
Setelah berhasil mendapatkan izin dari Tuan Hendar, Gavriel dan Wildan bergegas pergi menuju cafe milik Julia. Mereka ingin melihat apa yang sedang dilakukan Nyonya Jenny di sana, sekalian Gavriel ingin melepas rindu pada kekasihnya yang galak itu.
"Yakin kita hanya melihat dari kejauhan saja, Tuan?" tanya Wildan memastikan. Saat ini dia dan atasannya sedang duduk di dalam mobil. Mereka parkir tak jauh dari lokasi cafe berada.
"Aku masih ragu untuk bertemu dengan Briana, Wil. Sampai detik ini dia masih belum tahu kalau aku sudah sembuh," jawab Gavriel lesu. Dia lalu menghembuskan nafas kasar, gelisah antara nekad ingin muncul di hadapan Briana atau bertahan di dalam mobil. "Briana dan Julia tidak sebodoh Erzan. Mereka pasti bisa langsung menyadari ada yang berbeda dengan diriku. Kau tidak lupa kan kalau mereka itu terkadang sangat mirip seperti detektif? Bisa gawat jika kebohonganku terbongkar sekarang. Benar tidak?"
"Iya juga ya." Wildan menyahut sambil menggaruk kening. Dia lupa kalau kedua wanita itu mempunyai keahlian yang sangat nyeleneh. "Lalu apa yang bisa kita ketahui kalau hanya duduk di dalam mobil begini? Bukankah tadi kita sudah mendapatkan izin dari Tuan Hendar untuk menemui dan berbicara dengan Nyonya Jenny ya?"
Gavriel menghela nafas. Dia juga bingung harus melakukan apa sekarang. Kalau saja tak memikirkan resiko ketahuan, dia sudah akan menghambur ke dalam cafe kemudian memeluk kekasihnya dengan erat. Gavriel benar-benar sangat merindukan Briana. Sungguh.
Sementara itu di dalam cafe, Julia yang sedang mengajarkan cara melayani pelanggan pada Nyonya Jenny langsung menyipitkan mata saat tak sengaja melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari cafenya. Lama dia melakukan hal itu, hingga di detik selanjutnya satu seringai lebar muncul di bibir Julia. Mobil itu ... Wildan pemiliknya.
Aduh aduh aduh aduh, sepertinya calon kekasihku tahu kalau sekarang aku sudah kaya raya. Lihat saja, tanpa harus bersusah payah aku membujuk Lu, Wildan sudah datang dengan sendirinya. Beruntung sekali nasibku hari ini. Ahay.
"Julia, kau mau pergi kemana?" tanya Jenny sambil menatap bingung pada Julia yang tiba-tiba hendak meninggalkannya sendiri melayani para tamu.
"Nyonya, tolong kau tangani semua pelanggan yang ada di sini. Aku mau pergi sebentar. Kekasihku datang berkunjung," jawab Julia dengan semringah.
"Hah? Bagaimana caraku menangani tamu-tamu ini, Julia? Jangan pergilah. Kalau aku sampai salah mencatat pesanan mereka bagaimana?"
"Ada Briana yang akan menyelesaikan semua masalah yang kau buat. Jangan khawatir. Oke?"
"Tapi ....
Wiinnnggg
Belum juga Jenny selesai bicara, Julia sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya. Alhasil Jenny hanya bisa pasrah dengan kembali menanyai para tamu yang tak henti berdatangan. Heran, cafe seramai ini kenapa hanya Julia dan Briana saja yang bekerja? Tidakkah itu membuat mereka overdosis kelelahan? Jenny jadi iba memikirkan nasib putrinya. Apa jangan-jangan selama ini Julia lah yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar pelayan? Haih. Sudah mata duitan, pelit lagi. Julia benar-benar sudah tak tertolong.
__ADS_1
Sementara itu di dalam mobil, Wildan yang menyadari kedatangan Julia segera memberitahukan hal tersebut pada atasannya. Sontak saja hal ini membuat atasannya menjadi kalang kabut sendiri.
"Ck, kenapa juga sih Julia harus datang kemari. Jadi repot, kan!" gerutu Gavriel sambil pelan-pelan membuka pintu mobil. Dia mau kabur untuk menyelamatkan diri.
"Simpan keluhan itu untuk nanti saja, Tuan. Julia sudah semakin dekat!" sahut Wildan ikut cemas menunggu detik-detik atasannya keluar dari mobil. Dia sampai menahan nafas saking tegangnya melihat Julia yang datang sambil memasang senyum lebar. Jujur, ekpresi wanita itu sangat mengerikan. Seperti orang gila yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.
Ceklek
Pintu berhasil terbuka. Tubuh Gavriel langsung merosot keluar bertepatan dengan wajah Julia yang menempel di kaca mobil. Untung wanita itu memilih jendela yang tepat di mana Wildan berada. Jika tidak, maka usaha Gavriel akan sia-sia belaka.
