
📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTI BIAR NANTI SORE EMAK CRAZY-UP UNTUK MENEMANI MALAM MINGGU KALIAN. OKAY? 💜
***
Sambil bersenandung riang Briana menyelesaikan pekerjaannya di café. Malam ini dia benar-benar bahagia sekali karena dia bekerja dengan ditemani oleh Lu. Meskipun hanya lewat panggilan video, setidaknya itu mampu menggantikan hari sepi yang Briana rasa sejak pria idiot itu kembali ke keluarganya. Karena sudah tidak memungkinkan untuk mereka tetap melakukan panggilan video, dengan berat hati Briana akhirnya memaksa Lu untuk mengakhiri panggilan. Juga karena Briana tak tega melihat Lu yang terus mempelototinya dari layar ponsel. Dia takut bola matanya Lu terbang keluar yang mana akan menimbulkan kegaduhan. Hehehe, tidak-tidak, Briana hanya bercanda saja. Dia meminta Lu untuk mengakhiri panggilan karena sudah waktunya untuk beres-beres café. Awalnya sih Lu menolak, tapi setelah Briana mengancam akan mendatanginya kemudian menempelkan lem setan ke matanya, Lu langsung patuh. Dan di sinilah Briana sekarang. Bersenandung riang seraya membereskan semua pekerjaan sebelum pulang.
“Ekhmm!”
Julia pura-pura batuk. Dia menyandar ke tembok sambil bersedekap tangan. “Duhhhh, yang baru saja melepas rindu. Bahagia sekali ya anda,”
“Jangan mulai, Julia. Moodku sedang sangat baik sekarang, jangan merusaknya!” tegur Briana tak membiarkan Julia membuat keonaran. Cukup yang tadi saja, tidak dengan sekarang.
“Memangnya siapa juga sih yang mau merusak moddmu, Bri. Percaya diri sekali kau,” sahut Julia setengah mengejek.
Hehe, Briana-Briana. Kau jangan senang dulu ya. Selama aku masih menjadi sahabatmu, selamanya aku tidak akan pernah membiarkanmu bisa hidup dengan tenang. Tunggu saja setelah café ini tutup. Aku akan langsung merusak moodmu sampai ke titik yang tidak pernah kau kira. Hahaha, aku jadi tidak sabar membayangkan wajahmu yang merah padam saat Lu memberitahumu tentang video di mana kau sedang bersikap gatal seperti abege nakal. Aku yakin saat itu juga kepalamu pasti akan di tumbuhi oleh belasan tanduk setan. Hahay.
Merasa ada yang salah, Briana langsung berbalik menghadap Julia. Dia lalu mengernyitkan keningnya bingung melihat Julia yang tengah tersenyum aneh. Em bukan aneh, lebih tepatnya sedang tersenyum seperti psikopat. Kalian pasti bisa membayangkan sendiri bukan seperti apa jenis senyum tersebut?
“Kau kenapa, Julia. Jangan bilang kau sedang merencanakan niat jahat ya?” tanya Briana was-was.
__ADS_1
“Kalaupun benar aku sedang merencanakan niat jahat memangnya kau mau apa, Bri? Yang melakukan kan aku, kenapa kau yang repot,” jawab Julia dengan sengaja membuat Briana bingung. Biar saja, sekalian mengetes tingkat kemarahannya kira-kira akan sampai sedashyat apa nanti. Hehe.
“Ck, mulai kau ya. Ingat, Julia. Kalau sampai kau berbuat macam-macam di belakangku, aku bersumpah akan memukul bokongmu sampai bengkak. Kau dengar itu?”
Karena semua pekerjaan telah selesai dibereskan, Briana bergegas mengambil tasnya setelah melewati Julia yang masih saja tersenyum tidak jelas. Dan ketika dia persis lewat di depannya, tiba-tiba saja tengkuk Briana meremang hebat. Rasanya seperti dia yang baru saja berpapasan dengan raja setan. Sungguh.
Ini Julia tidak sedang merencanakan tujuan sesat ‘kan? Kenapa hatiku jadi tidak tenang begini ya?
Begitu Briana melangkahkan kaki keluar dari pintu café, Julia langsung berlari untuk menutup pintu dan jendela kemudian menguncinya dengan cepat. Dia mengabaikan tatapan heran Briana yang ternyata masih berdiri di depan pintu. Masa bodo, sekarang waktunya untuk bermain.
“Oke Julia, sekarang tinggal kau kirimkan video aib itu ke nomornya Wildan. Eh tunggu-tunggu. Sebaiknya aku pastikan dulu ponsel itu berada di tangan siapa. Tidak seru kalau Wildan yang melihatnya lebih dulu,” ujar Julia sambil mencari nomor Wildan di ponselnya. Setelahnya Julia langsung melakukan panggilan. Namun kali ini bukan panggilan video, melainkan panggilan biasa. Julia sedang dalam misi balas dendam, jadi dia tidak terlalu mementingkan perasaannya. Nanti saja setelah dia berhasil membuat amarah Briana jebol menembus ubun-ubunnya, baru dia akan mengurus tentang cinta pandangan pertamanya pada Wildan. Dia sahabat yang tak ragu untuk berkorban demi kelangsungan amarah sahabatnya, bukan? Jelaslah, Julia.
