Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Saling Meminta Maaf


__ADS_3

Sementara itu di rumah keluarga Origan, terlihat Hendar yang sedang melamun di pinggir jendela. Wajah yang siang tadi terus tertekuk murung kini mulai terlihat berseri. Setelah tadi Hendar melihat bagaimana Briana yang sedang bercanda bahagia bersama Julia, tiba-tiba saja didera rasa rindu yang sangat luar biasa hebat. Dia menginginkan gadis itu bisa segera memanggilnya dengan sebutan ayah. Ya, Hendar sangat menginginkannya.


"Briana, kau sangat cantik. Sama seperti ibumu,"


"Wanita mana yang kau sebut cantik, Hendar?"


Jenny tersenyum sambil berjalan menghampiri suaminya. Dia lalu melingkarkan kedua tangan di perut pria ini, merasai betapa dirinya telah salah paham selama dua puluh tahun lebih lamanya.


"Maaf," ....


Hendar mengerutkan kening. Dia tidak mengerti kenapa Jenny tiba-tiba meminta maaf. Khawatir terjadi sesuatu, Hendar bermaksud berbalik menghadap ke belakang. Akan tetapi hal tersebut di halangi oleh Jenny.


"Sayang, ada apa? Kenapa kau tidak mengizinkan aku melihat wajahmu?" tanya Hendar resah.


"Seperti ini saja. Ya?" sahut Jenny lirih. Sebisa mungkin dia menahan diri agar jangan sampai menangis.


"Iya tapi kenapa? Berikan alasan yang jelas dulu baru aku akan patuh."


"Aku malu. Selama dua puluh tahun ini ternyata aku sudah salah paham kepadamu. Aku membencimu tanpa mencaritahu dulu apakah benar yang di ucapkan oleh mendiang Ayah dan Ibu kalau kau tidak menginginkan aku melahirkan anak perempuan. Hikss, maafkan aku. Aku merasa sangat berdosa sekali. Aku minta maaf, Hendar," ucap Jenny akhirnya tak bisa lagi menahan tangis. Hatinya sakit setelah mengetahui fakta kalau suaminya tidaklah bersalah.


"Astaga, sayang. Kau menangis."

__ADS_1


Meski Jenny terus menghalanginya, dengan sedikit memaksa Hendar akhirnya berhasil menghadap ke arahnya. Dan betapa terkejutnya dia melihat wajah cantik Jenny sudah basah oleh air mata. Tanpa pikir panjang Hendar segera memeluknya sambil menciumi puncak kepalanya penuh sayang. Dia paling benci melihat istrinya menangis sedih seperti ini. Hatinya sakit.


"Jujur, aku kaget sekali saat mengetahui kalau anak kita sebenarnya berjenis kelamin perempuan. Aku syok, bingung, juga tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi. Akan tetapi setelah kau menjelaskan alasan kenapa bisa ada Kellen dan Briana, aku merasa kalau aku ini adalah suami dan juga ayah paling buruk di muka bumi ini. Kau dan putri kita hidup dalam tekanan orangtuaku, tapi aku sama sekali tak menyadarinya. Cerita berbeda mungkin akan terjadi jika seandainya kau memilih untuk mengamuk dan memakiku jika saja kau memberitahuku tentang fitnah itu. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin anak kita. Aku mencintaimu. Mustahil aku menolak membesarkan darah daging yang adalah buah dari cinta kita. Aku mungkin seorang bajingan, tapi aku bukanlah seorang ayah yang kejam. Tolong maafkan aku karena sudah gagal menjadi ayah dan suami yang baik untuk kalian ya. Aku minta maaf,"


Pada akhirnya tangis Hendar dan Jenny pecah setelah mereka saling meminta maaf. Antara lega dan juga sakit, keduanya terus berpelukan erat sambil menumpahkan kesedihan yang ada. Sungguh teramat kejam yang namanya fitnah. Kebusukan yang dilontarkan sanggup membuat sebuah keluarga menyimpan benci tanpa ada sebab yang pasti. Mungkin jika hal ini dilakukan oleh orang-orang yang memang sedang bersiteru, rasanya tidak akan sekecewa ini. Akan tetapi fitnah kejam ini dilakukan oleh keluarga mereka sendiri, yang tak lain merupakan orangtua yang seharusnya menjadi pendukung nomor satu dalam kehidupan rumah tangga anaknya. Miris.


"Sudah ya jangan menangis lagi. Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Nanti kau drop lagi," ucap Hendar sembari menyeka air mata yang masih mengalir deras di wajah Jenny. Hatinya sakit sekali. Tapi karena Hendar adalah seorang laki-laki, dia menguatkan diri untuk bertahan.


"Hendar, aku ingin sekali tahu di mana putri kita tinggal. Bisakah kau meminta seseorang untuk mencari alamatnya?"


