Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kedai Bintang Lima


__ADS_3

Setelah Julia mengaku telah melakukan transaksi gelap dengan Lu, Briana sama sekali tak mau bicara apapun padanya. Dia kesal, juga malu karena pasti Julia telah mengirimkan video dan juga foto berisi aib yang jauh lebih mengerikan lagi. Pahamlah, sahabatnya itukan rada-rada miring. Mustahil wanita itu mau membuang kesempatan untuk membuat darahnya mendidih. Bukan Julia namanya kalau mau bersikap baik terhadapnya. Hmmm.


"Bri, ayolah. Jangan merajuk terus. Kalau kau terus mendiamkan aku seperti ini, aku jadi merasa kalau aku adalah seorang penjahat. Kita berdamai saja ya?" bujuk Julia sambil terus membuntuti Briana yang sedang berjalan menuju rumah. Dia memutuskan untuk mengikuti wanita ini karena merasa sedikit bersalah. Catat ya, hanya sedikit. Tidak banyak.


"Hmmmm,"....


Hanya seperti itu respon Briana saat Julia tak henti membujuknya. Dia masa bodo meski sejak tadi wanita ini terus mengekorinya seperti anak anjing. Biar saja, siapa suruh mencari masalah. Jadi ya rasakan saja akibatnya sekarang.


" Jangan hanya ham hem ham hem sajalah, Bri. Ayo bicaralah. Atau kalau kau mau kau boleh memukul bokongku. Sungguh!"


Setelah berkata seperti itu Julia langsung berlari ke depan kemudian mengangkat kaosnya ke atas. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar, dia menunggitkan bokong kemudian memasang wajah pasrah ke arah Briana. Julia sudah siap menerima hantaman panas dari wanita brutal itu. Dan tepat ketika Briana sampai di dekat bokongnya, Julia langsung memejamkan mata. Dia ngeri sendiri menunggu detik-detik tampolan panas akibat mulutnya yang bocor dengan membongkar rahasia antara dia dengan Lu.


Semoga saja bokongku tidak bengkak. Haduuhhh, seram sekali. Tapi ngomong-ngomong kenapa tidak ada guncangan yang terasa ya? Aneh.


Karena merasa penasaran, Julia akhirnya membuka mata. Dan betapa terkejutnya dia begitu tahu kalau Briana ternyata sudah tidak ada di belakangnya. Segera Julia menoleh ke arah depan untuk mencari tahu dimana keberadaan sahabatnya itu.


"Hahhh? In-ini tidak benar. B-bagaimana mungkin Briana hanya melewati bokongku begitu saja? Mustahil. Posisiku sangat estetik, tidak mungkin Briana tidak tertarik untuk memukulnya!" pekik Julia syok. Dia tak percaya sahabatnya memilih pergi daripada memberinya pelajaran.


Briana yang mendengar suara pekikan Julia tampak menyeringai sinis. Malas sekali dia jika harus berdamai hanya dengan memukul bokong Julia yang tidak terlalu sintal itu. Briana menginginkan sesuatu yang lebih, dan harus sama malunya seperti yang dia rasakan. Enak saja. Huh.


"Briana!"


Langkah Briana terhenti seketika. Setelah itu bulu kuduknya berdiri semua saat suara itu kembali terdengar.


"Briana, kau sudah pulang?"


Karena masih merindukan putrinya, Jenny memutuskan untuk membuka kedai minuman di tempat yang biasa di lalui oleh putrinya ini. Dia beralasan pada suaminya ingin mencari aktifitas di luar rumah, dan untungnya pak suami langsung mengizinkan. Dan di sinilah Jenny sekarang. Berjualan minuman dengan di temani oleh satu koki, dua pelayan dan juga beberapa penjaga yang mengawasi dari kejauhan.

__ADS_1


"Bri, kau kenapa diam saja?" tanya Jenny heran melihat Briana yang hanya berdiri mematung tak mau menjawab. Dia lalu berjalan menghampiri. "Briana, you okay?"


