
📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜
***
“Ughhh, pusing,” ….
Terdengar lenguhan lirih yang membuat Lu terbangun dari tidurnya. Sambil menutup mulutnya yang sedang menguap, Lu mendudukkan tubuhnya kemudian menoleh ke arah ranjang. Untuk beberapa saat Lu hanya terdiam sambil memperhatikan Briana yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Penasaran apa yang terjadi, Lu diam-diam berdiri kemudian duduk di tepi ranjang untuk memastikan apa yang terjadi pada Briana. Pucat dan bermandikan keringat. Itu yang dilihat oleh Lu setelah dia menyingkap selimut yang menutupi sebagian wajah Briana.
Apa Briana sedang mimpi buruk ya? Wajahnya pucat sekali.
“Sakit,” … Lagi-lagi Briana melenguh. Dan kali ini di barengi dengan tubuhnya yang menggigil hebat.
“Bri, kau kenapa?” tanya Lu cemas. Dia lalu memberanikan diri menempelkan punggung tangannya ke kening Briana. Setelah itu dia tersentak kaget. “Astaga, tubuhmu panas sekali. Kau demam, Briana."
Lu langsung kelabakan begitu tahu kalau Briana sedang demam. Menggunakan insting yang muncul di kepalanya, Lu segera berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air dingin. Setelah itu dia mengambil handuk dari dalam lemari, juga membuka kotak P3K yang ada di sana. Namun sayang, kotak P3K itu kosong. Hal ini tentu saja membuat Lu menjadi semakin panik. Dalam kepanikannya, Lu terpikir untuk pergi membeli obat di apotek. Akan tetapi putaran jarum jam yang menunjuk ke arah angka tiga membuat Lu diam terpaku saat akan berjalan menuju pintu. Kemanakah dia harus pergi di waktu dinihari seperti ini? Lu bingung. Dia lalu memutuskan untuk mengompres Briana terlebih dahulu sembari menunggu pagi tiba.
Briana yang sedang dalam kondisi demam tinggi hanya bisa pasrah menerima perlakuan Lu yang kini tengah menempelkan handuk basah ke keningnya. Mungkin karena cuaca yang sedang tidak menentu, membuat daya tubuh Briana menurun dan menyebabkannya demam seperti ini. Belum lagi dengan aktifitasnya yang cukup melelahkan, membuat Briana akhirnya tumbang seperti sekarang.
“Bri, bertahanlah sebentar lagi ya. Aku akan langsung pergi membelikan obat untukmu setelah matahari muncul. Sekarang masih dinihari, di luar pasti tidak ada apotek yang buka,” ucap Lu tak tega mendengar rintihan Briana. Dia bicara sambil terus mengompresnya, berharap kalau hal ini bisa membantu menurunkan panas di tubuh Briana.
Andai saja ada yang melihat, saat ini Lu terlihat seperti seorang suami yang tengah merawat istinya yang sakit. Dia begitu perhatian dan juga telaten, seolah sedang menggambarkan kalau Lu adalah sosok suami idaman. Manis sekali. Sementara Briana, dia terlihat nyaman-nyaman saja saat Lu sesekali membelai pipinya. Mungkin bagi Briana Lu adalah seorang pria idiot yang datang untuk menyusahkan hidupnya. Namun bagi Lu, Briana adalah seorang dewi penyelamat. Segalak-galaknya Briana, di mata Lu semua sikap Briana terlihat sangat manis. Dan hal itu membuat sesuatu tumbuh di dalam hatinya. Ya, Lu menyukai Briana sebagai lawan jenis, bukan sebagai seseorang yang telah menolongnya.
Setelah hampir dua jam lebih terus mengompres kening Briana, Lu akhirnya bisa bernafas lega karena panasnya mulai berangsur-angsur menurun. Lu kemudian bergegas keluar dari rumah untuk membeli obat. Namun ketika Lu baru berjalan beberapa langkah, Lu baru teringat kalau dia tidak memiliki uang. Bingung, itu sudah pasti. Ingin kembali ke rumah dan meminta uang pada Briana itu jauh tak memungkinkan lagi. Alhasil Lu akhirnya terpikir untuk berhutang pada salah satu tetangga yang tempo hari ingin menjodohkan anak gadisnya dengannya. Berbekal ketampanan yang Lu miliki, Lu memberanikan diri meminjam uang pada tetangganya yang kala itu tengah menjemur sesuatu di depan rumahnya.
__ADS_1
“Bibi, selamat pagi,” sapa Lu sopan.
