Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kepala Sikat Gigi


__ADS_3

Pagi ini Briana bangun dengan wajah yang terlihat murung. Entah mengapa sejak semalam Lu tidak memberinya kabar. Padahal Briana sudah mengiriminya pesan lebih dulu. Apa iya pria idiot itu sudah melupakannya? Kelewatan sekali dia.


"Kalau sampai kau berani menggantungkan perasaanku, aku bersumpah akan mendatangi rumahmu kemudian menghantam kepalamu sampai kau lupa ingatan lagi. Jangan macam-macam denganku ya, Lu. Setelah berhasil mendapatkan cintaku lantas kau bisa seenaknya mempermainkan hatiku? Tidak bisa, aku tidak menerima hal itu. Awas saja kau!" geram Briana sambil mencengkeram kuat selimut yang masih membalut tubuhnya. Pandangannya terlihat begitu galak. "Huh, siapa yang ketakutan saat di tinggal, siapa juga yang membuat masalah. Tapi ngomong-ngomong mungkin tidak ya si Lu melupakan aku? Atau jangan-jangan dia malah sedang sekarat di rumahnya. Ya ampun, bagaimana sih. Kenapa aku jadi plin-plan tak jelas begini. Herman!"


Bibir memang mengomel, tapi hati tak bisa berkata bohong. Dengan wajah kesalnya Briana dengan cepat mengambil ponsel kemudian mencari nomor Wildan. Dia perlu memastikan kalau pria idiot itu baik-baik saja di sana.


Sembari menunggu panggilan di jawab, Briana turun dari ranjang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Keningnya kemudian mengerut saat Lu tak kunjung menjawab panggilannya.


"Aneh, sebenarnya orang itu kenapa sih. Kenapa dia ... eh, halo, Lu. Kau masih hidup, kan?" tanya Briana sedikit kaget saat Lu tiba-tiba menjawab panggilan saat dia sedang menggerutu. Kedua sudut bibirnya langsung tertarik ke atas saat suara bariton pria itu mulai menyapa indra pendengarannya.


"Sayang, maaf aku belum sempat membaca ataupun membalas pesan darimu. Kemarin aku pingsan sebelum melakukan terapi. Dan aku baru saja sadar lima menit yang lalu. Tolong kau jangan marah ya?" ucap Lu menjelaskan alasan kenapa dia mengabaikan pesan Briana. "Sekarang kau sedang apa? Sudah makan? Mandi? Atau malah sudah berada di cafe?"


Di cecar pertanyaan beruntun seperti itu membuat Briana jadi senyum-senyum sendiri. Dia yang sedang memegang sikat gigi tanpa sadar mulai menggosokkan sikat giginya ke cermin. Briana tak langsung menjawab pertanyaan Lu, dia malah sibuk kasmaran sendiri. Beruntung tidak ada orang lain yang melihat. Kalau ada, mereka pasti akan mengira kalau dia sudah gila.

__ADS_1


Hening. Namun, telinga Briana bisa menangkap dengan jelas kalau Lu sedang berada di luar rumah. Hal itu dia ketahui saat tak sengaja mendengar suara deru mobil dari dalam telepon. Meskipun sedang kasmaran, tapi insting di kepala Briana masih berfungsi dengan benar. Sadar kalau Lu sedang membohonginya, ekpresi kesenangan di wajah Briana langsung berganti dengan ekpresi kemarahan seperti banteng yang siap menanduk orang.


"Lu, walaupun kita sedang berbeda tempat, jangan kau kira aku tidak tahu ya kalau kau sedang berbohong. Sekarang cepat beritahu aku kau ada di mana. Aku tahu betul kau tidak sedang ada di rumah. Iya, kan?" cecar Briana penuh curiga. Dia lalu menyipitkan mata sebelum lanjut memarahi Lu. "Awas saja kau ya kalau sampai ketahuan menggatal pada wanita lain. Aku akan langsung mengirim Julia untuk membantaimu. Tahu?"


Terdengar suara kekehan dari dalam telepon yang membuat Briana merasa heran sekali. Bukannya marah, pria idiot itu malah tertawa terbahak-bahak. Memangnya ada yang salah ya dengan ancaman yang baru saja dia ucapkan? Kenapa Lu malah kesenangan seperti ini? Aneh.


"Astaga, sayang. Bagaimana bisa kau terpikir aku akan mengggatal di saat hatiku sendiri sudah terkunci rapat hanya untukmu seorang? Kau ini kenapa lucu sekali sih. Sudah tahu kita sedang berjauhan, kenapa malah membuatku jadi semakin merindukanmu?" ejek Lu sambil terus tertawa. "Iya memang betul kalau aku tidak sedang ada di rumah. Tapi kau jangan berpikir yang macam-macam dulu. Aku tidak sendirian, ada Wildan bersamaku. Saat ini kami sedang menuju rumah sakit untuk melakukan terapi double karena kemarin aku tidak bisa melakukannya. Jadi jangan berpikiran seperti itu lagi ya. Em, atau jika tidak bagaimana kalau kita melakukan panggilan video saja supaya kau bisa merasa lebih tenang. Mau tidak?"


