
Pagi harinya di kediaman keluarga Anderson, terlihat Lu yang tengah berdiri di dekat jendela sambil menatap lurus ke depan. Tubuhnya tampak bermandikan keringat, yang mana membuat Lu jadi terlihat sangat panas. Sesuai dengan kebiasaan Lu yang akan selalu bangun pagi-pagi buta kemudian berolahraga, dan itulah yang barusaja dia lakukan meski dia melakukannya di dalam kamar. Dan kini Lu tengah merindukan seseorang yang selama dua bulan terakhir selalu menjadi pemandangan pertama yang Lu lihat saat membuka mata.
“Briana, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa semalam tidurmu nyenyak?” gumam Lu bertanya-tanya. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Semalam aku tidur dengan sangat nyenyak, tapi itu terjadi karena aku mengkonsumsi obat. Dan untuk malam ini aku tidak tahu apakah masih bisa tertidur nyenyak seperti semalam atau tidak karena sekarang aku benar-benar sangat merindukanmu. Aku sangat amat merindukanmu, Briana. Aku rindu melihatmu marah dan merajuk. Aku merindukan segalanya yang ada padamu. Sungguh,” ….
Setelah berkata seperti itu Lu berbalik dan berjalan menuju ranjang. Tanpa sepengetahuan Briana, Lu diam-diam mengambil pita rambutnya dan membawanya ke rumah ini. Lu ingin setidaknya ada satu barang milik Briana yang nantinya bisa dia gunakan untuk mengenangnya. Walaupun sebelumnya Lu sudah berpesan pada Erzan dan Wildan agar mengingatkannya, entah mengapa dia masih meragu. Lu takut kedua orang itu tidak akan membiarkannya bertemu dengan Briana lagi setelah di bawa kembali ke rumah ini.
Tok tok tok
Lu menatap ke arah pintu kamar yang baru saja diketuk. Dia lalu mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
“Masuk saja. Pintunya tidak di kunci.”
Ceklek
Helena langsung menyunggingkan senyum termanisnya saat dia mendapat izin untuk masuk ke dalam kamar. Bersama seorang pelayan, dia berjalan menghampiri Gavriel yang tengah duduk di ranjang sambil memperhatikan sesuatu. Penasaran, Helena mencoba mencaritahu benda apa yang tengah menyita perhatian Gavriel.
“Apa itu, Lu?”
Kening Lu mengerut. Dia agak aneh mendengar wanita yang mengaku sebagai ibunya memanggilnya dengan sebutan Lu.
“Nyonya, kenapa bukan Gavriel yang kau gunakan untuk memanggilku?” tanya Lu.
__ADS_1
“Entah itu Lu atau Gavriel, kau tetaplah putra kebanggan Ibu. Sekarang kau sedang tidak sehat, dan Ayahmu bilang kau lebih nyaman jika di panggil dengan sebutan Lu. Jadi ya sudah Ibu ikuti saja apa kata Ayahmu. Kau tidak keberatan ‘kan?” jawab Helena sambil menahan keinginan hatinya untuk tidak memeluk Gavriel. Helena tidak boleh egois, cukup kemarin saja dia membuat Gavriel pingsan dan kesakitan. Dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi.
“Tidak … Ibu,”
Lu berusaha untuk tidak menyakiti perasaan sang ibu meksi pada kenyataannya dia sama sekali tidak mengingat apapun tentangnya. Biarlah dia memanggilnya ibu. Toh Lu juga sudah melihat fotonya yang tengah memeluk wanita ini. Jadi Lu rasa memanggilnya dengan sebutan Ibu bukanlah suatu hal yang salah. Benar tidak man-teman?
“Ahh ya ampun, Lu. Air mata Ibu hampir tumpah mendengarmu yang tidak lagi menolak untuk mengakui Ibu sebagai orangtuamu. Terima kasih ya, Ibu senang sekali,” ucap Helena seraya menyeka air mata di sudut matanya. Dia kemudian meminta pelayan mendekat lalu mengambil nampan makanan yang di pegangnya. “Lu, ini sarapanmu. Habiskan ya, ini khusus Ibu buatkan untukmu. Cobalah,”
“Apa makanan ini yang biasa aku makan setiap hari?” tanya Lu agak tak berselera melihat sandwich, salad dan juga susu di atas nampan. Dia terbiasa sarapan nasi dengan Briana, jadi merasa aneh saat di hadapkan dengan makanan yang seperti ini. “Bu, aku dan Briana tidak pernah makan makanan yang seperti ini. Maaf jika perkataanku membuatmu merasa sedih, tapi aku benar-benar tidak berselera untuk mencicipinya. Bisakah Ibu memberiku nasi dan sayur saja? Untuk susunya aku akan meminumnya. Ibu tidak marah ‘kan?”
Ha? Gavriel menolak makanan sehat ini? Ya ampun, sepertinya Briana benar-benar memberikan pengaruh besar dalam hidupnya. Tapi tidak apa-apalah. Makan nasi juga bukan hal yang buruk. Hmm.
“Bu, kau marah?” tanya Lu memastikan.
