
Di Under Group, terlihat Erzan yang tengah mengomel sambil melepaskan dasi yang di pakainya. Di sebelahnya ada Wildan, asisten sekaligus orang kepercayaan kakaknya yang hilang entah kemana. Baru satu bulan Erzan menggantikan posisi kakaknya di perusahaan ini, tapi separuh rambutnya sudah hampir botak. Dia benar-benar sangat tidak menyukai pekerjaan ini. Menyebalkan.
“Wildan, kapan Kak Gavriel akan kembali? Rasanya aku seperti sedang di panggang hidup-hidup di dalam neraka melihat tumpukan berkas sialan ini. Aku sudah tidak tahan!” keluh Erzan sembari menatap tak berdaya ke arah Wildan. “Tolong selamatkan masa mudaku, Wil. Aku tidak mau mati sia-sia di sini. Tolong aku.”
Wildan hanya tersenyum saja mendengar keluhan Erzan. Dia yang memang sudah terbiasa mendengarnya mencoba untuk pura-pura ikut merasa prihatin dengan menata kembali berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Mungkin untuk pria yang terbiasa hidup dengan pilihannya sendiri adalah suatu kekangan yang sangat menyiksa ketika diminta untuk menggantikan posisi orang yang selama ini menjadi dalang di balik kesuksesan Under Group. Wildan akui memang tidaklah mudah untuk menggantikan posisi atasannya. Namun apa daya, situasi memaksa Wildan untuk terus membujuk Erzan agar terus bertahan sampai atasannya di temukan.
“Bersabarlah sebentar, Tuan Erzan. Saat ini semua orang hanya bisa bergantung kepada anda. Jadi saya mohon terimalah nasib ini sampai Tuan Gavriel bisa kembali memimpin Under Group. Oke?” bujuk Wildan mencoba menghibur adik atasannya yang sudah berwajah masam. Dalam hati, Wildan tengah menertawakan pria yang sedang merajuk di hadapannya. Lucu sekali.
“Tapi sampai kapan, Wildan? Percaya tidak. Aku berani jamin kepalaku akan langsung di penuhi uban jika dalam waktu sebulah lagi Kak Gavriel masih belum di temukan. Huh!”
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu pikiran Erzan melayang pada satu kejadian yang menyebabkan sang kakak menderita truma berat hingga membuatnya sering hilang ingatan setiap kali melihat tali simpul. Dulu saat kakaknya berusia sepuluh tahun, kakaknya pernah menjadi korban penculikan yang dilakukan oleh seorang psikopat gila. Dari pengakuan sang kakak, dia bersama beberapa anak-anak lainnya di sekap di sebuah rumah kosong yang jauh dari keramaian. Dan di setiap malamnya sang kakak harus menyaksikan satu persatu dari temannya tewas di gantung menggunakan tali yang di buat simpul. Beruntunglah ketika sang kakak hendak di bunuh, polisi berhasil menemukan tempat tersebut. Namun gara-gara kejadian itu kakaknya jadi menderita satu penyakit aneh dimana kakaknya akan langsung kehilangan ingatannya setiap kali dia melihat tali simpul yang sama persis seperti yang digunakan psikopat itu untuk menghabisi korbannya. Meski sudah dua puluh satu tahun terlewat, tapi pada kenyataannya kejadian itu masih sangat membekas di benak sang kakak. Psikisnya terganggu. Dan itu juga yang membuat sang kakak enggan mengekspos wajahnya di media. Bahkan tak ada satupun foto milik kakaknya yang terpajang di rumah. Hal tersebut di karenakan si psikopat gila itu akan selalu meminta korbannya untuk bereskpresi bahagia di depan kamera sebelum dihabisi. Mengerikan sekali bukan?
“Haihhhhh, dasar psikopat sialan. Gara-gara dia sekarang aku yang harus menanggung getahnya. Sudah matipun masih menyusahkan orang. Dasar brengsek!” kesal Erzan pada orang yang telah menjadi penyebab kakaknya lupa ingatan.
