
Wildan menatap lama ke arah bangunan megah yang ada di hadapannya. Saat ini dia sedang berada di salah satu komplek perumahan yang banyak di huni oleh orang-orang berlatar belakang taipan. Sambil mengetuk-ngetukkan jari ke stir mobil, dia menimang apakah harus bertamu ke rumah itu atau tidak.
“Aku mendapatkan alamat rumah ini dengan cara yang sedikit tidak sopan. Kira-kira mereka akan berpikiran buruk padaku tidak ya?” gumam Wildan ragu.
Karena di desak oleh keinginan sang atasan, Wildan terpaksa membayar seseorang demi agar bisa mengetahui alamat tempat tinggal pasangan suami istri itu. Dan di sinilah dia sekarang. Duduk di dalam mobil sambil terus mempertimbangkan keputusan.
Sebenarnya keluarga Anderson juga bukan keluarga sembarangan. Akan tetapi jika harus di bandingkan dengan keluarga ini, sudah pasti keluarga Anderson berada satu tingkat di bawahnya. Hanya dengan melihat pengamanan yang ada di depan rumah ini saja Wildan sudah langsung tahu kalau mereka berasal dari keluarga yang bisa saja adalah keluarga bangsawan. Entahlah, dia bingung.
Tok tok tok
“Tuan, bisa tolong keluar dari dalam mobilmu sekarang juga? Kita perlu bicara!"
Saat Wildan sedang fokus menatap rumah itu, dia di kagetkan oleh suara ketukan di jendela mobil dan juga kemunculan tiga orang penjaga yang entah kapan mereka datang. Tak mau di anggap sebagai orang jahat, segera dia keluar menemui mereka. Wildan kemudian membungkuk sopan untuk menyapa.
“Selamat siang, Tuan-Tuan. Maaf jika kedatangan saya ke sini membuat kalian merasa tidak nyaman. Tapi jujur, saya sama sekali tidak memiliki niat buruk,” ucap Wildan dengan tenang.
“Siapa kau? Dan apa yang sedang kau cari di sini?” cecar salah satu penjaga yang memiliki ukuran tubuh paling besar. Wajahnya terlihat begitu garang dengan satu tangan terselip di balik jas.
Ah, itu pasti senjata. Astaga, sebenarnya suami istri itu siapa sih. Mengapa penjagaan di rumah mereka bisa begitu ketat? Seorang politikus kah? Wildan membatin.
“Tuan, kedatanganku kemari adalah untuk bertemu dengan Tuan dan Nyonya pemilik rumah. Tempo hari majikan kalian telah membantu menolong atasanku. Karena saat itu keadaan sedang tidak memungkinkan, aku belum bisa berterima kasih dengan benar pada mereka. Jadilah sekarang aku datang guna menyampaikan amanah dari atasanku. Begitu!” jawab Wildan mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.
Ketiga penjaga itu saling melempar pandangan setelah mendengar penjelasan Wildan. Salah satu dari mereka kemudian berbicara dengan seseorang lewat earpiece.
“Beritahu Tuan Hendar ada tamu yang ingin bertemu dengan beliau!”
Suasana cukup tegang saat para penjaga itu hanya berdiri diam sambil terus mengawasi Wildan. Sedangkan Wildan sendiri, dia berusaha untuk tetap tenang agar tidak mengundang kecurigaan orang-orang ini. Hingga tak berapa lama kemudian datang seorang pria yang adalah orang yang di cari oleh Wildan.
“Oh, kau rupanya. Ada apa, Wil?” Hendar bertanya seraya menyunggingkan senyum tipis. Dia lalu mengajak Wildan untuk masuk ke dalam rumah. “Kita bicara di dalam saja. Ayo masuk!”
“Terima kasih banyak, Tuan,” sahut Wildan sopan.
__ADS_1
Hendar menoleh ke arah penjaga kemudian meminta salah satunya agar memanggilkan pelayan. Setelah itu dia memerintahkan pelayan menyiapkan jamuan untuk anak muda yang entah bagaimana caranya bisa mengetahui alamat rumah ini. Meski bibir terus menyunggingkan senyum, tapi hati Hendar berkata kalau dia kurang menyukai cara Wildan menyambangi kediamannya. Karena sejak insiden dua puluh tahun lalu, dia benci dengan yang namanya orang asing. Terlebih lagi pada mereka yang berani mencaritahu tentang keluarganya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Namun karena anak muda ini sudah dia kenal sebelumnya, Hendar berbesar hati untuk maklum.
“Duduklah,” ucap Hendar setelah sampai di ruang tamu rumahnya.
“Terima kasih banyak, Tuan Hendar,” sahut Wildan seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
“Oh, jadi kau juga menyelidiki siapa namaku ya?”
Wildan terkejut. Tidak menyangka kalau pria ini akan bertanya dengan nada suara yang terdengar sedikit sinis. Sadar telah menyinggung tuan rumah, segera Wildan menjelaskan darimana dia bisa mengetahui namanya.
“Tuan Hendar, mohon anda jangan salah paham dulu. Saya mengetahui nama anda karena tadi penjaga yang menyebutkannya. Dan jika kedatangan saya kemari membuat anda merasa tidak senang, saya minta maaf. Saya tahu sikap saya sangatlah lancang karena telah mencuri alamat rumah ini tanpa seizin anda. Tapi Tuan Hendar, sungguh saya tidak memiliki tujuan yang tidak baik.”
