
Erzan pulang dari kantor dengan kondisi yang terlihat begitu lelah. Dasinya sudah terbuka, tapi masih bertengger di kerah bajunya. Sambil menenteng tas di tangan kiri, Erzan melangkah masuk ke dalam rumah. Dan ketika hendak menaiki tangga, dia di buat heran saat tak sengaja mendengar suara cekikikan seseorang. Penasaran, dia memutuskan untuk melihat siapa pelakunya.
Eh, Julia. Apa yang sedang dilakukannya malam-malam begini sampai bisa tertawa seperti itu. Dia tidak sedang kerasukan, kan?
Saat ini di hadapan Erzan ada seorang wanita yang tengah menungging sambil membenamkan wajah ke sofa. Entah apa yang tengah dilakukan oleh Julia hingga berprilaku sedemikian rupa di ruangan yang cukup terbuka. Aneh, benar-benar sangat aneh. Baru kali ini Erzan bertemu wanita yang sama sekali tak mempedulikan image buruk di hadapan orang lain, termasuk pria sekalipun. Kadang-kadang dia sampai mempunyai keinginan untuk membongkar isi kepala Julia kemudian memeriksa ada kelainan apa di sana. Erzan terlalu penasaran melihat sikap Julia yang begitu blak-blakan, tak seperti wanita lain yang begitu manis menjaga sikap saat bertemu pria tampan.
"Ekhmmm-ekhmmmm!"
Tawa Julia terhenti. Seolah tahu siapa yang baru saja berdehem, dia kembali melanjutkan tawanya yang sempat terhenti. Otomatis sikapnya itu membuat Erzan merasa di abaikan. Kesal, dia akhirnya memukul pantat Julia menggunakan tas berisi laptop yang di bawanya.
Bug
"YAKKKK!" Julia memekik kuat. Segera dia duduk kemudian melayangkan tatapan membunuh pada pria yang baru saja melakukan kekerasan terhadap bokong seksinya. "Cihh, kau lagi kau lagi. Padahal tadi aku sudah berusaha mengabaikan keberadaanmu, tapi kenapa kau malah membuat masalah. Apa sih maumu sebenarnya?"
“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau tidak sedang menonton film dewasa, kan?” cecar Erzan penuh selidik. Dia kemudian melongok ke arah layar ponsel Julia yang masih menyala, ingin memastikan hal aneh apa yang membuat wanita ini bisa tertawa begitu lucu.
“Memang apa salahnya kalau aku menonton film dewasa? Umurku sudah hampir dua puluh enam, wajar jika aku menonton film seperti itu. Dasar suka ikut campur urusan orang kau. Pergi sana. Mengganggu saja!” omel Julia seraya membalik layar ponsel menghadap sofa, tak membiarkan perusuh ini melihat apa yang tengah di tontonnya. “Sana pergi. Aku bosan melihat ketampananmu yang pas-pasan itu. Membuat sakit mata saja. Huh!”
Bukannya pergi, Erzan malah dengan sengaja duduk di sebelah Julia. Setelah itu dia menyender ke sofa sambil memejamkan mata. Lelah, lelah sekali. Andai bisa meminta, ingin rasanya Erzan pergi melarikan diri dari pekerjaan kantor yang kian menyiksa. Sungguh, tak pernah Erzan mengira kalau di dalam bisnis ada kalanya tubuh wanita di gunakan sebagai barter demi sebuah kerjasama. Dan hal inilah yang siang tadi di temuinya. Beralasan ingin memenangkan tender kerjasama dengan Under Group, seorang klien rela menawarkan putri mereka untuk menghangatkan ranjang Erzan. Tidakkah menurut kalian itu sangat gila? Seorang ayah tega menggadaikan kehormatan putrinya sendiri hanya demi uang. Ya Tuhan, sepertinya zaman sudah semakin tua di mana manusia tak lagi mempedulikan tentang moral yang baik. Hmmm.
“Erzan, kau kenapa? Tumben sekali tidak lanjut berdebat denganku. Sedang patah hati ya?” tanya Julia seraya menatap lekat Erzan yang tengah memejamkan mata.
