Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Mabuk Uang


__ADS_3

"Senangnya dalam hati, kalau punya uang banyak. Mau berondong, mau sugar daddy, aku bisa mendapatkan mereka dengan mudah. Ayeeaaahhhh!" senandung Julia dengan ekpresi wajah yang mirip seperti orang mabuk. Ya dia memang mabuk. Mabuk uang tapi. Hehehe.


Mata Briana memicing penuh curiga mendengar senandung aneh yang terus di nyanyikan oleh Julia. Dia sampai tidak fokus dengan obrolannya bersama Nyonya Jenny gara-gara ulah nyeleneh sahabatnya ini. Sejak Julia berbincang mistis dengan Nyonya Jenny, sejak saat itu pula sikapnya jadi berubah aneh. Wanita ini terlihat sangat gembira sekali. Mirip seperti orang yang baru saja memenangkan lotre dalam jumlah besar.


"Senangnya dalam hati, kalau ....


"Kalau kau masih saja bernyanyi aneh seperti itu, percaya tidak aku akan memasukkan kaus kakiku ke dalam mulutmu. Sudah tahu suaramu mirip dengan kaleng rombengan, masih berani juga ya kau menyanyi. Pikirkan bagaimana perasaan orang yang mendengarnya, Julia!" amuk Briana sudah tak tahan lagi. Makin dibiarkan kelakuan wanita ini malah semakin menjadi saja. Jadi geram kan dia akhirnya. Huh.


"Ckk, mengganggu saja kau. Memang apa salahnya sih kalau aku sedikit mengeluarkan kemampuanku. Lagipula Nyonya Jenny dan yang lainnya tidak ada yang merasa terganggu. Iyakan, Nyonya?" sahut Julia sedikit kesal saat Briana mengancamnya agar berhenti bernyanyi. Dia lalu menatap Nyonya Jenny, menunggu persetujuan atas pertanyaannya.


"Aku dan yang lainnya sama sekali tak merasa terganggu dengan suara nyanyianmu, Julia. Malah aku merasa terhibur. Sungguh," ucap Nyonya Jenny sambil tersenyum getir. Getir sekali. La wong pada kenyataannya dia juga sudah tidak kuat mendengar suara cempreng Julia. Tapi karena Jenny takut Julia tidak mau memberikan informasi lain yang berhubungan dengan Briana dan kekasihnya, Jenny memilih untuk berpura-pura biasa saja.


"Nah, kau dengar itu Briana?"


Julia menyeringai lebar. Dia lalu membuka aplikasi di ponselnya untuk melihat total pendapatan yang dia dapatkan hari ini. Sungguh, seumur-umur Julia hidup, baru kali ini dia melihat rekeningnya di huni oleh uang yang sangat luar biasa banyak. Dan uang-uang ini bisa dia dapatkan berkat Briana, sahabat yang ternyata adalah bentuk dari ATM berjalan. Luar biasa. Luar biasa! Hahaha.


"Ini sudah siang, sudah waktunya untuk kita membuka cafe," ucap Briana sambil melihat jam di tangannya. Dia lalu menoleh ke samping, menaikkan sebelah alisnya ke atas ketika mendapati Nyonya Jenny yang tengah menatapnya dengan begitu seksama. "Ada apa, Nyonya? Jangan bilang kau sedang mengagumi kecantikanku ya!"


"Briana, jangan selalu salah paham padaku. Aku memperhatikanmu bukan karena aku adalah penyuka sesama jenis, tapi karena aku merasa seperti sedang berbicara dengan anakku sendiri. Begitu," sahut Jenny sedikit tak rela putrinya sudah akan pergi dari hadapannya. Jadi sebisa mungkin Jenny membuka topik pembicaraan yang menarik untuk mengulur waktu.


"Bukannya anakmu itu laki-laki ya, Nyonya? Akukan perempuan, jenis kelamin kita tidak sama."

__ADS_1


"Memang benar, tapikan tidak ada salahnya juga kalau aku menganggapmu seperti anakku sendiri," ucap Jenny berusaha untuk menyembunyikan kesedihan saat Briana berkata kalau anaknya berjenis kelamin laki-laki. Rasanya ingin sekali Jenny mengatakan kebenarannya supaya Briana bisa mengerti kalau anaknya adalah perempuan. Tapi ya sudahlah, Jenny mungkin memang sudah di takdirkan untuk tidak bisa hidup bersama dengan putrinya. Mau bagaimana lagi. Daripada harus melihat Briana di bawa pergi ke tempat yang lebih jauh lagi, keadaan ini sepertinya adalah yang paling baik. Walau menyakitkan, tapi rahasia ini harus tetap di sembunyikan.


Hendar, lihatlah akibat dari keegoisanmu. Kalau kau tidak bersemboyan akan menjual anak kita jika terlahir perempuan, sekarang Briana pasti tidak akan menolakku seperti ini. Kau kejam, Hendar. Jahat! Hiksss.