“Hmmm, haruskah aku mempercayai ucapan seseorang yang bahkan baru sekali aku temui?”
Hendar tersenyum. Dia kemudian bersilang kaki sambil menatap seksama ke arah Wildan yang terlihat cukup tenang menghadapi tekanan darinya. “Langsung saja pada intinya, Wil. Istriku sudah menunggu.”
Wildan mengangguk. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. “Tuan Hendar, maaf jika pertanyaan saya nanti membuat anda tersinggung ataupun merasa tidak nyaman. Tapi bisakah anda memberitahu saya mengapa waktu itu anda beserta istri berada di tempat itu? Mungkinkah ada kenangan masa lalu yang membuat kalian berdua datang ke sana?”
“Tuan Hendar, ada apa?”
“Tidak apa-apa. Kalian jangan cemas,” sahut Hendar sambil menggeretakkan gigi. Dia lalu menatap tajam Wildan yang dengan begitu berani mengulik masa lalu kelam dimana masa lalu tersebut membuat istrinya sangat menderita. “Kali ini kau benar-benar sudah sangat lancang, Wildan. Apa hakmu menyelidiki permasalahan di keluargaku sampai sejauh ini hah? Kita tidak saling kenal!”
“Karena atasan saya adalah satu-satunya korban selamat dari tragedi penculikan dan pembunuhan dua puluh tahun silam. Dan alasan mengapa saya bertanya seperti itu kepada anda adalah karena saya merasa aneh. Anda beserta istri kenapa bisa berada di jalan menuju lokasi tempat kejadian, sementara tempat itu sendiri berada di pinggiran kota yang sangat jauh dari keramaian. Jadi Tuan Hendar, bisakah anda menjelaskannya kepada saya?”
“A-apa? Ja-jadi atasanmu ….
“Benar, Tuan. Namun, ada alasan lain yang membuat saya nekad mencaritahu tentang alamat rumah anda,” sela Wildan dengan mimik wajah yang sangat serius. Dia kemudian menatap sekilas ke arah foto keluarga yang tergantung di dinding. “Tuan Hendar, apakah anda memiliki seorang anak yang hilang dua puluh tahun lalu?”
“Apa maksudmu bertanya seperti itu?”
Telapak tangan Hendar berkeringat. Jantungnya berdebar kuat sekali saat Wildan membahas tentang anak. Dan perubahann ini ternyata di sadari oleh Wildan.
__ADS_1
“Tragedi kelam itu membuat atasan saya mengalami trauma mendalam hingga membuatnya hilang ingatan setiap kali melihat benda tertentu. Dan dua bulan yang lalu atasan saya hilang saat sedang dirawat di rumah sakit, tapi sekarang telah kembali pulang. Namun, saat dokter sedang melakukan terapi padanya, tiba-tiba saja atasan saya mengaku kalau dulu dia sempat membantu seorang anak laki-laki pergi melarikan diri. Di karenakan waktu itu kita tak sengaja bertemu, saya dan atasan saya berpikir mungkinkah kalian berdua adalah keluarga dari anak laki-laki tersebut. Jika benar, bolehkah saya bertemu dengannya?”
“Anakku ….
Praaanngggg
Suara benda jatuh membuat percakapan Hendar dan Wildan terhenti. Mereka kemudian menoleh, terkejut karena di arah tangga ada seorang wanita yang tengah menangis tanpa suara.
“Sayang, kau kenapa?” Hendar langsung berlari menghampiri Jenny, istrinya. Dia lalu mendekapnya penuh rasa khawatir. “Tidak apa-apa, jangan panik. Ada aku di sini. Oke?”
“Apa anakku meninggal?” Jenny bertanya. Tatapan matanya kosong dan tubuh seperti mati rasa. Sakit, tapi tidak tahu apa sebabnya.
“Ssttttt, tenanglah,” ….
“Anak kita masih berada di sekolah. Iya ‘kan?”
“Iya. Putra kita sedang bermain dengan teman-temannya di sekolah. Nanti kita jemput bersama-sama ya?” sahut Wildan dengan mata berkaca-kaca.
“Baiklah.”
Dan setelah itu Hendar terlihat memejamkan matanya erat-erat ketika Jenny terkulai lemas di pelukannya. Wildan yang melihat hal itupun menjadi bingung sendiri. Jelas sekali Tuan Hendar menyebut anak mereka dengan sebutan putra. Itu artinya Nona Briana bukanlah anak mereka. Tapi mata istrinya begitu mirip dengan mata Nona Briana. Ini hanya sekedar kebetulan saja atau masih ada rahasia lain yang belum terpecah? Wildan jadi pusing.
“Kalian antarkan Wildan ke mobilnya. Aku akan menemani istriku beristirahat,” ucap Hendar sambil membopong tubuh Jenny dan membawanya ke atas. Membiarkan sang tamu menatapnya penuh kebingungan.
“Baik, Tuan.”
Tahu kalau tuan rumah sedang kalut, tanpa banyak bertanya lagi Wildan segera mengikuti langkah penjaga menuju pintu. Namun sebelum keluar, dia menyempatkan diri untuk sekali lagi menoleh ke belakang guna melihat foto keluarga yang tergantung di sana.
Kenapa Tuan Hendar dan istrinya hanya berfoto dengan bayi mereka saja? Apa jangan-jangan anak mereka sudah hilang sejak bayi? Astaga, rumit sekali.
***
__ADS_1