Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Siap Dihajar


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan di kantor, Hendar bergegas pergi ke kedai milik istrinya. Tak lupa juga dia membawa makanan untuk makan siang mereka. Dari laporan yang Hendar terima, kedai milik istrinya menjadi sangat ramai setelah dia memerintahkan bawahannya untuk membuat selebaran. Hendar yakin sekali kalau sekarang istrinya pasti sedang sangat sibuk karena tak satupun panggilan dari Hendar ada yang di jawab.


"Tuan Hendar. Selamat siang," sapa penjaga dengan sopan.


"Bagaimana hari ini? Semuanya berjalan lancar, bukan?" tanya Hendar sambil terus berjalan menuju kedai. Dia lalu tersenyum melihat deretan pengunjung yang sedang antri membeli minum.


Para penjaga tidak ada yang berani menjawab. Hal itu tentu saja membuat Hendar merasa aneh. Segera dia berbalik menghadap belakang kemudian menatap seksama ke wajah para penjaga.


"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian telah melakukan sesuatu yang salah?" cecar Hendar penasaran. Mendadak perasaannya jadi tidak enak saat terbayang hal buruk tentang istrinya.


"Tuan, tidak ada hal buruk yang terjadi dengan Nyonya Jenny. Akan tetapi tadi Nyonya meminta saya mentransfer uang dengan jumlah yang sangat besar ke rekening salah satu wanita yang kemarin menjadi pelanggan pertama di kedai ini. Tadinya saya ingin menyelidiki dulu siapa wanita itu, tapi Nyonya marah dan memaki. Khawatir itu akan berpengaruh pada kesehatan Nyonya, jadi saya langsung mentransfer uang itu. Dan sekarang Nyonya Jenny pergi bersama kedua wanita yang bernama Briana dan Julia itu. Mereka berada di cafe yang tak jauh dari sini!" sahut salah satu penjaga menjelaskan apa yang terjadi dengan Nyonya mereka.


"Dan kalian memilih untuk tetap berdiri di sini daripada mengawasi istriku, hah? Percaya tidak kalau aku akan langsung menghabisi kalian semua jika istriku sampai kenapa-napa!"


Wajah Hendar menjadi merah padam. Dia menggeretakkan giginya karena kesal melihat sikap para penjaga ini. Bisa-bisanya mereka membiarkan istrinya pergi bersama orang asing. Keterlaluan. Ceroboh sekali mereka.


"Kalian ....


"Tuan Hendar, kami bukan membiarkan Nyonya Jenny pergi begitu saja. Tadi kami semua sudah menyusul ke sana, tapi di usir oleh Nyonya dan Julia. Mereka mengancam akan membotaki kepala kami semua jika masih berani memantau diam-diam. Karena bingung, kami akhirnya memilih untuk membagi tugas. Sebagian dari kami akan di sini menunggu anda datang, lalu yang sebagian lagi mengintai dari kejauhan. Anda sudah menugaskan kami untuk menjaga keselamatan Nyonya, jadi kami tidak mungkin lepas tangan begitu saja, Tuan!" ucap penjaga panik melihat bos mereka mulai naik darah.


"Apa? Istriku mengancam akan membotaki kepala kalian?"


"Iya, Tuan. Kami tidak bohong."


Hendar cengo. Sejak kapan Jenny-nya jadi sebrutal ini? Seingat Hendar Jenny adalah sosok wanita yang sangat lembut, kenapa tiba-tiba berubah? Apa mungkin karena terpengaruh oleh wanita yang bernama Julia itu? Aneh.

__ADS_1


Saat Hendar sedang terheran-heran akan sikap istrinya, dia di kejutkan oleh kehadiran dua orang pria yang salah satunya adalah Wildan, pria yang tempo hari datang ke kediamannya. Segera ekpresi wajah Hendar berubah menjadi dingin begitu keduanya datang menyapa.


"Selamat siang, Tuan Hendar."


Gavriel dan Wildan santai saja menghadapi sikap dingin mafia di hadapan mereka. Walaupun ada pria-pria berbadan besar di sana, mereka sama sekali tak merasa takut. Karena apa? Karena mereka tinggal mengadu pada Briana saja jika orang-orang ini sampai menyerang mereka. Kan Briana anak mafia. Hehehe.


"Mau apa kalian?" tanya Hendar cetus.


"Ada hal penting yang ingin kami bahas denganmu, Tuan Hendar," jawab Gavriel dengan tenang.


"Cihhh, kita tidak sedekat itu untuk membicarakan tentang kepentingan."


"Jika tentang Nyonya Jenny, masihkah itu tidak penting?"


"Tuan Hendar, bisakah kita bicara baik-baik? Kami datang kemari bukan dengan niat buruk, jadi tolong beri atasan saya kesempatan untuk berbicara. Oke?"


