Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Ingin Menjodohkan


__ADS_3

Saat Briana yang hampir saja bertemu dengan ayah kandungnya, di tempat lain ada Gavriel dan Wildan yang baru saja sampai di rumah. Mereka kini sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Tuan dan Nyonya Anderson.


"Kalian berdua itu sebenarnya darimana, hem? Kalau benar dari rumah sakit, tidakkah menurut kalian ini sudah terlalu malam untuk di anggap sebagai jam pulang?" cecar Dary sambil menatap bergantian ke arah Wildan dan Gavriel.


"Ayahmu benar, Lu. Kau dan Wildan pergi ke mana saja sampai semalam ini baru sampai di rumah. Kalian pergi ke diskotik ya?" timpal Helena penuh selidik. Dia sudah siap mengomel jika kedua pria ini benar-benar pergi ke tempat seperti itu. Bahkan jika dalam waktu satu jam lagi mereka masih belum pulang, Helena berniat memberitahu hal ini pada Julia dan Briana. Sekalian supaya kedua wanita itu datang lagi ke rumah ini. Hehehe.


"Ibu, untuk apa aku dan Wildan pergi ke tempat-tempat seperti itu. Tidak ada gunanya," jawab Gavriel agak kaget mendengar tuduhan sang ibu. Bisa-bisanya dia dan Wildan di tuduh pergi ke diskotik. Yang benar saja.


"Yakan siapa tahu. Lagipula siapa suruh kalian menghilang tanpa kabar. Jadi jangan salahkan Ibu menuduh kalian yang bukan-bukan. Iyakan, Dary?" ucap Helena seraya mengguncang lengan suaminya.


"Hmmm, sayang. Walaupun Lu sedang lupa ingatan, dia dan Wildan mana mungkin pergi ke diskotik. Kan yang lupa ingatan hanya Lu saja, Wildan tidak. Jadi mana mungkin dia berani membawanya pergi ke tempat tidak jelas seperti itu. Kau ini ada-ada saja," sahut Dary yang juga lumayan kaget mendengar tuduhan istrinya.


Helena berdecak. Dia menatap sinis pada Dary yang secara tidak langsung berani menampik tuduhannya. Dary yang sadar kalau dia telah salah mengeluarkan jawaban, segera berdehem pelan sambil bergeser menjauh. Entah kenapa sejak Briana dan Julia menginap di rumah ini, Dary jadi merasa sering di intimidasi oleh istrinya sendiri. Saat salah bicara sedikit saja, Helena akan langsung berdecak sambil menatap sinis. Dan jika dia sampai tidak setuju dengan apa yang di ucapkannya, wanita ini juga tak segan untuk mengancam. Dary jadi ngeri sendiri memikirkan nasibnya dan juga nasib kedua putranya jika ketiga wanita ini sampai menjadi satu komplotan menantu dan mertua. Di jamin hidup mereka bertiga tidak akan tenang. Sungguh.


Ayah, Ibu. Aku minta maaf karena belum bisa memberitahu kalian kalau sebenarnya aku sudah sembuh. Tolong beri aku waktu sampai hubungan antara Briana dengan keluarga Origan terkuak dengan jelas. Aku terpaksa membohongi kalian karena aku tahu Ibu sudah sehati dengan Briana. Jadi tolong maafkan aku dari jarak jauh ya?


"Tuan Dary, Nyonya Helena. Tadi setelah kami keluar dari rumah sakit, Tuan Gavriel meminta saya untuk menemaninya pergi jalan-jalan sebentar. Dan tempat yang kami tuju adalah tempat yang beliau lihat saat sedang melakukan terapi. Jadi kalian tidak perlu merasa cemas dengan berpikir kalau kami pergi ke tempat yang tidak benar!" ucap Wildan menjelaskan pada pasangan suami istri yang sedang terlibat peperangan tak kasat mata.


"Oh begitu ya. Syukurlah," sahut Helena. Dia lalu memperhatikan Gavriel. "Lu, kalau Ibu boleh tahu memangnya apa yang sudah kau lihat? Itu bukan sesuatu yang membuat kepalamu sakit, kan?"

__ADS_1


"Entahlah, Ibu. Aku tidak bisa menceritakannya dengan jelas. Tadi saat aku sedang melakukan terapi, tiba-tiba saja sebuah tempat muncul di dalam pikiranku. Lalu setelah sadar aku meminta Wildan agar mengantarkanku pergi ke tempat tersebut. Dan tempat itu sendiri ternyata adalah jalanan di mana dulu aku hilang karena di culik," jawab Gavriel mengarang cerita. "Tapi Ayah dan Ibu tenang saja. Aku sama sekali tidak merasakan apapun saat tiba di sana. Sepertinya terapi ini sudah mulai menunjukkan hasil yang baik!"


"Benarkah?"


Wajah Dary dan Helena langsung berbinar cerah saat mendengar penuturan Gavriel. Dan bersamaan dengan itu, Erzan yang baru saja pulang dari kantor langsung ikut menimbrung saat tak sengaja mendengar kalau pengobatan sang kakak mulai membuahkan hasil yang baik.


"Kak Gavriel, benar kau sudah sembuh?" cecar Erzan dengan pandangan yang begitu gembira. Rasanya dia seperti akan segera terbebas dari cengkeraman kematian yang begitu mengerikan.


