
Briana terus menggenggam erat kedua tangan Lu yang sudah akan masuk ke dalam mobilnya Wildan. Sungguh berat sekali. Meski semalam Briana dan Lu sudah saling menguatkan, tapi tetap saja perpisahan ini terasa sangat menyedihkan. Bahkan tak hanya Briana saja. Semua tetangga yang begitu mengidolakan Lu ikut merasa sedih dan juga tak rela melepas kepergian si hantu air yang tampan itu. Raut wajah mereka sangat jelas menggambarkan kalau mereka sangat berat kehilangan Lu yang awalnya mereka kira adalah sepupunya Briana.
Ya, tadi pagi saat Erzan, Wildan dan juga Julia datang ke rumahnya Briana, para tetangga merasa penasaran kenapa ada mobil mewah datang ke kediamannya. Karena tak ingin ada kegaduhan, dengan berat hati Briana akhirnya memberitahu semua orang tentang siapa Lu sebenarnya. Juga dengan penyebab mengapa Lu bisa tinggal di rumahnya. Untung saja Lu tampan dan juga sudah meninggalkan kesan baik di mata semua orang, jadi kebenaran ini sama sekali tak memicu kemarahan. Malah semua orang berbaris menunggu untuk melepaskan Lu kembali pada keluarganya. Dan di sinilah semua orang sekarang, menatap sedih ke arah Briana yang terus saja menggenggam tangannya Lu. Gadis galak ini tak rela di tinggal oleh sepupu palsunya.
“Bri, mau sampai kapan kau menggenggam tangannya Lu? Kenapa tidak sekalian saja kau borgol tangan kalian supaya terus menyatu,” celetuk Julia sebal melihat adegan perpisahan yang terus saja tertunda sejak tadi. Sudah hampir dua puluh menit terlewat, tapi Briana masih saja tak mau melepaskan genggamannya. Kan Julia lelah berdiri.
“Jangan merusak suasana kalau kau tidak mau pulang dengan mulut terjahit sampai ke telingamu, Julia!” sahut Briana dongkol mendengar celetukan Julia. Dia lalu menoleh, melayangkan tatapan bengis pada sahabatnya yang sama sekali tidak memahami perasaannya saat ini. “Kalau kau lelah bilang saja lelah. Tidak perlu memakai alasan konyol seperti tadi. Membuat orang kesal saja.”
“Haihhh, sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, Bri. Baiklah, aku memang sudah lelah berdiri menunggumu melepaskan Lu. Kalau saja telapak kakiku bisa bicara, mereka pasti sudah berteriak dan berkata kalau telapak kakiku mulai di tumbuhi akar gara-gara terlalu lama berdiri. Puas kau!”
Wildan dan Erzan hanya diam mendengarkan perdebatan antara Briana dengan Julia. Sedangkan Lu sendiri, dia nampak tersenyum samar sambil terus menatap wajah Briana. Sudah biasa bagi Lu mendengar perdebatan sengit sepasang sahabat ini, jadi sudah bukan hal yang mengherankan lagi baginya. Sementara itu para tetangga yang sebelumnya sudah mengenal Julia, mereka terlihat menampakan raut jengah saat menyaksikan perdebatan konyol di antara dua wanita yang sama bar-barnya. Julia dan Briana satu paket, bahkan jika kedua wanita ini sampai baku hantampun mereka akan biasa-biasa saja menanggapinya.
“Bri?”
Briana yang masih berdebat dengan Julia langsung menatap Lu saat mendengar Lu memanggilnya. Sambil mengerjapkan mata, Briana pun menanyakan ada apa. “Kenapa memanggilku, Lu? Apa kau membutuhkan sesuatu?”
“Tidak,” jawab Lu seraya tersenyum kecil. “Sudah waktunya untuk aku kembali ke rumahku. Walaupun aku tidak mengingat apa-apa, tapi Erzan bilang orangtua kami sedang menunggu kepulanganku. Tidak apa-apakan kalau aku pergi sekarang?”
Jangan di tanya bagaimana perasaan Briana sekarang. Tenggorokannya serasa kering seketika saat Lu mengingatkan Briana kalau dia harus segera pergi dari sana. Sungguh, saat ini hati Briana terus menjerit meminta agar Lu tidak pergi meninggalkannya. Dia benar-benar tidak menginginkan perpisahan ini.
“Sudahlah, Briana. Biarkan saja Lu pulang ke rumahnya, kan masih ada aku yang akan menemanimu di sini. Iya ‘kan?” timpal Julia sambil mengelus pelan bahu Briana. Dia cukup mengerti akan kesedihan yang dirasakan oleh sahabatnya ini.
__ADS_1
“Ekhmmm Julia, bisakah kau diam dulu?” tegur Erzan gemas sendiri melihat Julia yang terus saja merecoki Briana. “Biarkan Briana menyelesaikan percakapannya dengan kakakku. Kau jangan mengganggu!”
“Briana sahabatku dan Lu adalah orang terdekatku. Apa salahnya kalau aku menjadi penengah di antara mereka?”
Sadar kalau adik atasannya tidak bisa menjinakkan Julia, Wildan segera mengambil inisiatif untuk melerai. Dia berjalan mendekati Julia kemudian menarik lengannya pelan. Setelah itu Wildan berbisik. “Nona Julia, tolong biarkan Nona Briana dan Tuan Gavriel berbicara dengan tenang. Kasihan mereka. Ya?”
“Baiklah,” sahut Julia dengan patuh.
Erzan ternganga syok melihat Julia yang langsung patuh begitu Wildan yang memintanya untuk diam. Sungguh mengejutkan sekali bukan? Hohoho, Erzan tidak tahu saja penyebab mengapa Julia bisa begitu patuh pada Wildan. La wong dia sudah jatuh cinta di pandangan pertama padanya. Wajar saja kalau Julia tidak memberontak saat Wildan memintanya untuk diam. Benar tidak teman-teman?
