
Wildan datang pagi-pagi sekali ke kediaman keluarga Anderson setelah semalam dia mendapat kabar kalau pria amnesia itu telah sembuh sepenuhnya. Meski sudah tak sabar ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri, Wildan masih berusaha untuk bersikap normal. Dia ingat betul kalau sang atasan melarangnya memberitahu orang-orang kalau ingatannya sudah kembali seperti semula. Jadi dia bersikap seperti biasa agar tidak memancing kecurigaan.
"Tumben sekali kau datang sepagi ini, Wil. Ada apa?" Dary bertanya seraya melayangkan tatapan heran pada Wildan yang baru saja datang. Segera dia melipat koran yang sedang di bacanya kemudian menatapnya lekat. "Semua baik-baik saja, kan?"
"Selamat pagi, Tuan Dary," sapa Wildan sopan. Setelah itu dia baru menjawab "Semuanya aman terkendali, Tuan. Saya datang sepagi ini karena ingin membawa Tuan Gavriel pergi lebih awal untuk melakukan terapi. Kemarin beliau pingsan, jadi dokter menjadwalkan ulang pertemuan mereka untuk mengganti pengobatan yang kemarin. Begitu!"
"Oh, aku pikir ada apa. Membuat orang kaget saja kau."
"Maaf jika sikap saya membuat anda merasa tidak nyaman."
"Sudah jangan meminta maaf. Lagipula aku hanya bercanda, kenapa malah kau tanggapi. Dasar."
Dary kemudian meminta Wildan untuk langsung masuk ke kamar Gavriel saja. Sedang dia sendiri kembali lanjut membaca koran. Tak lama seperti Wildan pergi, Erzan keluar dari dalam kamar. Wajah kusutnya tak bisa menutupi kalau dia benar-benar sedang stres luar dalam.
"Ibu dimana, Ayah?" tanya Erzan sambil celingukan kesana kemari mencari keberadaan sang ibu. Dia kemudian duduk, menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kuat. Bosan sekali rasanya. Lagi-lagi dia bertemu pagi yang mana akan mengantarkannya kembali berhadapan dengan tumpukan berkas pekerjaan. Astaga. Sungguh menyebalkan hidup sebagai orang kaya. Sama sekali tidak enak.
"Di jam seperti ini memangnya Ibumu akan pergi kemana kalau bukan bertapa di dapur bersama teman-temannya yang lain," jawab Dary asal.
"Bertapa di dapur bersama teman-teman? Memangnya sedang ada tamu ya di rumah kita?"
"Dasar bodoh. Pantas kamu menjadi petani. Hal begini saja kau tidak paham. Erzan-Erzan, kau ini sebenarnya anak siapa sih. Heran!" gerutu Dary kesal karena putranya tak bisa menangkap maksud dari apa yang dia katakan barusan.
Sebelah mata Erzan menyipit kecil. Rasanya agak janggal saat dirinya di sebut bodoh oleh ayahnya sendiri. Padahal Erzan tak merasa kalau dirinya berbuat salah. Herman.
"Ayah, kenapa Ayah mengataiku bodoh? Akukan bertanya baik-baik tadi. Memangnya ada tamu yang datang ke rumah kita ya? Apa yang salah?" protes Erzan gondok. Wajahnya langsung berubah masam karena merasa tak terima di katai seperti itu. Enak saja. Melakukan kesalahan apapun tidak, seenak jidat sang ayah menyebutnya bodoh. Jelas dia jengkellah. Bagaimana sih.
__ADS_1
Mendengar protes yang dilayangkan oleh putranya membuat Dary terpaksa melipat kembali koran yang sedang dia baca. Setelah itu Dary menunjuk ke arah dapur, mencoba menjelaskan mengapa dia sampai menyebutnya bodoh.
"Begitu keluar dari kamar, Ibumu akan langsung bertapa di dapur. Maksudnya adalah sibuk menyiapkan sarapan untuk semua orang. Lalu teman-teman yang Ayah maksud adalah para pelayan yang bekerja di rumah ini. Kau itu lupa atau pura-pura pikun Er sampai tidak tahu kalau hubungan antara Ibumu dengan para pelayan sudah seperti teman arisan. Di sela-sela kesibukan mereka menyiapkan makanan, segerombolan wanita itu akan sibuk juga menggibahkan hidup orang lain. Sekarang sudah paham?"
"Oohh, bilanglah dari awal kalau teman-teman Ibu yang Ayah maksud adalah para pelayan di rumah kita. Akukan jadi tidak bingung," sahut Erzan seraya membulatkan bibir begitu sang ayah memberi penjelasan. "Lagipula kenapa juga Ayah menjuluki mereka seperti itu. Wajarlah kalau aku berpikir sedang ada tamu di rumah kita. Iya, kan?"
"Terserah apa katamu sajalah. Ayah sedang malas berdebat."
"Merajuk?" ledek Erzan. Kedua alisnya terus bergerak naik turun, sengaja dia lakukan untuk menambah kekesalan ayahnya. Hehehe.
"Ayah sudah tua. Untuk apa merajuk," sahut Dary tak merasa terprovokasi. Dia santai saja melanjutkan membaca koran. Mengabaikan Erzan yang terus saja meledeknya.
