
Julia dan Briana duduk dengan kondisi rambut acak-acakan dan wajah merah padam. Dan di sebelah pipi masing-masing ada luka bekas cakaran yang ukurannya tidak terlalu besar. Seperti yang kalian baca di part kemarin kalau mereka terlibat adu gulat setelah Julia memberikan ide sesat pada Briana yang sedang menggalau. Karena pengunjung café memilih untuk pergi melarikan diri, jadi tidak ada yang melerai saat mereka bergulat sampai seperti ini. Dan beginilah keadaan mereka sekarang. Bernafas terengah-engah sambil duduk di lantai dan dalam keadaan kacau seperti gelandangan.
“Sejak kapan tenagamu menjadi sekuat ini, Julia?” tanya Briana penasaran. Dia kemudian menoleh dan bibirnya berkedut melihat penampilan Julia yang seperti orang gila. “Hehe, mengenaskan. Ternyata kau masih belum sekuat yang aku bayangkan. Lihat, kau mirip orang gila yang suka berjalan di pinggir jalan tanpa mengenakan pakaian. Jelek sekali!”
Julia memicingkan mata. Namun ketika dia hendak membalas olok-olokan yang dilontarkan oleh Briana, Julia malah tertawa terbahak-bahak begitu melihat penampilan Briana yang juga sangat kacau. “Hahahaha! Bri, kau jangan berbangga diri dulu ya mengataiku mirip orang gila yang suka berkeliaran di pinggir jalan. Sekarang coba kau lihat penampilanmu sendiri. Kau jauh lebih persis seperti orang gila itu. Hahahahahahaa!”
“Tutup mulutmu, Julia. Apa kau berniat mengundang pasukan lalat agar berkembangbiak di dalam mulutmu yang lebar itu hah?” kesal Briana.
“Hahaha, astaga. Rem di mulutku sepertinya blong, Bri. Aku benar-benar tidak bisa berhenti tertawa. Hahaha!”
Saking lucunya, Julia sampai bergulingan di lantai sambil memegangi perutnya. Sedangkan Briana, dia hanya diam sambil menggaruk rambutnya, cukup kikuk karena ternyata keadaannya serupa dengan ejekan yang dia lontarkan pada Julia. Tak tahan, pada akhirnya Briana ikut tertawa dan bergulingan di lantai. Dengan keadaan yang seperti itu, kini Julia dan Briana makin terlihat sama persis seperti orang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Miris sekali bukan?
“Haduuhhhh, ya ampun perutku kaku sekali. Sudah-sudah,” keluh Briana tak kuat lagi untuk bicara. Dia lalu mencubit lengan Julia yang masih bergulingan di sampingnya. “Diam, Julia. Aku sudah lelah.”
“Aku juga lelah, Bri. Tapi aku benar-benar tidak bisa berhenti tertawa. Bagaimana ini,” sahut Julia seraya menyeka cairan bening yang menetes keluar dari sudut matanya.
Karena sama-sama tidak bisa berhenti tertawa, Julia dan Briana akhirnya terus tertawa sampai mereka benar-benar merasa kelelahan. Setelah itu mereka berusaha untuk duduk lalu menoleh ke arah pintu masuk café yang ternyata ada beberapa orang yang tengah berdiri sambil menatap keheranan pada mereka berdua. Sadar dengan apa yang sedang terjadi, cepat-cepat Briana berdehem kemudian pergi menghampiri para pengunjung café yang sedang tercengang heran. Briana lalu merapihkan rambutnya terlebih dahulu sebelum bicara pada tamu-tamu tersebut.
“Silahkan masuk. Abaikan saja apa yang baru saja kalian lihat dan silahkan memesan makanan!” ucap Briana tanpa merasa malu sedikitpun.
__ADS_1
“Nona Briana, apa kau dan Nona Julia barusaja bergulat?” tanya salah seorang tamu dengan raut wajah yang begitu ingin tahu. Walaupun dia sudah sangat sering makan di sini dan menyaksikan sendiri keanehan dari pemilik dan pekerja café ini, tapi dia tetap saja dibuat terheran-heran setiap kali melihat tingkah keduanya. Sungguh.
“Sudah ku bilang abaikan saja apa yang barusaja kalian lihat. Kenapa malah bertanya,” jawab Briana sedikit kesal saat tamu ini masih ngeyel dengan tetap bertanya padanya.
“Kami hanya penasaran kenapa kau dan Nona Julia selalu saja berperilaku seperti ini. Kalian bukan sedang bertengkar karena memperebutkan pria ‘kan?”
Briana memutar bola matanya jengah. Dia menerobos kerumunan pada tamu kemudian membuka pintu café selebar mungkin. Setelah itu Briana berbalik dan melayangkan tatapan psikopat pada semua orang. “Orang kaya selalu mengatakan bagi mereka yang selalu ingin tahu akan urusan orang lain, maka itu bisa membuat kematian mereka datang lebih cepat. Tapi aku? Aku pastikan kalian tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari café ini jika masih berani bertanya ini dan itu padaku. Jadi sekarang kalian ambillah keputusan sendiri sebelum aku benar-benar menjadikan kalian menu jualan di café ini. Paham!!"
