
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Di Anderson Group, terlihat Wildan yang sedang gelisah sambil terus menatap layar ponselnya. Dia tengah menunggu laporan dari anak buahnya yang sedang memastikan kebenaran tentang keberadaan Tuan Gavriel. Sebenarnya Wildan bisa saja langsung datang kesana, tapi tidak dia lakukan karena sebentar lagi ada meeting penting yang harus dia hadiri bersama Tuan Erzan. Alhasil Wildan hanya bisa menunggu laporan dari anak buahnya saja.
“Astaga, kenapa jantungku jadi tidak karuan begini ya? Apa mungkin orang yang dilihat mereka adalah benar Tuan Gavriel?” gumam Wildan sambil memegangi dadanya yang berdetak dengan cepat.
Saat Wildan sedang sibuk bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dia dikagetkan oleh sebuah tepukan pelan di bahunya. Segera dia menoleh ke belakang untuk melihat siapa pelakunya.
“Oh, Tuan Erzan,” ucap Wildan kemudian menunduk sopan setelah tahu kalau orang yang menepuk bahunya adalah Tuan Erzan. Setelah itu Wildan lanjut berbicara. “Ada apa, Tuan?”
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Wil? Aku perhatikan dari jauh kau seperti sedang bicara dengan seseorang. Siapa?” tanya Erzan ingin tahu.
“Saya tidak sedang berbicara dengan siapa-siapa, Tuan. Saya hanya sedang menunggu kabar dari anak buah saya saja. Begitu,” jawab Erzan jujur.
“Lalu bagaimana? Apa mereka sudah menghubungimu?”
Erzan menatap seksama kea rah Wildan yang malah menarik nafas panjang setelah dia bertanya. Paham kalau anak buahnya Wildan masih belum memberikan kabar, Erzan akhirnya ikut menghela nafas. Dia kemudian menyender ke dinding, merasa putus asa karena kebebasannya sepertinya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
“Wil, ternyata menjadi orang kaya itu tidak selamanya bahagia ya. Mungkin dari segi kebutuhan kita memang tidak kekurangan, tapi dalam hal lainnya, hah. Aku bukannya tidak bersyukur terlahir di dalam keluarga Anderson, hanya saja aku merasa sangat tersiksa setelah menggantikan Kak Gavriel di perusahaan ini. Rasanya tenggorokanku seperti di cekik oleh tangan nenek sihir yang mana membuatku sangat ingin melarikan diri. Aku lelah sekali, Wildan. Tolonglah pria tidak berdaya ini. Aku benar-benar sudah tidak mampu lagi berada di sini. Sungguh,” ucap Erzan kembali mengeluh pada Wildan. Kalau saja menangis tidak meruntuhkan harga dirinya sebagai pria dewasa, sudah sejak beberapa hari yang lalu Erzan menangis agar di bebas-tugaskan dari pekerjaan ini. Dia sudah trauma lahir batin. Sungguh.
__ADS_1
“Tuan Erzan, anda baru dua bulan menempati posisinya Tuan Gavriel dan anda sudah mengeluh ratusan kali dengan kata yang sama. Lalu apa kabar dengan saya yang telah di kontrak mati untuk terus bekerja di Anderson Group? Siapa di antara kita yang lebih pantas untuk disebut sebagai pria tak berdaya?” sahut Wildan dengan santai melempar balik keluhan kepada Tuan Erzan. Wildan sebenarnya merasa tak tega. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membebaskan adik atasannya ini dari jerat pekerjaan yang memang tidak ada habisnya.
“Ck, kenapa kau malah ikut-ikutan mengeluh padaku sih. Kalau begini ceritanya kau dan aku sama-sama cocok di sebut sebagai pria yang tak berdaya karena status Kak Gavriel. Benar tidak?”
“Mungkin,”
“Mungkin?”
Erzan menoleh. Dia tak percaya Wildan hanya merespon seperti ini.
“Wildan, Erzan!"
Wildan dan Erzan sontak menoleh ke arah pintu ketika mendengar ada orang yang memanggil mereka.
“Ibumu ada di rumah,” jawab Dary. Dia lalu menepuk pelan bahunya Wildan saat dia menundukkan kepala. “Bagaimana, Wil? Apa orang-orangmu sudah memberikan kabar?”
“Sampai saat ini saya masih menunggu kabar dari mereka, Tuan Dary. Kita berdoa saja semoga yang mereka lihat memang benar adalah Tuan Gavriel,” jawab Wildan lirih. Dia lalu melihat ke sekeliling ruangan untuk memastikan kalau tidak ada yang orang sedang menguping pembicaraan mereka. Bisa gawat nanti.
