Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Bukan Orang Sembarangan


__ADS_3

“Tuan Gavriel, anda kenapa?”


Seperti orang kesetanan Wildan langsung keluar dari dalam mobil tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu. Dia yang waktu itu sedang dalam perjalanan pulang sembari menerima panggilan dari Tuan Erzan sangat kaget sekali mendapati sang atasan yang tengah terkapar di pinggir jalan dengan ditemani oleh seorang laki-laki dan perempuan. Segera dia memangku kepala sang atasan sambil menepuk pelan sebelah pipinya begitu sampai di dekatnya.


“Maaf, kau siapa?” Wanita itu bertanya. Ditatapnya lekat wajah pria yang tiba-tiba memangku kepala pria yang sedang sekarat di pinggir parit.


Wildan mendongak. Dia lalu memperkenalkan diri.


“Nama saya Wildan, Nyonya. Dan pria ini adalah atasan saya. Namanya Tuan Gavriel.”


“Oh, Wildan.”


Si wanita menggumam. Dia lalu menatap pria di sebelahnya seraya menampilkan ekpresi kosong. “Pria malang ini sudah berada di tangan orang yang tepat. Kita pulang sekarang saja ya. Aku ingin istirahat,”


“Baiklah,” sahut si pria patuh.


“Tunggu!” Wildan dengan cepat mencegah kepergian kedua orang tersebut. Dia bermaksud mengucapkan kata terima kasih sekaligus bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada sang atasan. “Tuan, Nyonya, maaf mengganggu. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih pada kalian berdua karena telah menolong atasan saya. Lalu yang kedua bisakah kalian menceritakan kronologi mengapa atasan saya bisa tidak sadarkan diri begini? Apa mungkin ada seseorang yang telah menyerangnya? Beliau sedang sakit dan tiba-tiba saja menghilang dari rumah. Kami semua sedang mencarinya tadi.”


“Tuan Wildan, aku dan istriku hanya tak sengaja saja melihat atasanmu berjalan sendirian seperti orang yang sedang kebingungan. Dan saat kami bertanya padanya, dia tiba-tiba berteriak kemudian jatuh tak sadarkan diri di sini. Sebenarnya tadi aku ingin menolong atasanmu, tapi istriku tidak mengizinkan dengan alasan yang tidak bisa kusampaikan. Jadilah kami hanya memperhatikannya saja,” ucap si pria menjelaskan. “Dan mengenai apakah ada orang yang ingin mencelakainya atau tidak, kami sama sekali tidak tahu karena atasanmu hanya sendirian saja saat kami bertemu. Begitu ceritanya,”


Wildan mendengarkan dengan seksama cerita dari pria di hadapannya ini. Dan secara tak sengaja pandangannya tiba-tiba beradu dengan pandangan wanita itu. Sontak hal tersebut membuat Wildan langsung menoleh ke arah lain. Namun ….

__ADS_1


Tunggu-tunggu … mata itu kenapa terasa familiar? Di mana aku pernah bertemu dengan orang yang matanya sama seperti wanita ini?


Dalam kebingungannya, ponsel di saku jas Wildan berdering. Dan suara deringannya membuat sang atasan menggumam lirih.


“Bri ….


“Tuan Gavriel, anda sudah sadar?” tanya Wildan sambil menatap kelopak mata sang atasan yang tengah mengerjap-ngerjap.


“Ayo pulang!” rengek si wanita yang terlihat tak nyaman akan sesuatu hal.


“Tunggu sebentar,” sahut di pria dengan sabar. Dia lalu berpamitan sebelum mengabulkan keinginan istrinya. “Tuan Wildan, aku dan istriku sudah harus kembali ke rumah. Maaf aku tidak bisa membantumu karena istriku juga sedang dalam kondisi yang kurang baik. Jika ada salah-salah kata mohon di maklumi ya. Kami permisi.”


“Iya, Tuan. Sekali lagi terima kasih banyak karena tidak meninggalkan atasan saya sendirian,” sahut Wildan seraya mengangguk sopan. Dia lalu menatap kepergian kedua orang itu dengan pandangan yang begitu penasaran. “Siapa mereka? Dan kenapa juga mereka harus berada di jalan menuju pinggiran kota? Sepanjang jalan ini hanya ada hutan dan sungai. Tidak mungkinkan mereka sedang berwisata?”


“Engghhhhh, Briana. Kau … di mana?” gumam Lu dengan suara yang sangat kecil. Tangannya bergerak meraba asal.


