Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Gugup


__ADS_3

Gara-gara semalam penjaga melapor kalau pagi ini Briana akan datang ke rumah, Hendar sama sekali tak bisa memejamkan mata. Dia terjaga semalaman suntuk, bahkan tak mengindahkan ketika Jenny mencoba membujuk. Terlalu gugup, juga senang. Walaupun ini bukan pertemuan pertamanya dengan Briana, tapi menurut Hendar hari ini adalah pertemuan paling resmi di antara mereka berdua. Mengapa resmi? Karena sebelumnya baik Hendar maupun Briana sama-sama belum saling mengenalkan diri.


“Astaga, kenapa lututku lemas sekali ya. Yang mau datang itukan putriku, bukan bos gangster. Kenapa aku sepanik ini,” gumam Hendar seraya mengusap wajah. Dia kemudian duduk, menepuki kakinya yang tak berasa apa-apa. “Semoga nanti setibanya Briana di rumah ini dia tidak bersikap sinis padaku. Membayangkan lirikan matanya saat di rumah sakit kemarin membuat bulu kudukku berdiri semua. Hii.”


Jenny yang baru saja keluar dari dalam kamar langsung menghampiri Handar yang sedang duduk sendirian di ruang tamu rumah mereka. Dia kemudian tersenyum, merasa tergelitik menyaksikan raut frustasi di wajah tampan suaminya.


Saat bertemu penjahat saja Hendar tidak pernah menampakkan ekpresi ketakutan. Tapi kenapa dia bisa sepanik itu ketika akan bertemu dengan putrinya sendiri? Menggemaskan sekali.


“Gelagatmu terlihat seperti orang yang akan di jemput malaikat maut saja, Hendar. Relaks. Bisa?” ledek Jenny sambil berjalan mendekat.


Hendar menoleh.


“Sayang, kau sudah selesai mandi?”


“Menurutmu?”


“Kau cantik. Sama seperti biasanya,” puji Hendar mencoba untuk tenang. Tangannya terulur meraih tangan Jenny lalu menggenggamnya dengan erat sekali. “Aku benar-benar sangat gugup sekali. Jantungku sampai berdebar seratus kali lebih kuat dari biasanya. Sungguh.”


Jenny tertawa. Dengan satu tangannya lagi dia mengelus pipi Hendar yang ternyata terasa begitu dingin. Jenny yang kaget mengetahui hal itupun akhirnya merasa tak tega. Dia lalu menghibur Hendar supaya tidak terlalu gugup lagi. Kasihan.


“Putri kita adalah wanita yang kuat dan juga pekerja keras. Julia bilang padaku kalau selama ini Briana tak pernah mau menerima belas kasihan dari orang lain. Dia bertopang pada kedua kakinya sendiri, bahkan menolak dengan tegas setiap kali Julia dan keluarganya meminta agar Briana tinggal di rumah mereka saja. Putri kita sangat mandiri, bukan?” ucap Jenny seraya menyunggingkan senyum manis saat mengenang cerita dari wanita mata duitan itu.


“Semandiri itu?” Mata Hendar membelalak lebar. Dia tak menyangka kalau putrinya mampu bertahan hidup tanpa harus bergantung pada orang lain. Luar biasa. Hendar benar-benar sangat salut pada putrinya.


“Ya. Akan tetapi Julia bilang kalau Briana sangat amat tertutup pada orang lain. Hanya Julia satu-satunya orang yang di izinkan untuk mencampuri hidupnya. Yang lain tidak!”


“Lalu Gavriel? Bagaimana dengan pria itu?”


“Kalau Gavriel ….


“Permisi Tuan Hendar, Nyonya Jenny. Nona Briana dan Tuan Gavriel sudah tiba. Mobil mereka baru saja masuk ke pekarangan rumah!” lapor seorang penjaga.


Glukkk

__ADS_1


Bagaimana ini. Briana sudah pulang. Apa yang harus aku lakukan nanti?


