Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tentang Masalalu


__ADS_3

"Wildan, memangnya siapa sih wanita yang telah menjawab panggilan Briana? Kau tahu tidak. Jika benar wanita itu adalah wanita yang bekerja di bagian prostitusi, maka malam ini akan menjadi malam terakhir Gavriel bisa melihat Briana!" bisik Dary sambil mengawasi wanita yang tengah duduk di sisi ranjang putranya. "Untung aku mendidik Gavriel sehingga tumbuh menjadi pria dengan kepribadian kuat dan baik. Kalau tidak, dia pasti sudah mati di tangan Briana sejak dua bulan lalu. Benar tidak?"


Wildan tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Terlalu syok untuk dia berkata-kata setelah Tuan Dary berkata kalau Nona Briana menuduh wanita yang telah menolong sang atasan sebagai wanita yang bekerja di prostitusi. Sungguh, baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang sama sekali tidak takut berucap seperti itu di hadapan orangtua dari pria yang di sukainya. Sedikit tidak masuk akal, tapi buktinya nyata. Astaga.


"Jangan diam saja, Wil. Ayo cepat beritahu aku siapa wanita itu!" desak Dary.


"Tuan, saat saya menemukan Tuan Gavriel ada sepasang suami-istri yang menemaninya. Kemungkinan besar suara wanita yang di dengar oleh Nona Briana adalah suara wanita itu," jawab Wildan sembari mengingat-ingat tentang keanehan dari si wanita. "Tapi Tuan Dary, ada yang aneh dengan wanita itu!"


Kening Dary mengernyit. Kurang paham akan apa yang di katakan oleh Wildan barusan. Sadar kalau Wildan ingin membahas sesuatu yang penting, Dary memutuskan untuk mengajaknya bicara di luar saja. Mumpung Gavriel belum bangun, jadi dia masih mempunyai kesempatan untuk mengobrol sebentar.


"Ada apa ini, Wil? Keanehan apa yang kau maksudkan tadi?" tanya Dary begitu sampai di luar.


"Tuan, aku merasa tidak asing pada wanita yang telah menolong Tuan Gavriel. Dan yang membuat aneh lagi mereka berada di jalan menuju lokasi tempat Tuan Gavriel diculik dulu. Anda tahu sendiri kan kalau di sekitar sana sama sekali tidak ada penduduk yang mendiami? Dengan keberadaan mereka di tempat yang sangat sepi itu saja sudah bisa menghadirkan satu keanehan besar di pikiran saya. Benar tidak?" jawab Wildan memberitahukan tentang rasa yang dia pendam.


Sepasang suami-istri di jalan menuju lokasi tempat penculikan dua puluh tahun silam? Apa jangan-jangan mereka adalah orangtua dari anak laki-laki yang dilihat oleh Gavriel ya? Ah, tapi tidak mungkin. Gavriel bilang kan anak itu selamat, lalu untuk apa mereka datang ke sana. Tidak mungkin untuk melakukan reuni penculikan itu 'kan?


Saat Wildan tengah berbincang serius dengan Tuan Dary, tak jauh dari mereka ada seekor cicak berkepala manusia yang tengah menempel erat di dinding sambil menj*lat bibir. Tatapan matanya menyiratkan betapa dia sangat haus akan sesuatu hal.


"Hmmm, pasti sangatlah sedap kalau aku bisa berciuman lama dengan Wildan. Lihat, bibirnya begitu bergelombang. Membuatku jadi ... aih. Bern*fsu. Hihihi," ucap Julia sambil menelan ludah. Dia benar-benar sudah cinta mati pada pria itu. Sungguh.


"Sedang apa kau?"


Hampir saja ginjal Julia berpindah tempat saat seseorang berucap tepat di samping telinganya. Dia yang kala itu sedang mengintip Wildan tanpa sengaja menampar pipi Erzan saat ingin mendorongnya menjauh.

__ADS_1


Plaaakkkk


"Wahhh, kena. Sorry," ucap Julia dengan santai.


"Sorry kau bilang?"


Erzan meradang. Dia berniat membalas perlakuan Julia, tapi dia urungkan saat teringat dengan pesan sang ibu yang tidak suka pada pria kasar. Alhasil Erzan hanya bisa menahan kekesalannya dengan menarik tangan Julia dan menyeretnya ke hadapan Wildan dan juga sang ayah.


"Kalian kalau mau membicarakan hal penting pastikan tidak ada cicak berkepala manusia yang menguping. Tahu?"


Setelah berkata seperti itu Erzan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan ketiga orang yang terbengang bingung melihat kelakuannya.


"Julia, Erzan kenapa?" tanya Dary ingin tahu. Di tatapnya seksama wajah gadis yang tengah mencuri-curi pandang pada Wildan. Lucu sekali. Membuat Dary jadi ingin menendangnya keluar dari rumah ini. Sangat gatal.


"Apa? Kau menamparnya?"


"Iya. Kenapa memangnya? Siapa suruh dia mengagetiku, jadi reflek akunya!"


