Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Masih Amatiran


__ADS_3

Dengan angkuhnya Julia keluar masuk toko barang branded bersama Nyonya Jenny. Dia terlihat sangat bersemangat sekali saat akan memilih tas keluaran merk ternama dunia. Biasalah, aji mumpung.


"Rasanya sungguh bahagia sekali ya menjadi orang kaya. Kalau begini ceritanya sih aku tidak masalah jika harus menjadi orang ketiga demi agar bisa menumpang hidup enak. Hehe," celetuk Julia dengan entengnya. Dia sama sekali tak memusingkan apakah celetukannya akan di dengar orang lain atau tidak. Yang penting happy, begitu pikirnya.


Langkah Jenny langsung terhenti saat dia tak sengaja mendengar celetukan Julia. Sungguh, baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang otaknya sangat pas-pasan sekali. Bisa-bisanya Julia bersedia menjadi seorang pelakor hanya demi menumpang hidup enak. Kalau saja tak ingat tempat, ingin rasanya Jenny menggeplak kepala wanita ini supaya pikirannya sadar. Heran.


"Nyonya, ups maksudku Bibi Jenny, tas yang ini bagus tidak?" tanya Julia sambil memamerkan tas lucu berwarna peach. Tak lupa dia meralat panggilan dari Nyonya menjadi Bibi. Catat ya, ini Julia lakukan atas inisiatif sendiri. Sama sekali tak ada yang meminta.


"Umm lumayan," jawab Jenny.


"Hanya lumayan saja?"


"Cukup bagus."


"Cukup bagus?"


"Iya. Kenapa memangnya?" sahut Jenny. Kedua alisnya saling bertaut saat Julia malah menatapnya galak. "Ada apa, Julia. Ada yang salah atau bagaimana?"


"Ck, Bibi ini bagaimana sih. Kalau jawabannya hanya lumayan dan cukup bagus saja untuk apa kita masuk ke toko tas branded. Bibi sudah lupa atau pura-pura lupa kalau aku masih amatiran soal barang mahal. Menyebalkan sekali!" gerutu Julia merasa diremehkan. Dia lalu mengerucutkan bibir, kesal kenapa tidak dari dulu dia terlahir sebagai wanita kaya. Dengan begitukan dia tidak harus bertanya pada orang lain soal seperti ini.


Melihat Julia merajuk Jenny malah terkikik sendiri. Lucu juga. Walau bukan bersama putrinya, setidaknya bersama Julia cukup menghibur hati. Wanita ini begitu jujur mengakui kalau dirinya masih sangat amatir mengenai barang-barang bermerk. Jenny jadi gemas.


"Sudah, jangan merajuk. Nanti kau di tertawakan anak kecil," bujuk Jenny penuh sayang.


"Aku tidak sedang merajuk, Bibi. Aku hanya kesal saja sedikit," sahut Julia sembari memutar bola matanya. Jengah.


"Itu sama saja,"


"Tidaklah. Jelas kedua kata tersebut sangat berbeda. Periksa saja kalau tidak percaya."


Kryukkk kryuukk


Julia langsung meringis saat perutnya berbunyi dengan sangat nyaring. Saking senangnya di ajak berbelanja, dia sampai lupa untuk makan siang dulu di cafe. Alhasil sekarang cacing di dalam perutnya sudah menabuh genderang perang. Para binatang tak berkaki itu menuntut agar Julia segera mengirim bekal untuk berperang.


"Kita makan dulu saja ya. Setelah itu baru kita lanjut berbelanja lagi," ucap Jenny mengajak Julia untuk makan siang terlebih dahulu. Dia juga sudah merasa lapar. Apalagi setelah tadi emosinya terkuras banyak akibat terlalu tegang menunggu hasil tes. Jenny butuh banyak tenaga agar tidak pingsan. Hehe.


"Benar ya nanti kembali lagi ke toko ini?"

__ADS_1


"Iya,"


"Aku do'akan pantat Bibi bisulan jika berbohong."


Jenny tergelak. Setelah itu dia tertawa, merasa aneh akan doa yang di ancamkan untuknya.


Bak ibu dan anak, Jenny dan Julia bergandengan tangan saat keluar dari toko tas. Empat pengawal yang berjaga di luar toko pun segera mengikuti mereka. Hal ini membuat Julia jadi ingin menyombongkan diri. Dia ingin orang-orang tahu kalau sekarang lingkar pertemanannya adalah segerombolan mafia. Haha.


"Julia, apa yang sedang kau lakukan di sini? Sedang menjajakan diri atau bagaimana?"


Sebuah suara menghentikan langkah Jenny, Julia, dan juga empat pengawal yang ada di sana. Segera mereka berbalik menghadap belakang untuk melihat siapa yang baru saja melontarkan perkataan tidak sopan.


"Kau ... astaga, Erzan. Apa yang sedang kau lakukan di sini? Mengemis?" kesal Julia setelah tahu siapa orang yang menuduhnya sedang menjajakan diri. Jengkel, dengan marah Julia berniat melemparkan paperbag yang di bawanya. Akan tetapi begitu ingat kalau di dalam paperbag tersebut ada syal bermerek cenel, Julia urung untuk melemparkannya. Bisa rusak nanti bahan pamernya.


