendar dan Nyonya Jenny di hidupnya. Saat itulah aku baru akan mengaku dan meminta maaf atas kebohongan ini. Aku tidak ingin menambah bebannya dulu."


"Ah, Anda benar juga, Tuan. Nona Briana pasti akan sangat terkejut sekali jika mendengar hal ini. Dia ....


"Oh, ternyata dugaanku memang benar kalau kau itu sebenarnya sudah sembuh ya, Kak. Pantas belakangan ini aku selalu merasa aneh dengan sikapmu. Rupanya kau sedang pura-pura sakit ya!"


Erzan yang mendengar laporan dari bawahannya kalau sang kakak berada di ruangan Wildan bergegas datang untuk mengajak bicara. Akan tetapi saat hendak masuk ke ruangan ini, Erzan mendengar sebuah pengakuan yang membuatnya merasa bahagia sekali. Dia akhirnya akan segera terbebas dari penderitaan ini dan bisa kembali bertani seperti sebelumnya. Namun karena kesal telah di bohongi, Erzan memutuskan untuk mengerjai kakaknya saja. Dia lalu berpura-pura marah sebelum masuk ke dalam ruangan.


"Sejak kapan profesimu berganti jadi tukang menguping, Er?" tanya Gavriel santai. Dia sama sekali tak merasa khawatir karena sekarang Erzan sudah mengetahuinya kondisinya.


"Sejak beberapa menit yang lalu," jawab Erzan. Dia lalu duduk di sebelah kakaknya. Niat hati ingin berpura-pura, malah tak tahan untuk tidak menunjukkan raut kelegaannya. Sambil tersenyum lebar Erzan bertanya pada sang kakak kapan dia akan di izinkan untuk kembali menekuni hobinya. "Kak Gavriel, sekarang kan kau sudah sembuh. Jadi kapan kau akan aktif kembali di perusahaan? Kasihan sayur dan buah yang sudah terlanjur aku tanam, Kak. Aku ingin segera menyapa mereka semua. Boleh ya?"


"Rencanaku masih belum berhasil semua, Er. Jadi besar kemungkinan kau masih akan berada di perusahaan sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Jadi maaf ya. Aku masih belum bisa membebaskanmu dari jurang penderitaan ini. Harap bersabar!" sahut Gavriel dengan tengilnya mengerjai Erzan. Dia memang belum berencana kembali ke perusahaan dulu sebelum masalah Briana benar-benar terselesaikan. Juga karena Gavriel yang sedang mengatur siasat untuk menangkap tikus got yang berniat merebut Under Group dari tangannya.

__ADS_1


"Apa? J-jadi aku masih akan terkurung di neraka menyebalkan ini?"


Erzan syok. Mulutnya sampai terbuka lebar begitu dia mendengar jawaban sang kakak.


Bagaimana ini. Aku benar-benar sudah tidak tahan terus berada di perusahaan. Siapapun tolong aku. Tolong bawa aku lari dari tempat ini. Aku mohon ....


Wildan terlihat menahan tawa menyaksikan Tuan Erzan yang frustasi karena masih belum bisa kembali ke hobi lamanya. Jujur, dia sebenarnya merasa kasihan. Akan tetapi Wildan juga tidak mungkin membiarkannya pergi tanpa seizin atasannya. Jadi ya sudah, tega tidak tega Wildan hanya bisa membantu lewat doa saja.


"Kak, bermurah hatilah sedikit. Tolong biarkan aku pergi. Aku benar-benar sudah akan mati kering di sini. Tolonglah, Kak. Silahkan ambil kembali posisimu lalu biarkan aku menjadi petani biasa. Oke?" ucap Erzan membujuk sang kakak. Dia sampai mengatupkan kedua tangannya ke atas demi agar di izinkan untuk pergi.


"Bahkan belum ada satu tahun kau memimpin Under Group dan kau sudah memohon sampai seperti ini? Lalu apa kabar jika nanti aku sampai membuka cabang baru dan memerintahkanmu untuk memimpin di cabang tersebut? Aku rasa kau bisa mati bunuh diri di sana!" olok Gavriel merasa sangat lucu melihat kelakuan adiknya. "Orang di luaran sana berbondong-bondong ingin merebut Under Group dari tanganku, tapi kau? Kau malah lebih memilih untuk menjaga petani biasa. Apa kau tidak ingin hidup mewah seperti yang lain, hem?"


"Sejak kecil aku sudah hidup berkecukupan, Kak. Dan itu membuatku merasa bosan. Ini bukan karena aku tidak bersyukur ya, bukan. Tapi aku mengatakannya karena aku menginginkan hal yang baru di hidupku. Lagipula apa salahnya dengan menjadi seorang petani. Panen yang ku hasilkan merupakan jerih payahku sendiri. Dengan begitu aku bisa meraih untung dan menikmatinya dengan penuh suka cita. Benar, kan?"


Jawaban Erzan sukses membuat Gavriel merasa bangga sekali. Di tepuknya kuat bahu sang adik yang terlihat bahagia saat menceritakan hobinya.


"Erzan, aku salut dengan pemikiranmu. Akan tetapi di luaran sana ada seorang wanita yang hanya mau jatuh cinta pada pria kaya. Jika wanita ini sampai berbalik menyukaimu, apa kau tidak takut wanita ini lari gara-gara hobimu yang suka bertani sayuran, hem?" tanya Gavriel penuh maksud tersirat. Sebentar lagi istrinya Wildan melahirkan, jadi Gavriel terpikir untuk menjodohkan Erzan dan Julia. Dengan begini wanita mesum itu tidak akan mengganggu Wildan lagi.


