
📢📢 MAAF YA BELUM BISA UP. EMAK ASAM LAMBUNGNYA NAIK LAGI. 🙏🙏🙏🙏👉
***
Julia, Erzan dan juga Wildan menatap bergantian ke arah Lu dan Briana yang terlihat santai-santai saja saat sedang sarapan bersama mereka. Aneh, itu kesan yang tercipta di sana. Setelah kemarin Briana begitu tidak rela Lu di bawa pergi, ekpresi ketidakrelaan itu sekarang sama sekali tak terlihat. Malah Lu dan Briana tak ragu untuk memperlihatkan kedekatan mereka di hadapan Julia, Erzan dan juga Wildan. Seolah kalau saat ini dunia hanya milik berdua saja.
“Nah, Bri. Makanlah sayur banyak-banyak agar kau selalu sehat dan bisa membantu Julia di cafe,” ucap Lu sembari mengambilkan sayuran untuk Briana. Setelah itu Lu mengelus pelan puncak kepalanya, terkekeh lucu saat Briana terlihat malu-malu atas apa yang dia lakukan. “Aku paling suka saat kau sedang malu-malu begini, Bri. Kau jadi terlihat semakin manis.”
“Ih kau ini bicara apa sih, Lu. Memangnya aku ini gula apa,” sahut Briana tersipu. Dia lalu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, agak salting saat Lu tak ragu menunjukkan perhatian kepadanya meski saat ini ada orang lain selain mereka berdua.
“Tidak harus menjadi gula jika hanya untuk membuatmu terlihat manis, Briana,” ucap Lu. “Kau manis dengan caramu, dan kau istimewa dengan apa adanya dirimu.”
Wanita mana yang tidak akan meleleh jika di puji seperti ini oleh seorang pria. Begitu juga yang dirasakan oleh Briana. Bahkan Julia pun ikut merasa tersanjung mendengar kalimat pujian sederhana penuh makna yang dilontarkan oleh Lu barusan. Benar-benar sangat sesuai dengan latar belakang Lu yang berasal dari keluarga terpandang. Attitude dan kesopanannya dalam bicara tak perlu diragukan lagi. Sungguh.
“Ekhmmm Kak, apa kau sudah siap untuk pulang bersamaku?” tanya Erzan sambil berdehem pelan. “Ayah dan Ibu tidak berhenti menelponku sejak semalam. Mereka sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu.”
__ADS_1
Kemesraan Lu dan Briana langsung terhenti begitu Erzan membuka suara. Dan hal ini membuat Julia merasa sangat kesal. Tanpa pikir panjang Julia segera menarik telinga Erzan kemudian memelototinya sambil berkomat-kamit tidak jelas.
“Apa sih, Julia. Lepas!” kesal Erzan sambil berusaha membebaskan telinganya dari tangan Julia. Benar-benar ya gadis satu ini.
“Yakkk Erzan. Kakakmu begitu sopan tapi kenapa kau tidak tahu bagaimana cara menghargai perasaan orang lain? Kau tidak lihat ya kalau Lu sedang bermesraan dengan Briana. Harus membahas tentang kepulangannya sekarang? Iya?” tanya Julia dengan sengit.
“B-bukan begitu. A-aku hanya … hanya,” …. Erzan tergagap. Dia kemudian melirik ke arah Wildan, mengirim kode kalau dia butuh pertolongan.
Wil, cepat bantu aku menjelaskan pada Kak Gavriel kalau aku sama sekali tidak berniat mengganggu waktunya dengan Briana. Aku hanya sudah tidak tahan terus di kirimi pesan oleh Ibu.
“Tuan Gavriel, yang di katakan oleh Tuan Erzan memang benar kalau Tuan Dary dan Nyonya Helen sudah menunggu kepulangan anda sejak kemarin. Bahkan semalam mereka tak henti menghubungi Tuan Erzan dan menanyakan kapan kami akan membawa anda pulang ke rumah,” ucap Wildan dengan sopan.
“Aku tahu. Kalian jangan khawatir. Setelah kita selesai sarapan aku akan ikut pulang bersama kalian. Akan tetapi sebelum itu tolong jangan ganggu waktuku dengan Briana. Dua bulan terakhir ini hanya dia dan Julia saja orang yang kukenal, jadi bukan hal yang mudah untuk meninggalkan mereka begitu saja. Terlebih lagi Briana, orang yang telah menyelamatkan aku. Kalian bisa mengerti bukan?” sahut Lu dengan tegas menegur Erzan dan Wildan agar jangan mengganggu waktunya yang sudah tak banyak lagi. Dia kemudian menoleh, menatap sedih ke arah Briana yang terlihat murung. Sambil menghela nafas panjang, Lu meraih sebelah tangan Briana kemudian menciumnya dengan penuh perasaan. “Bri, jangan sedih. Kalau kau murung begini aku jadi tidak tega meninggalkanmu. Jangan sedih, aku janji aku akan kembali datang untuk menemuimu setelah semuanya kembali normal. Ya?”