“Lu, kita masih akan bertemu lagi ‘kan?” tanya Briana dengan suara tercekat.
“Aku tidak bisa menjanjikan itu, Briana. Tapi aku janji aku akan berusaha untuk terus mengingatmu. Dan jika seandainya nanti aku gagal mengingat kebersamaan kita, tolong datang dan temuilah aku. Jelaskan kalau kita pernah menghabiskan waktu selama enam puluh hari untuk saling mengenal. Ya?” jawab Lu sambil menatap tak tega ke arah Briana. Hatinya sakit sekali melihatnya yang seperti sedang menahan tangis.
Lu menghela nafas panjang. Dia melepaskan kedua tangannya yang sedang di genggam oleh Briana kemudian membelai pipinya dengan penuh perasaan. Sungguh, Lu benar-benar sangat mencintai wanita galak ini. Kalau saja Briana mau, Lu pasti akan membawanya pulang bersama ke rumahnya. Lu sangat tidak ingin mereka berpisah, tapi mau bagaimana lagi. Briana menolak untuk pergi bersamanya.
“Briana, sejak kau mengizinkanku untuk tinggal dan makan di rumahmu, sejak saat itu aku sudah menganggapmu sebagai dewi penolongku. Di saat semua orang menghardik dan mengusirku, kau dengan begitu baiknya memberikan pertolongan pada seseorang yang bahkan tidak bisa mengingat namanya sendiri. Kau sangat berarti untukku, Briana. Jadi kau tentu saja memiliki hak untuk datang dan mengingatkan aku tentang kebersamaan kita. Jangan khawatir, masih ada Erzan dan Wildan yang bisa menjadi saksi kalau kita saling mengenal. Juga Julia dan para tetangga yang tinggal di sekeliling rumahmu. Mereka pasti akan bersedia membantumu untuk memulihkan kembali ingatanku tentang kita jika seandainya nanti kenangan kebersamaan kita sampai terhapus dari dalam pikiranku. Oke?”
“Begitukah?” ucap Briana meragu.
Saat Lu hendak menjawab, para tetangga sudah lebih dulu meyakinkan Briana kalau mereka bersedia membantunya jika di suatu hari nanti Lu sampai melupakannya. Melihat hal itupun Lu tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia lega karena orang-orang di sana begitu baik kepadanya dan juga pada Briana. Tersadar kalau dia sudah harus pergi, dengan berat hati Lu menarik Briana ke dalam pelukannya kemudian menciumi puncak kepalanya penuh sayang.
__ADS_1
“Bri, jaga dirimu baik-baik ya. Aku akan berusaha memenuhi janjiku dengan datang kemari untuk kembali menemuimu. Dan aku harap sampai waktu itu tiba, kau akan menjalani harimu dengan sebaik mungkin. Ingat pesanku baik-baik ya. Jangan terlalu keras pada dirimu. Bahagiakanlah dirimu dengan melakukan hal-hal yang selama ini sangat ingin kau lakukan. Hidup hanya satu kali, Briana. Dan salah satu cara bersyukur yang paling baik adalah dengan menghargai dirimu sendiri. Mengerti?”
“Iya,” jawab Briana lirih. Setelah itu Briana mengurai pelukan kemudian menatap Lu sambil tersenyum lebar. “Kau fokuslah pada kesembuhanmu dulu. Dan ingat, kau masih punya hutang padaku. Pastikan kau kembali untuk membayar semua tagihanmu itu. Tahu?”
“Baiklah. Dan jika aku lupa, jangan sungkan untuk mencariku ya. Kau dan Julia yang memberiku nama Lu, yang artinya adalah pria lupa ingatan. Iya ‘kan?”
Briana tertawa. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum membantu membukakan pintu mobil untuk Lu. “Nah, masuklah.”
“Terima kasih.”
Sebelum masuk ke dalam mobil, Lu melambaikan tangan pada semua orang yang ada di sana. Dia kemudian tersenyum sambil sekali lagi membelai pipi Briana sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil. Erzan dan Wildan pun bergegas menyusul masuk. Tak lupa juga mereka berpamitan pada semua orang, terutama Julia dan Briana.
“Erzan, pelan-pelan saja mengemudinya. Aku tidak mau mendengar kabar kalian bertiga hilang ingatan gara-gara mengalami kecelakaan mobil. Ya?” pesan Briana sesaat sebelum dia menutup pintu mobil. Dia lalu mengetuk kaca mobil agar Lu menurunkan kaca jendela.
“Siap. Kau tenang saja, Bri. Wildan sangat bisa di andalkan,” sahut Erzan seraya mengacungkan jari jempolnya. Dia kemudian menatap sang kakak yang sedang saling menatap dengan Briana. Erzan lalu berdehem. “Kak Gavriel, apa kau sudah siap?”
“Ya,” jawab Lu singkat. “Bri, aku pergi dulu ya. Jangan telat makan dan sering-seringlah menghabiskan waktu di luar. Oke?”
Briana mengangguk. Dia kemudian mundur ke belakang saat Wildan menyalakan mesin mobil. Sambil melambaikan tangan, Briana terus melayangkan senyum ke arah Lu saat mobil perlahan-lahan mulai bergerak pergi. Dan pada akhirnya Lu benar-benar lenyap dari pandangan Briana. Jujur, ini sangat menyesakkan di dada.
Lu, aku harap kau menepati janjimu untuk kembali lagi kemari. Kalau tidak, aku bersumpah akan menyewa bandit untuk menculikmu kemudian memukulimu sampai kau lupa ingatan lagi. Tahu kau?
__ADS_1
***