Tahu kalau Briana terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, Jenny memutuskan untuk membiarkannya pergi setelah melakukan beberapa tes di rumah sakit. Akan tetapi hal itu malah membuatnya menjadi khawatir sekali. Jenny takut Briana akan nekad melakukan tindakan buruk karena tak bisa menerima kenyataan ini. Jadilah dia meminta Hendar agar mencari tahu dimana gadis itu tinggal. Jenny ingin memastikan kalau putrinya baik-baik saja.


"Tapi aku khawatir Briana kenapa-napa, Hendar. Tadi saat pergi dari rumah sakit ekpresi wajahnya terlihat aneh. Aku takut dia nekad!"


"Tidak, sayang. Kau terlalu berlebihan memikirkan tentang putri kita. Percaya padaku, Briana baik-baik saja. Tadi siang aku diam-diam membuntutinya. Dia tinggal di sebuah rumah yang cukup sederhana. Mungkin hanya ada satu kamar saja di dalam rumah itu. Akan tetapi kabar baiknya adalah orang-orang yang tinggal di lingkungan itu sepertinya sangat menyayangi putri kita. Mereka langsung menegurku ketika sedang memperhatikan Briana yang sedang bercanda dengan Julia. Dan untuk memastikan kalau putri kita baik-baik saja, aku sudah menempatkan beberapa penjaga untuk mengawasi daerah sekitar sana. Jadi kau bisa tenang. Oke?"


Mata Jenny terpejam sambil dia mengelus dada begitu mengetahui kalau Hendar telah menempatkan beberapa orang untuk menjaga putri mereka. Sungguh, sebagai seorang ibu tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat putrinya tumbuh dengan baik. Dan kebahagiaan seperti ini telah berlalu selama dua puluh tahun lebih. Jadi Jenny telah mengambil sumpah kalau dia tidak akan pernah membiarkan Briana tidak hidup bahagia. Bahkan jika harus berkorban nyawa, maka Jenny tidak akan ragu untuk melakukannya selama itu bisa membuat putrinya tersenyum. Briana adalah permata hatinya, Jenny memilih mati jika gadis itu sampai kenapa-napa.


"Awalnya aku begitu takut menatap wajah Briana. Tapi setelah melihatnya sedang tersenyum lepas bersama Julia, aku jadi tidak sabar ingin segera mendengarnya memanggilku Ayah. Aku pasti akan menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini jika hal itu sampai terjadi. Benar tidak?" ucap Hendar mulai berandai-andai.


"Kau benar sekali, Hendar. Aku juga berpikir demikian," sahut Jenny. "Nanti setelah hasil tesnya keluar, kita langsung saja memboyong Briana tinggal bersama kita di sini. Dan kalau boleh aku ingin sekali kau mulai mengajarinya cara berbisnis. Briana adalah putri semata wayang kita. Pada dialah kita akan menyerahkan seluruh harta milik keluarga Origan. Anggaplah ini sebagai pengganti atas waktu yang telah terbuang dengan sia-sia selama ini. Ya?"

__ADS_1


"Kau jangan khawatirkan masalah ini, sayang. Memangnya kalau bukan untuk Briana semua harta di keluarga ini akan di berikan pada siapa, hem?"


"Julia mungkin."


Jenny terkekeh. Teringat dengan gadis mata duitan itu tiba-tiba saja dia merasa telah berhutang budi. Walau belum terlalu banyak mendengar ceritanya,tapi Jenny bisa merasakan kalau Julia tulus menyayangi putrinya. Hanya saja kelakuan minus gadis itu sering meninggalkan kesan buruk di mata Jenny. Karena seumur-umur Jenny hidup, baru sekali ini dia bertemu dengan jenis manusia yang tingkat mata duitannya sudah sampai di taraf tidak ada obat. Bayangkan saja. Hanya demi mengetahui siapa laki-laki yang menjadi kekasih putrinya, Jenny sampai harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat luar biasa besar. Ini Jenny bukan sedang mengeluh ya, tapi dia hanya sedang menceritakan kesannya tentang Julia. Sungguh.


"Hmmm, aku tidak tahu ini benar atau hanya pandanganku saja. Di mataku wanita yang bernama Julia ini sangatlah mengerikan. Dia seperti srigala yang siap menggigit apapun yang bisa membuatnya merasa kenyang," ucap Hendar menyampaikan pendapatnya tentang Julia.


"Dan srigala inilah yang sudah menjadi satu-satunya teman putri kita di kala menjalani kehidupannya yang pahit. Julia memang srigala, tapi dia seperti ibu peri yang tak ragu mengulurkan tangan untuk menolong putri kita dulu. Jangan lupakan fakta ini juga!" sahut Jenny tak ingin Hendar berpikiran terlalu buruk tentang Julia.


"Jadi?"


"Dia sangat mata duitan. Kau mungkin bisa memberinya sekoper uang sebagai imbalan balas jasa."


"Baiklah, Nyonya. Apapun katamu aku pasti patuh. Begitu hasil tes keluar, aku akan langsung meminta penjaga mengantarkan cek untuk srigala itu. Bagaimana? Apa sudah puas?"


"Kau ini."


Hehe.


***

__ADS_1


__ADS_2