
Briana diam termangu di depan pintu rumahnya sambil menatap kosong ke arah depan. Dia baru saja kembali dari rumah sakit setelah menjalani beberapa rangkaian untuk melakukan tes DNA. Syok, itu yang Briana rasakan sekarang. Setelah sekian lama hidup menderita seorang diri, tiba-tiba saja datang dua orang asing yang mengaku sebagai orangtua kandungnya. Meski Briana sempat meyakini kalau dirinya bukanlah seorang remaja yang dramatis, tapi tetap saja hal ini membuatnya merasa aneh. Bayangkan saja! Orangtua yang Briana ketahui sudah meninggal dunia, mendadak hidup lagi dengan latar belakang yang sangat berbeda. Wajarkan kalau dia syok? Apalagi sekarang mereka sedang menunggu hasil tes yang akan menjadi jawaban apakah benar mereka adalah keluarga atau bukan. Semakinlah membuat perasaan Briana menjadi tidak karu-karuan.
"Spadaaa!" ....
"Bukankah aku sudah bilang jangan ganggu aku dulu? Kau punya telinga tidak sih!"
Dengan pandangan galak Briana menatap seseorang yang tengah berdiri di hadapannya. Julia. Ya ampun, wanita ini benar-benar ya.
"Ck, siapa juga yang mau mengganggumu. Aku hanya tidak sengaja lewat di sekitar sini lalu melihatmu yang sedang merenung seperti gelandangan. Jadi ya sudah aku singgah saja. Masalah?" sahut Julia seraya memutar bola matanya jengah. Setelah itu dia duduk, masa bodo meski sahabatnya belum mempersilahkan. "Orang bilang sahabat yang baik itu adalah orang yang selalu ada di kala suka dan duka. Dan sebagai sahabat yang baik, aku tentu saja tidak akan membiarkanmu galau seorang diri. Jangan mentang-mentang sekarang kau sudah jadi anak orang kaya lantas melupakan aku begitu saja ya? Tidak akan kubiarkan! Tahu kau?!"
Awalnya Briana ingin mengamuk, tapi melihat Julia yang bicara dengan tatapan tulus membuat Briana luluh. Wanita ini memang sangat mata duitan dan juga tidak punya otak. Akan tetapi untuk masalah kepedulian, Julia tidak ada obatnya. Sahabatnya ini akan langsung pasung badan sebagai garda paling depan jika Briana sedang bersedih. Seperti sekarang contohnya. Menggunakan akal bulusnya yang menjengkelkan, kehadiran Julia membuat Briana merasa sedikit terhibur. Dia punya sandaran.
"Apa menurutmu mereka adalah benar orangtua kandungku?" tanya Briana.
"Bri, mau itu orangtua kandungmu atau bukan, aku akan tetap peduli padamu. Jadi aku minta kau jangan merisaukan hasil tes DNA itu ya? Percaya dan yakin saja kalau Tuhan tidak akan membuatmu merasa kecewa. Oke?" jawab Julia yang mendadak jadi bijak.
"Aku bertanya, seharusnya kau menjawab. Bukan malah ceramah. Bagaimana sih!"
"Kalau menilai dari perangaimu sih sudah pasti kau anaknya Tuan Hendar, Bri. Ekpresi di wajah kalian terlihat sama saat sedang emosi!"
"Mau kuhajar apa bagaimana?"
"Nah kan, kalian bertambah semakin mirip saja. Fiks, kau anak mafia!"
Sudut bibir Briana berkedut. Sedetik kemudian dia tertawa lepas, yang langsung di susul juga oleh Julia. Hati yang tadinya sedang terselimuti rasa gelisah, mendadak jadi berwarna saat Julia tak henti menggoda Briana dengan menyebut kalau dirinya adalah anak mafia. Entah mengapa kata-kata ini terasa sangat menggelitik hati, membuat Briana jadi tak kuasa untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
"Hahahah, coba kau bayangkan. Aku yang hanya seorang pemilik cafe mendadak jadi mempunyai sahabat yang adalah anak ketua gengster. Kalau orang-orang sampai mengetahui hal ini, aku berani jamin mereka pasti tidak akan ada yang berani macam-macam padaku. Benar tidak?" ucap Julia di sela-sela tawanya.