"Kenapa aku jadi terlihat seperti maling ya. Semua ini gara-gara Julia. Huh!" geram Gavriel dengan suara kecil. Dia lalu merangkak menjauh dan bersembunyi di samping mobil lain yang terparkir tak jauh dari posisi mobilnya.
Tok tok tok
"Wildan, ayo cepat buka pintunya. Aku tahu kau ada di dalam!" teriak Julia sambil terus mengetuk kaca jendela mobil. Wajahnya terlihat senang sekali.
Dengan raut wajah yang begitu pasrah, Wildan akhirnya keluar dari dalam mobil. Jakunnya tampak bergerak cepat melihat Julia yang menatapnya seperti orang kelaparan.
"Julia, kau kenapa? Tidak sedang terjangkit virus zombi, kan?" tanya Wildan dengan sarkasnya. Dia ngeri melihat wanita ini. Sungguh.
"Kalaupun aku terjangkit virus zombi, maka kau adalah orang pertama yang akan kucari kemudian kutulari. Biar adil. Kan kita sehati. Hehehe," jawab Julia menggombal. Dia lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga, mencoba bersikap manis di hadapan pria yang di sukainya. "Wildan, ngomong-ngomong kau datang kemari apakah karena sedang merindukan aku? Pasti jawabannya iyakan? Mengaku saja. Jangan malu-malu."
Wildan terdiam. Dia bingung harus bagaimana cara menghadapi sikap frontal wanita ini. Julia yang bertanya padanya, tapi di jawabnya sendiri juga. Aneh bukan?
"Wajar sih kalau kau merasa malu. Kita kan beda kasta," ucap Julia sambil meng*lum senyum.
"Beda kasta? Maksudnya?" tanya Wildan heran.
__ADS_1
"Kau asistennya Gavriel, sedangkan aku bos dari calon istri atasanmu. Itu namanya beda kasta, kan?" jawab Julia dengan bangga ingin memamerkan harta kekayaan yang dia miliki. Dan ketika dia hendak mengeluarkan ponsel, sebuah teriakan menggelegar menghentikan tindakannya.
"OH, JADI KAU MEMPERBUDAK NYONYA JENNY DEMI MENGGATAL PADA SEORANG PRIA YA? AKU HITUNG SAMPAI TIGA. KALAU KAU MASIH BELUM KEMBALI KEMARI, MAKA BERSIAPLAH UNTUK KU DEPAK PERGI DARI CAFE INI. SATU ....
Wildan di buat melongo dengan tindakan Julia yang langsung lenyap dari pandangan begitu mendengar suara teriakan Nona Briana. Dan di detik selanjutnya dia semakin merasa yakin kalau Nona Briana adalah benar titisannya Tuan Hendar setelah menyaksikan bagaimana wanita itu mengangkat pisau daging begitu Julia sampai di hadapannya. Benar-benar brutal. Sama persis seperti ayahnya yang adalah seorang mafia.
"Perasaan cafe itu adalah milik Julia, tapi kenapa dia yang ketakutan saat Nona Briana menggertaknya? Aneh sekali pertemanan mereka. Siapa yang menjadi bos siapa juga yang akan di usir. Hemm," gumam Wildan terheran-heran. Dia kemudian bergegas pergi mencari atasannya yang masih bersembunyi. "Tuan Gavriel, anda di mana?"
"Di sini."
Segera Gavriel keluar dari tempat persembunyian begitu mendengar suara Wildan yang sedang mencarinya. Masih takut ketahuan, Gavriel mengendap-endap sambil berjongkok saat akan kembali masuk ke dalam mobil.
"Astaga, kenapa jadi menegangkan begini sih," keluh Gavriel begitu masuk dan duduk. Dia lalu menatap Wildan yang juga telah berada di dalam mobil. "Tumben sekali Julia sudah pergi membebaskanmu. Biasanya kan dia baru akan pergi setelah keluar akar dari lubang pantatmu, Wil!"
"Tuan Gavriel, pertanyaan anda kenapa terdengar vulgar sekali ya? Saya jadi merinding," sahut Wildan syok.
Gavriel terkekeh. Dia lalu meminta Wildan untuk menceritakan percakapannya dengan Julia. Dia yakin sekali kalau wanita itu pasti sudah membuat asistennya sakit kepala. Haha.
"Hmmm, benar-benar titisan mafia. Kekasihku pandai sekali menakuti orang ya?" ucap Gavriel bangga akan sikap brutal Briana yang mengacungkan pisau daging pada Julia. Sayang sekali tadi dia tidak melihatnya. Rugi.
"Sangat, Tuan. Nona Briana juga sangat pandai menjadikan seorang bos layaknya seorang pelayan. Mau dengar cerita yang lainnya lagi tidak?" sahut Wildan membenarkan.
"Boleh. Ayo ceritakan saja semuanya,"
"Baiklah."
Dan akhirnya Wildan pun mulai bercerita. Dia terlihat khusyuk sekali saat mengisahkan penderitaan Julia. 😂
__ADS_1
***