"Wanita yang hanya mau jatuh cinta pada pria kaya?" Erzan membeo sambil mengerutkan kening. "Lalu apa urusannya denganku, Kak? Di negara ini ada banyak sekali pria kaya, kenapa harus hobiku yang di pertanyakan? Tidak sopan sekali wanita ini. Siapa dia!"


"APA??"


Kali ini Wildan benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya lagi melihat reaksi Tuan Erzan yang langsung memekik kuat begitu nama Julia di sebut. Rasakan. Akhirnya ada orang lain juga yang bisa menggantikan posisinya di hati wanita srigala itu. Wildan lega sekali.


"Kak, wanita gila itu menyukai Wildan, kenapa sekarang jadi aku yang menjadi korban. Tidak mau tidak mau. Aku paling tidak suka dengan jenis wanita seperti Julia. Amit-amit!" teriak Erzan histeris sendiri.


"Benci dan cinta itu bedanya hanya setipis kertas, Erzan. Hati-hati saat menyebut kedua hal ini," sahut Gavriel santai.


"Mau itu setipis kertas kek, setipis uang kek, masa bodo. Pokoknya aku tidak akan pernah mau di jodohkan dengan Julia. Wanita itu untuk Wildan saja. Aku tidak sudi!"


"Maaf, Tuan Erzan. Tapi saya sudah menikah dan sebentar lagi akan segera mempunyai anak. Mustahil untuk saya berbagi cinta dengan wanita lain," sambung Wildan segera menegaskan kalau dia tak mau berurusan dengan Julia. Wildan trauma.


"Lantas kau bisa seenaknya mengoper wanita itu untukku? Tidak bisa, Wildan. Kau adalah orang pertama yang di sukai oleh Julia, bukan aku. Ingat itu!"

__ADS_1


Sambil bersungut-sungut Erzan memilih pergi dari ruangan Wildan. Dia tidak tahan jika harus di jodoh-jodohkan dengan Julia. Enak saja. Erzan tentu punya selera tersendiri soal wanita, dan yang pasti adalah wanita normal.


"Sembarangan saja ingin menjodohkan aku dengan Julia. Tidak Kak Gavriel, tidak Ibu. Kenapa sih mereka seperti terobsesi pada wanita itu. Memang kelebihan apa yang Julia miliki sampai mereka begitu kekeh ingin menjadikannya sebagai bagian dari keluarga Anderson? Heran!"


Sepeninggal Erzan, tawa Gavriel dan Wildan meledak.Mereka puas sekali bisa mempermainkan petani itu.


"Tuan Erzan pasti sedang marah sekali sekarang. Selama inikan dia tidak pernah berurusan dengan wanita. Harga dirinya pasti terluka setelah Anda berniat menjodohkannya dengan Julia," ucap Wildan.


"Biar saja, Wil. Lagipula Ibu juga mengizinkan kalau Erzan menikah dengan Julia. Aku hanya sekedar memperlancar keinginan orangtua saja," sahut Gavriel masih sambil menahan tawa. "Julia adalah sahabat kesayangan Briana. Kalau mereka bisa menjadi ipar, aku yakin rumahku pasti akan menjadi sangat ramai. Benar tidak?"


"Benar sekali, Tuan. Dan Nyonya Helenalah yang akan menjadi orang paling bahagia di sini. Secara, beliau begitu menginginkan anak perempuan."


Gavriel mengangguk. Sedetik kemudian tatapannya tiba-tiba berubah dalam. Sosok Gavriel Anderson muncul.


"Wildan, mari kita cari tahu tikus mana yang sedang coba-coba ingin menggeser posisiku di perusahaan ini. Harga diriku bisa menurun jika Tuan Hendar sampai tahu aku tak becus menyelesaikan masalah ini. Aku takut urusannya akan berdampak pada hubunganku dengan Briana!" ucap Gavriel tegas mengajak Wildan untuk mulai menyelesaikan satu-persatu masalah yang muncul semenjak dia sakit.


"Anda tidak perlu risau, Tuan. Saya sudah meminta seseorang untuk menyelidiki masalah ini. Kita hanya tinggal menunggu hasilnya saja!" sahut Wildan yang sudah bergerak lebih dulu sebelum atasannya bicara.


"Hmmm, kau memang yang paling bisa di andalkan, Wildan. Aku bangga memiliki bawahan yang gesit sepertimu. Sebagai hadiahnya, nanti aku akan memberikan sesuatu saat anakmu lahir. Em, kapan tanggal persalinannya?"


"Mungkin tidak akan lama lagi karena semalam istri saya mengeluh kalau perutnya mulai sakit."


"Benarkah?"


"Iya, Tuan. Tolong bantu doakan agar persalinan istri saya nanti bisa berjalan dengan lancar dan bayi kami terlahir dengan selamat."


Segera Gavriel bangun dari duduknya kemudian memeluk Wildan dengan erat. Dia lalu menepuk punggungnya, ikut bahagia karena sebentar lagi calon keponakannya akan segera lahir.


"Aku doakan semoga anak dan istrimu sehat dan baik-baik saja sampai proses melahirkan selesai. Dan untukmu Wil, selamat. Sebentar lagi kau akan resmi menjadi seorang ayah. Selamat!"


"Terima kasih banyak, Tuan Gavriel. Dan selamat juga untuk Anda karena Anda akan segera menjadi seorang Paman," sahut Wildan penuh haru.


"Hahh, aku ternyata sudah tua ya," seloroh Gavriel seraya mengurai pelukan. "Nanti pulanglah lebih awal. Istri dan anakmu jauh lebih membutuhkanmu dari pada aku. Oke?"

__ADS_1


Wildan mengangguk. Dia tak henti mengucapkan kata terima kasih pada atasannya yang sudah sangat pengertian. Sungguh bahagia dia bisa mengenal bos sebaik Gavriel Anderson ini. Hidup Wildan banyak terberkahi.


***


__ADS_2