
📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜
***
“Bri, kau yakin tidak akan menyelidiki keanehan ini? Kalau aku jadi dirimu, aku pasti akan langsung mencaritahu apakah Lu benar-benar mengidap amnesia atau tidak. Rasanya sungguh sangat mengganjal dia bisa ingat jalan pulang ke rumahmu tapi tidak bisa mengingat jalan pulang menuju rumahnya sendiri. Hati-hati, Bri. Zaman sekarang ada banyak sekali modus yang digunakan para penjahat untuk mencari mangsa. Memangnya kau tidak takut saat kalian sedang tidur tiba-tiba Lu berubah menjadi seorang perampok?” tanya Julia sembari melirik Lu yang tengah duduk melamun di samping meja kasir. Dia kini sedang membantu Briana membereskan peralatan dapur yang sudah di cuci.
“Ck, kau jangan malah menakut-nakuti aku ya. Lagipula apa yang akan dirampok oleh Lu kalau di rumahku saja tidak ada benda yang berharga. Dia salah alamat kalau menargetkan aku sebagai mangsa. Sia-sia saja!” sahut Briana kesal mendengar pertanyaan Julia yang terkesan menakutinya.
“Aku kan hanya mengingatkan saja, Briana. Sebagai sahabat aku tentu mengkhawatirkan keselamatanmu. Bagaimana sih!”
“Ya tapikan tidak dengan cara seperti ini juga, Julia. Astaga.”
“Lalu?”
“Diamlah. Aku juga tidak sebodoh itu membiarkan Lu memanfaatkanku. Lihat saja. Sepulang dari sini aku akan melakukan penyelidikan untuk membuktikan apakah dia lupa ingatan atau tidak. Jika terbukti tidak, maka habislah dia. Aku pastikan Lu akan sangat menyesal karena sudah berani mengganggu hidupku. Heh!” geram Briana sambal memukul-mukulkan alat pengaduk sayuran ke telapak tangannya.
Julia mengusap tengkuk belakangnya ketika melihat senyum aneh yang muncul di bibir Briana. Dia lalu berdoa dalam hati, berharap kalau Lu tidak sedang membohongi sahabatnya ini. Walaupun Briana memiliki hati yang baik, tapi sahabatnya ini sangat amat galak. Briana tidak akan mentolerir orang-orang yang berani mencari masalah dengannya. Dan semoga saja Lu bukan termasuk orang yang seperti itu. Semoga saja.
Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memastikan apakah Lu benar-benar lupa ingatan atau tidak. Ya, aku harus melakukan penyelidikan.
Setelah pekerjaan di café beres, Briana dan Lu pulang bersama-sama. Namun saat di tengah perjalanan Briana terpikir untuk mengulangi perbuatannya dimana dia meninggalkan Lu sendirian di persimpangan jalan. Hal ini sengaja Briana lakukan untuk mencaritahu darimana Lu bisa mengetahui jalan menuju rumahnya di saat Lu sendiri tengah mengalami amnesia. Karena jika dipikir-pikir cukup mustahil juga Lu mampu mengingat sesuatu dengan keadaannya yang sedang sakit. Benar tidak?
“Briana, kenapa kau … eh, hilang?”
__ADS_1
Lu kaget setengah mati saat tak mendapati Briana di sebelahnya. Seingat Lu tadi mereka berjalan beriringan, lalu bagaimana bisa Briana hilang? Khawatir terjadi sesuatu, Lu langsung berbalik menuju jalan yang tadi dilewatinya. Dia takut Briana ketinggalan di belakang.
“Nah, akhirnya dia pergi juga. Sekarang aku tinggal menunggu bagaimana caranya Lu bisa pulang ke rumah. Awas saja kalau ternyata ingatannya bisa berfungsi dengan baik. Hujan badaipun aku akan tetap mengusirnya malam ini juga,” ucap Briana yang sedang bersembunyi di balik pohon.
Tadi saat Lu lengah, Briana dengan cepat berbelok dan bersembunyi di tempat ini. Tujuannya satu, melakukan penyelidikan. Dan sekarang misinya mulai berjalan karena Lu terlihat berlari kesana kemari sambil terus bertanya pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Saat Briana sedang mengamati situasi, tiba-tiba saja Lu berlari ke arah jalan menuju rumahnya. Sontak saja hal ini membuat Briana terbakar emosi. Fikss, Lu pura-pura lupa ingatan. Kesal karena di bodohi, Briana segera mencari senjata di sekelilingnya. Dia lalu melihat sebatang kayu yang tergeletak tepat di persimpangan jalan.
“Sial. Jauh sekali kayunya,” umpat Briana. Dengan malas Briana keluar dari tempat persembunyiannya untuk mengambil kayu tersebut.