“Oh, ternyata ponselnya Wildan masih berada di tangan si hantu air ya. Baguslah kalau begitu. Hehe,” gumam Julia sambil menjauhkan ponsel dari mulutnya. Dia kemudian berdehem beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Lu. “Lu, Briana baru saja pulang. Dan karena malam ini aku sedang menjadi gadis yang baik, aku akan memberimu hadiah yang luar biasa sekali. Aku jamin kau pasti akan sangat menyukai hadiah dariku. Bagaimana? Mau tidak? Ini tentang Briana lo?”
“Apapun itu asalkan tentang Briana aku pasti akan menerimanya. Kalau begitu katakan saja apa hadiahnya, Julia. Aku sungguh tidak sabar mendengarnya,”
“Eitss, tunggu dulu. Hadiahnya tidak bisa di sampaikan lewat mulut karena hadiah itu berbentuk video. Sekarang aku akan mematikan panggilan ini agar kau bisa menonton videonya. Oke?” ucap Julia dengan liciknya. Setelah itu Julia menyeringai. “Oya, Lu. Karena sekarang kau sudah menjadi orang kaya, bagaimana kalau kita melakukan barter saja. Terserah kau ingin memberiku berapa. Yang jelas setelah ini aku akan mengirimkan nomor rekeningku, baru kau bisa mendapatkan videonya. Aku tutup dulu ya?”
Tanpa memberi kesempatan untuk Lu menjawab iya atau tidak, Julia langsung memutuskan panggilan lalu mengirim nomor rekeningnya ke nomor Wildan. Ohoho, jangan kira Julia orang bodoh ya. Dia tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk mencicipi uang milik anggota keluarga Anderson. Lumayanlah mumpung Briana tidak ada di sini. Hahahaha.
__ADS_1
Ting
Sebuah pesan masuk membuat Julia tersadar dari khayalannya. Dan di detik selanjutnya bola mata Julia hampir dibuat terbang keluar begitu dia membaca nominal uang yang masuk ke rekeningnya. Tiga digit. Omaigot.
“W-whaaattt?? Ke-kenapa hantu air itu mengirim uang sebanyak ini padaku? Astaga, bagaimana ini. Kalau Briana tahu aku melakukan barter dengan harga semahal ini dia pasti akan langsung membunuhku dan menjadikanku sop daging di café ini. Ya ampun Lu, kau ini kenapa sih. Kaya ya kaya, tapi jangan seroyal ini juga. Akukan jadi takut!” ucap Julia panik sendiri. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Lu akan memberinya uang yang sangat banyak hanya demi sebuah video. Ini gila, bukan?
Niat hati hanya ingin mencicipi sedikit uang milik keluarga Anderson, sekarang Julia malah dibuat takut dan frustasi akibat ulahnya sendiri. Dia berjalan mondar-mandir di dalam café sambil menggigit ujung jari jempolnya. Takut, itu sudah pasti. Tapi tergiur untuk memiliki lelehan harta itu jauh lebih pasti lagi. Julia dilema antara mencicipi uang itu atau mengembalikannya saja. Sumpah mati Julia takut di rebus hidup-hidup oleh Briana. Dia tidak bohong.
Belum hilang kegalauan di diri Julia, sebuah pesan masuk ke ponselnya yang mana membuat Julia langsung menelan ludah. Itu pesan dari Lu yang meminta agar Julia segera mengirimkan videonya. Antara persahabatan dan kematian, akhirnya Julia memilih kematian saja dengan tetap mengirimkan video aib itu kepada Lu.
“Ah, biar sajalah. Kalau Briana marah kemudian benar-benar merebusku, ya sudah aku terima saja. Yang penting sekarang aku bisa shoping sampai puas tanpa mengkhawatirkan apapun. Ya, begini sajalah,” ucap Julia sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu Julia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kuat sebelum dia mengirimkan video berisi aib Briana pada Lu.
Sent
“Selesai. Sekarang waktunya bersenang-senang sebelum besok bertemu dengan malaikat kematian. Semangat Julia!” teriak Julia menyemangati dirinya yang baru saja menerobos masuk ke alam kematian.
Apakah ini definisi seorang sahabat? Tentu saja iya. Dan itu hanya dalam versinya Julia dengan Briana. Kalau untuk orang lain Julia tidak tahu. Lagipula tidak ada salahnya bukan kalau Julia latihan menjadi wanita kaya agar kelak dia tidak mempermalukan Briana saat sudah menjadi Nyonya Anderson. Wkwkwk.
***
__ADS_1