
Gavriel dan Wildan menatap seksama ke arah gedung yang sudah rusak parah hingga hanya menyisakan puing-puing bangunan yang juga diselimuti lumut tebal. Keduanya saat ini tengah berada di lokasi tempat di mana dulu Gavriel pernah menyaksikan dan juga mengalami sesuatu yang sangat amat mengerikan. Di sana, di dalam gedung itulah Gavriel bertemu dengan Briana kecil yang juga adalah Kellen, anak Tuan Hendar dan Nyonya Jenny. Tujuan Gavriel mengajak Wildan kemari adalah untuk mencari serpihan ingatan yang hilang, juga untuk mencari alasan kemana dan siapa yang telah menyelamatkan Briana dua puluh tahun lalu.
"Tuan Gavriel, anda baik-baik saja, kan? Bagaimana dengan kepala anda?" tanya Wildan memastikan. Di saku jasnya ada sebotol obat yang sudah dia persiapkan untuk jaga-jaga kalau atasannya ini akan kembali kesakitan. Walau sudah mengaku sembuh, tapi tidak ada salahnya bukan jika tetap bersiaga? Wildan tak mau terjadi hal buruk pada atasannya ini.
"Wil, aku ini sudah sembuh. Berhentilah mengkhawatirkanku. Oke?" jawab Gavriel sambil menoleh ke samping. Dia kemudian tersenyum mendapati ada gurat kekhawatiran yang begitu besar di wajah asistennya. "Jangan cemas. Aku baik-baik saja!"
"Saya hanya tak mau anda kesakitan lagi, Tuan. Tempat ini pernah menyisakan memori yang sangat kelam di hidup anda, saya takut anda akan kembali kehilangan ingatan seperti yang sudah-sudah!"
"Iya aku tahu, tapi kau tenang saja. Buktinya sekarang tidak terjadi sesuatu padaku!" sahut Gavriel kemudian menepuk pundak Wildan. "Aku punya Briana, Wildan. Dia adalah obat dari semua penyakit yang kuidap selama ini. Jadi jika seandainya aku kambuh, kau hanya perlu membawaku pergi menemuinya saja. Di jamin aku pasti akan langsung sembuh!"
Wildan terkekeh. Agak konyol perkataan atasannya satu ini. Meski begitu, Wildan tak bisa menampik fakta kalau Nona Briana adalah obat dari penyakit amnesia yang selalu muncul ketika atasannya melihat sesuatu yang berhubungan dengan kasus penculikan dua puluh tahun silam. Ingin tak percaya, tapi kenyataan yang ada di depan mata menyebutkan demikian. Hmmm.
"Kita masuk?" ajak Gavriel membuyarkan lamunan Wildan. Dia sudah tidak sabar untuk segera mencari serpihan ingatan tentang kebersamaannya dengan Briana kecil.
"Baik, Tuan. Silahkan!"
Dengan langkah pasti Gavriel dan Wildan berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan. Dan hal pertama yang menyambut kedatangan mereka adalah munculnya segerombol kelelawar dan juga burung liar yang langsung kabur dari sana. Pandangan Gavriel kemudian tertuju pada sisa garis polisi yang masih terpasang di salah satu ruangan yang ada di gedung tersebut. Di sana, di dalam ruangan itulah Gavriel menyaksikan secara langsung bagaimana anak-anak lain di habisi dengan sangat keji.
__ADS_1
"Tuan Gavriel, kalau anda merasa tidak nyaman, lebih baik kita keluar saja. Anda baru sembuh, jangan terlalu di paksakan untuk mengingat. Oke?" ucap Wildan yang malah fokus memperhatikan atasannya ketimbang dia melihat suasana di dalam gedung.
"Tidak ada hal lain yang aku rasakan selain rasa sakit membayangkan penderitaan yang di alami oleh anak-anak tak berdosa itu, Wil. Kasihan mereka. Saat itu kami semua di biarkan kelaparan berhari-hari. Dan sekalinya di beri makan, pria itu memberi kami roti yang sudah basi. Roti itu juga yang menjadi tanda kalau salah satu dari kami akan segera di bunuhnya. Coba kau bayangkan. Tidak memakan roti yang sudah berjamur kau pasti kelaparan. Akan tetapi jika memakannya, maka kau harus siap kehilangan nyawa. Menyedihkan sekali, bukan?" sahut Gavriel mengenang masa-masa sedih nan mencekam di tempat ini. Karena usianya sudah sepuluh tahun saat di culik, Gavriel bisa mengingat jelas semua rentetan kejadian pada masa itu.