“Tuan, ini saya Wildan,” ucap Wildan mencoba menyadarkan atasannya yang salah mengira kalau dia adalah Nona Briana. “Tuan Gavriel, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa anda bisa tersesat sampai sebegini jauh? Darimana anda mengetahui jalanan di sini?”


“Aku melihat Briana tadi. Dan kepalaku menjadi sangat sakit,” jawab Lu kemudian mencoba untuk duduk. Sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut, Lu mencoba mengingat-ingat penyebab mengapa dia sampai di tempat sepi ini. Akan tetapi bukannya ingat, yang ada dia malah berteriak kesakitan saat serpihan-serpihan ingatan muncul bergantian di dalam kepalanya. “ARRGGHHHHHHHHH, SAKIITTT!”


“Penjaga, cepat bantu aku membawa Tuan Gavriel masuk ke dalam mobil. Cepat!” teriak Wildan panik melihat atasannya kembali kesakitan.

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


Lu terus berteriak sambil memegangi kepala saat Wildan dan para penjaga membawanya masuk ke dalam mobil. Satu hal yang terlintas di dalam ingatan. Sosok wanita dingin yang sekilas wajahnya mirip dengan Briana. Inilah penyebab mengapa tadi Lu jatuh tak sadarkan diri saat sedang menapaki jalanan yang hanya berisikan hutan dan kesunyian. Dan satu hal lagi. Penyebab mengapa Lu bisa tersesat sampai di tempat ini adalah karena dia mengikuti bisikan seseorang yang memintanya untuk segera datang. Entah apa alasannya, Lu tidak tahu. Yang jelas tadi dia pergi diam-diam dari rumah kemudian meminta tolong pada seorang tukang sampah agar membantu mencarikan taxi. Agak aneh sebenarnya karena Lu sama sekali tak ingat pernah datang ke tempat ini. Namun bisikan itu begitu kuat memaksa sehingga membuatnya tersesat dan tak tahu arah jalan pulang lagi.


“Tuan Wildan, Tuan Dary menelpon!” lapor penjaga sambil menatap layar ponsel yang menyala.


“Berikan ponselnya padaku. Kau fokus menyetir saja,” sahut Wildan seraya mengulurkan tangan. Dia kemudian bergegas menjawab panggilan dari Tuan Dary. “Halo, Tuan.”


“Wildan, kau di mana sekarang? Dan kenapa tadi kau tiba-tiba berteriak dan memutuskan panggilan?” cecar Dary dari dalam telepon. “Sekarang kami sedang dalam perjalanan untuk menyusulmu. Kau kirimkan saja titik lokasi di mana kau berada. Cepat!”


“Tuan Dary, sebaiknya anda dan Tuan Erzan menunggu di rumah saja. Tuan Gavriel sudah saya temukan dan sekarang kami sedang menuju arah pulang. Sepasang suami istri tak sengaja menemukan beliau yang sedang kebingungan di pinggir jalan!” sahut Wildan meminta orangtua sang atasan agar pulang saja.


“Benarkah? Lalu bagaimana keadaan Gavriel? Dia tidak kenapa-napa ‘kan?”


Bertepatan dengan itu Lu kembali berteriak kesakitan yang mana membuat Wildan tak lagi fokus pada pembicaraannya. Tanpa memutuskan panggilan, dia dengan cepat mengambil obat yang memang selalu siap sedia di dalam mobil. Setelahnya dia memberikan obat tersebut kepada sang atasan kemudian mengambil sebotol air untuknya.


“Minum obat ini, Tuan. Itu akan membantu mengurangi rasa sakit di kepala anda,” ucap Wildan seraya membantu membukakan tutup botol.


“Kepalaku seperti akan pecah, Wil. Sakit sekali,” keluh Lu dengan wajah yang sudah sangat pucat sekali. Butira keringat nampak membasahi sekujur tubuh sehingga membuatnya jadi terlihat sangat basah seperti baru berenang di sungai.


“Iya saya tahu. Karena itu segeralah minum obat ini kemudian istirahat. Jarak dari rumah menuju tempat ini sangatlah jauh. Anda pasti sangat kelelahan sekali sekarang.”

__ADS_1


Lu mengangguk pasrah. Diminumnya sebutir pil berwarna putih yang telah disiapkan oleh Wildan. Pahit, pahit sekali. Setelah obat itu tertelan diapun menyenderkan tubuh ke kursi mobil. Rsa sakitnya masih begitu terasa, tapi sudah tidak semenyiksa tadi. Dan ini bukan karena reaksi obat, tapi karena di pikiran Lu ini telah terpenuhi wajah cantik Briana yang sedang tersenyum malu-malu. Gadis itu … apa yang sedang dilakukannya sekarang?


***


__ADS_2