Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Rindu Itu Berat


__ADS_3

Wildan langsung menepikan mobil saat dia mendapati atasannya mendesis lirih sambil menekan pinggiran kepala. Sadar kalau sang atasan sedang kesakitan, Wildan pun bergegas mengeluarkan obat yang memang selalu dia siapkan di dalam mobil. Dan jangan salah. Obat tersebut adalah obat khusus dari dokter yang menangani penyakit amnesia atasannya, jadi sudah pasti obat tersebut sangatlah aman untuk di konsumsi.


“Wil, biar aku saja yang memberikan obat itu pada Kak Gavriel. Kau fokus menyetir supaya kita bisa segera sampai di rumah,” ucap Erzan sambil menahan bahu Wildan yang hendak keluar dari dalam mobil. Karena kakaknya masih menjaga jarak, Erzan memutuskan untuk duduk di kursi depan saja. Dia tidak mau egois sebab takut kalau ingatan sang kakak malah akan bertambah semakin buruk kalau dia terlalu memaksakan diri.


“Baiklah, Tuan Erzan. Ini obatnya,” sahut Wildan seraya memberikan sebutir obat dan juga sebotol air putih pada Erzan.


Setelah itu Erzan bergegas keluar dari dalam mobil kemudian masuk kembali kemudian duduk di kursi belakang. Cepat-cepat dia memberikan obatnya pada sang kakak yang terus saja menekan pinggiran kepalanya. “Kak, minumlah. Obat ini adalah obat yang biasa Kakak minum saat sedang sakit seperti ini. Jangan khawatir, ini bukan racun.”


“Benarkah?” sahut Lu lirih. Dia masih belum terlalu mempercayai Erzan, jadi wajar sajakan kalau dia merasa ragu untuk meminum obat tersebut?


“Ruhmu boleh datang menghantuiku kalau obat ini sampai membunuhmu. Aku adikmu, Kak Gavriel. Aku tidak mungkin mencelakaimu!”


Lu menghela nafas panjang. Dengan sebelah tangannya dia menerima obat pemberian Erzan kemudian memasukkan ke dalam mulut. Setelah itu Lu segera meneguk air dari dalam botol sebelum akhirnya dia menyender ke kursi mobil. Sambil memejamkan mata, pikiran Lu melayang pada satu kejadian di mana Briana menangis sesenggukan melihatnya pingsan. Ya, waktu itu Lu sebenarnya sempat sadar beberapa detik. Tapi dia kembali pingsan saat bayang-bayang tali simpul itu muncul memenuhi rongga ingatannya sehingga dia tak sempat menggoda Briana yang tengah menangis.


Kalau sekarang Briana ada di dalam mobil ini, aku yakin dia pasti akan ketakutan seperti kemarin. Hmmm, baru beberapa menit meninggalkannya tapi aku sudah begitu merindukan gadis galak itu. Ternyata memang benar apa kata Julia kalau rindu itu berat, makanya tidak boleh di tahan. Aku harus bagaimana ya sekarang?

__ADS_1


Erzan meminta Wildan untuk pelan-pelan saja saat melajukan mobil ketika mendapati sang kakak yang tengah tersenyum sambil duduk menyender. Tanpa harus bertanya, Erzan sudah langsung tahu kalau kakaknya pasti sedang memikirkan wanita ninja warior itu. Jadi untuk membangun keakraban di antara mereka, Erzan sengaja membuka percakapan dengan menjadikan Briana sebagai topik pembicaraan. Sekalian karena Erzan juga ingin tahu kehidupan macam apa yang telah di jalani kakaknya selama dua bulan terakhir ini.


“Ekhmmm, Kak. Kalau boleh tahu di mana kau dan Briana bertemu pertama kali?” tanya Erzan mulai membuka percakapan.


“Saat aku sedang kelaparan,” jawab Lu jujur. Setelah itu dia membuka mata lalu menatap Erzan dengan seksama. “Erzan, kau tahu tidak. Saat pertama kali aku bertemu dengan Briana, dia adalah orang pertama yang tidak menyiramku dengan air kotor saat aku mengaku sedang kelaparan. Dia bahkan langsung mengizinkan aku tinggal di rumahnya dan juga memberiku makan meski sebelumnya dia memakiku lebih dulu. Entah aku yang sedang lupa dengan kehidupanku sebelumnya atau memang karena Briana yang begitu baik, saat itu aku merasa kalau makanan yang Briana berikan untukku adalah makanan terenak di dunia ini. Aku juga merasa kalau orang yang suka berperilaku buruk di depan kita ada alasannya. Ada kalanya sikap keras kepala dan juga arogan mereka hanya untuk melindungi hatinya yang lemah. Di depan kita Briana memang terlihat sebagai sosok gadis culas, galak, dan juga sadis. Tapi pada kenyataannya dia itu sama sekali tidak bahagia dengan hidupnya. Namun bukan dalam artian dia tidak bersyukur, tapi lebih kepada keras pada dirinya sendiri. Aku kasihan padanya, dan juga jatuh cinta di saat bersamaan. Aku mencintai caranya dalam memperlakukan aku, aku juga semakin mencintainya saat menyaksikan Briana bisa tertawa lepas karena kebahagiaan kecil yang kulakukan untuknya. Dia wanita yang sangat unik sekali bukan?”


