
Di depan sebuah bangunan tua yang berada di pinggiran kota, terlihat ada beberapa orang penjaga tengah mencari-cari sesuatu di sana. Mereka di ketuai oleh seorang pria berjas warna navy yang tentunya bukan orang sembarangan. Dan pria tersebut adalah Wildan, asisten sekaligus orang kepercayaan Presdir Under Group, Gavriel Anderson.
Karena penasaran akan pengakuan dari sang atasan yang menyebut bahwasanya ada korban yang berhasil selamat dari penculikan dua puluh tahun lalu, dia langsung menyebar banyak sekali orang guna menyisir kembali tempat yang pernah menyimpan kejadian yang luar biasa kelam. Puluhan anak-anak dari berbagai ras dan usia di bunuh dengan cara yang sangat tidak manusiawi oleh seorang psikopat yang ternyata adalah korban perundungan dan juga kekerasan. Miris. Hanya karena perbuatan beberapa orang tak bertanggung jawab, puluhan nyawa tak bersalah harus melayang sia-sia. Dan dari laporan pelaku, dia merasa dendam setiap kali melihat ada anak-anak yang memiliki perjalanan hidup bahagia bersama dengan teman dan keluarganya. Lalu terbersitlah keinginan untuk menculik dan memperlakukan anak-anak itu dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh orangtuanya.
Oleh karenanya para bunda-bunda. Mengingat maraknya kejahatan yang bersifat bullyng dan kekerasan fisik terutama yang terjadi pada anak-anak di bawah umur, baik kiranya kita sebagai orangtua mencetuskan pengamanan dini untuk lebih banyak lagi membuka komunikasi dengan anak-anak kita saat berada di rumah. Hal ini di anggap bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan bullyng yang di sebagian anak tidak berani mengungkapkan. Entah itu karena mereka terlahir spesial atau karena kurangnya kedekatan antar anak dan orangtua, marilah kita sesama orangtua lebih memperhatikan lingkungan tempat anak-anak kita bersosialisasi. Dekati mereka dan biasakan untuk saling bercerita tentang kegiatan sehari-hari kalian. Di novel ini ada sedikit kampanye rahasia yang merujuk tentang latar belakang si pelaku pembunuhan dimana kekejian itu di dasari oleh rasa iri akibat beban perundungan. Saran dari emak, bekalilah buah hati kalian dengan sedikit ilmu bela diri, khususnya kepada anak perempuan. Anak perempuan cenderung lemah dan penakut, sehingga seringkali menjadi sasaran paling empuk untuk para predator di luaran sana. Ini emak sampaikan atas beberapa keresahan para bunda yang mengeluh merasa khawatir akan ketidakamanan putra-putri mereka, baik itu di lingkungan tempat tinggal maupun di lingkungan sekolah. Jadi marilah kita sama-sama memikirkan pentingnya peran orangtua di kehidupan sang buah hati. Karena mental yang sehat, itu akan membawa masa depan yang cerah bagi para penerus bangsa. {MAAF YA IKLAN SEDIKIT}
“Tuan Wildan, kami sudah menyisir semua tempat ini. Tapi tidak ada satupun yang mengarah pada kemungkinan anak laki-laki itu bisa melarikan diri!” lapor salah seorang penjaga. Dia lalu menunjuk ke sebelah barat dari lokasi bangunan berdiri. “Di sebelah sana ada jurang yang sangat dalam. Kalaupun anak itu berhasil selamat, dipastikan dia tidak akan bisa hidup jika sampai tergelincir jatuh ke dalam jurang itu. Sedangkan di sebelah sana ada sebuah sungai yang aliran airnya sangat deras. Namun untuk sampai ke sana anak laki-laki itu perlu menyebrangi rawa yang sangat semak. Dan besar kemungkinan rawa itu banyak di huni oleh ular dan buaya. Ini lebih tidak memungkinkan lagi untuknya bisa selamat!”
“Kalian yakin sudah tidak ada jalan keluar lain dari tempat ini?” tanya Wildan memastikan. Dia berkacak pinggang sambil menatap lurus pada arah yang di tunjuk oleh penjaga.
“Benar-benar sudah tidak ada jalan keluar lain selain jalan yang tadi kita lewati, Tuan. Kecuali satu kemungkinan lain!”
__ADS_1
Kening Wildan mengernyit. Dia lalu menoleh menatap seksama ke arah penjaga. “Kemungkinan apa itu?”
“Kemungkinan kalau ada orang lain yang diam-diam datang menyelamatkan anak itu, Tuan. Hanya ini yang paling masuk akal jika seandainya pengakuan Tuan Gavriel memang benar. Selain itu mustahil ada!”
