Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kabar Baik


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


“Erzan, apa kau dan Wildan sudah mendapatkan kabar tentang keberadaan kakakmu? Ini sudah hampir dua bulan, Er. Ayah dan Ibumu tidak bisa tidur dengan nyenyak,” tanya Dary sembari menatap seksama ke arah putra keduanya yang tengah menikmati sarapan.


“Iya Er, Ibu benar-benar tidak tenang sebelum kakakmu ditemukan. Ibu takut sekali ada orang jahat yang menyakitinya di luaran sana,” imbuh Helena.


Sebelum menjawab pertanyaan kedua orangtuanya, Erzan menelan makanannya terlebih dahulu. Setelah itu dia minum, lalu menatap bergantian ke arah Ayah dan Ibunya yang juga tengah menatapnya. Erzan menghela nafas panjang. “Ayah, Ibu. Apa kalian hanya mengkhawatirkan Kak Gavriel saja? Tidakkah kalian mengkhawatirkan keadaanku yang hampir mati karena setiap detik harus berhadapan dengan tumpukan pekerjaan yang tidak ada habisnya? Di bandingkan dengan Kak Gavriel, keadaanku seribu kali lebih mengkhawatirkan lagi. Aku sekarat Ayah, Ibu. Putramu yang tampan ini bahkan sudah hampir gila karena berkas-berkas itu. Sungguh!” jawab Erzan mendramatisir keadaannya sendiri.


Dary dan Helena saling melempar pandangan mendengar keluhan putra mereka. Wajarlah, selama ini Erzan sama sekali tak mau ikut campur dengan urusan pekerjaan dan hanya mengandalkan Gavriel saja yang bertanggung jawab terhadap Anderson Group. Jadi sudah tak mengherankan lagi jika Erzan mengeluh hampir gila karena menggantikan posisi kakaknya di perusahaan. Dary sebagai yang berpengalaman saja tak yakin mampu menduduki jabatan putra sulungnya yang sekarang, apalagi Erzan yang selama ini tak pernah turun langsung dalam dunia bisnis. Sudah pasti hampir mati menghadapi tumpukan berkas yang seolah tidak ada habisnya. Kendati demikian, baik Dary maupun Helena, mereka tak bisa melakukan apa-apa atas keluhan tersebut. Ya mau bagaimana lagi. Hanya Erzan yang paling mereka percaya untuk melanjutkan tugas Gavriel dalam memimpin perusahaan.


“Ayah, jangankan kalian, aku saja tak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan keadaan Kak Gavriel. Setiap detiknya aku bahkan selalu berharap agar Tuhan segera mengembalikan Kak Gavriel ke keluarga kita. Biarlah dia lupa ingatan. Asalkan masih berada di jarak pandang yang dekat, setidaknya hati kita tidak akan sekhawatir ini. Tapi apa mau dikata, sepertinya Kak Gavriel lebih suka bermain petak umpet seperti ini. Jadi bersabarlah. Yakin dan percaya saja kalau Kak Gavriel pasti baik-baik saja dimanapun dia berada,” ucap Erzan mencoba menghibur hati kedua orangtuanya.


“Tapi mau sampai kapan, Erzan? Ini sudah dua bulan dan keberadaan kakakmu masih belum di ketemukan. Ibu benar-benar takut ada yang menyakitinya di luaran sana. Ibu takut kakakmu kenapa-napa,” sahut Helena sambil menahan tangis.


“Kalau untuk masalah ini Ibu tidak perlu merasa khawatir. Selama ini tidak ada satupun foto Kak Gavriel yang terekspos ke media, mustahil ada penjahat yang menyadari kalau Kak Gavriel adalah pemilik Anderson Group. Jikapun ada yang mengetahui identitasnya, mereka pasti sudah menghubungi kita untuk meminta uang tebusan. Tapi apa sekarang? Jangankan uang tebusan, bahkan anak buahnya Wildan saja tidak ada yang bisa menemukan jejaknya. Bukankah ini artinya Kak Gavriel sedang bersama seseorang yang kurang mengenal dunia luar?”

__ADS_1


Andai saja Erzan dan orangtuanya tahu kalau Gavriel kini tinggal bersama seorang wanita galak yang membuatnya jatuh cinta, mereka pasti tidak akan sekhawatir ini. Sayangnya mereka tidak tahu. Tapi itu tidak akan berlangsung lama karena setelah ini mereka akan segera mengetahui dimana keberadaan Gavriel sekarang.


Drrtt drrtttt


“Siapa yang menelpon?” tanya Dary penasaran.


“Wildan, Ayah. Sebentar ya, aku akan mengangkat panggilan ini dulu. Siapa tahu penting,” jawan Erzan. Dia menekan tombol hijau di layar ponsel kemudian menempelkannya ke telinga. “Halo, Wil. Ada apa? Sekarang aku sedang sarapan bersama Ayah dan Ibu. Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi aku baru akan sampai di kantor.”


“Tuan Erzan, ada kabar baik tentang Tuan Gavriel.”


“Apa? Kabar tentang kakakku? Kak Gavriel baik-baik saja ‘kan?”


