Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Para Perusuh


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan pintu terus terdengar saat hari menjelang malam. Namun, suara bising tersebut masih belum bisa membangunkan seorang wanita yang asik bergelung di bawah selimut tebalnya. Briana, ya, manusia satu ini sama sekali tak peduli akan suara ketukan pintu yang sudah sejak tadi mengganggu istirahatnya. Dia sebenarnya sudah bangun, tapi terlalu malas untuk sekedar bergerak. Alhasil dia biarkan saja orang itu terus mengetuk sampai jarinya putus. Siapa suruh mengganggu istirahat orang. Jadi kesal kan Briana jadinya.


"Briana, kami tahu kau ada di dalam. Cepat buka pintunya dan mari kita bicara. Ada hal penting yang harus segera kita bahas!" teriak seseorang dari arah luar.


"Iya cepat, Briana. Kalau tidak, jangan salahkan kami mendobrak pintu rumah ini kemudian menyeretmu keluar. Ayo cepat bangun!"


Hah, cari mati. Berani sekali gerombolan lebah betina itu mengganggu waktu istirahatku. Tunggu dan lihatlah bagaimana nanti aku akan menelan kalian semua. Dasar perusuh.


Dengan kasar Briana membuang selimut ke lantai kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Segera dia menggosok gigi kemudian menyeka wajah dengan air. Sambil menatap cermin, Briana memilih ekpresi mana yang harus dia tunjukkan untuk menakut-nakuti para perusuh yang sudah berani mengacau di rumahnya.


"Bahkan rasa lelahku masih belum hilang semua. Dan sekarang aku sudah harus berhadapan dengan mereka yang pastinya ingin menanyakan tentang Lu. Nasib-nasib. Beginilah jika punya pacar tampan. Tidak bisa tenang!" gerutu Briana sambil berjalan menuju pintu. Dalam sekali tarikan, dia langsung membukanya lebar-lebar kemudian melayangkan tatapan membunuh pada segerombolan wanita yang sedang mengelus dada karena kaget. "Apa mau kalian hah? Tidak tahu ya kalau aku sedang istirahat karena kelelahan. Mengganggu saja. Huh!"


"Kami mana tahu kalau kau sedang kelelahan, Briana. Siapa suruh tidak memasang plakat di depan pintu. Dengan begitukan kami tidak perlu repot-repot mengetuk pintu rumahmu yang jelek ini. Dikiranya kami senang kali datang ke sini. Huh!" sahut salah satu tetangga dengan cetus. Setelah itu dia maju ke depan, menatap penuh curiga pada gadis galak yang kini sudah duduk bertopang dagu. "Dua hari kemarin kau hilang kemana, Briana. Semua orang di sini berpikir kau mati bunuh diri karena tak kuat berpisah dari Lu. Lalu tadi seseorang memberitahu kami kalau kau sudah pulang dengan kondisi sehat. Jadi tolong beritahu kami kemana kau menghilang di dua hari terakhir. Kami semua mengkhawatirkanmu, Briana!"


Sebelah alis Briana terangkat ke atas saat dia mendengar perkataan si bibi tetangga. Jujur, dia ingin sekali menjitak kepalanya. Oh ayolah, kalian jangan mudah tertipu oleh suara mendayu-dayu mereka. Briana yakin betul kalau semua wanita ini hanya sedang bercanda saja. Mungkin mereka benar khawatir, tapi tujuan mereka datang ke rumah ini bukan untuk menjenguknya, melainkan ingin menanyakan tentang Lu. Kalian tidak percaya? Mari kita buktikan bersama.


"Kalau Bibi merasa penasaran kemana aku selama dua hari ini, maka jawab pertanyaanku dengan jujur. Tujuan kalian datang kemari adalah benar hanya untuk menanyakan kabarku atau untuk menanyakan kabarnya Lu. Jawab!" cecar Briana sudah tak heran lagi.

__ADS_1


Para wanita itu tampak saling melempar pandangan saat di tanya seperti itu oleh Briana. Jelas terlihat di wajah mereka kalau jawaban kedua adalah yang paling benar. Hehee, ya. Tujuan mereka mendatangi rumah Briana adalah untuk menanyakan kabar si hantu air. Mereka ingin tahu kira-kira kapan si hantu air itu datang berkunjung ke sana. Karena kebetulan sekolah sedang libur panjang, jadi mereka berniat mengenalkan anak beserta sanak saudara mereka kepada Lu. Briana kan waktu itu pernah bilang ingin mengajak mereka bersaing secara sehat. Jadi ya sudah, di sinilah mereka sekarang.


"Kami ingin mengetahui kabarnya Lu. Kalian tidak mungkin tidak pernah berhubungan lewat telepon, kan?" ucap salah satu tetangga dengan sangat berani. Baginya halal untuk bersaing mendapatkan hantu air itu. Kan Briana sendiri yang membuat perjanjian.


