Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tampan Idiot


__ADS_3

"Lu, kau sudah sadar?"


Segera Briana berlari menghambur ke pelukan Lu begitu melihatnya yang sedang duduk menyender di kepala ranjang. Dia yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi tampak menahan diri agar tidak menangis. Tiba-tiba di kabari kalau penyakit kekasihnya kambuh kemudian melihatnya terbaring tak sadarkan diri, wanita manalah yang tidak akan merasa panik. Sangat paniknya sampai membuat Briana lupa dengan rencananya yang ingin melabrak tempat prostitusi bersama Julia dan Nyonya Jenny. Dia begitu takut pria idiot ini mati mendadak.


"Sayang, kau menangis ya?" tanya Gavriel kaget. Segera dia menangkup kedua pipi Briana lalu menatapnya penuh rasa bersalah. "Maaf aku sudah membuatmu jadi sedih begini. Aku tidak sengaja, sayang."


"Siapa juga yang menangis. Jangan sok kepedean kau!" omel Briana sambil mengelap matanya. Dia lalu menyedot ingusnya agar tidak mengalir keluar.


"Lalu kalau bukan karena menangis kenapa matamu bisa sembab dan ujung hidungmu memerah?"


"Mataku sembab karena tadi kelilipan kotoran cicak. Kalau hidungku ... hidungku memerah karena tak sengaja tersengat lebah."


Gavriel tersenyum. Seperti yang di katakan oleh Julia kalau Briana pasti akan bicara melantur jika sedang gugup. Dan barusan dia melakukannya. Menggemaskan sekali.


"Lu, boleh aku bertanya?" tanya Briana sambil menatap seksama pada pria di hadapannya. Sangat tampan, tapi sayang lupa ingatan. Anggaplah tampan-tampan idiot, tapi Briana sangat menyukainya. Sialan sekali.


"Kau ingin bertanya tentang apa, hem?" sahut Gavriel.


"Tentang wanita yang mengaku sebagai kekasihmu."


Jeda sejenak. Nafasnya Gavriel sampai tertahan saking resahnya dia karena ternyata Briana masih belum lupa dengan kejahilan yang dia dan Wildan lakukan tadi siang. Sungguh, kali ini Gavriel benar-benar kapok. Dia pikir Briana tidak akan sampai berbuat sejauh ini. Namun siapalah yang akan mengira kalau Briana beserta Julia dan Nyonya Jenny malah berencana ingin melabrak semua tempat prostitusi guna mencari keberadaan wanita yang mengaku sebagai kekasihnya. Masih mending jika hanya Briana and the geng saja yang pergi ke tempat itu karena setidaknya Gavriel masih bisa mencegah. Lah ini. Dengan songongnya ketiga wanita beda usia ini membawa serta lima puluh orang penjaga yang adalah anak buah mafia. Jika tidak segera di hentikan, di jamin pasti akan terjadi perang antar geng nantinya.


"Apa benar antara kau dan wanita itu sama sekali tak pernah terlibat hubungan apa-apa?" cecar Briana sambil menyipitkan mata. Sekali saja biji mata Lu membuat gerakan yang salah, fiks, Lu selingkuh.


Ya Tuhan, lain kali mau di bayar sebanyak apapun aku tidak akan pernah mau lagi mengerjai Briana. Dia benar-benar mengerikan. Apalagi sekarang Briana punya Nyonya Jenny. Julia saja sudah membuat sakit kepala, sekarang malah di tambah istri mafia. Astaga ....

__ADS_1


"Lu, jangan diam saja. Ayo cepat jelaskan atau aku akan pulang malam ini juga!" desak Briana mengancam akan pulang jika kekasihnya ini menolak untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Jangan pulang, sayang. Malam ini menginap di rumahku saja!" sahut Gavriel tak rela jika harus di tinggal pergi. Segera dia meraih tangan Briana lalu menggenggamnya dengan erat. Tidak akan dia lepaskan walau apapun yang terjadi.


"Kalau begitu ayo cepat jelaskan siapa wanita berdada mercon itu!"


"Baiklah."


Sebelum lanjut menjelaskan, Gavriel mencari posisi yang lebih baik agar dirinya bisa bicara sambil memeluk Briana. Dia duduk agak menyamping kemudian menarik kepala Briana agar rebah di dadanya. Setelah itu tangan Gavriel bergerak mengelus punggung wanita galak ini, mencoba meresapi kerinduan yang selalu dirasa setiap waktu.


"Sayang, sungguh. Aku sama sekali tak mengenal siapa wanita itu. Dan saat di selidiki oleh Wildan, ternyata dia juga tidak mengenalnya. Kami bahkan tidak ada yang tahu siapa namanya," ucap Gavriel lembut menceritakan. Harus hati-hati sekali agar kekasihnya tidak salah paham lagi. Gavriel kapok. "Tentang foto itu, Wildan sudah memastikan kalau fotonya hanya editan saja. Wanita itu asal mengambil foto laki-laki lain lalu mengganti wajahnya dengan wajahku. Sungguh, aku tidak bohong!"