“Bisakah aku makan bersama dengan Ibu dan yang lainnya saja? Aku bukan orang penting di sini, jadi tidak seharusnya aku sarapan di dalam kamar. Bolehkah?”
“Boleh, tentu saja sangat boleh,”
Lu tersenyum. Dia menyimpan kembali pita rambut di bawah bantal kemudian mengikuti sang ibu keluar dari dalam kamar. Sambil melangkah keluar, Lu memperhatikan setiap sudut rumah ini. Mewah dan megah, kesan ini yang Lu rasakan saat kakinya menuruni anak tangga. Helena yang merasa sangat senang karena Lu memilih untuk sarapan bersama dengan keluarganya yang lain tak henti mengusap matanya yang basah. Ya, dia menangis. Menangis karena terlalu bahagia bisa berkumpul kembali dengan putra sulungnya setelah dua bulan terpisah.
“Bu, apa itu foto keluarga kita?” tanya Lu sambil menatap seksama pada foto berukuran besar yang tergantung rapi di dinding. Di dalam foto tersebut ada seorang pria yang sangat mirip dengannya, dan besar kemungkinan pria itu adalah Gavriel.
__ADS_1
“Iya, Lu. Foto itu kita ambil saat Erzan lulus S1. Kenapa? Apa kau merasa terganggu melihatnya? Jika iya Ibu akan langsung meminta penjaga untuk menurunkan foto tersebut,” jawab Helena cemas saat Gavriel tiba-tiba menanyakan tentang foto keluarga. Helena takut sekali putranya akan kembali kesakitan jika melihat sesuatu yang mengusik ingatannya.
“Tidak, Ibu. Foto itu sama sekali tidak menggangguku. Aku hanya tertarik saja pada pria yang wajahnya sama persis denganku. Gavriel, itu dia 'kan?”
Helena mengangguk. Dia lalu meraih tangan Gavriel dan menggenggamnya dengan erat. “Lu, siapapun Gavriel, tolong kau jangan memaksakan diri untuk mengingatnya dulu. Ibu bukannya tidak mau menjelaskan, Ibu hanya takut kau akan kembali merasa kesakitan seperti kemarin. Jadi jangan terlalu memaksakan dirimu ya, Nak. Biar saja kau tidak bisa mengingat namamu. Asalkan kau sehat, maka itu sudah lebih dari cukup untuk Ibu. Ya?”
Lu terenyuh melihat ibunya bicara sambil menahan tangis. Tergerak hati, Lu dengan lembut memeluknya. Hatinya terasa rapuh menyaksikan bagaimana wanita ini sangat takut dia akan kesakitan.
“Jangan sedih, Ibu. Saat ini aku memang masih belum mengingat apa-apa tentang Ibu, tapi aku janji aku akan secepatnya sembuh agar kita bisa dekat kembali seperti dulu. Juga karena aku ingin segera pergi menemui seseorang yang sangat berarti di hidupku. Maka dari itu jadilah penguat untukku. Ya?” hibur Lu dengan penuh sayang.
“Apa ini tentang Briana?” tanya Helena sambil tersenyum haru.
“Aku yakin Ayah pasti sudah memberitahu Ibu tentang betapa aku sangat menyukai gadis itu. Briana mungkin hanya seorang pekerja café biasa, tapi darinya aku belajar banyak hal. Dia lebih dari sekedar penolong untukku, Bu. Briana … dia istimewa,” jawab Lu tak ragu untuk mengakui perasaannya di hadapan sang ibu. Biar saja, toh pada kenyataannya dia memang sangat menyukai gadis galak itu.
“Hmmmm, baiklah kalau begitu. Segeralah sembuh agar kau bisa secepatnya menemui calon istrimu itu. Ayah dan Ibu sudah tidak muda lagi dan kami ingin segera menimang cucu dari istrimu dan juga dari istrinya Erzan,” ucap Helena dengan senang hati menyatakan pada Gavriel kalau dia tak menolak kehadiran Briana di rumah ini.
“Aku dan Briana belum pernah melakukan sesuatu yang menjurus ke arah sana kalau Ibu mau tahu. Jadi tolong berhentilah berpikiran yang tidak-tidak tentang kami. Briana gadis baik-baik, dan aku akan menjaga kehormatannya sampai akhir.!” ucap Lu menegaskan kalau di antara dia dan Briana tidak terjadi apapun.
Helena mengurai pelukan Gavriel kemudian tertawa terbahak-bahak. Sisi lain dari putranya ternyata belum sepenuhnya hilang. Tegas dan juga humoris, ini benar-benar sikapnya Gavriel Anderson. Tak mau membuat Gavriel tersinggung, Helena segera menggandeng tangannya dan membawanya ke ruang makan. Setelah itu mereka berdua duduk bersebelahan sambil menunggu Erzan dan ayahnya keluar dari dalam kamar untuk sarapan bersama.
Briana, terima kasih karena kau telah menjaga putraku selama ini. Semoga kau adalah jodoh yang telah di gariskan oleh Tuhan untuk menjadi bagian dari keluarga Anderson. Ibu sangat berharap akan hal itu ….
__ADS_1
***