Sementara itu di dalam kamar, Wildan dan Gavriel sedang terlibat perbincangan yang sangat serius. Karena sekarang kondisi Gavriel sudah kembali seperti semula, Wildan sudah tak perlu berhati-hati lagi dalam berucap. Dia kini tengah membahas tentang orang-orang yang mencoba menggunakan kesempatan untuk merongrong dana di perusahaan. Termasuk juga dengan beberapa bawahan yang memiliki niat buruk dengan menyebarkan gosip tak sedap karena atasannya tak kunjung muncul memimpin Under Group.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan melakukan sesuai dengan yang anda arahkan saja," sahut Wildan patuh. Setelah itu dia memperhatikan atasannya dengan sangat seksama. Mencoba mencari tahu bahwa yang semalam dia dengar bukanlah hanya mimpi semata. "Tuan Gavriel, apakah anda benar-benar sudah pulih total? Kepala anda sakit tidak?"
Gavriel tersenyum. Sudah tak heran melihat reaksi Wildan. Sambil merapihkan pakaiannya, Gavriel memberitahu Wildan kalau dia telah sembuh sepenuhnya. Bahkan sudah tak merasakan sakit lagi ketika dia mengingat tentang kejadian penculikan dua puluh tahun silam.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini lagi, Wil. Saat ini keadaanku benar-benar sudah pulih total. Dan tentang ingatan itu, aku relaks saja saat memikirkannya. Sama sekali tidak merasakan sakit seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya," jawab Gavriel meyakinkan Wildan agar tak mengkhawatirkan kondisinya lagi.
"Apa anda yakin?"
"Tentu saja. Tubuh ini aku yang memilikinya. Jadi mana mungkin aku salah merasakan. Benar tidak?"
"Umm, mungkin."
__ADS_1
Pandangan Gavriel berubah menjadi dalam saat teringat dengan nama Kellen. "Wil, Briana adalah Kellen, dan Kellen adalah Briana. Aku yakin pasti ada alasan mengapa Nyonya Jenny membiarkan dua nama berada di satu tubuh yang sama. Semalaman aku berpikir alasan apa sekiranya yang cukup menjadi titik sebab kejadian hingga Briana kecil harus di panggil dengan nama Kellen. Dan yang aku temukan cukup mencengangkan!"
"Kalau boleh tahu apa itu, Tuan?" tanya Wildan penasaran.
"Antara Tuan Hendar yang menolak memiliki anak perempuan, atau karena Nyonya Jenny yang berada dalam tekanan seseorang. Bisa sajakan hal seperti itu terjadi di dalam keluarga berlatar belakang tak biasa seperti mereka?"
Wildan diam mencerna perkataan Tuan Gavriel. Benar juga. Hal semacam itu bisa saja terjadi mengingat kalau Tuan Hendar berasal dari keluarga berkuasa. Memikirkan hal ini Wildan jadi tertarik untuk menyelidikinya. Di hatinya muncul satu keyakinan bahwa memang benar kalau Nona Briana adalah anak mereka.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan? Haruskah kita menyambangi kediaman mereka lagi?" tanya Wildan penuh antusias.
"Terlalu kentara kalau kita datang secara langsung setelah apa yang terjadi saat kau berada di rumah mereka. Lebih baik kita pikirkan cara lain saja yang sekiranya bisa lebih efektif tanpa menimbulkan kecurigaan," jawab Gavriel kurang setuju dengan ide yang di sampaikan oleh Wildan. Dia mengerutkan kening, menimang cara apa yang bisa memudahkannya bertemu dengan Nyonya Jenny. "Atau jika tidak begini saja, Wil. Kau mintalah seseorang yang punya pengalaman mengintai tanpa ketahuan, lalu perintahkan dia untuk mengawasi pergerakan di rumah itu. Dan begitu mereka menampakkan diri di tempat umum, kita akan bergerak seolah-olah pertemuan itu terjadi karena ketidaksengajaan. Dengan begini Tuan Hendar pasti tidak akan merasa curiga kalau kita memang ingin bertemu dengan mereka. Bagaimana? Menurutmu ini terlalu mencolok tidak?"
"Saya rasa ide ini adalah yang paling efektif untuk mengurangi tingkat kecurigaan Tuan Hendar, Tuan. Baiklah. Nanti saya akan mencari orang yang tepat untuk menyelesaikan misi ini," sahut Wildan merasa puas akan ide yang dilontarkan oleh atasannya.
"Ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang. Antarkan aku ke tempat penculikan itu terjadi. Aku ingin memecahkan masalah ini dimulai dari sana!"
"Anda yakin bisa melakukannya?" Wildan khawatir. Dia takut atasannya akan kembali sakit jika mendatangi tempat yang pernah menjadi mimpi buruknya.
"Demi Briana aku yakin pasti bisa melewatinya. Karena semuanya dimulai dari tempat itu, maka jika ingin mengakhirinya aku harus kuat kembali dari titik awal itu sendiri. Percayalah. Semuanya pasti baik-baik saja. Oke?"
Gavriel menepuk bahu Wildan kemudian mengajaknya pergi dari sana. Mereka beralasan sudah membuat janji temu dengan dokter saat di tanya oleh Erzan yang kala itu hendak masuk ke kamar. Setelahnya Gavriel pergi menemui kedua orangtuanya yang sedang bercanda di dapur. Dia kemudian pamit.
Briana, do'akan agar aku bisa secepatnya menyelesaikan masalah ini, sayang. Aku sudah tidak sabar menantikan hari penyatuan kita. Hmmmm.
***
__ADS_1