
Hendar terus menggenggam erat tangan Jenny sambil sesekali mengecupnya penuh perasaan. Kepanikan yang sejak tadi mendera hati tak kunjung pergi, padahal Jenny sudah ditemukan tanpa ada luka. Tapi tetap saja, Hendar masih resah ketakutan. Tadi saat mereka sedang berjalan-jalan di luar rumah, entah sebab apa Jenny tiba-tiba berlari meninggalkannya. Hendar yang saat itu sedang membeli minuman kaget setengah mati melihat istrinya pergi begitu saja. Karena dia tidak membiarkan penjaga mengikutinya, dia jadi kehilangan jejak. Alhasil Hendar terpaksa menyebar banyak anak buah guna mencari kemana Jenny pergi. Setelah beberapa jam terkungkung dalam kepanikan, para penjaga akhirnya berhasil menemukan wanita ini. Hendar lalu segera membawanya pulang ke rumah karena saat itu Jenny sudah dalam keadaan pingsan. Bukan tidur, tapi hilang kesadaran. Entah apa yang terjadi, Hendar belum bertanya pada anak buahnya. Terlalu enggan untuk meninggalkan Jenny sendirian di dalam kamar ini.
Tok tok tok
“Masuk!” ucap Hendar tanpa melihat ke arah pintu. Dia tetap fokus menatap wajah Jenny saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
“Maaf mengganggu, Tuan Hendar. Saya ingin melaporkan sesuatu kepada anda. Ini tentang pekerjaan,” ucap seorang penjaga seraya menundukkan kepala.
“Kecilkan suaramu, bodoh. Tidak lihat kalau istriku sedang terlelap?” tegur Hendar dingin. Ah, ini gila. Bagaimana mungkin orang yang sedang pingsan bisa terbangun hanya karena mendengar percakapan orang lain? Sepertinya Hendar mulai tidak waras.
Si penjaga mengangguk. Tak mau mengganggu istirahat sang Nyonya, dia memutuskan untuk berbisik di samping telinga bosnya saja. Sebagai seorang bos minyak, wajar jika ada masalah besar yang terjadi di kala pikiran sedang tidak fokus pada bisnis. Dan inilah yang coba di sampaikan oleh penjaga tersebut. Sejak sang Nyonya mau berbicara, jadwal pekerjaan bosnya menjadi kacau balau. Semua orang di buat kewalahan menghadapi tekanan pekerjaan yang di abaikan begitu saja. Kendati demikian, mereka sama sekali tak berani membuka mulut. Bisa mati di panggang hidup-hidup mereka nanti jika mafia minyak ini sampai merasa tersinggung.
Menanti selama dua puluh tahun lamanya pastilah bukan sesuatu yang mudah. Semua orang berusaha untuk maklum. Akan tetapi akhir-akhir ini keadaan bisnis sedang tidak baik-baik saja. Terpaksa salah satu penjaga mewakilkan keresahan semua orang datang menghadap pada bos mereka. Dan di sinilah dia sekarang. Berusaha sehati-hati mungkin menyampaikan permasalahan yang sedang terjadi agar mafia ini tak terpancing emosi.
“Hmmmm, jadi seperti itu ya. Katakan pada mereka semua agar jangan khawatir. Dan untukmu, cari sampai dapat si pembuat onar itu. Lakukan negosiasi, tekan mereka dengan ancaman. Jika melawan, langsung habisi saja. Aku sedang tidak mood datang ke perusahaan. Jadi masalah ini aku serahkan pada kalian sepenuhnya!” ucap Hendar seraya membuang nafas berat. Beruntung karena dia sedang tidak berselera membunuh orang, jadi perusuh itu bisa selamat dari kematian. Coba saja Jenny sedang tidak dalam kondisi seperti ini. Hendar pasti sudah pergi menghampiri orang itu kemudian mengirimnya langsung ke alam baka.
“Tapi Tuan Hendar, perusahaan sedang sangat membutuhkan anda sekarang. Kami tahu anda sedang fokus pada kesembuhan Nyonya Jenny, tapi jika anda masih belum menunjukkan wajah di hadapan mereka yang bermasalah, saya tidak menjamin persoalan ini bisa di selesaikan dengan cara baik-baik. Jadi saya har ….