"Nyonya Jenny, apa yang sedang kau lakukan di sini?" sahut Briana sambil menelan ludah. Ingin rasanya dia melesat pergi, tapi kedua kakinya terasa berat.


"Berbaliklah, jangan takut. Sepertinya kau sudah salah memahami perkataanku pagi tadi," ucap Jenny sambil menahan tawa. Dia tentu belum lupa dengan insiden Briana yang mengira kalau dia menyukainya.


"Tidak usah, Nyonya. Begini saja,"


Mulut memang berkata seperti itu, tapi gerak tubuh berkata lain. Tepat setelah selesai bicara, secara perlahan tubuh Briana mulai bergerak memutar menghadap ke belakang. Setelah itu manik matanya bertabrakan dengan manik mata Nyonya Jenny. Dan seketika Briana terkesiap kaget.


Mata itu ... bagaimana mungkin mata itu bisa begitu mirip dengan mataku? In-ini hanya kebetulan saja atau bagaimana ya? Aneh sekali.


Julia yang memperhatikan dari kejauhan terlihat mengerungkan kedua alisnya menyaksikan Briana yang tengah mengobrol dengan seorang wanita asing. Khawatir itu adalah tukang hipnotis, Julia pun memutuskan untuk segera menghampiri mereka. Dia lalu berdiri di depan tubuh Briana kemudian melipat tangan seraya menatap penuh curiga pada wanita di hadapannya.


"Maaf Nyonya, anda siapa ya? Kenapa anda bersikap sok dekat dengan sahabatku? Apa kalian saling kenal?"


"Kau siapa?" Jenny bertanya heran. Di tatapnya lekat-lekat wajah wanita yang baru saja datang dan mencecarnya penuh curiga.


"Oh, kau sahabatnya Briana ya," sahut Jenny lega. Dia kemudian tersenyum manis seraya melirik ke arah putrinya yang hanya menampakkan mata dari balik bahu Julia. Menggemaskan sekali. Putrinya seperti anak kucing yang sedang merasa terancam. "Namaku Jenny, dan aku adalah pedagang baru di sini. Kemarin saat penyakitku sedang kambuh, aku tak sengaja bertemu dengan Briana. Dan pagi tadi dia sepertinya telah salah memahami perkataanku. Makanya aku sengaja berjualan di sini supaya bisa bertemu dengannya lagi. Begitu!"


"Haaaaa?"


Sungguh, baru kali ini Julia melihat ada orang seaneh Nyonya Jenny yang rela berjualan demi hanya untuk bertemu dengan sahabatnya. Aneh, ini benar-benar sangat aneh. Bahkan keanehan itu melebihi pengakuan Briana yang menyebut kalau seorang wanita telah menyatakan rasa suka kepadanya. Julia jadi curiga.


Kok bisa ya ada manusia seperti Nyonya Jenny? Apa jangan-jangan memang benar kalau dia itu menyukai Briana? Ah, tapi itu tidak mungkin. Barusan Nyonya Jenny bilang kalau Briana telah salah memahami perkataannya. Itu artinya bukan rasa suka yang di maksud olehnya, melainkan rasa suka seperti pada anak sendiri. Benar begitu bukan sih?


"Briana, Julia. Mau singgah ke kedaiku dulu tidak? Sekalian kalian mencoba minuman yang aku jual. Mau ya?" ucap Jenny dengan antusias mengajak dua wanita di hadapannya untuk singgah. Dia ingin berbincang lebih lama dengan mereka.

__ADS_1


Julia diam. Dia kemudian menoleh ke belakang. "Bagaimana, Bri? Kau mau pergi ke kedainya Nyonya Jenny tidak? Ibuku bilang tidak baik lo menolak tawaran seseorang!"


