
"Apa? Gavriel sudah sembuh?" pekik Dary dan Helena berbarengan. Mata mereka sampai membelalak lebar saking terkejut mendengar perkataan Erzan.
"Benar Ayah, Ibu. Aku mendengarnya langsung dari mulut Wildan dan Kak Gavriel," sahut Erzan seraya menganggukkan kepala. Dia baru saja pulang dari kantor dan langsung melaporkan hal ini kepada kedua orangtuanya. Siapa suruh dia tidak di izinkan keluar dari perusahaan, jadi jangan salahkan Erzan jika mengadukan hal ini pada mereka. Huh.
"Pantas saja akhir-akhir ini Ibu merasa ada yang beda dengan kakakmu itu. Ternyata dia sedang berpura-pura ya."
Saking Helena merasa penasaran, dia sampai terjatuh dari lantai dua rumahnya saat sedang mencari bukti tentang keanehan di diri putra sulungnya. Dan siapa yang akan menyangka kalau firasat seorang ibu itu memang selalu benar. Terbukti karena Erzan baru saja mengatakan kalau ingatan kakaknya sudah pulih kembali seperti semula. Membuat Helena jadi merasa lega sekali. Sungguh.
"Erzan, apa kakakmu ada menjelaskan kenapa dia merahasiakan hal ini dari kita semua?" tanya Dary penasaran. Dia kaget sekali mengetahui kalau ingatan putra pertamanya sudah pulih sejak lama.
"Tidak, Ayah. Kak Gavriel malah sibuk ingin menjodohkan aku dengan Julia," jawab Erzan dengan bibir yang langsung mengerucut. Dia kesal sekali jika teringat dengan hal ini. Sungguh.
"Itu kabar yang bagus. Ibu setuju dengan kakakmu," sahut Helena semringah.
Hehehe, Gavriel tahu saja kalau aku ingin Briana dan Julia menjadi menantuku.
"Apanya yang bagus sih, Bu. Julia itu wanita yang aneh. Tolong jangan jodoh-jodohkan aku dengannya!"
"Aneh apanya. Jelas-jelas Julia adalah gadis yang sangat manis. Kau itu yang aneh. Sudah setua ini tapi masih belum laku-laku juga. Harusnya kau merasa beruntung karena kakakmu ingin menjodohkanmu dengan wanita secantik Julia. Wajahmu itu lo pas-pasan!"
Dary pura-pura tak mendengar saat istrinya mulai mengomeli putra mereka. Cari aman saja supaya dia tidak didiamkan. Masa bodo dengan Erzan, yang penting dia selamat dulu.
"Bu, aku ini bukannya tidak laku. Tapi aku hanya sedang mencari wanita yang tepat untuk kujadikan pasangan hidup. Memangnya Ayah dan Ibu mau apa aku menikah dengan sembarangan wanita. Mau kalau cucu kalian terlahirseperti alien?" kesal Erzan tak habis pikir akan ejekan yang dilayangkan oleh sang ibu. Heran, anak sendiri malah di bully.
"Ayah dan Ibu hanya akan menerima Julia sebagai menantu kami. Iyakan, sayang?" tanya Helena sembari mengusap pelan bahu suaminya. Dia lalu tersenyum miring saat suaminya menoleh.
__ADS_1
"Aku ikut apa katamu saja, sayang. Yang penting kau senang," jawab Dary pasrah. Pokoknya yang penting selamat. Setuju tidak setuju itu urusan belakangan, yang terpenting sekarang dia jangan sampai bersembarangan mengeluarkan pendapat di hadapan wanita ini. Bisa gawat nanti.
"Nah, kau dengar sendirikan, Er. Ayahmu saja setuju kalau kau menikah dengan Julia. Apalagi yang perlu kau tunggu. Cepat dekati dia dan bawa dia pulang ke rumah ini. Lebih bagus lagi kalau kau sekalian membawakan cucu untuk Ayah dan Ibu. Bagaimana? Ide Ibu sangat keren, bukan?"
Kalau saja wanita yang baru bicara bukan ibunya, Erzan pasti sudah mencekik lehernya dengan kuat. Sungguh, sebenarnya ada apa sih dengan orang-orang di rumah ini. Kenapa mereka semua bisa begitu terobsesi pada wanita yang bernama Julia itu. Apa istimewanya? Ya ampun, Erzan benar-benar sudah tidak tahan. Dia bisa gila jika tidak segera pergi dari sana.
"Erzan, kau mau pergi kemana? Jawab dulu pertanyaan Ibu!" teriak Helena ketika melihat Erzan melenggang pergi begitu saja.
"Matipun aku tidak akan pernah mau menikah dengan Julia, Ibu. Aku lebih baik menjadi perjaka tua saja ketimbang harus mempunyai istri gila seperti dia!" sahut Erzan sambil berjalan menaiki anak tangga. Dia dongkol sekali.
"Hati-hati lo. Ucapan itu adalah doa yang tertunda."
"Aku tidak peduli. Arggghhhhhh!"
