Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Sedikit Emosional


__ADS_3

Briana menatap tak berkedip ke arah Tuan Hendar yang terlihat resah dalam duduknya. Saat ini mereka sedang saling berhadapan guna menjelaskan perihal kedatangan penjaga yang semalam hampir menjadi korban dari pengki dan gagang payung milik Briana.


"Kau atau aku dulu yang mulai bicara?"


Pertanyaan Briana sukses membuat Hendar menelan ludah. Walaupun di sana ada Jenny dan juga Gavriel yang menemani, tapi rasanya Hendar seperti hanya seorang diri. Dia tidak mengerti kenapa dirinya bisa sepengecut ini menghadapi putrinya sendiri. Padahal belum pernah sekalipun Hendar bersikap demikian. Benar-benar memalukan.


"Cihh, lihatlah, Lu. Julia bilang suaminya Nyonya Jenny adalah seorang mafia. Mafia apa? Dia bahkan tidak berani menatapku. Aneh, kan?" cibir Briana tak memberi ampun akan sikap Tuan Hendar. Pokoknya selagi bisa di tekan, dia akan terus menekan pria ini sampai puas. Biar saja. Siapa suruh meminta orang untuk memata-matainya tanpa izin. Huh.


"Sayang, jangan begitulah. Beri Tuan Hendar waktu untuk menenangkan diri dulu. Ya?" sahut Gavriel sembari mengelus punggung kekasihnya yang sudah mulai kesal. Gavriel lalu melihat ke arah Nyonya Jenny, memberi kode agar wanita itu segera membujuk Tuan Hendar.


Jenny tanggap. Segera dia berbisik di telinga suaminya, memohon agar jangan mencari masalah dengan putri mereka. Sekalian juga Jenny memberitahu Hendar kalau Briana adalah tipe gadis yang tak segan main kasar. Dan hal ini membuat Hendar bertambah semakin gugup saja.


"Lidahku seperti mati rasa, sayang. Briana mengerikan," bisik Hendar sambil terus menelan ludah. Resah.


"Dia bisa semengerikan itu juga adalah hasil dari keturunan gen mafiamu, Hendar. Jangan takutlah. Briana tidak akan mungkin memakanmu hidup-hidup," sahut Jenny sedikit mencandai pria ini. Agak menggelitik hati. Sungguh.


"Jangan bercanda. Aku sedang panik ini!"


"Iya-iya maaf,"


"Ekhmmm-ekhmmmm!!"


Suara deheman Briana membuat tubuh Hendar menegang. Mengumpulkan semua kekuatannya, dia memberanikan diri untuk bicara.


"Begini, Briana. Alasan kenapa aku meminta penjaga untuk mengawasi kediamanmu adalah karena aku merasa khawatir padamu. Memang benar tes DNA yang kita lakukan belum keluar hasilnya. Akan tetapi mendengar cerita dari Ibumu, aku yakin kalau kau adalah putri kami yang telah lama hilang. Jadi tolong kau jangan berpikir kalau keberadaan para penjaga itu adalah karena suatu niat yang jahat. Karena pada dasarnya tidak ada orangtua yang tega berbuat jahat pada anaknya sendiri!"


"Oh, benarkah?" cibir Briana agak sinis. "Lalu apa kabar dengan manusia yang telah membuatku mempunyai dua nama? Bukankah mereka adalah orangtuamu?"


Sanggahan Briana sukses membuat ketiga orang di sana diam seribu bahasa. Agak aneh reaksi wanita ini. Briana terlihat emosional sekali. Meski begitu baik Gavriel, Jenny, maupun Hendar, mereka tidak ada yang berani bersuara. Masing-masing memilih untuk diam membiarkan wanita galak ini menumpahkan segala unek-unek di dalam hati. Biar lega.


"Bukankah karena fitnah yang mereka lakukan hidupku jadi terlunta-lunta seperti sekarang?!" ucap Briana dengan nada suara yang mulai meninggi. "Dengan bukti yang begitu nyata kau masih berani bilang kalau tidak ada orangtua yang tega berbuat jahat pada anaknya sendiri? Apa kau tidak punya urat malu, Tuan Hendar? Hah!"

__ADS_1


Para penjaga yang ada di dalam rumah tampak menelan ludah melihat betapa mengerikan anak majikan mereka. Menjadi bawahannya Tuan Hendar saja terkadang membuat mereka sangat amat tertekan. Lalu sekarang? Astaga. Wanita bernama Briana ini sudah seperti keturunan Yakuza saja. Untung tidak ada samurai. Bisa mati terbelah mereka semua jika wanita ini sampai mengamuk dan mengayunkan samurainya.


"Sayang, tenanglah. Yang sudah berlalu biarkan saja berlalu, jangan di ungkit-ungkit lagi. Kasihan Tuan Hendar. Dia tidak tahu apa-apa," ucap Gavriel dengan lembut. Di tariknya Briana ke dalam pelukan, lalu tangannya bergerak pelan membelai rambut panjangnya. "Terkadang butuh alasan untuk seseorang melakukan tindakan yang salah. Mungkin di pikiran mereka saat itu adalah yang terbaik jika Nyonya Jenny melahirkan seorang anak laki-laki. Namun karena rasa sayang mereka pada Tuan Hendar terlalu besar, mereka tak sadar telah melakukan kekeliruan. Dan terjadilah kesalah-pahaman ini. Begitu!"


"Jadi aku yang salah sudah bicara seperti itu tentang mereka?" tanya Briana sambil membuang nafas kasar. Dia membenamkan wajahnya di dada Lu, mencoba menahan agar air matanya tidak menetes keluar.


"Oh tentu saja tidak. Kau tidak mungkin melakukan kesalahan, sayang. Kau yang terbaik dalam setiap hal." Gavriel menjawab cepat. Jakunnya tampak bergerak naik turun.