Briana langsung menelan ludah saat Lu mengajaknya melakukan video call. Kalau sudah ada persiapan sih tidak masalah, tapi ini? Penampilan Briana sekarang mirip seperti orang yang baru saja tersengat listrik. Sangat berantakan dengan model rambut kribo yang berdiri di sana sini. Belum lagi dengan melonnya yang hanya tertutup baju tidur berbahan transparan. Bisa kacau dunia persilatan jika Lu sampai melihat hal ini.


Entah karena terlalu peka atau karena sudah paham dengan kebiasaan Briana, lagi-lagi Lu tertawa kesenangan selepas Briana memberitahu tentang posisinya. Ingat kalau Julia telah membocorkan kebiasaannya pada pria idiot itu, secara perlahan wajah Briana mulai memerah. Mau tak mau dia akhirnya bicara jujur dengan mengaku kalau dia menolak melakukan panggilan video adalah karena takut keberadaan buah melonnya terekspos bebas. Juga dengan penampilannya yang sangat luar biasa cantik.


"Maaf, Lu. Aku tidak siap kau melihat keadaanku sekarang. Juga karena aku ingin melindungi buah melonku yang hanya tertutup kain tipis. Dua bulan kemarin kau kan tinggal bersamaku, jadi aku tidak punya kesempatan untuk memakai baju kesayanganku ini. Makanya sekali kau pergi aku langsung memakainya. Jangan marah ya?" ucap Briana malu-malu.

__ADS_1


"Kau benar-benar membuatku gila, sayang. Astaga," sahut Lu. "Ya sudah kalau memang kau tidak siap bertatap muka denganku, aku tidak akan memaksa. Dan untuk baju transparan itu bisakah kau mengirim satu foto untukku? Aku penasaran ingin melihat secantik apa kekasihku saat memakai baju kesayangannya. Dan untuk buah melonnya sendiri pastikan agar jangan terlihat ya. Nanti aku kepanasan!"


Klik.


"Sialan. Sejak kapan Lu jadi mesum begitu. Membuat orang malu saja!" omel Briana dengan wajah merah padam seperti tersiram air panas. Dia lalu meletakkan asal ponselnya setelah mematikan panggilan. Sambil menggerak-gerakkan tubuhnya, tangan Briana kembali lanjut mencuci cermin menggunakan sikat giginya. Dia benar-benar tidak sadar kalau rasa kasmaran itu telah menumbalkan satu barang miliknya. "Memang harus sefrontal itu ya saat ingin memujiku. Akukan jadi malu. Hehehe,"


Di dalam kamar mandi itu, kini mulai terdengar suara cekikikan mirip tawa kuntilanak saat Briana semakin tidak bisa mengontrol perasaannya. Saking dia tak sadar, bukan hanya cermin saja yang dia gosok. Tapi dinding kamar mandi, lantai, pinggiran bak, hingga pintunya juga habis dia sikati. Efek orang kasmaran benar-benar sangat berbahaya. Kamar mandi jadi bersih seketika saat cinta datang merenggut kewarasan seseorang. Sayangnya Briana tidak tahu kalau saat ini Lu sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang akan menghantarkannya pada satu kenyataan tersimpan. Entah apa yang akan terjadi nanti jika Briana tahu kalau kedua orangtuanya masih hidup. Dia pasti akan syok sekali karena selama ini yang Briana tahu kedua orangtuanya sudah meninggal dunia.


"Haihhh, kenapa tanganku terasa pegal sekali ya. Aneh," gumam Briana yang kini sedang berjongkok di depan pintu kamar mandi. Dia lalu mengerungkan kedua alisnya saat mendapati kepala sikat giginya sudah tidak ada. "Apa yang sedang aku lakukan dengan berjongkok di depan pintu? Dan juga kemana perginya kepala sikat gigiku? Sejak kapan kepalanya hilang?"


Dan di detik selanjutnya, Briana dibuat tercengang syok atas apa yang dilihatnya. Kepala sikat gigi yang dia cari nampak teronggok di lantai dengan lumut memenuhi bulu-bulunya. Setelah itu Briana berdiri, menatap satu-persatu benda yang ada di dalam kamar mandi. Mengerikan, bulu kuduknya langsung berdiri semua begitu dia sadar telah menggunakan sikap giginya untuk membersihkan seluruh benda yang ada di sana.


"Sepertinya aku sudah gila. Dan ini semua bisa terjadi gara-gara Lu menggodaku. Aku butuh psikiater sekarang juga," gumam Briana pasrah mengakui kalau dia sudah tidak waras. Haihhh.

__ADS_1


***


__ADS_2