Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kebohongan


__ADS_3

Gavriel menarik tangan Briana yang ingin pergi meninggalkannya. Dia lalu menghela nafas, berusaha sabar ketika kekasihnya ini malah menggigit tangannya.


"Lepas!"


"Sayang, dengarkan dulu penjelasanku. Ini semua ada alasannya!"


"Alasan?" Briana jengkel. "Alasan apa yang pantas di gunakan untuk mengelabui kekasihmu sendiri, Lu? Ah, ralat. Gavriel Anderson?"


Setelah berhasil mendamaikan Briana dan Tuan Hendar, kebohongan Gavriel akhirnya terbongkar. Dan ya, kalian pasti tahu sendirilah betapa murkanya wanita ini setelah mengetahui kalau sebenarnya Gavriel sudah lama sembuh dari penyakit amnesianya. Merasa dipermainkan, dengan kasar Briana mengusir Gavriel dan meminta supaya tidak lagi menampakkan wajah di hadapannya. Briana juga memutuskan hubungan mereka, tapi langsung di tolak oleh Gavriel.


Flashback


"Tega kau, Lu. Berani sekali ya kau mempermainkan aku. Apa salahku hah!" amuk Briana dengan wajah merah padam. Dia menatap sengit pada pria yang selama ini begitu dicintainya.


"Sayang, tenang dulu. Aku punya alasan kenapa tidak memberitahumu kalau ingatanku sudah lama kembali. Tolong jangan marah!" sahut Gavriel panik.


"Apa kau bilang? Tenang?!"


Briana mendongakkan wajahnya ke atas sambil berkacak pinggang. Dia sungguh tak percaya kekasihnya bisa melakukan kebohongan seperti ini terhadapnya.


"Kita putus!"


"Tidak!"


Tegas Gavriel menolak.


"Cihhh, kau tidak punya hak untuk berkata tidak. Mulai detik ini di antara kita sudah tidak ada hubungan lagi. Paham!"


"Setuju!" timpal Hendar dengan penuh semangat. Kepalanya terangguk cepat saat Briana menatapnya datar. "Apapun keputusanmu Ayah akan mendukung, sayang. Lanjutkan!"


"Tuan Hendar, tolong jangan memanaskan keadaan. Biarkan aku dan Briana menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin!" tegur Gavriel dongkol saat Tuan Hendar dengan songongnya malah memberikan dukungan pada Briana. Enak saja. Susah payah dia membantu malah harus berakhir dengan pengkhianatan seperti ini. Ibarat kata, air susu di balas dengan air tuba. Huh.


"Siapa yang memanaskan keadaan. Aku hanya sedang membantu putriku saja!" sahut Hendar enggan mengalah. Kapan lagi coba dia bisa cari muka di hadapan putrinya. Benar tidak?


"Ayah, diamlah. Kau tidak mengerti apa-apa soal hubunganku dengan Lu. Jadi tolong jangan menjadi orang ketiga. Bisa?"


"Baiklah."


Patuh Hendar mengiyakan perkataan putrinya. Setelah itu Hendar menoleh, diam-diam mengacungkan jari jempol pada Jenny.


"Kerja bagus, sayang. Sering-sering saja cari muka seperti tadi. Aku mendukungmu," bisik Jenny bangga akan usaha suaminya.

__ADS_1


"Ingatkan saja jika ada kesempatan. Aku tidak peduli meski harus menjadi orang ketiga sekalipun," sahut Hendar dengan bangganya.


"Oke. Kau siapkan mental saja."


"Baiklah."


Back to Briana ....


"Lu, kita berdua telah sama-sama mengikrarkan janji untuk tidak saling menutupi apapun masalah yang terjadi. Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau tega mempermainkan aku sampai sejauh ini. Kenapa, hm? Kau muak mempunyai kekasih yang tidak ada anggun-anggunnya sepertiku?" cecar Briana masih tak terima akan kebohongan yang Lu lakukan.


"Sayang, tidak seperti itu. Aku terpaksa merahasiakan kesembuhanku karena ingin fokus mencari tahu tentang ....


"Tentang apa? Tentang apakah aku adalah anak orang kaya atau bukan? Iya?"


"Bukan, aku ....


"Sudahlah, Lu. Aku tidak mau dengar apapun lagi dari mulutmu. Karena kau menolak pergi, maka biar aku saja yang pergi dari sini. Aku sungguh sangat kecewa padamu! Minggir!"


Flashback Now


"Aku sangat mencintaimu. Kau tahu itu, bukan?"


"Kalau cinta mustahil tega berbohong. Itu dusta namanya."


Gavriel tak menyerah. Setelah dirasa Briana agak melunak, dengan perlahan dia menariknya ke dalam pelukan. Masa bodo mereka menjadi tontonan orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan depan cafe, Gavriel tak peduli.


"Maaf,"


Hening. Tak ada sahutan. Briana masih marah.


"Maaf karena sudah tidak jujur padamu. Tapi aku melakukannya karena ada alasan yang mendasari," ucap Gavriel. "Saat aku berhasil mengingat tentang kejadian sepuluh tahun lalu, saat itulah aku sadar kalau aku telah sembuh. Akan tetapi aku meminta Wildan untuk merahasiakannya dari semua orang dengan maksud ingin menyelesaikan terlebih dahulu teka-teki hubungan antara kau dengan Kellen Origan. Begitu."