Saat Briana baru akan melangkah maju, dia mendengar suara Lu yang sedang berteriak sambil berlari ke arahnya. Tak mau ketahuan, Briana kembali bersembunyi di tempat yang tadi. Dan begitu Lu muncul Briana mendengar sesuatu yang membuatnya terdiam seperti orang linglung. Lu bicara dengan salah satu tetangganya.
“Lu, apa yang sedang kau lakukan di sini? Jangan bilang kau lupa jalan pulang seperti kemarin malam ya?”
“Nyonya, aku benar-benar lupa jalan menuju rumah Briana. Bisakah kau menunjukkannya padaku? Aku harus segera menemukan Briana karena barusan dia tiba-tiba menghilang. Tolong antarkan aku pulang ya?” jawab Lu dengan raut wajah yang begitu panik. Selain kehilangan jejak Briana, Lu juga tidak bisa mengingat jalan menuju rumah. Ini membuatnya sangat stress. Kepalanya sakit dan dadanya terasa sangat sesak.
“Tapi dia ….
“Lu, ayo pulang!”
Briana yang tidak tahan mendengar percakapan Lu dengan tetangganya pun memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Juga karena Briana telah mengetahui penyebab kenapa Lu bisa ingat jalan pulang menuju rumahnya. Sambil menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor, Briana berjalan menghampiri Lu. Dia lalu menatap galak ke arah tetangga yang baru saja menggosipkannya. Menyebalkan.
“Nah, apa aku bilang, Lu. Briana adalah jenis manusia yang tidak akan mati dengan mudah. Lihat, dia masih hidup ‘kan?” ucap si tetangga dengan sarkasnya.
“Nyonya, maaf. Aku harus segera membawa Lu pulang ke rumah sebelum pikirannya terkontaminasi hal-hal yang tidak baik darimu. Permisi!” ucap Briana kemudian menarik tangannya Lu untuk pergi dari sana. Daun telinganya panas sekali.
__ADS_1
“Yakkk Briana. Kau bilang apa barusan?”
Briana tak peduli. Masa bodo dengan teriakan tetangganya itu. Dia kemudian menoleh saat merasakan kalau Lu tengah menatapnya. “Lihat apa kau?”
“Bri, tadi kau hilang. Kemana?” tanya Lu.
“Aku tidak kemana-mana,” jawab Briana cetus. “Ck, Lu. Jadi kau benar-benar lupa ingatan ya?”
“Kalau aku tidak lupa ingatan, sekarang aku pasti sudah kembali ke keluargaku. Oh, jangan bilang tadi kau sengaja menghilang untuk mencaritahu kenapa kemarin malam aku bisa kembali datang ke rumahmu setelah kau meninggalkanku di persimpangan jalan tadi. Apa aku benar?”
Sudah tidak ada celah untuk Briana mengelak. Dengan enggan dia mengangguk membenarkan ucapan Lu. Penyelidikan malam ini gagal total karena kecurigaan Briana dan Julia tidak terbukti. Lu benar-benar lupa ingatan. “Aku dan Julia curiga kalau kau hanya ingin memanfaatkanku saja. Kau bilang kau tidak ingat siapa nama dan dimana rumahmu, tapi anehnya kemarin malam kau bisa kembali lagi ke rumahku setelah aku meninggalkanmu. Wajarkan kalau kami merasa curiga padamu?” tanya Briana dengan jujur mengakui perbuatannya. Toh memang benar kalau dia melakukan hal ini demi untuk mencari bukti tentang kebenaran penyakitnya Lu.
“Maaf,”
“Ya?”
Lu menghela nafas berat.
“Aku minta maaf karena sampai sekarang aku masih belum bisa mengingat siapa diriku sebenarnya. Saat aku mencoba fokus untuk mengingat sesuatu, kepalaku pasti terasa sangat sakit dan nafasku sesak. Tolong beri aku waktu untuk memulihkan ingatanku dulu ya, Bri. Aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi setelah semuanya kembali normal,” ucap Lu yang merasa bersalah atas kekurangannya. Dia tahu Briana terbebani dan juga merasa risih, tapi Lu bisa apa. Sekarang ini dia hanya bisa bergantung pada Briana seorang.
Mendengar Lu bicara seperti itu membuat Briana jadi merasa tak enak sendiri. Dia lalu mengajak Lu berjalan lebih cepat lagi agar mereka bisa segera sampai di rumah kemudian beristirahat. Briana lelah. Dia butuh tidur.
Kenapa rasanya jadi aneh begini ya setelah Lu meminta maaf? Apa iya perbuatanku tadi sudah keterlaluan? Ah, masa bodo. Aku mau tidur saja.
__ADS_1
***