“Cepat katakan kabar apa yang kau ketahui tentang kakakku, Wil. Aku, Ayah dan juga Ibu sudah tidak sabar ingin segera mendengarnya,” desak Erzan tak sabar mendengar kabar tentang sang kakak.


“Kemarin malam salah satu anak buah kita tak sengaja melihat seorang pria yang wajahnya sedikit mirip dengan Tuan Gavriel. Namun mereka kehilangan jejak saat hendak membuntutinya. Mereka bilang hari ini akan melakukan penelusuran di sekitar tempat itu. Mudah-mudahan saja orang yang mereka lihat memang benar adalah Tuan Gavriel,” ucap Wildan dari dalam telepon.


“Benar atau tidaknya, kau kirim orang sebanyak mungkin di daerah itu, Wildan. Ini sudah dua bulan, harusnya kali ini kalian tidak gagal lagi menemukan keberadaan Gavriel. Dan tolong katakan pada anak buahmu kalau aku akan menambahkan bonus bagi siapapun yang berhasil menemukan putraku. Harus hidup dan baik-baik saja. Mengerti?” ucap Dary dengan penuh semangat. Tak tanggung-tanggung, Dary berjanji akan membelikan mobil dan juga apartemen kepada orang suruhan Wildan yang nantinya berhasil membawa Gavriel pulang ke rumah ini. Baginya kehilangan uang jauh lebih baik daripada harus kehilangan putranya. Dary tidak sanggup.


“Baiklah, Tuan Dary. Kalau begitu panggilannya saya matikan dulu. Saya perlu mengatur perintah pada anak buah saya agar sesegera mungkin melakukan tindakan. Selamat pagi.”

__ADS_1


Dan panggilan pun terputus. Mendengar kalau sudah ada titik terang tentang keberadaan putra pertamanya, membuat Helena tak kuasa menahan tangis. Dia terisak-isak sambil menggenggam erat tangan Dary, berharap dengan sangat kalau orang itu adalah benar putranya.


“Hiksss, aku harap itu memang Gavriel, Dary,”


“Iya sayang, akupun berharap demikian,” sahut Dary penuh harap. “Setelah kita mendapat kepastian apakah itu benar Gavriel atau bukan, mari kita pergi menemui orang yang telah merawatnya selama dua bulan ini. Aku ingin mengucapkan rasa terima kasih kepadanya, juga ingin memberinya sedikit hadiah sebagai bentuk balas budi karena telah merawat putra kita. Kau mau ‘kan?”


“Mau, tentu saja aku sangat mau. Jika orang itu mempunyai anak yang belum bekerja, aku akan meminta Gavriel untuk mengajaknya bekerja di perusahaan. Huhuhu,” ucap Helena sambil menangis kencang. Sebagai seorang Ibu yang tengah kehilangan anak, sudah pasti kabar ini sangatlah menguras emosinya. Gavrielnya yang hangat dan penyayang sudah ditemukan, wajar sajakan jika Helena sampai menangis seperti ini.


Erzan tersenyum, dia merasa bahagia sekali memiliki orangtua yang tidak pelit terhadap apa yang mereka miliki. Sekarang dunia sudah semakin maju, semakin kaya manusia biasanya manusia tersebut akan semakin kikir dan lupa daratan. Alangkah beruntungnya Erzan dan kakaknya karena memiliki orangtua dermawan yang tak pernah lupa untuk membalas kebaikan orang lain. Erzan bangga.


“Ayah, Ibu, kalian jangan khawatir. Nanti setelah Wildan menerima laporan pasti dari anak buahnya, aku sendiri yang akan datang menjemput Kak Gavriel. Kalian cukup menunggu di rumah dan menyambut kedatangannya. Mengingat kondisi Kak Gavriel saat kabur dari rumah sakit, sepertinya dia tidak akan mengenali kita semua. Aku harap Ayah dan Ibu tidak memaksanya untuk mengingat siapa kita. Biarkan Kak Gavriel menyesuaikan diri dulu sambil menerima perawatan dari dokter pribadinya. Oke?” ucap Erzan mengingatkan kedua orangtuanya akan keadaan sang kakak.


“Iya. Kau tenang saja, Er. Ayah dan Ibu tidak mungkin lupa dengan keadaan kakakmu. Kau cukup bawa pulang dia ke rumah ini. Masalah yang lain biar kami yang urus,” sahut Dary.


“Baiklah. Kalau begitu mari kita lanjutkan lagi sarapannya. Dan Ibu, tolong jangan menangis lagi ya. Aku sedih melihat Ibu begini. Ya?”


Masih sambil sesenggukan, Helena mengangguk mengiyakan permintaan Erzan. Dia lalu pamit ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang basah airmata. Sedangkan Erzan dan ayahnya, mereka melanjutkan sarapan mereka dengan hati penuh suka cita. Mereka juga tidak sabar menantikan kabar baik dari Wildan dan anak buahnya.


Akhirnya aku terbebas juga dari neraka pekerjaan ini. Lega sekali. Dan untukmu Kak Gavriel, segeralah sadar agar aku bisa kembali menikmati hidupku seperti dulu. Hehehe.

__ADS_1


***


__ADS_2