"Terserah kau mau bagaimana. Asalkan pergi berdua aku sih mau-mau saja," jawab Briana tanpa sadar telah berbicara dengan Julia. Dia sudah tidak terpikirkan lagi akan perang dingin di antara mereka.


"Ya sudah kalau begitu. Kebetulan aku juga ingin melihat-lihat apakah di kedai Nyonya Jenny ada menu minuman yang bisa aku contoh resepnya atau tidak. Kan lumayan untuk menambah penghasilan cafe," celetuk Julia dengan liciknya. Oh ayolah kawan. Bukan Julia namanya kalau tidak mengambil kesempatan untuk memperkaya diri. Aib sahabatnya saja dia jual, ya kali Nyonya Jenny dia biarkan. Tidak mungkinlah. Haha.


Sebenarnya Jenny bukan tidak mendengar celetukan Julia, dia hanya tidak terlalu memperdulikannya saja. Fokus Jenny hanya tertuju pada Briana seorang. Dan juga kedai itu bukanlah hal yang perlu di pikirkan. Jika Julia dan Briana menginginkan, dengan senang hati Jenny pasti akan langsung memberikannya pada mereka. Sungguh.


"Ingat Julia. Kau jangan sampai membuatku merasa malu. Tahu?" tegur Briana mengingatkan Julia saat mereka berjalan mengikuti Nyonya Jenny. Briana takut sekali dia akan di tangkap oleh para penjaga wanita ini kemudian di bawa kabur lalu diminta untuk menikah dengannya. Hiii, membayangkan hal ini saja sudah membuat Briana frustasi sendiri, apalagi jika benar sampai terjadi. Lebih baik Briana mati saja dan menikah dengan Lu di kayangan.


"Ck, memangnya apa yang mau aku lakukan di kedai Nyonya Jenny, Briana? Kau ini kenapa curigaan sekali sih!" gerutu Julia.


"Kalau otakmu waras, aku tidak mungkin sekhawatir ini. Tapi kau itukan manusia setengah sakit jiwa, wajarlah kalau aku mewanti-mewanti agar kau tidak membuat masalah. Lupa ya kalau kau telah memanfaatkanku demi mendapat bayaran dari Lu?"


Dan begitu Briana menyinggung tentang masalah Lu, Julia langsung pergi menghampiri Nyonya Jenny yang sedang menyiapkan kursi untuk mereka. Dia takut sekali Briana akan membantingnya ke tanah gara-gara masalah transaksi gelap itu.


"Dasar wanita licik. Awas saja kalau kau sampai macam-macam di sini. Aku akan meminta Nyonya Jenny untuk membawamu pergi bersama dengannya. Huh!" ucap Briana mengomel sendiri. Dia lalu berjalan menuju keduanya seraya memasang ekpresi wajah yang begitu masam. Briana kesal sekali, tapi takut.


"Nah Briana, duduklah!" ucap Jenny dengan penuh semangat. "Kalian mau minum apa?"


"Menu best seller yang ada di kedaimu, Nyonya. Tapi ... bolehkah aku melihat cara membuatnya?" sahut Julia tanpa ragu meminta izin untuk ikut melihat langsung cara pembuatannya. Biasalah, aji mumpung.


"Oh, tentu saja sangat boleh. Masuklah ke dalam, nanti ada pelayan yang akan mengajarimu!"


"Baiklah."


Dan ketika Julia masuk ke dalam kedai milik Nyonya Jenny, dia di buat mematung seperti orang bodoh. Mulutnya sampai ternganga lebar saking syoknya dia melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.

__ADS_1


I-ini kenapa bisa ... Ya Tuhan. Kenapa Nyonya Jenny sampai repot-repot membuat kedai bernuansa restoran bintang lima ke tempat seperti ini? Dia tidak gila, kan? Astaga. Kalau begini ceritanya mana mungkin ada orang yang berani membeli kalau dapurnya saja semewah ini. Aneh.


***


__ADS_2