"Entahlah, Julia. Aku tidak berani berharap banyak tentang hal itu. Aku takut dibuat kecewa oleh kenyataan yang terjadi besok saat hasil tesnya keluar. Jadi lebih baik sekarang aku tidak menaruh harapan dulu pada mereka," sahut Briana. Dia lalu tersenyum kecut. "Dulu saat aku bangun dari pingsan karena tenggelam di sungai, mendiang Kakek bilang kalau Ayah dan Ibuku sudah meninggal dunia. Aku percaya, tentu saja. Karena setelah itu kami hanya tinggal berdua sampai akhirnya Kakek pergi meninggalkan aku. Dan setelah sekian lama aku terlunta-lunta menjalani hidup sebatang kara, mendadak aku diminta melakukan tes DNA dengan orang-orang yang sama sekali tak pernah kukenal. Kalau kau yang ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja aku akan langsung mengakui mereka sebagai orangtua kandungku lah!"
Cepakkk
"Bicaralah omong kosong lagi. Aku akan langsung melubangi ubun-ubunmu. Mau?!"
Bibir Julia mengerucut sambil dia memegangi ubun-ubunnya yang baru saja dipukul oleh Briana. Kebrutalan ini begitu nyata. Membuat Julia semakin yakin kalau darah gengsterlah yang membuat sahabatnya jadi seperti ini. Setelah rasa panas di ubun-ubunnya sedikit berkurang, Julia kembali lanjut berbicara.
__ADS_1
"Briana, sekarang kita bicara faktanya saja. Okelah tidak apa-apa kalau kau menganggap jawabanku sebagai suatu omong kosong. Akan tetapi secara logika siapa sih yang bisa menolak untuk menerima kenyataan kalau dirinya itu terlahir dari keluarga kaya raya? Tidak usah munafik, semua orang di dunia ini pasti ingin hidup enak. Sementara dalam kasus ini yang kekeh mengakui siapa yang sekandung itu Tuan Hendar dan Nyonya Jenny, bukan dirimu. Jadi jika kau bertanya reaksi seperti apa yang akan terjadi padaku kalau berada di posisi yang sama denganmu, jawabannya ya itu tadi. Aku akan langsung menganggap mereka sebagai orangtua kandungku. Ingat Briana, kita ini hidup di kenyataan, bukan di dunia halu seperti di novel ataupun drama televisi. Kalau mereka di gambarkan untuk menolak dan histeris akan kenyataan yang terjadi, kita tidaklah bisa melakukan hal yang sama seperti mereka. Karena apa? Karena kita hidup di kenyataan. Jadi selagi ada jalan yang mudah untuk menjadi orang kaya, kenapa juga harus memilih jalan yang sulit. Benar tidak?"
Kriik kriikk kriikk
Hening. Briana diam tak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya. Sesimpel ini pemikiran Julia? Ya ampunn, benar-benar mata duitan sekali wanita ini. Tapi jika di pikir-pikir kembali omongan Julia ada benarnya juga sih. Memang benar kalau dunia nyata sangatlah berbeda dengan dunia halu. Di sana mereka bisa keluar dari dunia khayalan kapan saja. Sedangkan di dunia nyata, satu-satunya jalan hanya bisa di hadapi. Haruskah Briana mengikuti cara berpikir Julia yang terkesan cukup ektrem? Entahlah.
"Briana, aku tahu kadang pemikiranku sulit untuk di terima oleh kaum normal. Tapi percayalah, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Aku menyayangimu, dan aku ingin melihatmu hidup dengan sangat bahagia. Tolong kau kesampingkan kelakuanku yang kelewat mata duitan itu ya? Semuanya aku lakukan hanyalah untuk bersenang-senang saja. Ya?" ucap Julia dengan mimik wajah yang sangat serius. Kali ini dia tidak sedang bercanda. Julia benar-benar sangatlah menyayangi wanita ini.
"Jadi sadar ya kalau kau itu adalah wanita termata duitan yang pernah aku kenal?" olok Briana takjub melihat Julia yang sadar diri dengan keburukannya. Lucu juga. Haha.
"Bagaimana mungkin aku tidak sadar kalau kau saja sudah beberapa kali aku jadikan sumber uang? Kau tidak lupakan dengan insiden video aib yang ku kirim ke ponselnya Lu? Dan satu lagi. Kemarin aku bertukar informasi tentang Lu kepada Nyonya Jenny. Kau tahu tidak, Briana. Nyonya Jenny memberiku uang yang jauh lebih banyak dari yang Lu berikan padaku. Hebat, kan?" sahut Julia dengan santainya membongkar aib sendiri. Dia sama sekali tidak sadar dengan siapa dirinya sedang bicara.
Ketakjuban di diri Briana lenyap seketika begitu dia mendengar pengakuan Julia yang lagi-lagi menjadikan hubungannya dengan Lu sebagai ladang uang. Segera Briana melepaskan sepatu dari kakinya lalu hendak menjejalkannya ke mulut Julia.
