
📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE
***
“Briana, mau sampai kapan kau seperti ini terus? Bersemangatlah. Setidaknya kau jangan berkamuflase seperti katak depresi beginilah. Aku geli melihatnya!” tegur Julia seraya mengguncang kuat tubuh Briana yang tengah tertelungkup di atas meja. Bukannya membaik setelah dia mengajaknya mabuk, sekarang Briana malah terlihat semakin menyedihkan saja. Rasanya Julia ingin sekali menenggelamkan wanita ini ke septitank supaya sadar, tapi dia tidak berani melakukannya karena takut dikuliti hidup-hidup oleh sahabatnya yang brutal ini. Alhasil Julia hanya bisa menegurnya seperti sekarang.
“Apa kau berniat merontokkan seluruh organ tubuhku, Julia? Guncanganmu terlalu kuat, bodoh!” omel Briana jengkel. Dia lalu menepis tangan Julia yang masih saja mengguncang tubuhnya. “Kalau ginjalku sampai berpindah ke samping jantung, maka bersiaplah menerima balasan yang lebih buruk lagi dariku. Dasar tengil kau!”
Julia berdecak. Dia lalu berkacak pinggang sambil menatap sinis ke arah Briana yang tetap tak bergeming dari atas meja. Tak kehabisan akal, Julia dengan cepat menarik sebelah kaki Briana hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai. Setelah itu Julia tertawa terbahak-bahak saat Briana mengumpat sambil memegangi bokongnya.
“Hahahahaha, rasakan. Itu akibatnya jika berani melawan bos!” ejek Julia dengan penuh percaya diri.
“Sialan kau, Julia. Kemari kau, biar kupatahkan tulang ekormu agar kau tidak bisa berdiri lagi!” teriak Briana dengan mata berapi-api.
“Bangun dan tangkaplah aku kalau kau bisa!”
Setelah berkata seperti itu Julia langsung berlari mencari tempat persembunyian. Sebenarnya butuh mental yang sangat kuat untuk memancing agar Briana tidak terus terjebak dalam kegalauannya. Contohnya seperti yang Julia lakukan barusan. Dia sebenarnya takut sekali, tapi Julia sudah tidak memiliki cara lain untuk menyadarkan sahabatnya itu. Alhasil dia nekad bertaruh nyawa demi agar Briana bisa kembali bersemangat seperti hari biasanya. Julia rugi banyak sekali sejak Briana malas-malasan begini karena di tinggal oleh Lu. Dia rugi lahir dan batin. Sungguh.
Briana hanya diam saja tak menghiraukan Julia yang tengah sibuk mencari tempat untuk bersembunyi. Dia sedang tidak berselera meladeni kegilaannya itu. Sambil terus mengusap bokongnya yang terasa pegal, Briana mencoba untuk bangun. Dia kemudian berjalan menuju dapur guna mempersiapkan segala keperluan karena sebentar lagi café akan segera dibuka. Dan ketika Briana hendak mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas, dia terkenang dengan adegan saat Lu tak sengaja mencium bibirnya. Ingatan ini sontak membuat Briana meng*lum senyum sambil memegangi kedua pipinya yang tiba-tiba memanas tanpa sebab. Sungguh, Briana malu sekali teringat kalau Lu adalah pria pertama yang menciumnya. Manis sekali bukan?
Jadi seperti ini ya rasanya mengenang seseorang yang telah meninggalkan kesan manis di hati kita? Aaaaaaa, malu sekali.
__ADS_1
Merasa di abaikan, dengan jengkel Julia menyusul Briana ke dapur. Dan langkahnya langsung terhenti saat mendapati Briana yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas sambil menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Penasaran akan apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya, otak kotor Julia segera berselancar memikirkan sesuatu yang kiranya mampu membuat sahabatnya berperilaku layaknya orang yang tidak waras. Dan tidak butuh waktu lama bagi seorang Julia menemukan alasan mengapa Briana bisa bersikap sedemikian rupa. Sambil tersenyum evil, Julia perlahan-lahan mendekati Briana yang tengah menggumam tidak jelas kemudian berbisik di samping telinganya.
“Haaaa, kau pasti sedang memikirkan kejadian saat Lu mencuri ciuman pertamamu ‘kan?”
“AAAAAAA!”
Entah kapan datangnya makhluk satu ini. Briana kaget sekali saat Julia tiba-tiba berbisik di samping telinganya. Dia yang tengah asik memikirkan Lu sampai berjengit dan berteriak kuat sekali hingga membuat Briana tak sengaja menendang pintu kulkas yang masih terbuka. Sambil berjongkok memegangi kakinya yang berdenyut, Briana menatap tajam ke arah Julia yang tengah tersenyum tanpa dosa.
“Yak Julia, kau sudah bosan hidup atau bagaimana hah? Lihat, gara-gara kelakuanmu kakiku jadi sakit begini. Benar-benar kau ya!” amuk Briana sambil menahan sakit.
“Kau jangan hanya menyalahkan aku, Briana. Siapa suruh kau melamun di depan pintu kulkas. Akukan jadi berpikir kalau kau sedang kerasukan setan,” sahut Julia enggan kalah.
Julia mencebikkan bibir.
