Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Gadis Kekurangan Bahan


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


“Lu, bisakah Bibi meminta bantuanmu? Listrik di rumah mati dan Bibi tidak bisa menggantinya. Maukah kau menolong wanita tak berdaya ini?”


Langkah Lu dan Briana langsung terhenti saat ada salah satu tetangga meminta tolong kepada Lu. Briana yang tahu kalau si tetangga ini tengah memainkan modus agar Lu bersedia datang ke rumahnya, segera memikirkan cara untuk menghalau Lu agar tidak pergi ke sana. Briana jelas tahu kalau tetangganya ini berniat menjebak Lu dengan mengenalkan pada putrinya yang belum menikah. Walaupun tetangga ini turut andil dalam perdamaian antara Briana dengan Lu, tapi Briana tetap tidak akan tinggal diam. Apalagi sekarang di hati Briana mulai tumbuh bibit-bibit racun aneh setelah Lu menebar sikap manisnya, membuatnya merasa lebih tidak rela membiarkan Lu membangun kedekatan dengan wanita selain dirinya. Eh, selain dirinya? Briana sedang posesifkah?


“Lu, bagaimana? Kau maukan menolong Bibi?”


“Maaf, Bibi. Hari sudah malam, Lu butuh istirahat setelah bekerja seharian!” sahut Briana sambil memposisikan tubuhnya di depan Lu. Dia lalu bersedekap tangan, bersiap untuk melakukan penyerangan kepada wanita gatal ini. “Ngomong-ngomong kau itukan sudah bersuami, kenapa malah meminta tolong pada laki-laki lain? Kau belum menjadi janda ‘kan?”


“Yakkk, Briana. Apa-apaan kau menyumpahiku menjadi janda. Kalau suamiku tahu, kau pasti akan langsung di pukul olehnya. Sembarangan sekali!”


“Nah, suamimu masih hidup ternyata. Kalau benar begitu kenapa kau tidak memintanya saja untuk menggantikan lampu di rumah kalian? Dasar gatal. Kalaupun suamimu mendengar ucapanku, bukan aku yang akan di pukul, tapi kau. Kau, Bibi!” ucap Briana dengan sengitnya.


“Bri, sudahlah. Jangan sekasar ini pada Bibi. Kasihan,” timbrung Lu berusaha melerai perdebatan sengit antara Briana dengan bibi tetangga.


“Oh, jadi kau lebih memilih untuk membela orang ini daripada membelaku? Woaahhh, sulit di percaya!"


Ekpresi wajah Briana menunjukkan betapa kesalnya dia mendengar Lu yang malah membela tetangganya yang gatal ini. Tak terima akan pembelaan tersebut, Briana segera berbalik menghadap Lu kemudian menatapnya dengan sangat galak. Sambil berkacak pinggang, Briana mencecar pria idiot ini dengan dua pilihan. Yaitu …. “Sekarang kau pilih. Tetap pergi menolongnya atau ingin tetap tinggal di rumahku. Putuskan sekarang juga. Cepat!”

__ADS_1


“Briana, aku ….


“Satu!”


Briana mulai menghitung. Dan hal ini membuat Lu jadi bingung sendiri. Lu tentu ingat akan janjinya yang bersedia memberikan pertolongan pada semua tetangga yang waktu itu telah berbaik hati membantunya. Namun jika taruhannya adalah dia yang akan terusir dari rumah Briana … astaga. Kenapa sikap Briana jadi seperti ini ya? Lu sungguh heran sekali padanya.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau jika harus pergi dari rumah Briana, tapi aku juga tidak mungkin mengingkari janjiku sendiri. Jalan keluar mana yang harus kuambil?


Melihat Lu yang malah diam melamun, Briana dan si bibi tetangga kompak menatapnya. Mereka dengan hati-hati mendekatkan wajah ke depan wajahnya Lu, menerka-nerka jawaban apa yang kiranya akan di ambil oleh si hantu air ini. Ah, bahkan sedang melamunpun Lu terlihat begitu tampan. Briana dan si bibi tetangga jadi sama-sama berkuat ingin memilikinya sendiri. Hehe.


“Bibi, apa Paman sedang tidak sehat?” tanya Lu. Dan dia langsung berjengit kaget saat menyadari ada dua wajah yang berada begitu dekat di depan wjaahnya. Lu bahkan sampai mundur beberapa langkah ke belakang saking kagetnya akan apa yang dia lihat.


“Pamanmu sakit pinggang. Itulah kenapa Bibi meminta bantuan darimu,” sahut si bibi tetangga sambil tersenyum-senyum tidak jelas.


Krik krik krik


Tanpa berkata apapun lagi Briana langsung menarik tangan Lu dan juga tangan si bibi tetangga setelah mendengar pertanyaannya yang menjurus pada hal 21++. Benar-benar ya pria idiot satu ini. Berani sekali dia bicara sefrontal ini di hadapan orang lain. Membuat Briana jadi ingin menendang bokongnya. Huh.