“Aku sedang lelah, jangan mencari masalah dulu. Bisa?” sahut Erzan.
__ADS_1
“Ck, akukan hanya bertanya saja. Siapa juga yang ingin membuat masalah. Dasar aneh!”
“Kalau begitu diamlah.”
“Kau yang diam. Pergi sana!”
Kesal, Julia mencubit lengan Erzan dengan maksud agar pria menyebalkan ini segera pergi dari hadapannya. Dia ingin lanjut menonton rekaman video yang di ambilnya diam-diam saat Lu dan Briana sedang bermesraan setelah makan malam tadi. Hayoooo, kalian pasti sudah berpikir kalau Julia sedang menonton film biru, kan? Dasar mesum.
“Julia, jika seandainya kau melihat ada seorang ayah yang rela menjadikan putrinya sebagai alat untuk memperlancar bisnis, kira-kira apa yang akan kau lakukan? Membunuhnya atau malah mempergunakan kesempatan itu untuk kebutuhan pribadimu?” tanya Erzan yang tiba-tiba ingin berbagi cerita dengan wanita menyebalkan yang duduk di sebelahnya. Dia kemudian membuka mata, terkejut saat mendapati wajah Julia yang berada sangat dekat dengan wajahnya. “Yakkk, apa yang sedang kau lakukan hah? Ingin melecehkanku atau bagaimana? Membuat orang kaget saja.”
“Dengar baik-baik perkataanku ini ya, Erzan Anderson. Sekalipun kau bertelanjang di hadapanku, seujung kukupun aku tidak akan pernah berna*su untuk menidurimu. Karena apa? Karena aku sudah memiliki pria lain yang seribu kali lebih pantas kujadikan sebagai fantasi mesumku. Jadi jangan pernah berpikir kalau aku memiliki niat untuk melecehkanmu. Tahu?” amuk Julia jengkel. Setelah itu Julia menyipitkan mata, merasa curiga kalau Erzan telah mengambil keuntungan dari wanita yang tadi di ceritakannya. “Kembali ke ceritamu. Sekarang cepat beritahu aku apakah kau telah meniduri wanita itu atau belum. Karena jika dilihat dari raut kelelahan di wajahmu, kau seperti baru saja menggarap ladang selama tiga jam tanpa henti. Jadi sekarang aku minta kau segera bicara jujur sebelum aku membuat kepalamu benjol. Cepat bicara!”
Erzan terperangah tak percaya mendengar perkataan Julia yang malah menuduhnya telah meniduri wanita. Benar-benar sembarangan. Menyesal dia karena telah berbagi cerita kepada wanita ini.
“Kalau kau bukan tamu di rumah ini, aku pasti sudah meminta penjaga untuk menyeretmu keluar dari sini. Mulutmu itu benar-benar ya, Julia. Akukan bilang apa pendapatmu jika melihat ada seorang ayah yang tega menjadikan putrinya sendiri sebagai alat tukar demi memperlancar bisnisnya. Kenapa kau malah menuduhku sudah meniduri wanita itu. Bagaimana sih!”
Apa?? Begitu saja marah? Ya Tuhan, tolong jauhkan wanita tulalit seperti Julia dari hidupku. Amit-amit.
Julia berdehem pelan saat Erzan terus menatapnya galak. “Kalau dari sudut pandangku, aku pasti akan langsung menghajar ayah yang telah menjual putrinya padamu. Secara, aku adalah wanita penganut paham bahwa pria tak bisa seenaknya menindas kaum kami. Jadi begitu melihat ada ketidakadilan yang di alami oleh klan kami, maka aku tidak akan ragu untuk menghajar orang tersebut. Karena tidak sepantasnya seorang ayah memperjualbelikan masa depan putrinya sendiri hanya demi memenuhi ambisinya menjadi orang kaya. Ingat, harta itu tidak di bawa mati, tapi amal kebaikanlah yang akan menyertai. Itu pendapatku!”
