
Pagi harinya, Lu keluar dari dalam kamar dengan ekpresi wajah yang begitu gembira. Jelas gembiralah. Kan semalam dia barusaja mendapatkan satu video yang membuat hatinya meleleh seperti magma gunung berapi. Hehe.
Asal kalian tahu saja ya. Saking senangnya Lu mengetahui aib Briana, video itu sampai terbawa ke dalam mimpi. Konyol sekali, bukan?
“Emm, ada apa ini? Kenapa rumah ini seperti sedang berada di musim semi. Gerangan apakah yang membuatnya terasa berbeda?” sindir Dary sambil menatap penuh maksud pada putranya yang baru saja keluar dari dalam kamar. Dia yang kala itu sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca koran, mendadak jadi ingin berbuat iseng melihat Gavriel yang muncul dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Selamat pagi, Ayah,” sapa Lu. Dia kemudian menengok ke sana kemari saat tak mendapati keberadaan ibunya. “Dimana Ibu?”
“Selamat pagi kembali, Lu. Kalau kau mencari Ibumu, sekarang dia sedang berada di dapur membantu pelayan menyiapkan sarapan untuk kita,” sahut Dary.
“Oh, begitu ya,”
Lu kemudian duduk. Dan lagi-lagi dia dibuat meleleh saat kembali teringat dengan video Briana. Namun karena dia sadar ada ayahnya di sana, sekuat mungkin Lu berusaha menahan diri agar tidak tersenyum-senyum seperti orang gila. Tunggu nanti saja saat dia berada di dalam kamar. Begitu pikirnya.
“Kalau mau tersenyum ya tersenyum saja, Lu. Tidak perlu merasa malu hanya karena Ayah ada di sini,” goda Dary agak tergelitik melihat tingkah putranya yang baru pertama kali ini dia lihat. Jujur, ini cukup mengejutkan. Yang Dary tahu selama ini Gavriel sangatlah dingin terhadap wanita-wanita yang ingin mendekatinya. Akan tetapi sekalinya mengenal Briana, sikap putranya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Entah karena memang sudah waktunya kasmaran atau memang karena Briana yang telah berhasil memiliki hati putranya, yang jelas Dary sangat amat bersyukur karena setidaknya Gavriel masih normal dan mau menyukai wanita.
“Briana membuatku berubah seperti orang gila, Ayah. Maaf jika sikapku membuat Ayah merasa tak nyaman. Aku hanya terlalu senang saja sampai sulit untuk mengendalikan diri,” sahut Lu tak ragu mengakui bahwa memang benar kalau dia tengah menahan diri sebab ada ayahnya di sana.
“Untuk apa meminta maaf. Kau jangan salah, Lu. Dulu saat Ayah mengejar cinta Ibumu, kurang lebih sikap Ayah juga sama sepertimu yang tiba-tiba saja berkelakuan seperti orang yang tidak waras. Jadi sesama pria yang kurang sehat karena wanita, kau tidak perlu merasa sungkan kepada Ayah. Enjoy saja. Nikmati masa-masamu saat sedang jatuh cinta.”
“Apa begitu kentara?”
“Sangat!”
__ADS_1
Dary dan Lu kompak menoleh saat mendengar suara Erzan. Setelah itu mereka berdua sama-sama tersenyum mendapati penampilan Erzan yang sangat luar biasa berantakan. Hanya mengenakan kolor pendek dengan kaos tanpa lengan, Erzan terlihat seperti kuli panggul yang baru saja selesai mengangkut barang ke mobil. Belum lagi dengan rambutnya yang menggumpal acak menyerupai sarang burung, membuat penampilannya benar-benar sangat mirip dengan gembel yang belum mandi.
“Kak Gavriel, sikapmu dari semalam itu sangat amat jelas menunjukkan kalau kau sedang tidak waras. Tertawa sendiri sambil bergulingan di kasur, hah. Aku sampai merinding melihatnya!” ucap Erzan seraya mendudukkan bokong di sofa samping kakaknya. Dia kemudian menoleh, menatap seksama pada sang kakak yang hanya tersenyum saja saat dia mengoloknya. “Memangnya apa yang di kirim oleh Briana sih sampai-sampai kau bersikap menggelikan begitu. Aku boleh lihat tidak?”
“Tidak boleh!” jawab Lu dengan cepat. Dia lalu menggenggam erat-erat ponsel milik Wildan yang semalam sengaja dia sita. “Ini privasi, Erzan. Dan hanya aku saja yang boleh melihatnya. Orang lain tidak!”
“Apa itu tentang sesuatu yang berbau erotis?”
“Sembarangan. Briana bukan wanita yang seperti itu. Kalau Julia iya, tapi kalau dia tidak. Briana adalah wanita baik-baik meskipun kadang sikapnya sedikit brutal!”
“Benarkah?”
Erzan memicingkan mata sambil menyeringai licik. Semakin dia dilarang, maka dia akan semakin merasa penasaran. Erzan kemudian memikirkan cara bagaimana agar dia bisa melihat sesuatu yang coba di sembunyikan oleh kakaknya. Dan dia yakin isinya pasti sesuatu yang sangat menantang andrenalin. Ya, dia yakin itu.