Smirk tipis muncul menghiasi bibir Hendar saat dia melihat Wildan memohon. Hendar lalu meminta penjaga untuk mundur. Kali ini dia ingin berbaik hati sedikit pada kedua pria ini meski tadi dia sempat jengkel saat nama istrinya di sebut.


"Bicaralah secepat yang kalian mampu. Aku sibuk!" desak Hendar tak mau membuang waktu. Dia ingin segera menyusul dan membawa istrinya kembali untuk makan siang.


Gavriel maju mendekat. Di tatapnya seksama wajah mafia ini untuk mencari tahu apakah ada kemiripan dengan Briana atau tidak. Gavriel lalu menghela nafas panjang saat tak menemukan apa yang di carinya dari pria ini.


Selain tampang galak Tuan Hendar, aku sama sekali tak menemukan kemiripan apapun dengan Briana. Astaga, masa iya sih Briana hanya menuruni gen mafianya saja. Mengerikan sekali.


"Tuan Hendar, maaf jika pertanyaanku akan membuatmu merasa tak tenang. Sebelum anak kalian hilang apakah Nyonya Jenny pernah memiliki anak dengan orang lain?" tanya Gavriel to the point. Dia sudah siap jika mafia ini akan langsung memerintahkan penjaga untuk menghajarnya. Gavriel tak mau mengulur waktu lagi.

__ADS_1


"Anak muda, aku sungguh tidak tahu apa tujuanmu bertanya seperti ini padaku. Tapi jika kau memang sepenasaran itu tentang istriku, baiklah, aku akan memberitahumu," jawab Hendar mencoba untuk tidak terpancing amarah. Dia lalu menatap tajam pria yang tengah berdiri di hadapannya. "Saat kami menikah, aku adalah pria pertama yang mendapat kehormatan untuk mengambil kegadisannya. Jadi bisa di pastikan istriku bukan janda atau bekas pria lain. Sudah puas?"


Gavriel dan Wildan saling melempar lirikan begitu mereka mendapat kepastian kalau Nyonya Jenny belum pernah memiliki anak dengan orang lain. Akhirnya, satu persatu benang merah mulai muncul ke permukaan. Dugaan kalau Briana bukan anak kandung Tuan Hendar adalah salah. Kini mereka tinggal mencari tahu saja penyebab kenapa Briana bisa mempunyai dua nama.


"Kalian masih belum puas juga?" sindir Hendar mulai kesal melihat Wildan dan atasannya yang malah saling lirik.


"Tuan Hendar, bisakah aku meminta izinmu untuk bicara dengan Nyonya Jenny? Kau jangan salah paham, aku sama sekali tak berniat untuk menggoda beliau. Ada hal penting yang ingin ku tanyakan dan hanya beliau yang bisa menjawabnya. Jadi tolong izinkan kami untuk berbicara secara privasi!" sahut Gavriel meminta izin pada Tuan Hendar. Sekali lagi dia sudah sangat siap jika para penjaga itu menghajarnya. Pokoknya demi mendapatkan keadilan untuk Briana, Gavriel rela menentang bahaya sekalipun.


"Kau ....


"Tuan Hendar!"


Wildan dengan berani menyela perkataan Tuan Hendar. Dia khawatir mafia ini akan menyakiti atasannya. Kan tidak lucu kalau atasannya sampai hilang ingatan lagi.


"Wildan, apa-apaan ini. Atasanmu sudah sangat lancang mengganggu orang terdekatku. Kalian itu jangan besar kepala ya setelah aku memberikan izin untuk kalian bicara. Tahu batasan. Mengerti?!" amuk Hendar menatap Wildan dengan tatapan menghunus. Kali ini dia sudah tidak bisa mentolerir sikap kedua pria tersebut. Hendar akan memberi mereka sedikit pelajaran.


"Tuan Hendar, tenanglah dulu. Maksud atasan saya tidaklah seperti yang anda pikirkan. Sebab kenapa ingin bertemu dengan Nyonya Jenny adalah kami ingin menanyakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan anak kalian. Anda tidak lupa bukan kalau atasan saya juga adalah korban penculikan yang terjadi dua puluh tahun lalu?" ucap Wildan kembali menjelaskan pada Tuan Hendar.


"M-maksudmu a-apa, Wil? Ke-kenapa tiba-tiba kalian tertarik untuk membahas tentang anakku, Kellen?" tanya Hendar yang tiba-tiba saja tergagap. Hatinya di hinggapi perasaan gelisah yang begitu besar.


Sadar ada yang tidak beres dengan reaksi Tuan Hendar, Gavriel berinisiatif mengajaknya untuk duduk. Benaknya banyak diliputi pertanyaan ini dan itu, menerka-nerka tentang kemungkinan adanya ancaman di balik nama asli dari seorang Kellen.


Kalau benar Tuan Hendar mengancam Nyonya Jenny jika melahirkan seorang anak perempuan, maka aku bersumpah tidak akan pernah memberitahukan padanya kalau Briana adalah anaknya yang hilang. Biar saja. Huh.


***

__ADS_1


__ADS_2