"Oh, kabarnya Lu ya. Dia baik-baik saja kok. Sangat baik malah," sahut Briana acuh. Dia tentu masih ingat jelas tentang perjanjian untuk bersaing sehat bersama para wanita ini. Sedetik kemudian Briana ingat kalau sekarang dia dan Lu telah resmi berpacaran. Sambil tersenyum lebar, Briana mengumumkan tentang kabar bahagia tersebut di hadapan semua orang. "Wahai para tetanggaku sekalian, tolong dengarkan baik-baik kabar gembira apa yang ingin kusampaikan pada kalian. Sejak dua malam yang lalu, aku dan Lu telah resmi menjadi pasangan kekasih. Kami juga telah berjanji akan terus bersama selamanya. Jadi aku sarankan lebih baik kalian semua berhentilah ingin menjodohkan putri kalian dengan Lu. Karena apa? Karena dia hanya mencintaiku seorang. Hahahaha!"


Kriikk kriiikk krriikkkk


Keangkuhan Briana di sambut acuh oleh semua orang yang ada di sana. Alih-alih merasa kecewa atau ikut bahagia, mereka semua malah bersikap dingin seolah kabar berpacarannya Briana dengan si hantu air adalah sesuatu hal yang sangat biasa.


Briana yang melihat reaksi tenang di wajah para tetangganya pun merasa heran. Padahal tadi dia sudah bersiap menutup telinga saat mereka semua berteriak karena kecewa. Namun apa yang terjadi di sini? Mengapa wajah mereka terlihat biasa-biasa saja? Aneh sekali.


"Kenapa juga kami harus marah. Kau dan Lu kan hanya berpacaran saja, kalian belum menikah. Jadi selama janur kuning belum melengkung, kami masih mempunyai kesempatan untuk memenangkan cintanya si hantu air itu. Iyakan teman-teman?"


"Iya benar. Karena persaingan kita adalah persaingan yang sehat, jadi kami tidak akan mempermasalahkan hal ini. Lain cerita kalau kau mengumumkan akan menikah dengan Lu. Baru kami akan menunjukkan reaksi yang berbeda. Pingsan mungkin!"


"Aku setuju denganmu. Pokoknya selama akad nikah belum di sebutkan dan cincin pernikahan belum di sematkan di jari manismu, kami masih halal untuk mengejar Lu. Titik!"


Sulit di percaya. Briana sampai terbengang seperti orang bodoh menyaksikan betapa besar tekad wanita-wanita ini dalam memburu calon menantu untuk di jodohkan dengan anak ataupun kerabat mereka. Luar biasa. Briana salut sekali. Dan saking salutnya, ingin sekali dia memasukkan semua wanita itu ke dalam karung lalu membuang mereka ke tengah laut supaya menjadi makanan ikan hiu di sana. Huh.

__ADS_1


"Jadi Briana, kapan Lu akan datang ke sini lagi. Kebetulan anak-anak sedang libur, dan kami berniat mengenalkan mereka semua kepada Lu. Kau tidak keberatan, kan? Jangan lupa ya kau sendirilah yang telah berjanji akan bersaing secara sehat dengan kami semua. Jadi kau tidak boleh marah!"


"Aku tidak tahu kapan Lu akan datang ke sini. Kemarin saat aku tinggal di rumahnya, asistennya memberitahuku kalau Lu tidak akan di izinkan pergi ke sini sebelum penyakitnya sembuh. Terlalu berbahaya!" Briana menjawab dengan hati yang sangat luar biasa dongkol. Tapi apa mau di kata. Dia sendiri yang mengajak semua orang agar bersaing secara sehat untuk mendapatkan Lu. Jadi ya sudah, sekarang dia hanya bisa pasrah menerima kenyataan.


"Wahhh, kasihan sekali ya dia. Tampan-tampan tapi amnesia. Jatuhnya seperti pria bodoh dan idiot. Benar tidak?"


"Benar sekali!"


"Tapi Briana, apa benar kemarin kau tinggal di rumahnya Lu saat kami mengira kau sudah mati karena bunuh diri?"


"Memangnya barusan kalian tidak dengar apa yang aku katakan?"


"Dengar sih. Tapi kami ingin memastikannya sekali lagi. Bisa sajakan kau hanya mengarang cerita untuk memanas-manasi kami? Sekarang ini kita semua sedang terlibat dalam persaingan, wajar kalau kau memainkan trik supaya bisa menguasai Lu sepenuhnya. Iya 'kan?"


"Ya Tuhaaaannnnnnn!"


Tak kuat meladeni, Briana memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Dia tak mengindahkan suara teriakan para perusuh itu. Masa bodo, Briana mau tidur.


Sial sekali nasibku hari ini. Setelah berperang sampai lemas dengan kotoran yang menumpuk di cafe, sekarang aku sudah harus kembali berperang dengan berebut Lu bersama para perusuh itu. Harus sebegini besarkah perjuanganku demi mempertahankan pria idiot itu? Astaga.

__ADS_1


***


__ADS_2