Dary nampak menggelengkan kepala melihat kelakuan Erzan dan Gavriel yang masing-masing sedang berkuat mempertahankan diri. Yang satu terlihat kesal sambil menggenggam erat-erat ponsel di tangannya, sedang yang satunya lagi terlihat diam penuh rencana. Seperti inilah kelakuan Erzan dan Gavriel saat sedang berkumpul bersama. Berdebat hanya karena hal-hal konyol dan tidak masuk akal, tidak seperti kakak beradik lain yang terlihat akur tapi sebenarnya saling bermusuhan karena harta. Dary sungguh sangat amat bersyukur karena kedua putranya tak sekalipun pernah terlibat bentrok karena berebut kekayaan yang ada di keluarga Anderson. Malah yang ada Erzan seperti alergi setiap kali diminta untuk membantu mengurus perusahaan. Putra bungsunya itu seperti akan di bunuh saja setiap kali Dary memintanya agar meluangkan waktu untuk menolong Gavriel menangani pekerjaan. Tak lazim sekali, bukan?
“Kak Gavriel, benar kau tidak akan membiarkanku melihat apa yang ada di dalam ponsel Wildan?” tanya Erzan masih berusaha bicara baik-baik. Jiwa penasarannya sudah meronta-ronta dan dia sudah tidak sabar ingin segera melihatnya.
“Sudah kubilang kalau itu privasi, Erzan. Jadi kau jangan coba-coba membujukku ya. Itu tidak akan pernah berhasil. Tahu kau!” jawab Lu dengan sengit. Dia merasa sedikit terancam saat pandangan mata Erzan terus tertuju ke ponsel di tangannya.
“Baiklah kalau begitu. Karena kau menolak memberitahuku lewat cara baik-baik, maka jangan salahkan kalau aku akan sedikit memaksamu. Bersiaplah, Kak!”
Bola mata Lu langsung membulat lebar saat Erzan tiba-tiba melompat ke pelukannya. Karena dia tidak menyangka Erzan akan melakukan hal ini, badan Lu akhirnya jatuh ke sofa. Dan kesempatan ini di gunakan oleh Erzan untuk merebut ponsel dari genggaman tangannya.
__ADS_1
“Yess! Dapat!” teriak Erzan heboh. Karena dia pernah beberapa kali meminjam ponselnya Wildan, jadi Erzan tak merasa kesulitan saat akan membukanya.
Akan tetapi karena ponsel tersebut di dapat Erzan dengan cara yang tidak benar, bukannya membuka ponsel dengan benar Erzan malah tak sengaja mengirimkan video ke satu nomor asal. Iseng, Erzan segera memutar isi dari video tersebut. Dan yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat Erzan menyesal sampai menembus langit ke tujuh.
Sialan. Aku pikir isinya adalah video erotis, tapi kenapa malah membuatku melihat Briana yang sedang menggesek-gesekkan kakinya. Hiii, wanita ninja warior itu kudisan apa bagaimana sih. Menjijikkan sekali dia.
Lu hanya bisa menghela nafas panjang melihat Erzan yang tengah bergidik begitu melihat video di ponsel Wildan. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana. Lu seperti sedang melihat Julia versi laki-laki saat melihat ketengilan Erzan barusan. Sungguh.
“Sudah puas?” tanya Lu sembari bangun untuk duduk. Dia lalu menatap datar ke arah Erzan yang terlihat biasa saja tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Kak, hanya karena video seperti itu kau sampai menggila? Ya Tuhan, di mana letak bagusnya, Kak Gavriel. Jangan bercandalah!” sahut Erzan malah balik bertanya. Dia lalu mengembalikan ponsel yang tadi di curinya paksa. “Lagipula untuk apa sih Briana mengirimimu video seperti itu. Apa maksudnya merekam video saat dia sedang menggesek-gesekkan kakinya. Gatal karena kudisan apa bagaimana. Heran!”
“Itu urusan Briana, apa masalahmu. Dan juga demi agar bisa mendapatkan video ini aku sampai harus berhutang kepada Wildan. Itu artinya video ini sangat berarti untukku. Paham?”
“Hutang?” Erzan mengerutkan keningnya. Penasaran, diapun bertanya jumlah nominalnya. “Berapa digit?”
“Tiga digit. Dan itupun aku masih berniat menambah hutang lagi jika seandainya Julia merasa kurang.”
“A-APAAA??? TI-TIGA DIGIT???”
Lu mengangguk. Karena masih kesal pada Erzan, Lu akhirnya pamit pada sang ayah untuk menemui ibunya. Dia tak mempedulikan raut wajah Erzan yang terlihat sangat buruk begitu tahu kalau Lu membeli video Briana dengan harga yang sangat luar biasa tinggi.
In-ini tidak mungkin! TIDAK MUNGKIIINNNNNNN!
__ADS_1
***