"Benar kalian tidak saling kenal?" tanya Briana sambil memicingkan mata. Dia belum percaya sepenuhnya.


"Benar, sayang." Gavriel menarik nafas panjang. "Kalau kau ingin meminta bukti, maaf, aku tidak punya bukti apa-apa. Mengapa? Ya karena aku memang tidak mengenalnya. Mengerti?"


"Ekhmm sayang, apa kau tidak bisa meminta Nyonya Jenny agar menghentikan rencananya? Bukannya apa, aku hanya khawatir saja dia terkena masalah. Melabrak tempat prostitusi itu bukan sesuatu yang baik karena di sana pasti ada banyak sekali preman yang berjaga. Aku khawatir masalahnya akan berbuntut panjang dan akan menyasar padamu juga. Ya?"


"Oh, jadi kau lebih ....


Cup


Sekali. Briana kesal, kemudian ingin kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku akan menciummu sampai pingsan kalau kau sampai menuduhku lebih membela wanita itu daripada membela rencanamu dengan Julia dan Nyonya Jenny!" ancam Gavriel sembari menempelkan jari telunjuk di depan bibir Briana. Dia lalu tersenyum melihat wajah kekasihnya yang langsung memerah. "Kau cantik saat sedang malu-malu begini, sayang. Membuatku jadi ingin menerkammu sekarang juga."

__ADS_1


"A-apaan kau, Lu. Kita belum menikah ya, kau sebaiknya jangan macam-macam!" omel Briana salah tingkah sendiri. Matanya terus saja tertuju ke bibirnya Lu yang baru saja mencuri ciuman darinya. "Bibir itu lancang sekali. Boleh di hukum tidak?"


"Tentu saja sangat boleh, sayang."


"Di potong?"


"Di cium, sayang. Kenapa malah di potong?" Gavriel kaget. Namun sedetik kemudian dia ingat siapa ayahnya Briana. Gavriel menghela nafas.


Antara lucu melihat Briana yang gugup dan salah tingkah, Gavriel mendekatkan wajahnya ke depan bibir Briana kemudian m*lumatnya pelan. Cukup lama dia melakukan hal ini sampai nafas mereka terengah karenanya.


"Aku hanya mencintaimu. Kau percaya itukan?" bisik Gavriel sembari mengelus bibir bawah Briana yang memerah akibat dari perbuatannya.


"Iya aku percaya," sahut Briana lirih. Jantungnya seperti beranak pinak saking kaget akan apa yang Gavriel lakukan. Ya meskipun tidak di pungkiri kalau Briana sangat suka dengan ciuman mereka. Hehee.


"Jangan pernah meragukan perasaanku lagi karena aku tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita selain dirimu. Jikapun nanti ada wanita lain yang datang dan mengaku sebagai kekasihku, percayalah kalau selama ini aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Hanya kau, Briana. Hanya kau seorang yang pernah dan akan selalu ada di hatiku. Oke?"


Briana terpaku beberapa saat. Hati dan pikirannya menunjukkan reaksi yang berbeda atas pengakuan Lu barusan. Hatinya menjerit kesenangan karena dia akan menjadi satu-satunya wanita di hidup Lu. Akan tetapi pikirannya menangkap sinyal aneh di mana dia curiga mengapa Lu bisa begitu yakin kalau dirinya tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun di saat ingatan Lu sendiri masih belum pulih seperti semula.


Apa jangan-jangan Lu sebenarnya sudah tidak sakit lagi ya? Kok aku merasa aneh melihatnya yang begitu yakin mengaku tidak pernah jatuh cinta pada wanita selain aku. Hmm, perlu di selidiki ini.


"Sayang, kenapa kau diam saja? Kau percaya padaku, kan?" desak Gavriel resah.


"Aku selalu percaya padamu, Lu. Maaf karena sudah mencurigaimu. Aku hanya terlalu takut kehilanganmu saja. Jangan marah. Oke?" sahut Briana memutuskan untuk menunda dulu kecurigaannya. Lanjut nanti saja setelah dia dan Lu selesai bermesraan. Wkwkw.


"Aku mencintaimu, Briana," ....

__ADS_1


Tepat ketika Briana hendak membalas kata cinta itu, Gavriel dengan cepat meraup bibirnya. Mereka kemudian terlibat ciuman yang sangat panas. Apalagi kali ini tangan Gavriel berani jalan-jalan menyentuh sesuatu yang mana membuat Briana melenguh pelan. Ah, sesekali bolehkan? Lagipula Gavriel hanya menyentuh tipis-tipis, tidak sampai di titik lembah basah yang merupakan area berbahaya. 😂😂


***


__ADS_2