“Tidak kusangka ternyata kau bisa juga berpikiran dewasa. Aku pikir kau bisanya hanya berprilaku tidak jelas dan juga galak. Ada sisi terangnya juga ternyata,” puji Erzan yang merasa takjub akan pendapat yang dilontarkan oleh Julia. “Aku sangat setuju dengan pendapatmu, Julia. Tidak seharusnya seorang ayah menjadi perantara hancurnya masa depan putri mereka. Sebagai sesama pria, aku merasa prihatin sekali akan hal ini. Semoga saja nanti saat aku menjadi seorang ayah aku bisa melakukan tugasku dengan benar. Doakan ya?”
“Memangnya kau berani menikah?”
__ADS_1
Julia langsung menghindar saat Erzan ingin menggeplak kepalanya. Dia kemudian tertawa lebar saat pria ini bersungut-sungut tidak jelas karena jengkel mendengar ejekannya. Sambil bersedekap tangan, Julia memposisikan diri agar bisa duduk dengan nyaman. Setelah itu dia lanjut mengajak Erzan berbincang. Lumayanlah untuk mengisi malamnya yang kesepian setelah tadi di abaikan dengan begitu kejam oleh Wildan.
“Tipe wanita seperti apa yang ingin kau jadikan sebagai istri, Er?” Iseng-iseng Julia bertanya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Selama ini tak pernah sekalipun aku menjalin hubungan dengan wanita. Aku hanya menghabiskan waktu untuk menekuni hobiku berkebun dan bertani. Jadi memiliki pacar adalah sesuatu yang tak pernah ku pikirkan,” jawab Erzan jujur mengakui kalau dia masih perjaka luar dalam.
“Jadi kau afekir ya?”
“Afekir?” Kening Erzan mengerut. “Apa itu?”
“Semacam julukan yang biasanya di peruntukan bagi kaum pria yang tidak laku,” jawab Julia sambil menahan tawa.
Hehehe, dan julukan itu khusus aku buatkan untukmu seorang, Erzan. Hahhaha.
“Sialan. Aku bukan tidak laku ya, tapi aku yang tidak mau menjalin hubungan. Sembarangan!” protes Erzan tak terima.
“Itu sama saja bodoh. Tidak perlu mengelak,” sahut Julia dengan santai. Dia lalu mengalungkan tangan ke bahu Erzan. “Kalau aku yang ada di posisimu, aku pasti akan memilih wanita berdada besar dan juga berbokong sintal untuk ku jadikan istri. Jadi saat pergi menghadiri acara pernikahan orang lain aku bisa memamerkan keseksian kekasihku pada semua teman-temanku. Di jamin orang-orang pasti akan langsung meneteskan air liur mereka jika melihat wanita berspek gitar spanyol. Coba saja jika tak percaya!”
Erzan menoleh. Dia tak percaya Julia mampu berkata semesum itu di hadapannya. Sungguh sial sekali nasib pria yang akan menjadi kekasihnya kelak. Erzan jadi prihatin.
Tak mau otaknya tercemari hal-hal 21++, dengan cepat Erzan mendorong Julia menjauh kemudian beranjak pergi dari sana. Dia kehabisan kata untuk menggambarkan tentang kepribadian wanita itu.
Sementara itu Julia yang di tinggal oleh Erzan terlihat tengah tersenyum-senyum tidak jelas. Akhirnya dia menemukan kelemahan Erzan yang ternyata tidak kuat mendengar perkataan yang menjurus pada hal dewasa.
__ADS_1
“Hehehe, akhirnya aku menemukan cara jitu agar Erzan tak lagi berani menggangguku. Ah, senang sekali rasanya,” ujar Julia kemudian lanjut menonton video di ponselnya. Dan tidak butuh waktu lama untuknya kembali terkikik lucu melihat Briana yang mendadak berubah seperti wanita bodoh saat Lu mendekatkan wajah ingin menciumnya. “Briana-Briana, tidak kusangkan perempuan galak sepertimu bisa luluh juga pada pria idiot seperti Lu. Aku doakan semoga malam ini kalian sukses membuat adonan cendol ya. Dengan begitu aku bisa cepat menjadi satu-satunya bibi dari pewaris keluarga Anderson. Ahai!!”
***