Dary mengelus dada. Haruskah dia menyetujui keinginan Helena yang ingn menjodohkan Erzan dengan wanita ini? Ya Tuhan, kasihan sekali putra bungsunya. Sekalinya menikah akan mendapatkan istri yang jago membully. Haihhh.


"Julia, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Wildan seraya menampilkan mimik wajah yang sangat serius. Dia tidak mempedulikan percakapan bar-bar yang baru saja di dengarnya. Satu tujuan Wildan bertanya, mengulik tentang masa lalu Nona Briana.


"Ekhmmm, memangnya kau ingin bertanya tentang apa?" jawab Julia sambil berdehem malu. Dia kemudian menyelipkan rambut ke belakang telinga. Bersiap mendengar pertanyaan dari pria yang di sukainya ini. "Jangan bilang kau ingin bertanya tentang hal apa saja yang menjadi favoritku. Tebakanku benar tidak?"

__ADS_1


"Salah!"


Wildan menjawab singkat. "Maaf, yang ingin aku tanyakan sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Akan tetapi itu berhubungan dengan masa lalu Nona Briana. Jadi bersediakah kau untuk menjawab? Jika tidak, aku tak akan memaksa!"


Sialan. Sia-sia Julia memasang ekpresi kegirangan kalau pada kenyataannya yang ingin ditanya oleh Wildan adalah tentang Briana. Kesal, Julia lantas bersedekap tangan. Namun saat teringat ucapan Wildan yang ingin mengetahui masa lalu sahabatnya, Julia memutuskan untuk merajuk nanti saja. Dia penasaran mengapa Wildan tiba-tiba membahas tentang masalah ini.


"Oke, kita lupakan dulu kekeliruan ini. Sekarang cepat jelaskan padaku mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang masa lalu Briana. Kau tidak mungkin berniat untuk menikung wanita yang disukai oleh atasanmu sendiri kan, Wil?" cecar Julia sedikit curiga.


"Aku masih sangat waras untuk tidak melanggar batasan seperti itu, Julia," sahut Wildan bersabar. "Tujuanku bertanya tentang masa lalu Nona Briana adalah untuk memastikan sesuatu hal. Dari yang aku tahu Nona Briana adalah seorang yatim piatu. Jika benar begitu, karena apa orangtuanya bisa meninggal?"


"Di awal aku mengenal Briana dia hanya tinggal bersama kakeknya saja. Lalu tak lama setelah itu kakeknya meninggal dunia karena sakit. Sebab itulah Briana memutuskan untuk pindah ke kota dan menyewa rumah yang masih di tempatinya sampai sekarang!" jelas Julia memberitahu Wildan dan ayahnya Lu tentang kisah sedih sahabatnya. Setelah itu Julia menghela nafas, iba setiap kali memikirkan hidup Briana yang hanya sebatang kara. "Briana adalah sosok gadis yang sangat tertutup pada perasaan. Dan seumur-umur aku mengenalnya, aku hanya melihatnya mengeluh hingga merubah prinsipnya yang keras setelah dia mengenal Lu. Sedikit banyak Briana jadi mau terbuka padaku dan pada orang lain. Dan yang selebihnya aku tidak terlalu berani untuk ikut campur. Kami memang sahabat dekat, tapi aku masih memiliki batasan untuk tidak ikut campur dalam kehidupan pribadinya. Terkecuali hal-hal tertentu saja."


"Jadi kau sama sekali tidak tahu menahu tentang keluarga Nona Briana?"


"Ck, kau ini bagaimana sih. Memangnya kau kemanakan lubang telingamu tadi saat aku sedang menjelaskan?" sewot Julia.


"Maaf, aku hanya ingin memastikan saja," sahut Wildan merasa tak enak hati. Dia sudah salah bertanya.


"Sudahlah. Berhenti memintaku menceritakan tentang masa lalu Briana. Asal kau tahu saja ya. Kalau Briana sampai mendengar hal ini, kita bertiga pasti akan langsung di cincang olehnya. Tahu sendirikan betapa brutalnya gadis itu?"


Wildan dan Tuan Dary kompak menganggukkan kepala. Setelah itu mereka bertiga melihat ke arah wanita yang masih setia duduk di sisi ranjang sambil terus menatap pria yang sedang terlelap. Kasihan, tapi mereka tak berani memintanya untuk beristirahat. Sungguh.


Kalau memang Nona Briana hanya memiliki seorang kakek, berarti ada kemungkinan kalau pasangan suami istri itu adalah orangtua kandungnya. Bisa sajakan saat penculikan itu terjadi Nona Briana di tolong oleh kakek itu sehingga polisi tak bisa menemukan keberadaannya? Hmmm, sepertinya aku perlu mencari tahu siapa pasangan suami istri itu. Dengan begini aku mungkin bisa mendapatkan petunjuk tentang anak laki-laki yang dilihat Tuan Gavriel dalam mimpinya. Ya, semoga saja.

__ADS_1


***


__ADS_2