Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Pria Idiot vs Gadis Galak


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


Sementara itu di rumah sakit terlihat Briana yang tengah duduk di samping ranjang tempat Lu berbaring. Sejak Lu berada di ruangan ini, Briana sama sekali tak pernah beranjak dari sana. Walaupun di keseharian Briana selalu memarahi Lu, tapi melihatnya terbaring tak berdaya begini membuat perasaan Briana menjadi sangat sedih. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Briana dia meneteskan airmata dengan percuma. Padahal sesulit dan semengenaskan apapun perjalanan hidupnya belum pernah sekalipun Briana menangis. Namun hari ini sepertinya ada hal baru yang terjadi pada dirinya. Briana tak ragu menitikkan airmata melihat Lu yang tiba-tiba pingsan. Hati Briana mendadak diliputi ketakutan yang sangat besar dimana dia takut Lu akan pergi meninggalkannya. Konyol bukan?


“Lu, cepatlah sadar. Aku lebih suka direpotkan olehmu daripada harus melihatmu seperti ini. Cepat bangun dan mari kita bertengkar lagi. Jangan membuatku takut, Lu,” gumam Briana lirih. Matanya terus memperhatikan wajahnya Lu yang terlihat sangat pucat. Dia lalu termenung.


Sebenarnya di tas wanita itu ada apanya ya? Kenapa Lu terlihat sangat kesakitan hingga pingsan seperti ini? Apa iya di tas wanita itu ada sihirnya? Masa sih. Inikan zaman modern, memangnya masih ada orang yang menggunakan hal-hal semacam itu untuk menyakiti orang lain? Lagipula yang harusnya mereka serang itukan aku, kenapa malah Lu yang masuk rumah sakit. Kan aku yang memaki mereka. Aneh. Apa jangan-jangan Lu adalah korban salah sasaran? Haisshh, awas saja ya kalian wanita gatal. Tunggu setelah aku dan Lu keluar dari rumah sakit. Aku akan datang untuk membuat perhitungan dengan kalian. Huh.


Briana menoleh saat ada orang yang membuka pintu ruangan. Dan dia langsung menghambur ke arah Julia begitu melihatnya datang. Sambil menatap ke arah ranjang, Briana memberitahu Julia kalau Lu masih belum juga sadar sampai sekarang. “Julia, sejak tadi Lu sama sekali belum mau membuka matanya. Aku takut,”


“Apa yang kau takutkan? Lu itu pria idiot, aku yakin dia tahan badai. Santai saja,” sahut Julia sambil mengelus punggung Briana. Iseng, dia menarik dagu Briana agar menatapnya. Setelah itu Julia tersenyum lebar. “Hehe, akhirnya ya setelah bertahun-tahun aku bisa melihat matamu membengkak sebesar buah melon. Aku yakin sejak tadi kau pasti terus bercucuran airmata karena Lu tak juga sadar. Iya ‘kan?”


Duggg


Kepala Julia sampai terdongak ke atas saat Briana dengan brutal meninju dagunya. Erzan dan Wildan yang saat itu masih berdiri di depan pintu langsung terbengang-bengang sambil menelan ludah menyaksikan bagaimana wanita yang bernama Briana tak ragu memukul temannya sendiri. Dan mereka langsung sadar kalau Brianalah yang telah membuat anak buahnya Wildan masuk rumah sakit. Sungguh bar-bar sekali wanita ini. Mereka sepertinya harus sangat waspada sekarang.

__ADS_1


“Coba ejek aku sekali lagi. ‘Kupastikan gigimu akan rontok semua. Sialan kau!” umpat Briana jengkel. Dia kemudian menoleh ke belakang saat mendengar suara tarikan nafas seseorang. Briana lalu mengerutkan keningnya heran. “Siapa kalian? Bukan dokter ‘kan?”


Ditanya seperti itu oleh Briana membuat Erzan merasa sedikit gugup. Namun karena dia ingin segera melihat keadaan kakaknya, Erzan segera memperkenalkan diri. Dia berusaha santai meski sebenarnya Erzan merasa deg-degan berhadapan dengan wanita galak ini.


Astaga, kenapa Kak Gavriel bisa di jaga oleh ninja warior seperti Briana. Cantik sih, tapi kalau level kebar-barannya setinggi ini aku akan lebih memilih untuk tidak mengenalnya saja. Kehidupanku bisa terancam punah jika terus berada di dekatnya. Hiiii.


“Perkenalkan, namaku Erzan. Dan ini sekertaris kakakku, namanya Wildan. Kami datang untuk menjenguk Kak Gavriel. Julia yang memberitahu kami kalau kakakku ada di sini,” ucap Erzan memperkenalkan diri dengan sangat hati-hati.


“Erzan?” beo Briana. Dia lalu memicingkan mata pada Julia yang tengah mengelus-elus dagunya sambil mengerucutkan bibir. “Julia, klan mana lagi yang bawa kemari? Sudah tahu Lu sedang tidak sehat, malah sembarangan memungut orang. Bagaimana sih!”


“Jangan bicara denganku. Hubungan kita sudah berakhir setelah kau meninju daguku tadi!” rajuk Julia. Briana ini benar-benarlah. Julia hanya menggodanya sedikit tapi dia tega memukul dagunya sampai bengkok. Menyebalkan sekali.


“Oh. Begitu ya? Tanggung sekali jika hanya karena memukul dagu kau sampai memutuskan hubungan kita. Lebih baik aku patahkan saja sekalian tulang lehermu agar kita tidak ada kesempatan untuk berteman lagi. Mau kau?” ancam Briana dengan bengisnya.