"Sayang, jangan terlalu memaksakan kehendakmu pada Erzan. Kasihan dia. Bebaskan saja dia untuk memilih calon istrinya sendiri. Takutnya nanti Erzan tidak bahagia jika kau tetap memaksanya menikah dengan Julia," ucap Dary dengan lembut membujuk putrinya. Dary merasa tak tega pada putra bungsunya jika harus menikah paksa.
"Justru karena aku tahu kalau Erzan akan bahagia jika menikah dengan Julia, makanya aku ngotot ingin menjodohkan mereka berdua. Kau ini bagaimana sih, Dary. Memangnya kau tidak mau ya mempunyai menantu selucu Julia? Heran!" sahut Helena sinis. Dia lalu bersedekap tangan, menatap suaminya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. "Aaa, aku tahu. Jangan-jangan kau tidak setuju aku menjodohkan Erzan karena kau juga menyukai Julia. Apa aku benar?"
Day langsung mengelus dada saat dirinya di tuduh menyukai Julia. Ini, ini yang dia hindari. Haih, pikiran wanita memang sangat sulit untuk di tebak. Padahal niatnya itu hanya ingin membela Erzan, tapi kenapa sekarang malah Dary yang terkena imbasnya. Ibarat kata, tidak makan nangka tapi kena getahnya. Astaga.
"Sudahlah, tidak asik bicara denganmu. Lebih baik sekarang aku menunggu Gavriel pulang saja di luar. Aku ingin tahu sedari kapan ingatannya sudah pulih. Kau menyebalkan, Dary!" ucap Helena kemudian beranjak dari duduknya. Dia lalu melangkah keluar, meninggalkan suaminya yang terdiam sambil mengelus dada.
Sabar Dary, sabar.
Tak mungkin mnyusul keluar, Dary memutuskan datang ke kamar Erzan saja. Mungkin memberi sedikit penghiburan pada anak itu akan jauh lebih bermanfaat ketimbang pergi menyusul istrinya yang sedang kesal. Lagi-lagi Dary cari aman. Hmmm.
__ADS_1
Tok tok tok
"Kalau Ibu datang hanya untuk membela Julia, lebih baik Ibu jangan masuk. Ini kamar anak tiri. Sana pergi temui Julia saja!" teriak Erzan dari dalam kamar.
"Erzan, ini Ayah. Ibumu sedang menunggu kakakmu di luar. Bukalah pintunya!" sahut Dary seraya menghela nafas panjang.
Hening. Tak lama kemudian pintu kamar Erzan terbuka. Bocah ini kemudian melihat kesana kemari, memastikan kalau ibunya tidak ada di sana
"Untuk apa Ayah datang kemari. Ingin mejodohkan aku dengan Julia juga? Iya?" tanya Erzan langsung memasang wajah yang sangat luar biasa masam.
"Jangan salah paham dulu. Ayah datang kemari justru karena mendapat omelan dari Ibumu. Tadi Ayah berniat membujuk Ibu agar jangan terlalu memaksakan kehendak. Akan tetapi Ibu malah menuduh Ayah menyukai Julia. Makanya Ayah memutuskan datang ke kamarmu saja. Urusan bisa menjadi panjang jika Ayah sampai menyusul Ibumu di luar," jawab Dary memberitahu Erzan tentang hal menyedihkan apa yang baru saja terjadi.
Awalnya Erzan sempat kesal melihat kedatangan sang ayah. Akan tetapi setelah mendengarkan ceritanya, tiba-tiba saja Erzan sangat ingin tertawa. Dia merasa kalau nasib ayahnya tak jauh lebih baik darinya. Bahkan lebih buruk lagi.
"Jangan menertawakan Ayah, Erzan. Nanti kau kualat!"
"Aku tidak menyangka kalau nasib Ayah ternyata jauh lebih tragis dariku. Menyukai Julia? Astaga, sebenarnya Ibu bisa mendapatkan pemikiran seperti ini dari siapa sih. Bisa-bisanya dia menuduh suaminya sendiri menyukai wanita lain yang jelas-jelas ingin di jodohkan denganku. Menurut Ayah masuk akal tidak?" tanya Erzan berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Tentu saja sangat tidak masuk akal, Er. Akan tetapi di mata Ibumu itu tidak ada yang tidak masuk akal. Pokoknya apa yang keluar dari mulutnya adalah yang paling benar, dan itu tidak bisa di bantah. Semau dia pokoknya!" jawab Dary pasrah saja beristrikan Helena.
"Ayah benar. Dan inilah alasan kenapa aku malas menjalin hubungan dengan wanita. Menurutku mereka itu bisanya hanya membuat kepala kita mejadi sakit. Dan jika aku sampai menikah dengan Julia, di jamin aku pasti akan langsung mati muda. Sungguh!"
Karena takut ketahuan, Erzan mengajak ayahnya masuk ke dalam kamar. Bisa mati di gantung mereka berdua jika sampai ada pelayan yang melapor pada ibunya. Secara, semua pelayan di rumah inikan anggota arisan ibunya, jadi wajar saja kalau Erzan harus berhati-hati saat berurusan dengan mereka. Hehe.
***
__ADS_1