"Pelaku adalah korban kekerasan dari orangtuanya, Tuan. Motif pelaku menculik, menyekap kemudian membunuh anak-anak adalah karena dia merasa iri melihat anak-anak lain hidup bahagia. Secara perasaan, pelaku tidaklah bersalah karena dia sendiri adalah korban. Akan tetapi dengan menghilangkan nyawa anak-anak yang tidak bersalah merupakan tindakan yang sangat luar biasa kejam. Jelas hukum dunia tak bisa mentolerir perbuatannya itu. Dari informasi yang saya tahu, awalnya semua keluarga korban menuntut agar penculik itu di hukum mati saja. Namun, pengadilan menolak hal tersebut karena kejiwaan penculik itu sangat terganggu. Dia akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit jiwa, lalu tak lama kemudian meninggal dengan cara yang membuat orang menggelengkan kepala!" ucap Wildan memberitahu latar belakang si penculik. Karena selama ini atasannya paling tidak bisa mendengar ataupun melihat yang berhubungan dengan kejadian dua puluh tahun silam, jadi semua orang sengaja tak memberitahunya tentang hasil penyelidikan si pelaku. Dan baru sekarang inilah Wildan berani menceritakannya, itupun belum semua. Dia takut atasannya syok.
"Apapun alasannya tindakan pria itu sangat tidak bisa di benarkan. Anak-anak dibunuh dengan cara yang sangat tidak manusiawi sekali. Wajar jika orangtua korban menuntut hukuman mati!" sahut Gavriel seraya menghela nafas panjang. Sedetik setelahnya tiba-tiba ada senyum tipis yang tersungging di bibir. "Tapi Wil, harus aku akui sebab pertemuan itulah aku bisa bertemu dengan Briana. Ini aku katakan bukan karena aku merasa senang atas kematian anak-anak itu, bukan. Akan tetapi aku merasa bersyukur karena berkat tragedi itulah aku dan Briana bisa bersama seperti sekarang. Waktu itu aku berusaha membantunya untuk lari dari petaka dan membiarkan diriku di hajar habis-habisan oleh si penculik. Lalu Tuhan mengirim penyakit aneh sampai di mana aku akhirnya di pertemukan kembali dengan orang yang telah kuselamatkan dalam kondisi lupa ingatan. Jika tidak, sampai matipun aku rasa aku tidak akan pernah bisa sembuh. Juga tak bisa mempercayai orang lain selain kau dan keluargaku. Benar tidak?"
"Meski berat mengakuinya, tapi yang anda katakan ada benarnya juga. Berkat pertemuan anda dengan Nona Briana anda akhirnya bisa menerima masa lalu tanpa harus kesakitan. Mungkin memang benar kalau ini adalah cara Tuhan menunjukkan garis jodoh untuk anda, Tuan," sahut Wildan ikut tersenyum melihat binar kebahagiaan di wajah atasannya.
"Kita masuk ke sana?" ajak Gavriel seraya menunjuk tempat eksekusi.
Pelan tapi pasti, Gavriel melangkah masuk ke dalam ruangan yang menyimpan kisah kelam di dalamnya. Dan secara perlahan juga semua ingatan mulai muncul satu-persatu. Namun, kali ini Gavriel menanggapinya dengan biasa saja tanpa harus ada drama kesakitan ataupun pingsan.
Sayang, lihatlah. Aku sekarang sudah kuat menerima nasib buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Kau bantu do'akan saja agar aku bisa segera menemukan penyebab mengapa Tuan Hendar dan Nyonya Jenny tidak memanggilmu dengan sebutan Briana, tapi Kellen. Aku janji begitu aku menemukan alasannya, aku akan langsung membawamu pergi bertemu dengan mereka. Pasti.
"Kadang jika di pikir-pikir Tuhan itu sangat aneh ya, Wil. Scenario yang dia buat sama sekali tak bisa di tebak," ucap Gavriel sambil mengelus dinding yang dulu menjadi saksi bisu di ruangan tersebut. "Tuhan seolah mengikat perasaan kami lewat kejadian dan juga rahasia yang belum terbongkar. Tanpa kuasanya, aku tak yakin waktu itu aku dan Briana bisa selamat dari pembunuhan!"
__ADS_1
"Itulah kekuatan Tuhan, Tuan Gavriel. Karenanya kita wajib bersyukur atas segala kebaikan yang telah Tuhan beri," sahut Wildan membenarkan.
"Kau benar. Nanti setelah latar belakang Briana berhasil terungkap, aku berniat membangun yayasan gratis untuk pendidikan mental anak-anak. Khususnya bagi mereka yang pernah menjadi korban kekerasan dan juga pelecehan, baik itu secara fisik maupun batin. Kasihan mereka. Gara-gara menjadi korban, mereka sampai harus berubah menjadi monster. Miris sekali!"
"Saya sangat setuju sekali, Tuan. Dan juga ....
"Dan juga apa?"
Gavriel menoleh. Dia menunggu lanjut dari perkataan Wildan.
"Jika benar terbukti kalau Nona Briana adalah anaknya Tuan Hendar, itu artinya anda akan menjadi menantu dari seorang mafia minyak, Tuan," ucap Wildan sambil meng*lum senyum. "Fakta ini membuat saya mengerti mengapa sikap Nona Briana bisa begitu brutal dan tidak takut pada apapun. Ternyata karena dia adalah ....
Puk
Wildan terdiam saat bahunya di tepuk oleh atasannya. Mereka saling menatap sebelum akhirnya mengucapkan kata yang sama tentang Briana.
"Briana anak mafia. Hahahhahaa!"
__ADS_1
***