“Cepat bantu pasangkan lampu itu lalu kita pulang. Hati dan tubuhku sudah sangat lelah menghadapi sikapmu dan juga pekerjaan di café. Cepat!” ucap Briana dengan nafas menderu. Dia lalu mendorong Lu agar segera masuk ke dalam rumah si bibi tetangga.


“Em Lu, mau Bibi buatkan minum tidak? Kebetulan anak Bibi belum ti ….


“Tidak ada minum-minuman. Lu bisa meminum air kran nanti setelah pulang dari sini!” sela Briana sambil memelototkan mata kepada Lu yang hampir saja menjawab iya.

__ADS_1


“Hei Briana, kau ini sebenarnya kenapa sih. Yang aku tanya itu Lu, kenapa kau terus yang menjawab. Aneh sekali.”


Melihat bola mata Briana yang semakin membesar, dengan cepat Lu menarik tangan bibi tetangga kemudian memintanya menunjukkan lampu mana yang harus dia ganti. Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba muncul seorang gadis dengan pakaian yang sangat seksi keluar dari salah satu kamar yang ternyata di kamar itulah Lu harus mengganti lampu. Apa kalian pikir Lu tertarik melihat keseksian gadis tersebut? Jawabannya tentu saja tidak. Di hatinya hanya ada Briana seorang, jadi mau telanjangpun penampilan gadis ini tidak akan mampu membangunkan anak burungnya Lu.


“Owhh, baru aku tahu ada hantu jaran goyang di rumah ini. Pantas penghuninya sakit pinggang!” sindir Briana sambil memicingkan mata ke arah gadis dengan pakaian kurang bahan yang tengah tersenyum aneh kepada Lu. “Hei Nona, apa kau tidak takut mati masuk angin karena mengenakan pakaian seperti itu di malam hari?”


“Memang apa salahnya kalau putriku memakai pakaian seperti ini ha? Kalau iri bilang saja!” sahut si bibi tetangga tak terima keseksian putrinya di sindir oleh Briana.


“Iri? Haha. Maaf ya. Orang sepertiku tidak bersaing dengan wanita yang pakaian saja masih kekurangan bahan. Jadi Bibi, biarpun aku miskin tapi aku tahu bagaimana cara menghargai diriku dengan tidak mengumbar bagian tubuh ke hadapan pria yang bukan suamiku. Dan sebagai orangtua harusnya kau memarahi putrimu yang muncul dengan pakaian tidak sopan begini di saat kau meminta pria asing datang ke rumahmu. Memangnya kau tidak takut jika seandainya Lu kerasukan setan kemudian melakukan sesuatu yang tak senonoh pada putrimu? Mau anak gadismu hamil sebelum nikah? Hah?”


Lu yang sedang fokus mengganti lampu nampak meng*lum senyum mendengar perkataan Briana yang begitu menohok hati. Dan lucunya, si bibi tetangga beserta putrinya langsung diam tak berkata-kata. Haha, Briana dilawan. Mati kutulah kalian. Lu dan Julia saja hanya bisa pasrah, ini mereka malah sengaja menyiram bensin untuk memancing kemarahannya. Ya sudah rasakan saja bisa beracun yang keluar dari mulut Briana. Rasakan.


“Bibi, lampunya sudah kupasang. Aku pamit ya?” ucap Lu sambil melirik Briana yang tengah cemberut. Lucu, dan Lu hanya berani menertawakannya di dalam hati. Dia takut di sembur.


“O-oh, sudah ya? Terima kasih banyak ya, Lu. Kau benar-benar pria yang sangat baik sekali. Sayang sepupumu sangat galak. Kalau tidak, kami pasti akan memintamu untuk istirahat dulu di sini. Tapi ya sudahlah, lebih baik kau segera pulang ke rumah sebelum sepupumu yang galak itu semakin mengamuk!” sahut si bibi tetangga menyindir Briana secara halus.


“Tidak apa-apa, Bi. Kalau begitu aku dan Briana pulang dulu ya. Selamat malam.”


Setelah berpamitan Lu dengan berani menggandeng tangan Briana kemudian mengajaknya pergi dari sana. Briana yang tadinya sedang sangat kesal mendadak bleng saat Lu tiba-tiba menggandeng tangannya. Sikap manis ini tentu saja membuat Briana tak sanggup untuk tidak meng*lum senyum. Bahkan jika ada yang memperhatikannya dengan seksama, saat ini pipi Briana mulai merona. Tubuhnya serasa di tumbuhi ribuan bunga saat Lu sama sekali tak mau melepaskan tangannya meski mereka sudah hampir sampai di rumah. Dan sikap manis Lu malam itu kembali terulang dimana Lu dengan penuh perhatian membantu melepaskan sepatu Briana kemudian menatanya dengan rapi di atas rak sepatu. Hehe, jangan iri ya kalian?


Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Aku … kenapa aku jadi semakin nyaman ya dengan perlakuannya Lu? Benarkah aku sudah jatuh cinta padanya? Aaaaaaa ….


***

__ADS_1


__ADS_2