“Asal kau tahu saja ya, Bri. Setan itu ada di mana-mana, termasuk saat kau dan Lu sedang tidur bersama dan saling memeluk. Ingat kata-kata ini dengan baik ya. Yang menjadi orang ketiga itu tidak hanya berbentuk manusia, tapi setan juga. Tahu kau!”
Briana tertegun. Dia agak syok mendengar perkataan Julia. Masa iya sih setan bisa menjadi orang ketiga saat dia sedang berdua dengan Lu? Kalau memang benar begitu, artinya pemikiran-pemikiran mesum yang muncul di kepala Briana saat sedang bersama Lu merupakan bisikan dari setan? Astaga, kenapa mengerikan sekali ya. Bulu kuduk Briana sampai berdiri semua karenanya.
“Nah, tidak bisa bicara kau ‘kan?” ejek Julia merasa menang karena berhasil membungkam mulut sahabatnya. Dengan penuh percaya diri Julia berjongkok di sebelah Briana kemudian memegang bahunya dengan kuat. “Briana, kau tidak perlu malu padaku. Walaupun aku sendiri belum pernah tidur dengan kekasihku, tapi aku sangat maklum kalau kau dan Lu sudah lebih dulu mencetak gol. Aku bisa paham kalau kalian berdua tidak kuat menahan hasrat satu sama lain karena kalian tinggal di bawah atap yang sama. Jadi santai saja ya? Tidak usah malu,”
“Bicara apa kau, Julia? Kau pikir apa yang sudah terjadi antara aku dengan Lu ha?” ucap Briana mulai terpancing darah tinggi mendengar perkataan Julia yang melantur entah kemana. Berbalik memegang bahu Julia tak kalah kuat, Briana kembali menegaskan kalau antara dia dengan Lu tidak pernah terjadi apa-apa. “Dengarkan aku baik-baik, Julia sayang. Walaupun aku dan Lu tinggal di bawah atap yang sama, kami berdua tidak pernah melakukan sesuatu di luar batasan. Jadi tolong berhentilah membuat asumsi kalau kami pernah melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan. Meski Lu tidak mengenali jati dirinya sendiri, tapi aku yakin Lu adalah pria baik-baik. Kesempatan memang sangat banyak untuknya bisa menyentuhku, tapi Lu tidak pernah melakukannya. Dia menghormatiku. Tahu kau!”
__ADS_1
“A-apa? Jadi kau dan Lu belum,” ….
Julia syok. Dia tidak percaya Lu belum meniduri Briana setelah semua jurus 21++ dia ajarkan kepadanya. Kalau begini ceritanya, pupus sudah harapan Julia menjadi bibi dari pewaris keluarga Anderson. Tahu begini Julia berikan obat perangsang saja waktu itu supaya Lu dan Briana bisa memiliki malam yang panas. Sial sekali sih.
Kau ini bagaimana sih, Lu. Susah payah aku menurunkan semua ilmuku, tapi kenapa kau malah tidak meniduri Briana? Boleh-boleh saja kau lupa ingatan, tapi setidaknya janganlah kau lupa juga dengan kebutuhan anak burungmu. Kalau sudah beginikan aku yang rugi. Haduuhhhh.
Melihat ekpresi di wajah Julia yang terus berubah-ubah membuat Briana memicingkan mata penuh curiga. Sahabatnya ini adalah tipe wanita yang sangat menyukai hal-hal mesum, Briana jadi khawatir kalau selama Lu berada di sini Julia telah mengajarkan sesuatu yang tidak-tidak kepadanya. Untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak, Briana memutuskan untuk bertanya langsung pada yang bersangkutan.
“Julia, tolong jawab dengan jujur semua pertanyaanku. Selama kau mengenal Lu, apa kau sering mengajarinya hal-hal yang berbau erotis? Aku bukan menuduhmu, tapi aku merasa curiga saja setelah melihat reaksi di wajahmu. Kau tidak mengajarkan hal gila kepadanya ‘kan?” cecar Briana penuh selidik.
“Hehe,” ….
Julia tersenyum lebar saat Briana mencecarnya. Tanpa menghilangkan senyumnya, perlahan-lahan Julia melepaskan pegangan tangan Briana dari bahunya. Menggunakan kesempatan yang ada, Julia langsung berdiri kemudian berlari pergi dari sana. Namun ketika dia sampai di depan pintu dapur, Julia berhenti berlari kemudian berbalik menatap Briana yang tengah terbengang kaget melihat tindakannya. Tanpa merasa bersalah sama sekali, Julia memberitahu Briana tentang rahasia yang sangat penting sekali.
“Briana, sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu. Waktu itu aku tidak sengaja memberitahu Lu kalau kau itu masih perawan ting-ting. Aku juga mengajarinya bagaimana cara agar bisa menaklukanmu di ranjang. Awalnya aku pikir Lu sudah melakukanya, dan aku sangat kecewa saat kau memberitahuku kalau kalian tidak pernah melakukan apa-apa. Lu pria yang sangat bodoh sekali, bukan?”
“JULIAAAAAAAA!”
Dua orang pengunjung café yang baru saja masuk langsung lari terbirit-birit begitu mereka mendengar suara teriakan yang begitu membahana dari arah dapur. Sedangkan Julia, dia tampak meramalkan doa terhindar dari setan jahat begitu melihat Briana berjalan mendatanginya sambil membawa teplon. Kalian bisa bayangkan sendiri bukan apa yang akan terjadi selanjutnya?😂
***
__ADS_1