“Aku tidak sedih karena kau akan segera kembali ke keluargamu, Lu. Tapi aku sedih karena setelah ini tidak akan ada lagi yang merecoki keseharianku. Walaupun kita hanya kenal dua bulan, tapi setiap waktu yang kita lalui bersama membuatku merasa sangat senang. Dan tanpa disangka-sangka pertemanan kita hanya akan terjadi sesingkat ini. Entah apa yang akan terjadi nanti setelah kau mengingat semuanya. Yang jelas sekarang aku merasa kehilangan,” sahut Briana jujur mengakui rasa kehilangannya di hadapan semua orang. Dia lalu tersenyum getir saat Lu membelai wajahnya. “Kita masih akan bertemu lagi ‘kan?”
__ADS_1
Lu mengangguk. Tanpa menghiraukan keberadaan tiga orang di sana, Lu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Briana kemudian mengecup keningnya lama. Rasanya sungguh berat sekali meninggalkan wanita ini. Tapi mau bagaimana lagi, Lu juga tidak mungkin menempatkan Briana dalam posisi orang egois yang melarang bertemu dengan keluarganya. Jadi meskipun berat, perpisahan ini akan tetap terjadi.
“Haihhh, kenapa suasananya jadi sedih begini ya,” gumam Julia sambil menengadahkan wajahnya ke atas. Dia sedang berusaha agar air matanya tidak menetes keluar. Bahaya nanti jika eyelinernya sampai luntur, bisa-bisa Wildan tak tertarik kepadanya. Hehe, iya benar. Julia jatuh cinta pada pandangan pertamanya dengan Wildan, dia terpesona pada kesopanannya. Tidak seperti Erzan yang acuh dan suka bersikap semaunya. Huh.
“Wil, aku salah ya bicara seperti itu tadi?” bisik Erzan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Briana dan kakaknya.
“Sebenarnya tidak salah, Tuan Erzan. Hanya waktunya saja yang kurang tepat,” sahut Wildan. Dia kemudian menatap atasannya yang kini tengah menyuapkan makanan pada Nona Briana. Wildan lalu menghela nafas panjang. “Biar bagaimanapun Tuan Gavriel dan Nona Briana telah menghabiskan waktu bersama selama dua bulan, wajar jika mereka sama-sama merasa keberatan. Apalagi sekarang di hati mereka sudah di tumbuhi perasaan sayang, sudah pasti perpisahan ini membuat mereka merasa cukup terpukul. Kita harus bisa memahaminya, Tuan.”
“Kau benar, Wil. Hmmmm, kenapa tadi aku tidak terpikir ke arah sana ya? Harusnya aku bisa mengerti kalau sekarang adalah waktu terakhir mereka bisa sarapan bersama,” ucap Erzan sambil memperhatikan kakaknya yang dengan begitu telaten menyuapkan makanan ke dalam mulut Briana.
Kak, walaupun Briana adalah wanita yang cukup mengerikan, tapi aku doakan semoga kalian bisa bersama selamanya. Semoga saja nanti ingatan kebersamaan kalian tidak hilang saat ingatanmu kembali pulih. Walaupun kalian saling mengenal tak sampai seratus hari, tapi aku bisa melihat kalau kalian itu sama-sama saling sayang. Maafkan aku yang datang di saat tidak tepat. Aku sangat menyesalkan hal ini. Sungguh.
Wildan, Erzan dan Julia menikmati sarapan mereka sambil terus memperhatikan Lu dan Briana. Dua sejoli ini benar-benar tidak mempedulikan keberadaan orang lain, mereka hanya fokus pada dunia mereka sendiri. Namun karena tak ingin membuat suasana kembali terasa sedih seperti tadi, Julia, Erzan dan juga Wildan memutuskan untuk tidak mengganggu kebersamaan Lu dan Briana. Mereka benar-benar membuka waktu untuk keduanya saling bercanda sebelum Erzan dan Wildan membawa pulang kakaknya.
***
__ADS_1