"Mengemis kepalamu. Memangnya kau tidak bisa lihat apa kalau aku sedang bekerja," sewot Erzan. Dia lalu menatap seksama wanita cantik yang ada di hadapannya.


Apa wanita ini yang bernama Nyonya Jenny? Matanya benar-benar mirip dengan mata Briana. Sadis, juga lembut.


"Maaf, Tuan. Tolong kondisikan mata Anda atau kami akan mencongkelnya keluar!" tegur salah satu pengawal langsung siaga pasang badan.


Ya ampun, kenapa aku bisa lupa kalau suaminya Nyonya Jenny adalah seorang mafia. Pantas saja pengawal ini begitu kejam. Mereka saja adalah kesatuan dari komplotan geng galak. Hati-hati, Erzan. Salah bicara nyawa bisa melayang. Hiii.


"Erzan, namamu Erzan?" tanya Jenny sembari tersenyum kecil.


"I-iya, Nyonya. Namaku Erzan. Dan aku adalah adiknya Kak Gavriel, kekasihnya Briana," jawab Erzan balas tersenyum. Wanita ini cukup ramah, tidak seperti para pengawal itu.


"Oh, jadi kau adiknya Gavriel. Pantas wajah kalian mirip. Wajah kalian sama tampannya."


"Terima kasih banyak atas pujiannya, Nyonya. Banyak orang juga mengatakan hal yang sama soal kami. Hehe,"


"Cihhh, begitu saja langsung besar kepala. Lihat, kedua telingamu sudah mengeluarkan sayap. Mereka akan membawamu terbang ke langit sana!" olok Julia.


"Kau ini kenapa usil sekali sih, Julia. Tidak bisa ya melihat orang senang sedikit!" protes Erzan sambil mencebikkan bibir.


"Senang ya senang saja. Apa urusannya denganku. Aneh!"


"Jelas berurusanlah. Buktinya tadi kau menimbrung percakapanku dengan Nyonya Jenny."

__ADS_1


"Halah alasan. Sudah sana pergi yang jauh. Terlalu lama melihat wajahmu yang pas-pasan itu bisa membuat mataku menjadi minus. Kau membawa aura buruk kalau mau tahu!" usir Julia cetus. Tak lupa dia memberikan oleh-oleh ejekan untuk Erzan. Hehehe.


Jenny hanya menggelengkan kepala saja melihat Julia yang sedang adu mulut dengan Erzan. Andai saja jodoh, pasti akan sangat seru jika Julia menikah dengan adiknya Erzan. Juga persahabatan Julia dengan putrinya tidak akan terpisah jika mereka berdua menjadi saudara ipar.


"Bicara denganmu seperti sedang bicara dengan orang gila. Sudahlah, lebih baik aku pergi saja demi kesehatan mentalku!" geram Erzan yang kalah debat dari Julia. Dia dongkol sekali.


"Sejak tadi aku memang sudah memintamu untuk pergi, Zan-Erzan. Kau saja yang tidak tahu malu dengan terus berbicara denganku. Kenapa? Suka apa bagaimana?" sahut Julia sembari menaik-turunkan kedua alisnya.


"Kau!"


"Apa?" Julia sok menantang. "Coba saja kau berani bicara kurang ajar padaku. Aku akan meminta para pengawal ini menghajarmu sampai tulang hidungmu bengkok. Mau?!"


Kesal, Erzan segera berpamitan pada Nyonya Jenny kemudian berlalu pergi dari hadapan semua orang. Bibirnya tak henti menggerutu dan menyumpah-serapahi Julia.


"Kalian romantis sekali ya barusan. Seperti pasangan yang sedang bertengkar karena cemburu," goda Jenny. Dia bicara sambil mengajaknya lanjut berjalan.


"Apa, Bi? Pasangan?"


Julia terkekeh. Tapi kekehannya sarat akan kejengkelan. Dia dan Erzan di sebut pasangan oleh Bibi Jenny? Astaga, cacing di dalam perutnya sampai berdisko ria saking tak percayanya akan hal tersebut.


"Bibi Jenny, tolong dengar ini baik-baik. Mau dunia kiamat sekalipun, aku tidak akan pernah sudi menjadi kekasihnya Erzan. Karena apa? Karena dia sangat menyebalkan. Aku tidak suka jenis pria yang seperti itu. Membuat hati pegal dan tenggorokan panas setiap harinya!"


"Hati-hati, ucapan itu adalah doa!"


"Dan aku berharap Tuhan sedang sibuk memperhatikan manusia lain saat aku bicara tadi. Hehehe,"


"Kau ini. Dasar,"


"Namanya juga tidak suka, Bi. Mau di paksa bagaimanapun tetap saja tidak suka. Iya, kan?"


"Ya ya ya, terserah kau saja. Ayo kita makan. Perutku sudah keroncongan sejak tadi."


"Baiklah. Ayo,"


Sambil terus bercengkrama, Jenny dan Julia masuk ke sebuah restoran Chinese yang ada di sana. Tak lupa mereka mengajak para pengawal untuk ikut makan sekalian. Biar punya tenaga saat di butuhkan, begitu ucap Julia saat para pengawal terlihat enggan untuk makan.


***

__ADS_1


__ADS_2