"Nyonya Jenny, aku bisa mengerti akan rasa sedih yang kau tanggung. Namun, kau harus bisa membedakan kalau tidak semua orang bersedia untuk kau anggap anak. Ketahuilah satu hal. Aku juga mempunyai orangtua meskipun mereka sudah lama meninggal. Jadi tolong hargai juga hubungan kami. Tidak apa-apa kalau kau ingin sekedar berteman dekat denganku, aku tidak masalah. Akan tetapi jika hubungan harus lebih daripada itu, maaf aku tak bisa. Aku tak mau menggantikan posisi kedua orangtuaku, terlepas sebaik apapun perlakuanmu. Oke?"


Julia yang sedang menikmati minuman langsung tersedak mendengar perkataan Briana. Ya ampun anak ini. Bisa-bisanya menolak Nyonya Jenny yang adalah orang kaya raya. Ini tidak boleh di biarkan. Apapun yang terjadi Briana dan Nyonya Jenny harus tetap berhubungan. Dengan begitu Julia baru bisa meraih keuntungan dari kedekatan mereka. Bagaimana sih.


"Ekhmmm Briana, bisakah kita berbisik-bisik sebentar?" tanya Julia memulai aksi menebar perdamaian.


"Ck, apa maumu sebenarnya sih. Heran!" jawab Briana kesal saat Julia menarik tubuhnya hingga setengah membungkuk. "Jangan bercanda terus, Julia. Ini sudah siang. Cafenya mau di buka atau di bakar saja? Bos kok malas. Huh!"


Briana terdiam. Hatinya sedikit tersentuh mendengar nasehat dari Julia. Setelah itu Briana menegakkan tubuhnya kemudian melihat Nyonya Jenny yang tengah menunduk murung.


Hmmm, sepertinya aku sudah kelewat keras pada wanita malang ini. Kasihan. Tapi ngomong-ngomong kenapa tumben sekali ya otak Julia bisa berpikir waras. Dia tidak sedang memanfaatkan keadaan saja, kan? Awas saja kalau benar. Akan ku depak dia dari posisinya sebagai bos cafe. Huh.


Merasa sedang di perhatikan, Jenny segera mengangkat wajahnya. Dia kemudian tersenyum melihat Briana yang juga tengah tersenyum padanya.


"Briana, ada apa?"


"Nyonya, aku minta maaf ya kalau kata-kataku barusan sudah membuatmu merasa sedih. Itu terjadi begitu saja. Sungguh!" ucap Briana dengan lapang dada meminta maaf.

__ADS_1


"Kenapa kau meminta maaf seperti ini, sayang. Kau tidak salah apa-apa."


"Kan tadi aku sudah menolakmu yang ingin menganggapku sebagai anak. Memangnya kau tidak sakit hati, Nyonya?" tanya Briana agak aneh melihat reaksi panik di diri Nyonya Jenny.


"Bukan sakit hati, tapi lebih ke sedih saja. Dan juga aku tidak bisa memaksamu untuk mengakuiku sebagai ibumu. Mungkin aku saja yang terlalu serakah dan percaya diri karena sudah beranggapan kau pasti bisa menerima. Maaf ya, Briana. Aku sama sekali tak bermaksud menggantikan posisi kedua orangtuamu!"


Entah dorongan darimana, tiba-tiba saja hati Briana tergerak untuk memeluk Nyonya Jenny saat melihatnya yang begitu sedih. Jauh di lubuk hati, rasanya seperti ada getaran aneh yang membuat Briana seperti ikut merasakan kesedihan wanita ini. Lazimkah? Padahal mereka itukan hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu, tapi kenapa rasanya mereka seperti sangat dekat?


"Jangan bersedih lagi, Nyonya. Kalau memang kau begitu ingin menganggapku sebagai anakmu, maka lakukanlah saja. Tapi maaf, aku tetap tidak bisa menganggapmu lebih dari sekedar teman dekat. Kau bisa mengerti itu, bukan?" ucap Briana dengan lembut memberi pengertian.


"Iya aku mengerti. Terima kasih banyak, Briana. Aku senang sekali mendengarnya," sahut Jenny dengan mata berkaca-kaca. Setelah itu dia mengurai pelukan. "Kalau begitu boleh tidak aku pergi ke cafe tempat kau bekerja?"


"Hah? Lalu kedaimu bagaimana?" tanya Briana agak kaget mendengar permintaan Nyonya Jenny. Aneh sekali. Punya kedai sendiri malah mau di tinggalkan begitu saja demi pergi ke tempat lain.


"Ada pelayan yang menjaganya. Ayo!"


Dengan tampang bingung Briana menurut saja saat Nyonya Jenny mengajaknya pergi. Sedangkan Julia, dia melirik ke sana kemari untuk memastikan keadaan aman ketika dia akan mengambil asbak cantik yang dia yakini terbuat dari bebatuan mahal.


"Lumayanlah, hehehe," gumam Julia setelah memasukkan asbak ke dalam tas. Misi berjalan sukses tanpa ada hambatan. Yey.


***

__ADS_1


__ADS_2