Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kenangan Pahit


__ADS_3

📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE


***


“Tuan, tolong biarkan kami semua pergi dari sini. Kami ingin pulang,” ucap seorang bocah kecil menghiba pada pria dewasa yang tengah mengikat tangan seorang gadis muda hingga membentuk tali simpul. Dahi bocah kecil tersebut di penuhi butiran keringat yang cukup deras. Dia ketakutan.


“Pulang? Pulang kemana, hem? Rumah kalian ada di sini, jadi kalian tidak perlu pergi kemana-mana lagi. Oke?” sahut si pria dewasa sambil menyunggingkan senyum yang sangat aneh. Setelah itu dia melayangkan satu tamparan pada wajah gadis kecil yang barusaja di ikatnya. Di detik selanjutnya, ekpresi pria tersebut langsung berubah menjadi sangat mengerikan. Dia lalu berjongkok, mer*mas kuat dagu bocah kecil yang tengah berdiri ketakutan di hadapannya. “Kau dan teman-temanmu sudah cukup merasakan kebahagiaan bersama keluarga kalian. Dan kebahagiaan itu membuat seluruh tubuhku terasa sangat sakit sekali. Jadi sekarang berhentilah merengek karena satu-persatu dari kalian akan aku kirim ke suatu tempat yang tidak bisa di temukan oleh siapapun. Mengerti?”


Gavriel Anderson, bocah laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu tampak gemetaran saat si pria gila tertawa dengan sangat kencang sebelum akhirnya menarik kuat tali simpul yang melilit leher si gadis malang. Entah karena terlalu syok apa bagaimana, Gavriel kecil hanya berdiri diam ketika tubuh kecil gadis itu mengejang-ngejang karena tidak bisa bernafas. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Gavriel di kagetkan oleh tarikan pelan di kakinya. Gavriel menunduk, dia lalu mengerutkan keningnya mendapati seorang anak laki-laki berwajah lucu tengah menatapnya sambil menggigit bibir. Karena si pria gila sedang asik dengan tubuh gadis malang itu, dia tidak menyadari kalau Gavriel diam-diam mengajak bocah laki-laki itu untuk sedikit menjauh dari sana. Setelah itu Gavriel bertanya kepadanya.


“Kakak, perutku mulas sekali. Aku ingin ke kamar mandi. Bisakah kau mengantarkan aku ke sana?”


“Apa kau tidak bisa menahannya?” tanya Gavriel antara kasihan dan juga takut.


“Aku sudah berusaha menahannya sejak tadi, tapi sepertinya sekarang sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku bahkan sudah mengeluarkannya sedikit. Tolong aku ya?”


Bingung, Gavriel segera menoleh ke belakang untuk memastikan apakah pria gila itu menyadari keberadaannya atau tidak. Beruntunglah Gavriel karena ternyata pria itu kini tengah di sibukkan dengan gergaji buruk yang akan di gunakannya untuk memotong tubuh gadis malang yang sudah tidak bernyawa lagi. Sambil menahan ketakutannya, Gavriel dengan cepat menarik tangan bocah laki-laki itu lalu membawanya keluar lewat lorong kecil yang ada di bangunan itu. Namun karena ketakutan yang Gavriel rasakan terlalu besar, tubuhnya langsung lemas saat pria gila itu menyalakan gergajinya.


“Kak, kau kenapa? Ayo cepat temani aku. Itunya sudah mau keluar,” tanya si bocah laki-laki sambil mengapitkan kedua kakinya. Bibirnya terus meringis menahan desakan bom atom yang memaksa untuk segera dikeluarkan.

__ADS_1


“K-kau pergi sendiri saja ya. Aku … aku tidak kuat lagi,” jawab Gavriel dengan muka yang sudah pucat pasi. Nafasnya mulai sesak dan kepalanya serasa di hantam benda tumpul dengan sangat keras.


“Tapi aku takut,” ….


Gavriel mencoba untuk tersenyum. Dia lalu meraih satu tangan bocah laki-laki itu untuk menguatkannya. “Kau jangan takut. Aku akan menjagamu dari sini. Nanti saat kau menemukan celah untuk pergi, segeralah mencari bantuan. Kau tidak maukan terus berada di tempat mengerikan ini?”


“Mencari bantuan?”


“Iya,” sahut Gavriel dengan pandangan yang mulai berkunang-kunang. “S-siapa namamu?”


“Namaku Bri ….


Hoshh hosshh hosshhh


“Tuan Gavriel, anda baik-baik saja?” tanya Wildan panik sembari memperhatikan wajah atasannya yang terlihat begitu pucat. Dia tadi kaget sekali saat atasannya ini tiba-tiba tersadar dari terapi hipnotis yang sedang dilakukan oleh dokter pribadi atasannya. Melihat atasannya kesakitan begini membuat Wildan merasa sangat khawatir. Wildan lalu meminta izin pada dokter untuk mendekat.