Sraaakkkkkkk
Dengan marah Hendar mencengkeram leher bawahannya yang sudah lancang memerintah. Matanya memerah, dia tersinggung. Tanpa mengendurkan cengkeramannya, Hendar mengancam akan membunuh si penjaga jika masih berani memprovokasi kemarahannya.
“Sepatah kata saja kau masih bernyali memerintahku, percaya tidak kalau aku akan langsung meledakkan kepalamu detik ini juga. Gila, matamu buta atau bagaimana hah! Baru saja aku bisa mendengar suara Jenny setelah dua puluh tahun dia mendiamkan aku, lalu dengan lancangnya kau memintaku agar fokus pada pekerjaan? Bajingan! Kau membuatku sangat marah. Dasar k*parat!” amuk Hendar dengan mata berapi-api. Otot di seluruh tubuhnya menegang semua saking dia merasa jengkel. Benar-benar ya.
“M-maafkan sa-saya, T-Tuan. S-s-saya tidak bermaksud me-menyinggung anda. S-saya min-minta maaf. S-saya salah!” cicit si penjaga ketakutan. Wajahnya memucat seketika.
“Enyah dari hadapanku sekarang juga sebelum aku berubah pikiran kemudian membu ….
“Hendar?”
Suara lirih seseorang membuat tubuh Hendar membeku seketika. Secepat kilat dia melepaskan cengkeraman tangannya kemudian berpindah duduk ke sisi ranjang. Jenny sadar, istrinya sudah bangun.
“Sayang, bagaimana keadaanmu sekarang. Apa ada yang sakit?” tanya Hendar sambil menatap lekat istrinya yang sedang mengerjap-ngerjapkan mata. Dia kemudian menoleh ke belakang, memelototkan mata pada penjaga yang masih belum pergi di sana. “Bisakah kau keluar dari kamar ini? Istriku baru saja sadar. Jangan mengacau!”
__ADS_1
“B-baik, T-Tuan. S-saya permisi!”
“Ya, pergilah.”
Jenny memperhatikan penjaga yang berjalan dengan sangat cepat saat akan keluar dari dalam kamar. Setelah itu Jenny mencoba bangun. Dia lalu tersenyum saat Hendar membantunya mencari posisi nyaman dengan cara menyusun bantal di belakang punggung.
“Terima kasih,” ucap Jenny lirih.
Hendar tertegun. Istrinya mengucapkan kata terima kasih? Ini kemajuan. Hendar lalu menggelengkan kepala, tak membiarkan dirinya hanyut dalam uforia kebahagiaan.
“Aku haus. Bisa tolong ambilkan air minum yang ada di belakangmu tidak?”
“Ha?”
“Aku haus,” ucap Jenny mengulang perkataannya. Sadar kalau suaminya linglung, dia segera mengelus lengannya pelan. Pria ini masih sama tampannya seperti dulu. Jenny menyukainya. “Jangan khawatir. Aku sekarang sudah baik-baik saja. Jauh lebih baik dari yang sebelumnya malah. Sungguh!”
“Sayang, aku sangat takut kau kenapa-napa. Kau tidak sedang menyembunyikan apapun dariku, kan?” tanya Hendar resah. Sikap istrinya mendadak jadi aneh, sangat berbeda dari dua bulan lalu di mana biasanya hanya akan bicara seperlunya saja. Tapi hari ini? Istrinya bahkan mampu berterima kasih dan juga meminta tolong. Walaupun senang akan perubahan tersebut, tapi Hendar juga takut terjadi sesuatu. Dia gelisah.
“Memangnya apa yang harus ku sembunyikan darimu, Hendar. Tidak ada rahasia apapun,” jawab Jenny seraya tersenyum tipis.
“Kau haus, kan?” Hendar mencoba untuk tidak memperpanjang masalah dengan mengalihkannya pada pembicaraan lain. Dia kemudian mengambil gelas yang berada di atas meja. “Ini, minumlah. Perlahan saja.”