“Oh, Lu. Selamat pagi kembali tampan,” sahut si bibi tetangga dengan semringah. “Tumben sekali pagi-pagi begini kau sudah berada di luar rumah. Tidak takut direbus oleh Briana?”
Lu tersenyum. “Briana sedang sakit, Bibi. Makanya sekarang aku bisa berada di luar rumah.”
“Apa? Briana sakit?”
“Iya,”
“Waahhh, gadis galak itu ternyata bisa sakit juga ya. Aku pikir Briana kebal terhadap segala macam virus. Tidak di sangka dia bisa tumbang juga. Hmmm,”
“Bibi?” panggil Lu dengan lembut.
“Bolehkah aku meminjam uang pada Bibi? Briana sedang sakit, aku tidak tega membangunkannya. Aku janji aku akan segera mengembalikan uang Bibi begitu aku mendapat pekerjaan. Bolehkah?”
Lu menatap si bibi tetangga dengan pandangan penuh harap. Andai saja Lu mempunyai uang sendiri, Lu pasti tidak akan mungkin berhutang. Namun demi Briana, apapun rela Lu lakukan asalkan bisa melihat sang pujaan hati sehat kembali. Termasuk menebalkan muka untuk meminjam uang pada tetangga seperti sekarang.
“Aiyooooo, selain tampan ternyata kau manis sekali ya, Lu. Tunggu sebentar, Bibi akan mengambilkan uangnya dulu di dalam. Kau jangan kemana-mana ya?”
“Iya, Bibi. Terima kasih.”
Sambil menunggu si bibi tetangga kembali, Lu melakukan peregangan otot di sana. Tapi kali ini Lu melakukannya dengan sangat hati-hati. Dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu itu sehingga menyebabkan kericuhan besar di lingkungan ini. Sembari melirik ke kanan dan ke kiri, Lu melakukan skotjump. Dan dia baru berhenti ketika bibi tetangga muncul bersama suanminya.
__ADS_1
Gawat. Harusnya kemunculanku di sini tidak menyebabkan masalah bukan? Briana akan benar-benar merebusku jika suami Bibi ini sampai mengamuk.
“Lu, ini uangnya,” ucap si bibi tetangga menyerahkan uang pada Lu. Setelah itu dia menatap sinis ke arah suaminya. “Nah, kau lihat sendirikan kalau Lu hanya meminjam uang padaku? Posesif sekali.”
“Tentu saja aku harus posesif pada istriku sendiri. Apa yang salah?” sahut si suami. “Dan kau, Lu. Untuk apa kau meminjam uang pada istriku? Kenapa kau tidak meminjam pada Briana saja?”
“Paman, Briana semalam demam tinggi. Dan tadi aku tidak tega membangunkannya saat akan meminta uang untuk membeli obat. Itulah kenapa aku meminjam uang pada Bibi. Aku janji aku akan segera mengembalikannya begitu aku mendapat pekerjaan. Sungguh,” jawab Lu menjelaskan penyebab mengapa dia berhutang.
“Um, begitu ya. Tapi ngomong-ngomong dengan siapa kau ingin pergi membeli obat?”
Deg
Lu hanya bisa menggaruk pinggiran kepalanya saat terkenang kalau dia tidak tahu jalan menuju apotek. Jangankan apotek, jalan menuju ke rumah Briana saja Lu tidak bisa mengingatnya. Konyol sekali bukan?
“Haih, Lu-Lu. Kau ini ya. Sudah tahu masih orang baru, kenapa sok berani sekali sih ingin pergi sendiri. Kalau kau hilang bagaimana? Ayo, biar Paman antarkan ke apotek,” ucap si paman tetangga sambil menggelengkan kepala.
“Terima kasih banyak, Paman. Maaf merepotkan,” sahut Lu merasa sangat gembira mendengar tawaran baik tersebut.
“Sudah-sudah jangan sungkan. Lebih baik kita segera berangkat agar Briana bisa secepatnya minum obat. Ayo.”
“Baik, Paman.”
Dan pada akhirnya Lu pergi membeli obat dengan di antar oleh paman tetangga. Bibi tetangga yang melihat hal itupun memandang kepergian mereka dengan penuh pesona. Bagaimana tidak terpesona. Suami dan calon menantu tampannya terlihat begitu akrab saat sedang berjalan beriringan. Dan si bibi tetangga merasa sangat yakin kalau Lu pasti akan menjadi menantunya. Benar tidak teman-teman?
__ADS_1
***