"Maksudnya bagaimana?"


Briana mulai penasaran. Tangannya kemudian bergerak melingkar memeluk tubuh Gavriel. Ah, Gavriel. Kekasihnya telah pulih, dan namanya bukan lagi Lu. Tapi Gavriel Anderson.


"Jika aku menggunakan identitas sebagai Gavriel, pasti akan sangat sulit untuk bisa bertemu dan berbicara dengan Tuan Hendar. Jadi aku sengaja menggunakan sisi lemahku untuk mencari tahu tentang keluargamu. Dan untunglah semuanya terbongkar sesuai dengan fakta yang aku duga. Ternyata memang benar kalau Kellen Origan adalah nama kekasihku saat masih tinggal di rumah keluarga Origan. Aku lega karena akhirnya bisa menemukan keadilan untukmu!" jawab Gavriel sembari tersenyum kecil. Di kecupnya penuh perasaan kening wanita yang baru saja memutuskan hubungan dengannya. "Sayang, ketahuilah. Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan. Aku yang saat itu kehilangan ingatan di kirim datang ke kehidupan seseorang yang masa lalunya terhubung dengan penyebab sakitku. Kau adalah obat dari segala pengobatan yang pernah kulakukan. Kau tahu itu?"


Agak speechless saat Briana mendengar ucapan Gavriel yang menyebut kalau dirinya adalah obat di balik semua rasa sakitnya. Sambil meng*lum senyum, Briana menanyakan apakah hubungan mereka masih berlanjut atau tidak.


"Jadi ... kita masih pacaran tidak?" tanya Briana malu-malu.

__ADS_1


"Tentu saja masih, sayang. Sudah gila apa aku bersedia putus darimu," jawab Gavriel dengan cepat.


"Syukurlah. Maaf ya tadi sudah bersikap kasar padamu. Aku kesal saat tahu kau telah membohongiku."


"Tidak apa-apa, sayang. Aku maklum dan sangat mengerti akan sikap yang kau lakukan tadi. Wajar kau marah. Karena di posisi ini perbuatanku juga tidak bisa di benarkan. Aku minta maaf ya karena sudah membuatmu marah,"


"Kau baik sekali, Lu. Em bukan, maksudku Gavriel,"


Melihat kelakuan malu-malu di diri kekasihnya membuat Gavriel jadi gemas sendiri. Dia lalu melepas pelukan mereka dan membawanya masuk ke dalam cafe.


"Sudah selesai baku hantamnya?" tanya Julia sambil memicingkan mata.


"Lu, em bukan, Gavriel, apa kau mendengar seseorang yang baru saja bicara? Aku mendengar suaranya, tapi wujudnya tidak ada. Apa itu iblis?" sindir Briana pura-pura tak melihat keberadaan Julia.


"Maybe yes, maybe no," sahut Gavriel seraya menahan tawa. Pasti, pasti setelah itu akan terjadi peperangan besar di sini. Sudah biasa.


"Ya ampun, seram sekali. Bulu kudukku sampai berdiri semua. Apa jangan-jangan cafe ini angker ya?"


"YAKKK!!"


Julia naik pitam. Di singsingkannya lengan baju kemudian dia berjalan menghampiri Briana.


"Jangan mentang-mentang sekarang kau sudah jadi orang kaya lantas boleh menghinaku seperti itu ya? Aku tidak terima!" protes Julia dengan lantang.


"Oh."


Hanya sesingkat itu jawaban Briana. Dan hal tersebut membuat Julia kian marah. Namun saat ekor matanya tak sengaja melihat ekpresi Tuan Hendar, mendadak nyali Julia jadi menciut. Bukan karena takut di hajar, tapi takut tidak menerima transferan lagi. Alhasil, dia akhirnya mundur perlahan-lahan.


"Aku baru tahu ada iblis yang mundur sebelum berperang. Lemah!" olok Briana.


"Tidak apa-apa lemah. Yang terpenting aku kaya," sahut Julia.


"Kaya? Kaya hasil memeras orang maksudnya?"


"Biar saja. Sekalipun hasil memeras tapi orang yang kuperas santai-santai saja saat mengirimkan uang mereka. Kenapa? Iri? Sirik? Merasa gagal?"


Briana menyeringai.


"Dari sudut mananya aku harus merasa iri, sirik, dan juga merasa gagal, hah? Di tangan kananku ada Lu, bukan, ada Gavriel yang adalah Presdir di Under Group. Sedang di tangan kiriku ada Ayah dan Ibuku yang kekayaannya tidak perlu diragukan lagi. Yakin masih bernyali mengataiku iri?"


Skak mat. Gaya pamer Briana berhasil membungkam mulut Julia yang sombong itu. Hendar yang kekayaannya di sebut mendadak seperti berpindah ke negeri dongeng. Jiwanya melayang, kelewat bahagia karena bisa mendengar pengakuan dari putrinya secara langsung. Luar biasa. Haha.

__ADS_1


Kau adalah wanita yang benar-benar sangat unik, sayang. Lihatlah. Wajah seorang Hendar Origan sampai berbinar bahagia hanya karena kau mengakui kekayaannya. Aku sungguh beruntung memilikimu di hidup ini, sayangku.


***


__ADS_2