Dengan senang hati Jenny menerima gelas tersebut kemudian menyesapnya perlahan. Sejuk, itu yang dia rasakan saat air mulai membasahi kerongkongannya. Setelah puas, Jenny kembali memberikan gelas tersebut pada Hendar. Dia kemudian tersenyum, merasa bahagia sekali teringat dengan pertemuannya dengan Briana.
“Kau tersenyum?” Hendar bertanya seraya mengerungkan kedua alis. Aneh, kali ini sikap Jenny benar-benar sangat aneh. Belum pernah Hendar melihat wanita ini tersenyum sejak dua puluh tahun terakhir. Dan sekarang? Jenny tiba-tiba tersenyum tanpa sebab. Terlalu janggal untuk tidak di pertanyakan.
“Hendar, terima kasih karena sudah membawaku pergi jalan-jalan hari ini. Berkatmu aku jadi menemukan kebahagiaan yang sudah sangat lama tidak aku rasakan. Aku senang sekali,” jawab Jenny sambil tersenyum semringah. Dia lalu menangkup kedua pipinya sendiri, tak tahan saat mengingat betapa hangat saat dia memeluk tubuh putrinya.
“Sayang, kau sebenarnya kenapa. Tolong jangan membuatku takut. Ceritalah. Ya?”
“Apanya sih yang harus di takutkan. Lihat, aku baik-baik saja, kan?”
“Iya aku tahu. Tapi bibirmu terus saja menyunggingkan senyum. Ada apa, hem? Beritahu aku!” desak Hendar memaksa. Dia ketar ketir sendiri melihat senyum Jenny yang bertambah semakin lebar setelah dia mendesaknya agar bicara.
__ADS_1
Bak tak ada beban, Jenny malah melangkahkan kaki hendak turun dari ranjang. Sontak perbuatannya itu membuat Hendar kaget bukan kepalang. Segera di tangkapnya kedua kaki itu lalu kembali dinaikkan kembali ke atas ranjang. Jenny yang melihat hal tersebut dengan santainya tertawa kemudian mendekap tubuh suaminya. Sudah dua puluh tahun lebih berlalu, tapi tubuh pria ini masih saja kekar. Sepertinya Hendar sangat rajin berolahraga selama ini.
“Jenny, please. Katakan ada apa. Kau kenapa terlihat sangat bahagia setelah tersadar dari pingsan? Apa yang terjadi, hem?” tanya Hendar kembali membujuk sambil dia mengelus punggung wanita yang begitu di cintainya. Jujur, saat ini jantungnya berdetak tak beraturan. Pikirannya di penuhi dugaan-dugaan aneh yang merujuk pada kesehatan mental sang istri. Mungkinkah Jenny seperti ini karena merasa tertekan? Atau mungkin Jenny jadi seperti ini karena merasa kalau putra mereka masih hidup? Kurang lebih seperti itulah pemikiran yang ada di benak Hendar, yang mana membuatnya resah seperti akan mati.
“Kau tahu, Hendar. Tadi saat kita sedang berjalan-jalan, sebuah suara muncul dan memintaku berlari menuju suatu arah. Awalnya tak kuhiraukan, tapi semakin lama suara bisikan itu terdengar semakin jelas. Karena aku penasaran, aku memutuskan untuk mengikuti suara tersebut. Lalu aku tak sengaja menabrak seorang gadis. Dia cantik sekali. Tubuhnya juga sangat hangat. Aku suka memeluknya,” jawab Jenny tanpa ragu menceritakan pertemuannya dengan Briana. Andai saja Hendar tahu kalau Kellen sebenarnya bernama asli Briana, dia pasti akan merasakan suatu kebahagiaan yang begitu besar sekarang. Sayang sekali Hendar menolak menerima kehadiran putri mereka. Jadi ya sudah, Jenny menceritakan hal ini dengan sangat tenang karena suaminya tidak tahu kalau gadis yang sedang dia ceritakan sebenarnya adalah anak mereka.
“Gadis?” Kening Hendar mengerut. “Jadi suara itu berasal dari dia?”
“Bukan, bukan gadis itu yang berbisik,”
Tapi itu adalah suara bisikan batin sepasang anak dan orangtua yang sudah sangat lama terpisah. Tuhan yang melakukannya agar kami bisa bertemu kembali.
