Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Partner Perasaan


__ADS_3

Setelah mendengar cerita Briana, perasaan Erzan tiba-tiba saja terasa aneh. Dia tak henti memikirkan Julia, si wanita menyebalkan yang selalu membuat darahnya naik ke ubun-ubun.


"Wanita itu sudah pulang belum ya?"


Begitu selesai menggumam, Erzan langsung menampar wajahnya dengan kuat. Dia syok sekali, tak menyangka kalau gumaman seperti itu bisa keluar dari mulutnya.


"Astaga, apa yang baru saja kulakukan. Kenapa aku bisa tiba-tiba memikirkan wanita itu. Sadar, Erzan. Dia bukan tipemu!" ucap Erzan menegur dirinya sendiri. Dia lalu meringis saat merasakan perih dan panas di bibirnya. "Sialan. Bahkan hanya dengan memikirkannya saja aku sudah terkena sial begini. Lalu apa kabar jika aku sampai menjalin hubungan dengannya? Bisa-bisa seumur hidup aku akan selalu tertimpa kemalangan. Haihhh."


Tanpa Erzan sadari, sejak tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan kelakuannya dari arah pintu. Dia ceroboh, sehingga tidak menutup rapat pintu kamarnya saat masuk tadi.


Virus mulai menyebar. Apa aku jodohkan saja Julia dengan Erzan ya? Walaupun hanya seorang petani kan Erzan masih keturunan keluarga Anderson. Dia juga tidak memalukan jika diajak menghadiri pesta. Lumayanlah.


Andai saja Erzan mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Briana, di jamin dia pasti akan langsung menjadi reog. Spek sepertinya diragukan? Haha, lawak sekali. Untunglah Briana hanya membatin, jadi dia tak harus mendengar lengkingan suara Erzan yang seperti knalpot bocor.


"Ekhmm!"


Briana melangkah masuk. Dia memasang senyum terbaiknya saat Erzan menatapnya acuh.


"Jangan sok acuh. Nanti kau butuh!" sindir Briana sambil mendudukkan bokong di tepi ranjang. "Kasurmu empuk sekali, Er. Kalau Julia tahu, dia pasti akan langsung meloncat-loncat seperti kutu yang baru menetas."


"Jelas empuklah. Kasurku itukan kasur terbaik di kelasnya," sahut Erzan dengan bangga. Dia lalu memicingkan mata, sadar kalau ninja warior ini pasti datang dengan maksud tertentu. "Mau apa kau datang ke kamarku, Bri? Tidak sedang merencanakan niat buruk, kan?"


"Ck, ya tidaklah. Sudah gila apa aku merencanakan niat buruk pada calon adik iparku sendiri," jawab Briana sambil tersenyum kecil. Hehehe, mana mungkin seorang Briana tiba-tiba bersikap lembut jika tidak ada alasan yang pasti. Mustahil itu.


"Calon adik ipar?"


Bohong, Briana jelas sedang bicara bohong. Senyum di bibirnya membuat tengkukku meremang. Aku yakin dia pasti telah merencanakan sesuatu untuk menjebakku. Pasti itu.


"Ya, calon adik ipar. Tidak mungkinkan kau menjadi nenek ipar di saat kau sendiri adalah adik dari kekasihku?"


"Memangnya Kak Gavriel sudah melamarmu?" tanya Erzan memastikan.


"Belum."


"Lalu?"


"Ya terserah akulah mau melakukan apa. Kok sewot!"


"Aku bukan sewot, hanya ingin memastikan saja. Ya kali kau menyebutku sebagai calon adik ipar tapi kakakku saja belum melamarmu. Itu namanya halu, Briana. Tahu?" ejek Erzan.


Sebelah alis Briana terangkat ke atas setelah mendengar ejekan yang dilayangkan oleh Erzan. Berani sekali pria ingusan ini mengejeknya. Sepertinya perlu diberi obat hangat supaya sadar. Hmmm.