"Do'akan saja," sahut Gavriel pura-pura santai. Padahal dia mati-matian menahan diri agar tidak tertawa melihat cara Erzan menatap. "Untuk sekarang aku masih belum bisa di sebut sembuh. Namun sudah ada kemajuan dari terapi yang aku lakukan. Dan Erzan, kenapa kau terlihat begitu senang sekali. Yang sakit itukan aku, harusnya aku yang merasa gembira atas kabar baik ini. Iyakan, Wil?"


Wildan hanya tersenyum saja mendengar perkataan atasannya. Tanpa harus di jawab pun semua orang juga tahu penyebab mengapa Erzan bisa segembira ini. Apalagi jika bukan karena sudah tidak sabar ingin segera kabur dari Under Group dan kembali menjadi seorang petani. Hmm.


"Jangan berlagak tidak tahu ya, Kak. Gara-gara kau yang hilang ingatan, aku sampai harus meninggalkan hobiku dalam bercocok tanam. Entah apa kabar dengan sayur dan juga buah-buahan yang ku tinggalkan. Hampir tiga bulan aku tidak menjenguk mereka. Sayur dan buahku pasti sudah sangat merindukan aku sekarang," ucap Erzan lagi-lagi mengeluhkan nasibnya. "Malang sekali nasib mereka. Harusnya sekarang aku sudah mulai panen, tapi karena aku tertahan di neraka dunia, mau tidak mau mereka harus ikut menderita juga karena tidak ada yang merawat. Itulah kenapa aku merasa sangat senang saat mendengar kalau kau sudah tidak kesakitan lagi ketika ingatan itu muncul. Peluangku untuk segera bebas sudah ada di depan mata, Kak!"


"Dary, aku rasa kita perlu melakukan tes DNA untuk mencari tahu apakah pria busuk ini adalah benar anak kita atau tidak. Bisa-bisanya ya dia lebih mengkhawatirkan keadaan sayur dan juga buah yang di tanamnya ketimbang mengkhawatirkan keadaan kakaknya sendiri. Aku ragu dia adalah bagian dari keluarga Anderson!" ucap Helena sambil menatap sinis pada putra bungsunya. Sungguh tak masuk di akal. Baru kali ini Helena melihat ada seorang anak konglomerat yang sama sekali tak tertarik dengan yang namanya kekayaan. Wajarkan kalau dia meragukan kesejatian Erzan sebagai bagian dari keluarga Anderson? Heran.


"Sayang, kita sudah pernah melakukannya beberapa kali. Dan semua tes membuktikan kalau Erzan adalah hasil dari produk yang kita buat," sahut Dary sembari membuang nafas panjang. Dia sudah lelah sekali menghadapi perseteruan ini. Dan entah mengapa Dary merasa kalau dia butuh Julia dan Briana sekarang juga. Kedua wanita itu pasti bisa dengan mudah menemukan jalan keluarnya.


"Benarkah?"

__ADS_1


Kedua alis Helena saling bertaut. "Lakukan sekali lagi. Baru aku akan percaya kalau Erzan adalah anak kandung kita. Jika tidak, maka aku sarankan kau sebaiknya mulai mencari rumah baru saja. Mengerti?"


"Baiklah, ibu suri. Besok aku akan melakukannya."


Gavriel terkekeh melihat ketidakberdayaan sang ayah dalam menyikapi keinginan ibunya. Setelah itu pandangan Gavriel teralih pada Erzan yang terlihat santai-santai saja meski keasliannya diragukan oleh ibu mereka.


"Kau tidak takut seseorang akan menukar hasil tes DNA besok?" iseng-iseng Gavriel bertanya.


"Untuk apa aku merasa takut. Lagipula aku tidak menginginkan kekayaan keluarga ini, Kak. Untukmu saja semuanya," jawab Erzan dengan entengnya.


"Padahal Julia itu sangat menyukai uang, Er. Dia bahkan rela melakukan segala macam cara agar bisa menjadi wanita yang kaya!"


Erzan menyipitkan sebelah matanya saat sang kakak tiba-tiba membahas tentang Julia. "Kenapa kau tiba-tiba membicarakan tentang wanita gila itu, Kak? Jangan bilang kau sama seperti Ibu yang ingin ....


"Benar sekali. Aku memang berniat menjodohkanmu dengan Julia. Apa kau keberatan?"


Wildan, Dary, Helena dan juga Gavriel sama-sama meng*lum senyum melihat Erzan yang tertawa lebar dengan menampilkan ekpresi wajah yang begitu kesal saat mendengar perkataan Gavriel yang ingin menjodohkannya dengan Julia.


"Sekarang aku benar-benar berharap kalau hasil tes DNA besok menujukkan hasil kalau aku bukanlah bagian dari keluarga ini. Sungguh!" protes Erzan sesaat sebelum melangkah pergi menuju kamar sambil menggerutu tidak jelas. Dia tak mempedulikan suara gelak tawa yang menggema di ruang tamu rumahnya. Terlalu menjengkelkan.

__ADS_1


Julia Julia Julia. Kenapa sih harus nama wanita itu terus yang di sebut. Seperti tidak ada wanita lain yang jauh lebih baik saja. Huh.


***


__ADS_2