Mulut Erzan ternganga lebar, tak percaya kalau kakaknya akan sejujur ini dalam mengakui perasaannya. Awalnya Erzan pikir kakaknya akan sedikit menjaga privasi hubungannya dengan Briana, tapi siapa yang akan menyangka kalau sang kakak akan seterbuka ini di saat kakaknya tak bisa mengingat kalau Erzan adalah adiknya sendiri. Astaga, jiwa Erzan sampai melayang saking kagetnya dia mendengar pengakuan tersebut.


Wahhh, ternyata cinta bisa membuat seseorang yang sedang lupa ingatan menjadi gila juga ya. Amit-amit, jangan sampai aku dibuat gila juga oleh cinta. Huftt.


Krikk kriikk kriikk


Kali ini bukan hanya Erzan saja yang terkejut, tapi Wildan juga. Dia bahkan sampai melirik lewat kaca spion hanya untuk memastikan kalau yang baru saja bicara adalah atasannya yang sedang lupa ingatan. Tegas, bertanggung jawab atas ucapannya, juga tak ragu untuk mengancam jika hal tersebut sampai merugikan pihak lain. Sungguh penderita amnesia yang tidak lupa dengan kepribadiannya sendiri bukan?


“Tuan Gavriel, anda jangan cemas. Tadi pagi Julia telah menitipkan buku diary kepada saya. Julia bilang dia semalaman suntuk menuliskan kisah perjalanan anda dengan Nona Briana agar nanti anda tidak melupakan kebaikan Nona Briana dan juga Julia jika ingatan anda sudah pulih. Jadi anda tidak perlu cemas. Saya yang akan menjamin kalau anda pasti akan kembali datang menemui Nona Briana di rumahnya!” ucap Wildan memberitahu atasannya tentang titipan penuh perjuangan dari Julia.

__ADS_1


“Hmmmm, Julia memang guru terbaikku. Dia yang paling tahu tentang perasaanku pada Briana,” sahut Lu sambil tersenyum tipis. Dia merasa beruntung sekali karena memiliki teman seperhatian Julia. Benar tidak?


“Guru terbaik?” Erzan membeo. Entah mengapa dia merasa agak ambigu dengan kata guru terbaik yang dilontarkan oleh kakaknya. Erzan merasa ada yang tidak beres dengan kata-kata tersebut. “Kenapa Julia bisa menjadi guru terbaikmu, Kak? Memangnya apa yang sudah dia lakukan terhadap perasaan Kakak pada Briana?”


Lu kembali memejamkan mata sebelum menjawab pertanyaan Erzan. Dia kemudian menguap, tiba-tiba mengantuk setelah meminum obat. Antara sadar dan tidak sadar, Lu memberitahu Erzan dan juga Wildan tentang ilmu yang di dapatkannya dari Julia. “Julia bilang padaku kalau aku adalah orang pertama yang mencium Briana. Dia juga memberitahuku kalau Briana masih perawan, termasuk memberikan tips tentang bagaimana cara untuk menaklukannya di ranjang. Julia juga sering menyampaikan ilmu erotis yang katanya bisa merangsang syaraf kegatalan di diri Briana. Tapi sampai sekarang tidak ada satupun ilmunya yang aku terapkan pada Briana. Aku menyukainya, jadi akan menjaga kehormatannya sampai akhir. Briana harus menjadi istriku dulu jika aku ingin menyentuhnya. Dia gadis yang baik, jadi harus di perlakukan dengan baik pula. Tidak seperti Julia yang otaknya selalu di penuhi dengan ide-ide 21++. Dia ….


Erzan dan Wildan sama-sama menarik nafas panjang saat orang yang sedang bicara tiba-tiba tertidur sebelum menyelesaikan perkataannya. Setelah itu merekapun saling menatap lewat kaca spion, memberi respon kalau si Julia itu ternyata adalah gadis yang sangat mesum.


“Tidak kusangka kalau Kak Gavriel akan menjuluki Julia dengan sebutan guru terbaik. Sungguh sangat jauh dari perkiraanku, Wil. Menurutmu bagaimana?” tanya Erzan tak habis pikir dengana kesesatan Julia dalam menjerumuskan pikiran kakaknya. Untung kakaknya kuat iman. Kalau tidak, bisa-bisa Briana hamil di luar nikah. Benar tidak teman-teman?


“Kurang lebih sama dengan apa yang anda pikirkan, Tuan. Tidak di sangka ternyata Julia adalah seorang guru dari dunia kemesuman,” jawab Wildan seraya meng*lum senyum. Ada-ada saja ya jenis manusia di dunia ini. Haihhh.


Tak mau istirahat kakaknya terganggu, Erzan berbisik pada Wildan agar mereka mengakhiri percakapan mereka. Setelah itu Erzan mengirim pesan pada ibunya kalau dia sedang dalam perjalanan menuju rumah. Tak lupa dia mengabarkan kalau sekarang kakaknya sedang tidur setelah meminum obat.


Haihhh, akhirnya aku bisa segera terbebas dari neraka dunia perbisnisan itu. Semoga saja Kak Gavriel bisa langsung sembuh begitu di tangani oleh dokter pribadinya. Dengan begitu aku bisa secepatnya terjun kembali ke hobiku yang dulu. Hehehe.

__ADS_1


***


__ADS_2