Glukkkk
Para pengunjung café langsung menelan ludah begitu mereka mendengar ancaman Briana. Segera mereka semua mencari tempat duduk dan mulai membuka buku menu. Sedangkan Julia, dia dengan susah payah berusaha berdiri sambil memegangi perutnya yang terasa sangat kaku. Setelah itu Julia berjalan menghampiri salah satu meja di mana ada dua orang pria yang sedang berbisik sambil menutupi wajah mereka dengan buku menu yang mereka pegang.
“Tuan, bukankah kalian barusaja berhadapan dengan macan betina yang sangat galak ya? Apa kalian tidak takut dimakan olehnya jika ketahuan sedang menggosip, hem?” tanya Julia tepat di samping telinga salah satu tamu tersebut.
“Stttt, jangan keras-keras. Kalian bisa mati di panggang dalam oven oleh Briana jika dia sampai mengetahui perbuatan kalian. Lebih baik sekarang kalian pesan makanan yang banyak saja supaya Briana tidak merasa curiga kenapa kita berbisik-bisik begini. Oke?”
“Baik, Nona. Kam-kami akan memesan banyak makanan. Tunggu sebentar.”
Hehehe, kena kalian berdua. Berani-beraninya ya kalian menggunjingkan sahabatku yang sebentar lagi akan menjadi menantu di keluarga Anderson. Huh.
__ADS_1
Sambil tersenyum lebar, Julia mencatat makanan yang dipesan oleh dua orag tamu yang berusaja di kerjainya. Bahagia, itu tentu saja. Setelah beberapa tamunya pergi melarikan diri gara-gara menyaksikan pergulatannya dengan Briana, sekarang cafenya kembali mendapat pesanan dalam jumlah yang cukup banyak setelah Julia melakukan sedikit ancaman pada tamunya ini. Hehe, dia penjual yang cerdas sekali bukan?
“Baiklah. Beri aku waktu beberapa menit untuk menyiapkan pesanan kalian. Oke?” ucap Julia setelah sang tamu selesai menyebutkan makanan yang akan dipesan. Teringat akan sesuatu hal, Julia kembali membisikan kata yang membuat kedua tamu itu langsung mengangguk patuh. “Tuan-Tuan, aku sarankan kalian lebih baik diam dan jangan membicarakan apapun tentang yang kalian lihat tadi. Terlebih lagi tentang Briana. Dia sekarang sedang patah hati. Adalah hal yang sangat berbahaya jika kalian sampai membuatnya merasa tersinggung. Kalian bisa dimakan mentah-mentah olehnya. Mengerti?”
“Iya, Nona Julia. Kami mengerti dan kami tidak akan membicarakan apapun lagi tentang kalian. Sungguh.”
“Bagus. Kalau begitu aku pergi ke dapur dulu.”
Dengan riangnya Julia melangkah menuju dapur sambil membawa catatan makanan di tangannya. Sedangkan Briana, dia sejak tadi terus saja memperhatikan apa yang dilakukan oleh sabahatnya itu. Meskipun tidak mendengar langsung apa yang sedang dibicarakan Julia dengan pengunjung café, tapi firasat Briana mengatakan kalau Julia pasti telah menjual namanya. Hal ini Briana prediksi setelah melihat betapa lebarnya senyum licik yang tersungging di bibir sahabatnya itu. Curang sekali bukan?
“Apa lihat-lihat?” sungut Briana saat Julia menatapnya sambil menyender di dinding dekat dapur. Dia yakin sekali kalau Julia pasti ingin memintanya untuk membuat pesanan.
“Hehe, akukan tidak buta, Briana. Wajar saja kalau aku melihatmu. Lagipula yang ada di depanku itukan kau, masa iya aku harus melihat gajah yang berada di hutan? Iya ‘kan?” sahut Julia malah memainkan pribahasa. Dia lalu menampilkan cengiran hasnya saat Briana memutarkan bola matanya karena jengah. “Bri, sudahi dulu galaumu dan mari bantu aku menyiapkan pesanan. Dua tamu itu memesan menu dalam jumlah banyak, tanganku bisa putus karena kelelahan kalau kau terus menggalau dan memperlakukan aku seperti pembantumu di sini. Ayolah. Ya?”
“Apa kau menjual namaku untuk mengancam mereka supaya memesan banyak?” tanya Briana penuh selidik.
“Mana ada seperti itu,” jawab Julia salting.
Sebuah smirl evil langsung menghiasi bibir Briana begitu dia menyadari kalau tuduhannya itu benar adanya. Sambil menyingsingkan lengan bajunya ke atas, Briana perlahan-perlahan menghampiri Julia lalu menarik telinganya. Alhasil, para tamu dibuat penasaran mendengar suara gaduh dari arah dapur. Mereka sebenarnya ingin melihat, tapi takut di jadikan ayam panggang oleh Briana yang pasti sedang menyiksa pemilik café ini. Benar-benar café yang memacu andrenalin. Untung pemilik dan pekerjanya cantik dan juga makanan di sini sangat enak. Kalau tidak, sampai tujuh turunanpun mereka bersumpah tidak akan kembali mendatangi café ini lagi. Sungguh.
__ADS_1
😂
***