Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kena Getahnya


__ADS_3

Gavriel langsung membuka kancing atas kemejanya begitu membaca pesan yang di kirim oleh Briana. Niat hati hanya ingin mengompori sedikit, sekarang niat itu malah membuat Gavriel menjadi sesak nafas sendiri. Bagaimana tidak sesak nafas. Baru saja Briana memberitahunya kalau malam ini dia beserta Julia dan Nyonya Jenny akan mencari wanita itu di seluruh tempat prostitusi. Briana bahkan memberitahunya kalau mereka telah menyewa lima puluh anak buah Tuan Hendar untuk memastikan keamanan mereka bertiga selama berada di tempat itu. Bayangkan! Wildan dan Gavriel hanya bercanda, tapi kenapa di tanggapi seserius ini oleh ketiga wanita itu? Ini petaka. Gavriel harus segera menghentikannya.


"Kak, kau kenapa?" tanya Erzan heran melihat kakaknya yang terlihat syok setelah membaca pesan. Saat ini mereka sedang makan malam di luar bersama Wildan juga.


"Wildan, Erzan, ini gawat! Briana, Julia, dan juga Nyonya Jenny akan melakukan penyerangan ke tempat prostitusi untuk mencari keberadaan wanita itu. Briana juga bilang kalau mereka telah menyewa anak buah Tuan Hendar sebanyak lima puluh orang untuk menjaga keamanan mereka. Kalau kita tidak segera menghentikan kegilaan mereka, masalah ini bisa melebar kemana-mana. Ayo cepat pikirkan cara!" ucap Gavriel panik sendiri.


Uhuk uhuk uhuk


Wildan yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak karena kaget mendengar perkataan atasannya. Dengan wajah memerah dan masih terbatuk-batuk, Wildan segera meminum air putih kemudian mengelus dada. Sungguh, yang dilakukan oleh Nona Briana terlalu jauh dari ekspektasi. Padahal Wildan sudah sempat mengira kalau wanita halilintar itu tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi. Tapi sekarang? Astaga. Sebenarnya mereka itu wanita jenis apa sih. Kenapa mereka suka sekali melakukan tindak kekerasan. Heran.


"Nah, kena getahnya kan kalian sekarang. Tadi siang aku sudah memperingatkan agar jangan macam-macam pada Briana. Lihat sekarang hasilnya!" omel Erzan tak kaget mendengar tindakan gila yang akan dilakukan oleh Briana dan Julia. Satu lagi, dengan Nyonya Jenny juga, si istri mafia Hendar itu.


"Sekarang bukan waktunya untuk mengomel, Er. Bantu aku pikirkan cara untuk menghentikan mereka supaya tidak jadi pergi. Tempat itu sangat berbahaya kalau kau mau tahu!" sahut Gavriel kesal mendengar Erzan yang malah memarahinya.


"Kau pikirkan saja sendiri bersama Wildan, Kak. Maaf ya, aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini!"


Gavriel melengos. Sia-sia dia mempunyai adik kalau tidak bisa di andalkan. Huh.


"Tuan, kapan mereka akan berangkat?" tanya Wildan setelah keadaannya membaik. Wajahnya masih sedikit memerah, tapi dadanya sudah tidak sesak lagi.


"Briana bilang nanti malam, Wil," jawab Gavriel seraya memasang wajah pasrah.


Wildan melihat jam di tangannya. Dia kemudian menelan ludah. "Sekarang saja sudah malam, Tuan. Kapan tentunya mereka akan berangkat?"


"Aku tidak tahu,"

__ADS_1


"Perlukah kita ke sana?"


"Apa akan berhasil?"


"Kita minta bantuan Tuan Hendar saja. Saya yakin beliau pasti akan mendengarkan jika kita sedikit menjual nama Nyonya Jenny!" ucap Wildan mencoba garis peruntungan dengan melibatkan istri mafia itu.


"Kalau Nyonya Jenny saja bisa membawa lima puluh orang penjaga, menurutmu mungkin tidak Tuan Hendar akan bersedia untuk menolong kita?"


"Aku rasa sih tidak!" celetuk Erzan. "Sudahlah Kak, Wil. Semuanya sudah terlanjur basah, jadi biarkan saja Briana ingin melakukan apa. Lagipula tidak mungkin juga Briana akan berani membunuh wanita itu. Walaupun dia brutal, dia bukanlah pelaku kriminal. Jadi ya sudah biarkan dia bersenang-senang!"


Kedua alis Gavriel saling bertaut melihat Erzan yang tiba-tiba jadi mendukung Briana. Padahal tadi anak ini menyebut tidak ada hubungannya dengan persoalan yang sedang terjadi. Aneh.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya penasaran tindakan seperti apa yang akan dilakukan oleh Briana pada wanita itu. Kan wanita itu dulu yang memulai. Wajar kalau Briana marah. Secara, kalian itukan saling bucin!" ucap Erzan saat menyadari keanehan di wajah sang kakak.