“Hati-hati dengan perkataan anda, Tuan Erzan. Jika orang lain sampai mendengarnya, orang itu pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menekan Tuan Gavriel. Jangan lupa kalau dinding di kantor ini bisa menjadi pendengar dan pembicara yang baik, khususnya bagi orang-orang yang haus kekuasaan. Jangan ceroboh!” ucap Wildan langsung menegur Erzan yang tiba-tiba saja mengungkit tentang psikopat sinting itu. Ekor matanya kemudian melirik ke arah pintu, memastikan kalau di sana tidak ada orang yang menguping.
“Iya-iya maaf. Aku khilaf karena terlalu kesal dengan keadaan yang aku jalani sekarang. Kau tahu sendirilah Wil betapa stresnya aku menghadapi orang-orang serakah itu dan juga pekerjaan yang tidak ada habisnya ini. Aku bahkan sampai tidak memiliki waktu untuk mencari pasangan karena sibuk menggantikan tugasnya Kak Gavriel. Hidupku memprihatinkan sekali bukan?” tanya Erzan yang kembali mengeluhkan nasib hidupnya.
Erzan mendengus. Mau bagaimana lagi. Yang di katakan Wildan memang benar kalau memang hanya dia saja yang bisa menggantikan posisi kakaknya di perusahaan. Sebenarnya Erzan bisa saja menunjuk orang lain, tapi ide ini dengan tegas di tolak oleh sang ayah mengingat kalau semua orang di perusahaan ini tidak ada yang bisa di percaya. Seperti biasa, dimana ada uang dan kekuasan, di sana pasti akan selalu terjadi yang namanya pengkhianatan dan juga kedengkian dimana semua orang akan saling berebut demi mendapatkan kekuasan tersebut. Dan karena hal ini jugalah pencarian kakaknya tidak bisa dilakukan secara terbuka, apalagi melibatkan media dan pihak kepolisian. Terbayang kalau tidak ada kepastian kapan kakaknya akan kembali, membuat Erzan memekik kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Sepertinya ucapan Erzan tadi akan benar-benar menjadi kenyataan dimana sebentar lagi kepalanya akan di penuhi uban.
__ADS_1
“Wildan, jam berapa sekarang?” tanya Erzan lesu.
“Sekarang sudah jam sepulum malam, Tuam Erzan. Apakah anda sudah ingin pulang?” jawab Wildan. Kasihan juga dia melihat adik atasannya yang terlihat sangat lelah.
“Ck, bagaimana bisa aku pulang kalau pekerjaanku saja sudah menumpuk setinggi gunung. Memangnya kau tidak lihat ini apa?” sahut Erzan sambil menunjuk tumpukan berkas yang ada di atas mejanya. Dia kemudian mengusap wajahnya sampai memerah. “Ya Tuhan, kapan siksaan ini akan berakhir. Tolong beri petunjuk dimana Kak Gavriel berada sekarang. Kalau dia tidak segera kembali, bisa di pastikan kalau aku akan mati kering karena berkas-berkas sialan ini. Tolong berbaik hatilah kepadaku, Tuhan. Aku mohon!”
Wildan tak tahu apakah harus tertawa atau malah mengaminkan doa yang barusaja di panjatkan oleh Erzan. Setengah hatinya merasa iba, tapi setengah hatinya lagi berkata agar tidak membiarkan pria itu menyerah dengan pekerjaan ini. Tak tega, Wildan pamit keluar untuk mengambilkan kopi dan cemilan karena sepertinya dia dan Erzan malam ini akan lembur sampai pagi.
Tuan Gavriel, dimanapun anda berada sekarang saya harap anda dalam kondisi baik-baik saja. Anda tenang saja. Saya berjanji akan menjaga perusahaan ini agar tetap aman terkendali meskipun setiap hari saya harus mendengar keluhan Tuan Erzan. Saya tahu ini berat untuk beliau. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi tugasnya sebagai bagian dari keluarga Anderson. Tolong doakan saja agar Tuan Erzan tidak gila.
__ADS_1
***