Sadar akan kegugupan di diri suaminya, dengan lembut Jenny mengelus tangannya. Dia lalu mengajak pria ini keluar untuk menyambut putri beserta calon menantu mereka juga.


“Tidak apa-apa. Briana adalah putrimu, dia bukan musuh. Oke?” bisik Jenny.


“Rasanya jantungku seperti mau berpindah tempat, sayang. Kakiku sampai lemas.”


“Kau ini ada-ada saja,”


Sambil bergandengan tangan, Jenny dan Hendar berjalan menuju teras depan. Raut wajah mereka terlihat gembira meski gurat kegugupan begitu jelas terlihat di diri sang mafia.


Sementara itu di dalam mobil, Briana dengan sabar menunggu Lu membukakan pintu mobil untuknya. Bak seorang ratu, dia menyambut uluran pria iidot ini kemudian melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil. Sangat luar biasa megah. Itu kesan pertama yang Briana rasakan begitu melihat rumah Nyonya Jenny dan Tuan Hendar. Dalam hati Briana membatin, untung dia tidak mengajak Julia. Wanita serakah itu pasti akan heboh sekali jika melihat betapa megahnya rumah ini.


“Kita masuk sekarang?” bisik Gavriel sembari merapihkan anak rambut Briana yang berantakan tersapu angin.


“Tunggu lebaran monyet saja kita baru masuk ke dalam,” celetuk Briana.


Gavriel terkekeh. Pandangan matanya kemudian tertuju ke arah dua orang yang baru saja keluar dari dalam rumah tersebut. Tuan Hendar dan Nyonya Jenny, bakal mertuanya. Segera Gavriel mengajak Briana untuk menyapa mereka.


Pandangan Briana dan Tuan Hendar saling bertemu saat Gavriel sedang menyapa Nyonya Jenny. Keduanya saling bertanya-tanya dalam hati. Satu meyakinkan diri apakah benar pria itu adalah ayah kandungnya, sedang yang satunya lagi membatin apakah gadis ini akan sama kejamnya seperti dirinya atau tidak.


“Terpesona, hm?”


“A-apa?”


Hendar tergagap. Dia tak menyangka kalau Briana akan bertanya seperti itu kepadanya. Untuk menghilangkan kegugupan, Hendar berpura-pura menepuk bahu Gavriel untuk menyapa. Akan tetapi tidak ada satu suarapun yang keluar dari mulutnya. Hendar mati kutu di tangan putrinya sendiri.


“Sebegitu gugupnya kau bertemu denganku, Tuan Hendar? Aku manusia, bukan malaikat penjaga api neraka. Tahu!” cetus Briana sambil memicingkan mata pada pria yang katanya adalah seorang mafia.


Cihhh, dari segi mananya Tuan Hendar bisa di sebut sebagai seorang mafia. Bertatapan mata denganku saja dia gugup. Padahal aku tidak sedang membawa senjata apapun. Aneh.


“Sayang, jangan seperti itu. Tuan Hendar baru saja mengetahui kalau kau adalah putrinya. Mungkin beliau masih gugup,” ucap Gavriel pelan-pelan membujuk Briana agar tidak terlalu galak pada ayahnya sendiri. Dia tak tega.

__ADS_1


“Jikapun benar seperti itu lalu bagaimana denganku? Bukankah aku juga baru tahu kemarin kalau dia mengaku sebagai ayah kandungku?” sengit Briana yang tiba-tiba emosional. Jujur, dia seperti tak asing dengan gambaran rumah ini. Akan tetapi dia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Briana pusing. Jadi dia kesal.


“Sayang, aku ….


“Gavriel, sudah,” ucap Jenny menghentikan Gavriel yang ingin bicara. Dia kemudian menarik nafas panjang, maklum akan kejengkelan yang Briana rasakan. Sambil menyunggingkan senyum keibuan, dengan hati-hati Jenny memberanikan diri untuk memeluk Briana. “Briana, Ibu tahu kau terlalu syok karena pengakuan kami berdua. Akan tetapi ketahuilah, Nak. Ibu dan Ayah benar-benar sangat mencintaimu. Kami juga sangat merindukanmu. Tolong jangan benci kami ya?”