Haihhh, kenapa aku jadi penasaran begini ya. Kira-kira Julia akan melakukan apa ya di sana? Jadi ingin menonton. Hehehe.


"Kalau memang seperti itu lalu ide siapa dengan mengirimkan foto aibmu pada Briana, hah?" ejek Erzan. "Kalau foto aib itu tidak di kirimkan padanya, malam ini kau dan Briana pasti sudah sibuk membucin. Benar?"


"Aku dan Wildan hanya iseng saja,"


"Dan keisengan kalian menghadirkan masalah besar untuk kalian sendiri. Haha!"


Kalau tidak ingat dirinya sedang berpura-pura lupa ingatan, Gavriel pasti sudah menjitak kepala Erzan detik itu juga. Sudah tahu dia sedang kebingungan, malah menjadikan masalah ini sebagai bahan tertawaan. Siapalah yang tidak merasa jengkel. Huh.


"Tuan Gavriel, coba hubungi Nona Briana sekarang. Minta dia untuk mundur dan membatalkan rencananya. Atau jika tidak berpura-pura saja kepala Anda sakit. Nona Briana pasti panik!" ucap Wildan menyampaikan ide yang baru saja muncul di dalam kepalanya. Dan dia sangat amat berharap kalau ide ini bisa menghentikan rencana gila ketiga wanita itu.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan mencobanya sekarang!"


Segera Gavriel menghubungi nomor Briana dan menunggunya menjawab dengan harap-harap cemas. Dan Gavriel menjadi resah sendiri saat panggilan pertamanya di abaikan oleh wanita galak itu. Tak putus asa, dia kembali menelpon. Tepat ketika bunyi nada tersambung, Gavriel langsung bisa bernafas lega begitu mendengar suara milik kekasihnya.


"Halo Lu, ada apa? Aku sedang melakukan persiapan. Menelponnya bisa nanti saja tidak?" ucap Briana dari dalam telepon. Tak lama setelah itu terdengar suara gaduh di mana Briana terlibat cekcok dengan Julia.


"Sayang, kepalaku tiba-tiba sakit sekali. Rasanya aku seperti mau mati!" ucap Gavriel pura-pura kesakitan. Untuk menopang agar dramanya seakan terlihat nyata, Gavriel bicara sambil memegangi kepala dan juga memasang ekpresi kesakitan. Masa bodo orang-orang menatapnya aneh, dia tak peduli. Yang penting Briana tidak jadi pergi ke tempat prostitusi itu.


Erzan yang melihat kelakuan kakaknya segera membuat gerakan seperti orang ingin muntah. Sungguh, dia benar-benar geli sekali melihatnya.


"Tuan Erzan, tolong jangan mengacau. Atau jika tidak saya akan mengadukan yang bukan-bukan tentang Anda pada Nona Briana. Mau?" ancam Wildan sambil berbisik. Dia tidak mau sandiwara atasannya terbongkar gara-gara ulah tengil pria ini.


"Cihhhh, ancam saja terus!" kesal Erzan.


"Kalau begitu diamlah. Biarkan Tuan Gavriel menyelesaikan pembicaranya dengan Nona Briana dulu!"


"Terserah kalianlah mau melakukan apa. Aku sudah tidak peduli lagi. Huh!"


"Lu, kau baik-baik saja, kan?" Briana bertanya. Nada suaranya terdengar cemas. "Sekarang kau sedang ada di mana? Kenapa kedengarannya ramai sekali? Kau sedang di rumah sakit ya? Kalau begitu aku akan datang ke rumahmu sekarang juga. Jangan takut, malam ini aku akan menjagamu sampai sembuh. Oke?"


"Briana, aku ... sial. Wildan, kita harus pulang sekarang juga. Briana akan datang ke rumah. Cepat!" teriak Gavriel panik. Segera dia berlari keluar meninggalkan Erzan dan Wildan.


"Tuan Erzan, saya permisi. Semua makanan ini jangan lupa di bayar!" pamit Wildan sebelum akhirnya berlari menyusul atasannya yang sudah lebih dulu keluar dari restoran.


Di tinggal pergi begitu saja membuat Erzan ternganga syok. Dia tidak percaya dirinya di jadikan tumbal untuk membayar semua makanan yang di pesan.

__ADS_1


"Huh, dasar pria-pria menyebalkan. Siapa yang di ajak makan siapa juga yang harus membayar. Awas saja kalian nanti. Aku pasti akan membalas penghinaan ini!" kesal Erzan.


***


__ADS_2