“Oke, aku paham. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Apa kalian saling berbagi nama?” tanya Hendar mencoba untuk memahami cerita Jenny. Walau terasa aneh, tapi dia berusaha untuk tidak mematahkan perkataannya. Biar saja. Selagi tidak berbahaya maka Hendar akan membiarkan.
Jenny mengurai pelukan kemudian mengusap pelan wajah pria yang begitu di cintainya ini. Ingin rasanya dia berkata kalau antara dia dan Briana tidak perlu saling berbagi nama karena mereka sudah saling terikat. Sedih memang, tapi jika ini adalah yang terbaik Jenny tidak keberatan untuk menyembunyikan rahasia ini sampai dia mati. Tidak masalah tidak tinggal serumah dengan Briana. Asalkan bisa melihatnya dari kejauhan dan memastikan gadis itu baik-baik saja, maka itu sudah lebih daripada cukup.
“Nama gadis itu Briana, Hendar. Cantik, bukan?” ucap Jenny dengan bibir gemetar. Dia agak terbawa perasaan, tak kuasa menahan keinginan hati untuk memberitahu suaminya kalau putri mereka masih hidup.
“Briana?” beo Hendar sambil tersenyum tipis. “Namanya sangat cantik. Apa wajahnya juga secantik namanya?”
“Ya, Briana cantik sekali. Matanya juga sangat indah. Mirip dengan mataku.”
“Benarkah?”
“Ummmm. Kalau kau bertemu langsung dengannya, aku jamin kau pasti akan mengira kalau kami adalah pasangan ibu dan anak,” sahut Jenny. Dadanya serasa di bakar. Briana memang anaknya, dia yang telah mengandung dan melahirkan gadis itu ke dunia ini.
Sadar dengan keadaan mental Jenny yang sedang tidak stabil, hati Hendar bagai teriris melihat mata indahnya yang mulai berkaca-kaca. Kalau saja Kellen masih hidup, Hendar pasti akan menjodohkannya dengan Briana. Tak peduli berasal dari keluarga apa. Selagi bisa mengembalikan senyum kebahagiaan di diri istrinya, Hendar bersumpah akan melakukan segalanya. Termasuk menikahkan Kellen dengan Briana. Sayang sekali Kellen entah ada di mana sekarang. Bahkan sampai detik ini polisi masih belum bisa menemukan jejak jasad dan juga makam putranya. Menyedihkan sekali, bukan? Dan inilah yang membuat Hendar di dera perasaan bersalah yang begitu besar. Kebahagiaan keluarganya hancur karena kearoganannya sendiri.
“Hendar, aku lelah. Maukah kau memelukku dan menemaniku sampai aku terlelap?” tanya Jenny sambil menahan diri agar suara tangisnya tidak pecah keluar. Tak lupa juga dia menggigit ujung lidahnya saat hampir kelepasan bicara dengan menyebut kalau dia begini karena merindukan putri mereka, yaitu Briana.
“Jangan bertanya seperti itu, sayang. Kapanpun kau mau, aku pasti akan langsung memelukmu dan menemanimu sampai kau terlelap. Jangan sedih, okey. Karena Hendar yang sekarang bukan lagi Hendar yang arogan dan lebih mementingkan pekerjaan. Sekarang kita tidur ya?” sahut Hendar dengan suara parau. Sakit sekali dia mendengar pertanyaan Jenny.
Dalam derai air mata, Jenny menganggukkan kepala. Bersama dengan Hendar, mereka berbagi bantal begitu berbaring. Jenny kemudian melesakkan wajahnya ke dada pria ini, menumpahkan segala tangis kesedihan hingga meninggalkan jejak basah di sana. Andai suaminya tidak berprinsip keras, saat ini mereka pasti sudah berkumpul dengan Briana. Andai saja semuanya mudah. Hmmmm.
__ADS_1
Briana sayang, Ibu rindu kau, Nak. Mungkinkah kita bisa saling memeluk lagi seperti tadi? Ibu sangat mengharapkannya. Sungguh.
***