Briana diam tertegun di pelukan Nyonya Jenny. Tak lama setelah itu tangannya bergerak membalas pelukan wanita ini. Memang benar kalau Briana masih kaget akan kebenaran yang baru terungkap, tapi mendengar wanita ini memohon agar dirinya jangan membenci mereka, entah mengapa perasaan Briana seperti terketuk. Pendiriannya yang begitu keras bak luluh seketika saat Nyonya Jenny menyebut dirinya sebagai Ibu. Terharu? Ya, Briana akui itu. Bahkan hatinya menghangat.


“Kesalahpahaman yang terjadi membuat kita jadi merenggang seperti ini. Ayahmu bahkan tidak pernah tahu kalau anak yang selama ini dia kira sebagai seorang jagoan ternyata adalah seorang gadis yang sangat cantik sekali. Dia gugup. Itulah kenapa Ayahmu menatapmu sampai seperti itu. Kau jangan salah paham ya, sayang?” ucap Jenny merasa sangat amat lega setelah Briana mau membalas pelukannya.


“Meski begitu dia mana boleh menatapku sampai seperti itu. Lupa ya kalau aku datang bersama Lu. Dia kekasihku. Tolong hargai perasaannya juga,” sahut Briana sambil melirik tajam pada Tuan Hendar. Mulutnya tampak berkomat-kamit tanpa suara, yang mana membuat laki-laki tua itu langsung menoleh ke arah lain. Takut mungkin.


Gavriel tampak meng*lum senyum saat Briana tanpa ragu menegaskan statusnya di hadapan Tuan dan Nyonya Origan. Pengakuan ini jelas mendatangkan kebahagiaan tersendiri di hatinya. Sungguh.


“Kapan hasil tesnya akan keluar?” tanya Briana sambil mengurai pelukan Nyonya Jenny. Dadanya berdebar, agak gugup membayangkan hasil dari tes DNA tersebut.


“Paling lambat lusa,” Hendar tanpa sadar menjawab. Setelah itu dia menelan ludah. “Y-ya kalau tidak meleset. K-kalau meleset mungkin masih harus menunggu sampai beberapa hari ke depan.”


“Tuan Hendar, aku perlu bicara denganmu. Ini tentang para penjaga yang kau kirim untuk mengawasi kediamanku. Jujur saja aku tersinggung dan sekarang aku minta tolong kau jelaskan apa maksud semua itu. Bisa?”


“Bi-bisa, bisa,” jawab Hendar kembali dilanda gugup.


“Ayo masuk. Kita bicara di dalam saja!”


“Baiklah.”


Seperti kerbau yang dicolok hidungnya, Hendar mengikuti Briana yang sudah lebih dulu berjalan masuk ke dalam rumah. Gavriel dan Jenny yang melihat hal itupun tak kuasa untuk tidak tertawa. Tidak Julia tidak Hendar, kedua orang ini tak bisa lari dari jajahan Briana. Jika bersama Julia Briana terlihat seperti bos pemilik café, bersama Hendar Briana jadi terlihat seperti pemilik rumah. Padahal ini adalah kali pertama Briana datang ke rumah ini. Ya ampun.


“Semoga saja mereka bisa segera akur ya, Gav. Kasihan suamiku. Dia pasti tertekan sekali berhadapan dengan putrinya yang galak itu,” ucap Jenny setelah puas menertawakan suaminya.


“Iya, Nyonya. Semoga saja,” sahut Gavriel. Dia menganggukkan kepala ketika Nyonya Jenny mengajaknya masuk untuk menyusul Briana dan Tuan Hendar.


Kekasihku memang lain daripada yang lain. Jika orang-orang akan langsung menciut mengetahui status Tuan Hendar yang adalah seorang mafia, Briana malah dengan mudah mengintimidasinya. Hmmm, ada-ada saja.

__ADS_1


***


__ADS_2