Ya ampun, kenapa aku jadi ikutan tegang begini sih. Briana-Briana, perubahan emosimu membuatku kaget saja. Hmmm.


"Lalu siapa yang salah?"


"Aku."


Hendar menghela nafas. "Akulah yang pantas untuk disalahkan, Briana. Mungkin jika waktu itu aku bisa menyadari lebih awal, hidupmu pasti tidak akan kesusahan seperti sekarang. Kakek dan Nenekmu tidak salah, mereka hanya ingin yang terbaik saja untukku. Tolong kau jangan membenci mereka ya? Mereka sayang padamu. Bahkan sampai di detik terakhir nafas mereka, mereka tak henti menyebut namamu. Kau begitu berarti, sayang."


Ada gelenyar aneh muncul menggelitik perasaan Briana saat Tuan Hendar memanggilnya dengan sebutan sayang. Entah dorongan dari mana, Briana melepaskan diri dari pelukan Lu kemudian berjalan menghampiri pria bergelar mafia tersebut.


"Ya. Aku adalah ayah kandungmu," jawab Hendar tanpa ragu.


"Jika seandainya nanti hasil tes DNA itu menyebutkan kalau aku bukanlah putrimu, apa yang akan kau lakukan?"


"Itu tidak mungkin terjadi!" ucap Jenny tiba-tiba menimbrung. Dia langsung kicep saat Briana melayangkan tatapan membunuh padanya.


Ya ampun, seram sekali putriku.


"Jawab, Tuan Hendar. Jangan diam saja!"


"Briana, aku tidak punya jawaban untuk pertanyaanmu. Akan tetapi jika hasilnya nanti adalah negatif, maka aku akan menyerahkan semua keputusan pada Ibumu saja. Terserah dia ingin menjadikanmu apa di rumah ini, aku tidak peduli. Yang terpenting tidak ada kesedihan lagi yang muncul di hidupku!" jawab Hendar dengan bijak.


"Kalau aku meminta separuh dari kekayaanmu, apa kau akan memberikannya padaku?"

__ADS_1


"Jika itu bisa membuat istriku bahagia maka aku akan menyerahkannya secara sukarela."


"Yakin tidak menangis?"


Penjaga tersedak. Segera para penjaga membungkuk meminta maaf saat semua mata tertuju pada mereka. Para penjaga itu kaget, tak percaya ada orang yang berani bicara seperti itu pada sang majikan.


"Aku pernah sangat tergila-gila pada uang, tapi sebagai imbalannya aku harus rela kehilangan kebahagiaan di keluarga kecilku. Sejak dua puluh tahun yang lalu aku banyak belajar kalau uang tidaklah bisa membeli segalanya meski fakta yang terjadi tanpa uang hidup kita akan menderita. Tapi jika Tuhan memintaku untuk memilih, dengan senang hati aku akan memilih untuk hidup pas-pasan saja asal bisa berkumpul dengan anak dan istriku. Aku jera di tinggal oleh mereka," jawab Hendar dengan pandangan yang sangat sendu. Wajahnya terselimuti awan kesedihan. Menyesal setiap kali teringat keegoisannya waktu itu.


"Jawabanmu membuatku tersentuh, Tuan Hendar. Tapi sayang, aku masih tidak percaya kalau kau bersedia menyerahkan separuh kekayaanmu padaku!" ucap Briana sembari membuang muka ke arah lain. Hampir saja air matanya menetes keluar. Hmm.


"Nak, hartaku tak terhitung jumlahnya. Jadi aku tidak tahu ada seberapa banyak dari setengah kekayaan yang kau inginkan. Tapi pada intinya, bukanlah suatu masalah untukku kehilangan semua harta ini. Selama ada kau dan Jenny di hidupku, maka aku tidak membutuhkan apa-apa lagi. Aku sudah bahagia hanya dengan memiliki kalian saja. Sungguh!" sahut Hendar lirih. Dia kemudian menoleh, meraih satu tangan Jenny kemudian menggenggamnya seerat mungkin. "Nanti kau uruslah apa yang diminta oleh Briana. Sekalian minta penjaga untuk memberikan hadiah pada Julia. Kau tidak keberatan, kan?"


"Masalah ini serahkan saja padaku. Kau cukup bawakan hasil tes DNA itu saja pada kami. Oke?" Jenny tersenyum. Matanya sedikit berkaca-kaca. Dia terharu.


Hendar mengangguk. Dia kemudian mendongak, menatap lekat wajah Briana kemudian meraih satu tangannya juga.


"Aku senang sekali bisa berkumpul lagi dengan kalian. Dua puluh tahun yang sudah terlewat bagaikan neraka untukku. Aku lega karena sekarang kita bertiga bisa bersama seperti ini. Hatiku bahagia."


"Tuan Hendar, apa Julia memerasmu?" tanya Briana penuh selidik.


"Tidak. Hadiah itu ku berikan sebagai tanda terima kasih karena telah menjagamu dengan baik. Semacam balas jasa. Begitu," jawab Hendar tanggap akan maksud pertanyaan putrinya barusan.


"Kau tidak bohong?"


"Tentu saja tidak."


"Awas saja kalau kau berani bicara tidak jujur. Kau dan Julia akan kubuat menyesal seumur hidup. Paham?!"


Gavriel nampak menahan tawa menyaksikan bagaimana kekasihnya begitu mudah menekan seorang Hendar Origan. Andai kejadian ini dilihat oleh musuh-musuhnya Tuan Hendar, di jamin mafia tersebut pasti aakan menjadi bahan olok-olokan. Sungguh.


😂😂😂

__ADS_1


***


__ADS_2