Tidak hanya Julia, tapi Erzan dan Wildan juga ikut menelan ludah mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Briana. Tak mau mati konyol, Julia segera tersenyum manis sambil menggaet lengan Briana dengan tujuan agar wanita ini tak lagi marah kepadanya.


“Bri, jangan begitulah. Kalau tulang leherku patah lalu siapa yang akan menjadi sahabatmu? Jangan marahlah. Ya?” bujuk Julia.


“Kalau begitu cepat jelaskan siapa mereka. Awas kau ya kalau sampai bercanda lagi. Keadaan sedang genting, serius sedikit. Tahu?” sahut Briana sambil melirik tajam ke arah Erzan dan juga Wildan.

__ADS_1


Kenapa perasaanku jadi tidak nyaman ya setelah melihat Erzan? Wajahnya … kenapa wajahnya Erzan mirip sekali dengan wajahnya Lu. Lu tidak mungkin benar kakaknya ‘kan? Aaaaa, bagaimana ini. Bagaimana jika mereka sampai membawa Lu pergi dari sini. Aku tidak mau di tinggal, Lu tidak boleh pergi.


Briana tersentak sendiri mendengar isi pikirannya. Dia seperti tak percaya karena merasa tidak rela jika Lu sampai pergi meninggalkannya. Sepertinya Briana mulai gila.


“Jadi begini, Bri. Dua orang pria yang pagi tadi kau hajar adalah orang suruhan Erzan dan Wildan. Dan Lu adalah keluarga mereka yang hilang saat sedang dirawat di rumah sakit. Nama asli Lu adalah Gavriel, dia kakaknya Erzan,” ucap Julia menjelaskan pada Briana tentang siapa Erzan dan Wildan.


“Kakaknya?” beo Briana lirih. Jantungnya serasa dir*mas mendengar kenyataan tersebut. Setelah itu Briana berbalik menuju ranjang, menatap lama ke arah Lu yang masih belum sadar. “Lu, jadi namamu itu Gavriel ya. Tidak kusangka ternyata pria idiot sepertimu memiliki nama yang sangat bagus sekali. Aku jadi iri.”


Melihat sahabatnya yang tiba-tiba murung setelah mengetahui siapa Lu sebenarnya membuat Julia merasa tak tega. Dia lalu berjalan menghampiri Briana kemudian mengelus bahunya pelan. Keisengan yang sudah Julia rencanakan sejak tadi batal dia lakukan karena kasihan. Nanti saja, tunggu tenaga Briana full dulu baru dia akan menggodanya lagi.


Menyadari ada kesedihan yang tercipta di sana, Wildan mengajak Erzan untuk mendekat ke arah ranjang. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam antara lega dan juga senang karena atasannya akhirnya ditemukan dalam keadaan tanpa kekurangan apapun. Walaupun pingsan, setidaknya atasannya ini tidak sedang terluka parah. Wildan sangat bersyukur akan hal tersebut.


“Apa kalian akan langsung membawanya pergi?” tanya Briana sambil menatap sendu wajahnya Lu. “Lu sudah sangat menyusahkan aku selama dua bulan ini. Biarkan aku membuat tagihan dulu untuk semua biaya yang aku keluarkan sebelum kalian membawanya. Tidak apa-apa ‘kan?”


“Nona, mewakilkan kedua orangtuaku aku ingin mengucapkan banyak terima kasih padamu karena sudah menjaga kakakku selama dua bulan ini. Mengenai biaya yang sudah kau keluarkan kau bisa membicarakannya dengan Wildan. Kak Gavriel sedang sakit, aku perlu segera membawanya pulang agar mendapat pengobatan dari dokter pribadinya,” jawab Erzan sedikit enggan untuk mengulur waktu lagi. Ayah dan Ibunya sudah tidak sabar menunggu kepulangan kakaknya. Mereka bisa khawatir jika Erzan tidak segera membawanya kembali ke rumah.


“Aku sudah bilang tunggu Lu sadar baru kalian bisa membawanya. Kalau kau masih keras kepala juga, aku akan meminta dokter agar menyuntikkan racun tikus ke dalam botol infusnya Lu supaya dia tidak bisa pulang sekalian. Sudak dibilang aku ingin membuat perhitungan dulu masih saja kau beralasan. Menjengkelkan,” kesal Briana dengan mata sedikit memanas. Dia terus menatap Lu, hatinya terasa berat sekali.


Julia dengan cepat membuat isyarat agar Erzan tidak membantah keinginan Briana jika masih ingin melihat Lu hidup. Agak sedikit dramatis memang, tapi tidak apa-apalah. Sebagai saksi hidup jalinan perasaan yang sedang subur-suburnya tumbuh di hati Lu dan Briana, Julia jelas paham kalau sahabatnya ini tidak benar-benar ingin membunuh Lu. Briana hanya sedang menata hatinya yang terkejut karena sebentar lagi Lu akan dibawa kembali ke keluarganya.

__ADS_1


Haihhhh, kisah cinta seorang pria idiot dengan seorang gadis galak akankah berakhir menyedihkan? Tidak mungkin. Lu dan Briana saling suka, aku yakin mereka pasti bisa bersama suatu saat nanti. Tapi masalahnya Lu masih bisa mengingat kebersamaannya dengan Briana atau tidak jika amnesianya sudah sembuh? Gawat jika tidak. Briana bisa menjadi perawan tua nanti. Apa yang harus aku lakukan ya?


***


__ADS_2