“Ya Tuhan, ternyata masih belum ada kabar juga. Bagaimana ini ya. Apa kita tidak langsung menyusulnya saja kesana. Ayah sudah tidak tega melihat Ibumu yang tak henti menangis, Er,” keluh Dary sambil mengusap kasar wajahnya. “Gavriel, kau sebenarnya ada dimana, Nak? Pulanglah, kasihan Ibumu. Dia sering sakit-sakitan sejak kau pergi. Pulanglah, Nak. Kami semua menunggumu di sini.”
Tepat setelah Dary berucap seperti itu ponsel di saku Wildan berdering. Segera Dary memerintahkannya untuk melihat siapa yang menelpon.
“Ini dari anak buah saya, Tuan. Saya akan menjawabnya dulu,” ucap Wildan antusias setelah tahu kalau itu adalah panggilan dari anak buahnya. Tak lupa juga dia menyalakan tombol loudspeaker agar Tuan Erzan dan juga Tuan Dary ikut mendengar percakapan mereka. “Halo, bagaimana keadaan di sana? Kalian tidak salah mengenali orang ‘kan?”
__ADS_1
“Tuan Wildan, orang yang kemarin malam kami lihat memang benar adalah Tuan Gavriel. Saat ini beliau bekerja di sebuah café. Dan ketika kami menanyakan alamat tempat tinggalnya, beliau menolak untuk menjawab. Setelah ini saya akan mengirimkan alamat café itu kepada anda!”
Binar kelegaan nampak tercetak jelas di mata Wildan, Erzan dan juga ayahnya begitu mereka mendengar laporan dari anak buahnya Wildan. Sambil menahan senyum, Wildan kembali berbicara pada anak buahnya. “Kalau begitu kalian tetaplah di sana untuk mengawasi Tuan Gavriel. Aku dan Tuan Erzan akan segera menyusul kalian.”
“Maaf, Tuan Wildan. Saat ini kami sedang berada di rumah sakit. Kami diserang oleh seorang wanita yang datang bersama Tuan Gavriel. Mereka salah mengira kalau kami adalah orang jahat. Dan juga pemilik café itu adalah wanita yang cukup galak. Anda dan Tuan Erzan harus berhati-hati saat datang kesana nanti!”
“Apa? Kalian sedang berada di rumah sakit?”
Wildan kaget sekali mendengar hal itu. Dia jadi bertanya-tanya dengan siapa atasannya tinggal sampai wanita itu bisa membuat anak buahnya terluka. Sepertinya wanita itu bukan wanita sembarangan.
“Kemarikan ponselmu, Wil. Biar aku saja yang bicara dengan anak buahmu,” ucap Dary yang juga kaget mendengar penuturan anak buahnya Wildan. “Untuk kalian yang telah berkorban demi menemukan keberadaan putraku, terima kasih banyak. Kalian tenang saja. Nanti bonus yang kalian dapat akan kutambah lagi sebagai bentuk permohonan maaf karena kalian sampai harus masuk rumah sakit demi pekerjaan ini. Sekali lagi terima kasih banyak atas kerja keras kalian!”
“T-Tuan Dary, ini sudah menjadi tugas kami untuk menemukan keberadaan Tuan Gavriel. Anda tidak perlu sungkan. Dan untuk masalah bonusnya, kami juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada anda. Bonus yang kemarin anda tawarkan sudah lebih dari cukup untuk kami berdua, jadi anda tidak perlu menambahnya lagi!”
“Tidak bisa seperti itu. Pokoknya aku tidak mau tahu, kalian harus bersedia menerimanya. Nanti biar Wildan yang akan mengurusnya setelah kalian kembali dari sana. Sekarang kalian istirahatlah dulu. Oke?”
Dary langsung mematikan panggilan kemudian memberikan ponsel kepada Wildan. Setelah itu Dary menarik nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya dengan kuat. “Akhirnya kesedihan ini berakhir juga. Kakakmu berhasil ditemukan, Erzan. Ayah lega sekali,” ucap Dary dengan mata berkaca-kaca.
Erzan segera memeluk sang ayah untuk meluapkan kebahagiaan atas ditemukannya keberadaan sang kakak. Wildan yang melihat ayah dan anak ini saling memeluk dengan penuh sukacita tak kuasa untuk tidak tersenyum lega. Akhirnya pencarian selama dua bulan ini berhasil membuahkan hasil yang sangat baik. Atasannya telah ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Wildan jadi tidak sabar ingin segera menggempur dunia bisnis bersama atasannya yang genius itu.
Yeyyy, akhirnya aku bisa terbebas dari neraka menyebalkan ini. Tapi ngomong-ngomong kenapa wanita yang bersama Kak Gavriel kuat sekali ya? Wanita itu tidak mungkin anaknya Thor ‘kan? Hmmm, aku jadi penasaran.
***
__ADS_1