"Apa lihat-lihat? Mau memukulku?" tanya Erzan langsung waspada.


"Kau dapat salam dari Julia," sahut Briana lain dari yang Erzan tanyakan.

__ADS_1


"Salam?" Kedua alis Erzan saling bertaut. "Salam apa dan kapan Julia mengatakannya padamu?"


"Julia bilang dia titip salam cinta untuk Erzan. Dan itu dia tulis lewat pesan,"


"Mana pesannya? Aku mau lihat sendiri."


"Karena aku alergi dengan yang sok bucin-bucinan, pesan itu langsung aku hapus setelah kubaca. Jadi sekarang pesannya sudah tidak ada."


Wajah Erzan langsung pias setelah mendengar jawaban Briana. Padahal dia sempat merasa happy sekali setelah diberitahu kalau Julia mengirimkan pesan cinta untuknya. Menyebalkan sekali sih.


"Hehehe, mau saja kau di kerjai. Suka Julia ya?" ejek Briana sembari menunjuk ke arah Erzan yang seperti sedang menahan rasa kecewa. Puas sekali bisa menggodanya. Haha.


"Suka-suka. Memangnya aku terlihat seperti orang yang kurang kerjaan apa sampai harus menyukai wanita aneh seperti sahabatmu itu?" sahut Erzan menyanggah ejekan Briana dengan nada yang sangat ketus. Mulut memang berkata tidak, tapi gerak mata dan gestur tubuh Erzan menunjukkan hal yang berbeda.


"Aneh-aneh begitu kebaikan dan kepedulian Julia sangat sulit dicari pada orang lain, Er. Dijamin kau tidak akan menyesal jika mempunyai kekasih sepertinya!"


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena selain peduli dan baik hati, Julia sangatlah pandai menghidupkan suasana dengan caranya sendiri. Aku berani bertaruh kalau kehidupanmu akan terasa jauh lebih berwarna jika menjadikannya sebagai partner perasaan."


"Partner perasaan? Julukan aneh macam apa itu?"


"Aku tahu kau tidak bodoh, Erzan!" cibir Briana sembari melipat tangan di depan dada. "Bilang saja kalau kau itu sebenarnya sudah mulai tertarik pada Julia. Iya, kan?"


Masa iya sih aku suka pada Julia? Cepat sekali. Bukankah yang namanya cinta itu butuh waktu untuk saling mengenal dan pendekatan dulu ya? Tapi kenapa aku tidak. Kira-kira ini normal atau bagaimana? Aneh sekali.


Tok tok tok


Pandangan Briana dan Erzan tertuju ke arah pintu yang baru saja di ketuk. Terlihat di sana ada Gavriel yang tengah menyandar di daun pintu sembari melipat kedua tangan di depan dada.


"Sedang apa kalian berduaan di dalam kamar? Selingkuh ya?" canda Gavriel iseng.


"Hanya orang bodoh yang mau berselingkuh dengan pria seperti Erzan, Gav," sahut Briana terang-terangan menghina Erzan. Biar saja.


"Hah? Gav?" Erzan terkekeh. "Sejak kapan panggilanmu pada Kak Gavriel berubah, Bri? Bukankah kau selalu memanggilnya Lu ya?"


"Ternyata selain bodoh kau juga adalah pria yang tuli ya. Ckck, memangnya kau kemanakan daun telingamu itu, Er? Bukankah sejak kau pulang ke rumah aku sudah memanggil kakakmu dengan sebutan nama aslinya?"


"Iyakah?"


Kedua alis Erzan saling bertaut. Dia menatap bergantian pada kakak dan juga Briana.


"Yang kau pikirkan benar kalau Briana sudah tahu tentang rahasia yang kusembunyikan. Itulah mengapa dia memanggilku bukan dengan nama Lu, tapi Gavriel," ucap Gavriel sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Dia lalu menarik pelan Briana agar menyandarkan kepala di perutnya. "Di antara kami sudah tidak ada rahasia lagi. Dan aku menyesal karena pernah membohonginya."