“Wildan, sebenarnya apa yang terjadi dengan masalaluku? Anak laki-laki itu, dia baik-baik saja ‘kan?” sahut Lu mulai lemah.


“Anak laki-laki?”

__ADS_1


Wildan membeo bingung. Dia berbalik menatap para dokter sambil mengerutkan keningnya. “Dokter, apa sebelumnya Tuan Gavriel pernah menyebutkan tentang anak laki-laki saat beliau di culik?”


“Tidak pernah, Tuan Wildan. Selama kami menangani penyakit Tuan Gavriel, baru kali ini kami mendengar Tuan Gavriel menyebutkan tentang anak laki-laki itu. Dan bukankah saat kasus penculikan itu terjadi pihak kepolisian mengatakan kalau hanya Tuan Gavriel saja yang selamat?” jawab salah satu dokter tak kalah bingung. Mereka sampai melemparkan pandangan satu sama lain karena merasa aneh akan pertanyaan pria yang sedang mereka rawat.


“Ya, pihak kepolisian menyebutkan tidak ada korban lain yang selamat selain Tuan Gavriel. Tapi kenapa Tuan Gavriel bisa menanyakan tentang anak itu? Apa mungkin saat sedang di hipnotis tadi alam bawah sadar Tuan Gavriel membawanya pada kejadian yang membuatnya mengidap penyakit amnesia?”


“Itu bisa saja terjadi, Tuan. Sebenarnya tadi kami bukan menujukannya untuk mengingat kejadian itu, kami hanya sedang berusaha mengarahkannya pada kehidupan setelah beliau lulus kuliah. Bisa saja alam bawah sadar Tuan Gavriel memintanya untuk kembali mengenang kejadian itu karena ada sesuatu yang terhubung dengan masa itu. Karena sejak Tuan Gavriel kecil di temukan, dia sama sekali tidak memberikan keterangan signifikan atas kekejaman yang terjadi di sana. Jadi besar kemungkinan kenangan yang tadi muncul di ingatannya merupakan satu kejadian sebelum beliau di temukan!”


Lu yang merasa aneh mendengar percakapan Wildan dengan para dokter itu tiba-tiba terdorong untuk menanyakan penculikan apa yang mereka maksud. Sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut, Lu berusaha bangun kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang.


“Dokter, Wildan. Siapa yang menculik Gavriel?”


Wildan beralih menatap atasannya yang tengah duduk menyender. “Tuan Gavriel, mimpi yang anda lihat barusan kemungkinan besar adalah kejadian yang terjadi dua puluh tahun silam. Saat itu anda masih berusia sepuluh tahun. Ada seorang pria gila yang menculik anda dan beberapa anak kecil lainnya lalu di sekap di sebuah rumah kosong di pinggiran kota. Dan saat pihak kepolisian menemukan keberadaan kalian, hanya anda satu-satunya korban yang selamat. Mungkin karena kejadian yang anda lihat terlalu mengerikan, kejiwaan anda menjadi terguncang. Setiap kali anda melihat sesuatu yang berhubungan dengan kejadian itu, anda akan langsung pingsan kemudian kehilangan ingatan seperti sekarang!”


“Hanya Gavriel yang selamat?” sahut Lu kaget. Dia menegakkan tubuhnya kemudian menatap bergantian ke arah Wildan dan para dokter di sana. “Tapi Wil, Gavriel jelas-jelas meminta anak laki-laki itu untuk pergi melarikan diri saat si pria gila menggergaji tubuh seorang gadis kecil. Dia bahkan … argghhhhhhhh!”


“Tua Gavriel!” pekik Wildan panik melihat atasannya tiba-tiba berteriak. Segera dia menangkap tangan atasannya yang tengah menarik rambutnya dengan kuat. “Dokter, cepat tolong aku. Suntikkan obat ke tubuh Tuan Gavriel. Sekarang!”


Lu terus berontak kesakitan saat pecahan-pecahan ingatan itu muncul silih berganti memenuhi rongga kepalanya. Jujur, ini adalah rasa sakit paling luar biasa yang pernah Lu rasakan sejak kabur dari rumah sakit. Saking sakitnya, beberapa detik kemudian Lu kehilangan kesadarannya. Tubuhnya melemas bersamaan dengan masuknya obat yang disuntikkan oleh dokter. Wildan yang melihat atasannya sudah tak sadarkan diri segera membaringkannya dengan sangat hati-hati sekali. Setelah itu Wildan menghela nafas panjang, merasa bingung kenapa atasannya tiba-tiba menyebut keberadaan seorang anak laki-laki yang sebelumnya tidak pernah di sebutkan sejak kejadian penculikan itu terjadi.

__ADS_1


Sepertinya ada hal penting yang terlewat dalam kejadian itu. Aku harus segera menyelidikinya lagi dan mencaritahu siapa anak laki-laki yang di maksud oleh Tuan Gavriel. Ya, masalah ini perlu untuk di selidiki ulang, batin Wildan bertekad.


***


__ADS_2