Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Malam Yang Syahdu


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTI BIAR NANTI SORE EMAK CRAZY-UP UNTUK MENEMANI MALAM MINGGU KALIAN. OKE? 💜


***


Ting


Kedua sudut bibir Lu langsung tertarik ke atas begitu ponsel milik Wildan berbunyi. Video itu sebenarnya berisi tentang apa? Tapi jika mengingat kelakuan Julia yang amat sangat menyukai hal-hal erotis, besar kemungkinan video yang Julia kirimkan berisi tentang sesuatu yang panas. Memikirkan hal itu membuat kepala Lu tiba-tiba terasa sedikit membesar. Bohonglah kalau Lu tidak ter*ngsang, selama inikan dia sudah banyak belajar dari Julia. Jadi wajarkan kalau sekarang otaknya Lu agak sedikit berbelok ke arah yang panas-panas? 😂


“Tuan Gavriel, anda baik-baik saja ‘kan? Wajah anda merah sekali. Apa anda demam?” tanya Wildan cemas melihat perubahan di diri atasannya. Dia yang kala itu sedang duduk di sofa bergegas mendekat untuk memastikan kalau matanya tidak salah lihat. “Tuan, ada apa?”


“O-oh, t-tidak ada apa-apa, Wil. Aku … aku baik-baik saja kok,” jawab Lu tergagap. Kaget sekali dia saat Wildan tiba –tiba bertanya dan sudah berdiri di sebelahnya. Gara-gara ilmu sesat yang Julia ajarkan, barusan otak Lu berkelana entah kemana. Huh, untung saja Wildan tidak bisa membaca pikiran orang. Kalau bisa, Lu pasti malu sekali sekarang.


Tak mau ketahuan kalau dirinya sedang memikirkan hal-hal yang sedikit erotis, Lu meminta Wildan untuk mengambilkan buah di dapur. Dia salah tingkah karena Wildan terus memperhatikannya dengan pandangan yang sedikit … aneh. Ya wajar sih, la wong wajahnya sekarang terasa sangat panas. Wildan pasti berpikir kalau dia terserang demam tinggi. Pasti itu.


“Ekhmm, Wil. Bisakah kau mengambilkan buah untukku? Tiba-tiba saja aku ingin makan cemilan yang segar. Tidak merepotkanmu, bukan?” tanya Lu beralasan.


“Baiklah, Tuan. Saya akan segera mengambilkannya untuk anda,” jawab Wildan patuh. Namun ketika hendak pergi, Wildan kembali memastikan keadaan atasannya. “Tuan Gavriel, anda benar baik-baik saja? Kalau memang ada yang terasa kurang nyaman jangan ragu untuk memberitahu saya. Oke?”


“Aku sungguh baik-baik saja, Wildan. Kau jangan cemas,”


Lu menganggukkan kepala saat Wildan masih terus memperhatikannya lekat. Setelahnya Lu baru bisa bernafas lega saat Wildan melangkah keluar dari dalam kamar. Teringat akan isi video yang di kirimkan oleh Julia, Lu pun bergegas membukanya. Jantung Lu berdegub dengan sangat kuat ketika tangannya hendak menekan tanda untuk memutar video.


Semoga saja isinya bukan sesuatu yang bisa mempermalukan Briana. Tapi kenapa hatiku berkata lain ya? Masa iya sih aku sudah tertular virus 21++ yang di ajarkan oleh Julia? Tidak-tidak, kau bukan pria seperti itu, Lu. Fokus, yakinkan dirimu kalau di dalam video itu tidak ada sesuatu yang vulgar. Ya, Briana tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Terlebih lagi saat ada Julia. Itu seribu kali lebih tidak mungkin.


“Em, apa ini?” gumam Lu sembari mengerungkan kedua alisnya saat video mulai di putar.

__ADS_1


Saat ini layar ponsel tengah menampilkan satu video di mana Briana sedang melakukan panggilan sambil menggesekkan-gesekkan kakinya. Untuk beberapa saat perasaan Lu sempat terbakar api cemburu karena curiga dengan siapa Briana sedang melakukan panggilan. Namun setelah di dengarkan dengan seksama, suara yang muncul dari dalam video tersebut mirip dengan pembicaraannya saat menelpon Briana. Dan pada akhirnya Lu sadar kalau orang yang sedang mengobrol dengan Briana adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.


“Astaga, jadi seperti ini ekpresi malu-malumu saat kita sedang mengobrol tadi, Bri? Manis sekali. Kau sangat menggemaskan,” ujar Lu sambil terkekeh menertawakan kelakuan Briana yang sok jual mahal dalam panggilan tapi seperti ulat daun di belakang layar. “Hmmm, terima kasih banyak, Julia. Kalau bukan karena keisenganmu, aku rasa sampai matipun aku tidak akan pernah tahu kalau Briana bisa bertingkah semanis dan semenggemaskan ini. Tidak sia-sia aku berhutang banyak pada Wildan demi mendapatkan video ini. Kau yang terbaik, Julia. Aku bangga mempunyai teman sepertimu!”


Bak orang yang hilang kewarasan, Lu sampai bergulingan di atas kasur saking tidak tahannya dia menyaksikan kelakuan Briana yang tidak sadar sedang direkam diam-diam oleh Julia. Sayang sekali mereka terpisah jarak. Kalau tidak, Lu pasti akan langsung memeluknya erat-erat. Ini terlalu menggemaskan. Bayangkan saja. Seorang gadis yang selama dua bulan ini selalu bersikap galak, brutal, mudah marah dan sok jual mahal, tiba-tiba saja bertingkah seperti abege yang sedang kasmaran. Siapalah yang tidak meleleh melihatnya. Benar tidak man-teman?