"Kak Gavriel, kalau aku jadi kau, aku pasti sudah membohonginya setiap hari. Tidak serulah kalau terlalu jujur!" ucap Erzan memprovokasi. Dia ingin membuat kedua orang ini bertengkar supaya tidak bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


"Inilah akibatnya jika anak upil di beri nyawa. Bicara seenaknya tanpa di saring terlebih dahulu!" sahut Briana santai melayangkan ejekan saat Erzan mencoba menghasut Gavriel. "Erzan, kau lupa ya kalau kau itu belum pernah pacaran? Kau belum tahu saja betapa memusingkannya wanita saat di bohongi oleh pasangannya. Coba kau tanyakan pada kakakmu sekarang kalau tidak percaya!"


Gavriel tersenyum saat Erzan menatapnya lekat.


"Rasanya sangat nano-nano, Er. Dan aku sarankan kau sebaiknya jangan pernah berkata bohong jika nanti mempunyai kekasih."


"Sampai seperti itu, Kak?"


"Ya. Aku tidak bohong,"


"Fyuhhh, untunglah aku tidak punya kekasih. Jadi aku tidak harus merasakan hal-hal semacam itu. Selamat,"


Dengan songongnya Erzan malah mengucap syukur karena tak harus merasakan penderitaan seperti yang di maksud oleh kakaknya. Namun, Erzan lupa kalau di sana ada Briana.


"Kasihan sekali nasib adikmu ya, Gav. Tampan-tampan tapi tidak laku. Kalah dia dengan anak sekolah dasar yang sudah sibuk pacaran daripada memikirkan soal ulangan. Miris!" ejek Briana dengan sepenuh hati. Dia mana mungkin rela membiarkan kekasihnya menderita sendirian. Harus ada temannya, dan Erzan adalah target selanjutnya. Hahaha.


"Mau bagaimana lagi, sayang. Namanya juga tidak punya n*fsu pada wanita. Kita mana bisa memaksa," sahut Gavriel ikut menambahkan bumbu supaya ejekan Briana semakin mengena di ulu hati adiknya. Tak lupa Gavriel memasang ekpresi sesedih mungkin agar kesan prihatin tak hilang dari sana.


"Yakkk! Apa-apaan kalian berdua. Siapa bilang aku kalah dari anak sekolah dasar. Dan juga aku ini normal ya. Aku hanya suka pada manusia yang membawa dua gunung besar beserta goa lembab, bukan manusia yang mempunyai dua telur dan satu tembakan. Tahu!" amuk Erzan tanpa sadar telah terpancing oleh permainan kedua orang di hadapannya. Niat hati ingin membuat mereka bertengkar, sekarang malah Erzan yang termakan ucapannya sendiri. Senjata makan tuan ini namanya.


Mwhehe, akhirnya kesempatan ini datang juga. Habislah kau Erzan jika tidak bersedia melakukan apa yang kuperintahkan.


"Jadi kau normal?"


"Iyalah. Apa perlu aku menunjukkan burungku di hadapanmu, hah?" kesal Erzan.


"Tapi Erzan, aku tidak bisa percaya begitu saja jika tidak ada bukti yang mendukung!"


Gavriel mencium puncak kepala Briana. Dia sudah tahu rencana busuk apa yang ingin dilakukan oleh kekasihnya yang cantik ini.


"Bukti apa yang kau inginkan? Cepat beritahu aku!"


"Pacari Julia dan buat dia hamil. Jika berhasil, aku baru akan mengakui kenormalanmu. Kalau tidak berani itu artinya kau adalah seorang ....


"Oke, siapa takut. Secepatnya aku akan memacari Julia dan membuatnya hamil!"


Sedetik


Dua detik


Tiga detik


"APA? YAKK BRIANA, KAU SUDAH GILA YA!!!!"


***

__ADS_1


__ADS_2