Mungkinkah anak itu berhasil selamat karena di tolong oleh seseorang ini?Tapi bagaimana cara mereka pergi kalau lokasi ini saja berada sangat jauh dari kota dan keramaian? Apa mungkin si pembunuh itu mengejar mereka lalu membuang mayatnya di sembarang tempat? Kalau benar begini harusnya kan pihak kepolisian bisa menemukan keberadaan mayat-mayat itu saat sedang melakukan pencarian di sepanjang jalan menuju tempat ini? Astaga.
Wildan yang sedang merenung sampai berjengit kaget saat ponsel barunya tiba-tiba berdering. Oh, sedikit pemberitahuan untuk pembaca. Sejak insiden atasannya bergulingan tidak jelas di atas ranjang kamar, sejak saat itu pula ponsel milik Wildan disita. Dan sekarang dia terpaksa menggunakan ponsel milik atasannya. Bukan maksud tak bisa membeli yang baru ya. Hanya saja Wildan merasa masih belum terlalu membutuhkan. Toh nanti setelah atasannya kembali normal ponselnya akan di kembalikan lagi. Jadi daripada membuang-buang uang lebih baik memakai yang ada saja. Benar tidak?
“Halo, Tuan Dary. Ada apa menelpon? Tuan Gavriel baik-baik saja, bukan?” tanya Wildan langsung waspada.
“Belum, Tuan. Sejak pagi kami sama sekali tak menemukan jalan lain selain jalan utama yang menuju ke tempat ini. Semua sisi tempat ini terhimpit jurang terjal dan sungai yang sangat deras, mustahil anak itu bisa selamat. Dan dari laporan anak buah saya hanya ada satu kemungkinan anak itu tidak meninggal!”
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Wildan berbalik menghadap bangunan tua yang sudah hampir rusak sepenuhnya. Benak Wildan bertanya-tanya sebenarnya ada rahasia apa yang terselip di balik kejadian dua puluh tahun silam? Dan juga mengapa ingatan tentang anak laki-laki itu baru muncul sekarang setelah atasannya bertemu dengan Nona Briana?
Eh, tunggu-tunggu. Setelah bertemu dengan Nona Briana? Ada apa ini? Mungkinkah anak itu benar adalah wanita yang telah menyelamatkan atasannya? Lagi-lagi Wildan memikirkan hal tak masuk akal ini. Astaga. Tapi kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi, bukan? Tak mau bingung sendiri, Wildan memutuskan untuk mambagi pikirannya dengan Tuan Dary.
“Tuan, mungkinkah anak laki-laki yang di maksud oleh Tuan Gavriel adalah Nona Briana? Saya tahu mereka berbeda jenis kelamin. Akan tetapi Tuan Gavriel memiliki ingatan itu setelah bertemu dengan Nona Briana. Dan jika mereka tidak memiliki hubungan, mustahil Tuan Gavriel akan baik-baik saja saat menceritakan hal ini. Benar tidak?”
“Hmmm, aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu, Wil. Akan tetapi bagaimana cara kita menepis fakta kalau Briana adalah seorang wanita, sedangkan anak yang dilihat Gavriel adalah anak laki-laki? Masa iya itu adalah Briana yang berpenampilan tomboy,” sahut Dary merespon perkataan Wildan dengan kebingungan yang hampir sama. “Sudahlah, kita bahas masalah ini setelah kau sampai di rumah. Sekarang kau dan anak buahmu kembali saja. Tidak ada gunanya terus berada di tempat mengerikan itu. Kalau memang Gavriel tidak salah mengingat kejadiannya, aku yakin cepat atau lambat kita pasti bisa menemukan keberadaan anak itu. Oke?”
“Baiklah, Tuan Dary. Kalau begitu panggilan ini saya tutup dulu. Selamat sore!”
Dan klik, panggilan terputus setelah Wildan berpamitan. Setelahnya dia menarik nafas panjang-panjang sambil terus menatap bangunan di hadapannya.
__ADS_1
“Kisah kelam yang menyisakan tanda tanya besar. Oh Tuhan, mengapa ada orangtua yang tega menyiksa anak sendiri hingga meninggalkan bekas trauma yang begitu mendalam? Hanya karena anak mereka tidak secerdas anak-anak lain, mereka dengan kejam membiarkan waktu menjadikannya seorang monster yang membuat anak-anak lain menjadi korban. Serendah itukah hati nurani seorang manusia? Harimau saja sangat menyayangi anaknya, tapi kenapa manusia yang di berikan akal pikiran sempurna oleh Tuhan bersikap layaknya binatang terhadap darah daging sendiri? Siapa yang harus di persalahkan dalam hal ini?” gumam Wildan miris mengingat pengakuan si pelaku pembunuhan.
***