Ceklek


Wildan diam tercengang seperti orang bodoh melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar. Atasannya, iya atasannya. Saat ini atasannya sedang bergulingan ke sana kemari sambil tertawa memandangi layar ponsel yang entah ada apa di sana. Bingung apakah harus masuk atau tidak untuk mengantarkan buah-buahan yang tadi di pesan oleh atasannya, Wildan akhirnya memutuskan untuk menunggu sejenak dengan tetap berdiri di depan pintu kamar. Walaupun tidak yakin sepenuhnya, tapi besar kemungkinan yang membuat atasannya bersikap aneh begitu pastilah karena Nona Briana. Ya, Wildan yakin sekali akan hal itu.


“Seumur-umur baru kali ini aku melihat Tuan Gavriel bersikap normal layaknya manusia yang sedang jatuh cinta. Hmmmm, Nona Briana, selamat. Kau benar-benar berhasil merubah sikap Tuan Gavriel yang sebelumnya bahkan tidak pernah tersenyum pada wanita manapun selain Nyonya Helena,” gumam Wildan sambil meng*lum senyum.


Di saat yang bersamaan Erzan datang menghampiri Wildan sambil melepas dasi yang melilit di kerah kemejanya. Dia yang tidak tahu apa yang sedang terjadi dibuat terheran-heran melihat Wildan yang seperti menggumam pelan sambil menyunggingkan senyum tipis.


“Oh, Tuan Erzan. Anda sudah pulang?” sahut Wildan balik bertanya. Segera dia menormalkan ekpresinya seperti semula.


“Menurutmu?”


Erzan memicingkan mata. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Wil. Apa yang sedang kau lakukan di depan pintu kamar Kak Gavriel sambil tersenyum-senyum tidak jelas begitu. Apa yang terjadi?”


“Ekhmmm, jangan salah paham dulu, Tuan. Ada alasan mengapa saya ada di sini dan mengapa saya bisa tersenyum tidak jelas seperti yang anda lihat barusan,” jawab Wildan sambil berdehem pelan. “Mau tahu alasannya tidak?”


“Itu yang dari tadi aku tunggu, Wildan. Astaga,”


“Kalau begitu berjanjilah untuk tidak membuat keributan. Oke?”

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Erzan langsung mengangguk. Dia segera mendekat ke depan pintu saat Wildan menunjuk ke dalam kamar kakaknya.


“Apa?” bisik Erzan makin penasaran.


“Lihatlah ke ranjang Tuan Gavriel. Perhatikan baik-baik apa yang sedang terjadi di sana,” sahut Wildan sambil mendorong pintu agar sedikit terbuka.


Erzan segera mengikuti arahan Wildan. Dan di detik selanjutnya Erzan dibuat ternganga lebar melihat pemandangan menggelikan yang sedang terjadi di dalam kamar tersebut. Kakaknya yang sedang lupa ingatan saat ini sedang tertawa-tawa sendiri sambil bergulingan memeluk bantal. Syok, Erzan segera menarik mundur tubuhnya dari depan pintu. Setelah itu dia menatap Wildan dengan pandangan yang sulit di artikan.


“Itu … ular piton jenis apa yang sedang bergulingan di atas kasur, Wil? U-ular itu membuat bulu kudukku berdiri semua,” tanya Erzan sambil mengusap tengkuknya yang meremang. Sumpah, seluruh tubuhnya sampai merinding semua setelah menyaksikan sikap kakaknya yang sangat tidak lazim.


“Itu bukan ular piton, Tuan. Tapi itu adalah seorang pria pengidap amnesia yang sedang kasmaran karena jatuh cinta pada wanita yang telah menolongnya,” jawab Wildan maklum akan keterkejutan di diri Erzan. Dia lalu menepuk bahunya pelan. “Saya sarankan anda sebaiknya jangan terlalu mengolok-olok apa yang sedang terjadi di diri Tuan Gavriel sekarang. Karena apa? Karena karma itu ada. Tidak menutup kemungkinan kalau suatu hari nanti anda juga akan merasakan hal yang sama seperti yang sedang Tuan Gavriel alami saat ini. Jadi maklumilah saja.”


“Cihhh, sampai matipun aku tidak akan pernah melakukan kegilaan seperti yang dilakukan oleh Kak Gavriel, Wil. Kau jangan menyamaratakan semua orang sama sepertinya ya,” sahut Erzan sambil bergidik jijik membayangkan yang tidak-tidak tentang ucapan Wildan.


“Saya hanya mengingatkan saja, Tuan Erzan,”


“Caramu mengingatkan membuat sekujur tubuhku merinding semua. Tahu?”


Wildan hanya menggelengkan kepalanya saat Erzan melenggang pergi sambil bersungut-sungut tidak jelas. Dia kemudian menunduk menatap sepiring melon yang sepertinya harus dia yang menghabiskan.


“Melon, maaf ya karena sepertinya kau harus masuk ke dalam perutku. Keadaan sedang tidak memungkinkan untukmu memasuki lambung Tuan Gavriel. Mohon pengertianmu. Oke?”


Dan … nyam. Wildan mulai menikmati potongan melon sambil mendengar suara cekikikan tawa dari dalam kamar. Malam yang sangat syahdu sekali bukan teman-teman?


***

__ADS_1


__ADS_2