"Eitsss, tidak bisa. Kalau kau berani macam-macam padaku, aku akan mengirimkan satu video lain ke nomornya Lu. Mau?!" ancam Julia sambil menelan ludah.
Fyuhh, untung aku cepat sadar sudah kelepasan bicara. Jadi aku masih punya waktu untuk melindungi diri. Semoga saja Briana percaya dengan apa yang aku katakan barusan. Aku bisa mati sia-sia jika dia sampai tahu kalau aku hanya menggertak sambel saja. Aaa, dasar anak gengster. Suka sekali sih main kasar. Heran.
"Apa kau sudah bosan hidup?" Briana jengkel sekali. Tapi jujur, dia tidak siap jika Julia sampai mengirimkan video aib lainnya kepada Lu. Briana malu.
"Aku bisa menjadikanmu yang pertama merasa bosan hidup!"
"Ancam teroosss!"
Briana terkekeh. Dia lalu memeluk Julia. "Terima kasih sudah selalu ada di saat aku sedang sedih, Julia. Walau sebenarnya aku sangat ingin menghajarmu, tapi khusus hari ini aku akan mengalah saja. Aku sedang butuh kau di sini!"
"Kenapa rasanya aneh ya melihatmu seperti ini? Aku seperti sedang mengasuh bayi besar saja!" seloroh Julia. Matanya memerah, terharu mendengar ucapan wanita brutal ini.
"Bayi besar yang punya tambang uang. Benar, kan?"
"Hehehe, tahu saja kau. Akukan jadi malu,"
"Perutku tiba-tiba mual. Boleh aku muntah di wajahmu?"
"Sialan!"
"Hahahhaa,"
__ADS_1
Julia dan Briana masih lanjut berbincang tanpa menyadari kalau sejak tadi ada yang sedang memata-matai mereka. Seorang pria tampak berdiri sedikit jauh dari posisi kedua wanita itu berada.
Puk
Pria itu menoleh.
"Siapa kau?" Hendar bertanya sembari menatap datar pada gerombolan wanita yang ada di hadapannya.
"Hei Tuan, seharusnya kamilah yang bertanya kau siapa. Apa yang sedang kau lakukan di sini? Sedang mengintip Nona Julia dan Briana ya?" cecar wanita yang raut wajahnya terlihat paling galak di antara wanita lainnya.
"Aku sedang memperhatikan putriku. Apa yang salah?"
"Putrimu? Siapa?"
"Briana," jawab Hendar jujur. Dia menelan ludah sebelum menunjuk ke arah di mana putrinya berada. "Wanita cantik yang sedang duduk di sana adalah putriku. Putri kandungku. Namanya Brianandita Origan."
Cengo, ekpresi di wajah para wanita itu. Pandangan mereka teralih pada dua orang wanita yang terkenal galak dan juga gila. Aneh. Sejak kapan Briana punya orangtua? Bukankah gadis itu hanya hidup sebatang kara ya?
"Kenapa lingkungan kita jadi aneh begini ya. Bulan lalu ada Lu yang katanya adalah anak orang kaya yang hilang ingatan. Lalu sekarang tiba-tiba wanita galak itu punya orangtua. Ini ada apa ya?" bisik salah seorang wanita keheranan.
"Benar juga. Kenapa kedua orang itu bisa tiba-tiba berubah status begini? Jadi takut,"
"Takut apa?"
"Takut kalau-kalau di sini ada tuan putri yang hilang juga. Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi, bukan?"
"Wahhh, benar juga. Mungkin Tuhan memberkati lingkungan di sini karena kita selalu menjaga kebersihan. Jadi Tuhan mengirim orang-orang tak biasa agar lingkungan kita semakin banyak di kenal oleh orang lain. Benar tidak?"
"Iya benar. Aku sependapat denganmu,"
"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja. Kita harus segera melakukan rapat penting dengan tetangga yang lain. Ayo!"
Sejak para wanita ini mulai saling berbisik, Hendar hanya diam memperhatikan. Keberadaannya seperti tak di anggap. Menyebalkan.
"Apa semua wanita memang suka bergosip ya? Tapi Jenny-ku tidak mungkin seperti wanita-wanita itu. Jenny tidak suka menggibah," ucap Hendar seraya menghela nafas. Dia kemudian berbalik menatap ke arah putrinya yang masih asik bercengkrama dengan Julia. "Mungkinkah Jenny akan tetap menjadi Jenny yang ku kenal dulu jika sudah bersama kedua wanita itu? Aku rasa tidak. Hmmm,"
***
__ADS_1