Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Wanita Gila


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan cafe, Briana memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Dia kelelahan, hingga membuat jalannya menjadi sempoyongan. Sambil menyeka keringat di kening, Briana mengenang kisah manis saat sedang berada di rumahnya Lu. Dia kemudian tersenyum, juga merasa malu tatkala terbayang saat sedang bercumbu mesra dengan pria idiot itu.


"Ya ampun Briana, sadar. Kau sekarang sedang berada di tempat umum. Orang-orang pasti akan mengira kalau kau adalah wanita gila. Tunggu setelah sampai di rumah baru kau kembali membayangkan tentang hal manis ini. Oke?" gumam Briana seraya menepuk pipi saat tersadar kalau dirinya masih berada di jalanan. Namun, hal tersebut hanya terjadi beberapa detik saja. Briana kembali tersenyum seperti orang gila saat mengelus bibirnya. Cumbuan itu begitu lembut terasa. Ah, pokoknya sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


Kenapa aku jadi blingsatan seperti wanita panggilan begini ya. Ingat, Briana. Kau dan Lu belum menikah. Jangan sampai kau membayangkan sesuatu yang bisa membawamu pada ruang penyesalan. Nanti kau kecewa.


Hati dan pikiran boleh-boleh saja tak henti mengingatkan. Akan tetapi apa yang bisa dilakukan jika gerak tubuh mengajak untuk bereaksi lain. Tak menghiraukan tatapan heran orang-orang yang berpapasan dengannya, Briana terus saja memikirkan kemesraannya dengan Lu. Sesekali dia berhenti melangkah kemudian menutup wajah ketika hal yang sedikit berbau 21++ muncul memenuhi rongga matanya.


Brruuuukkkkkk


Kalau saja Briana tidak memiliki kuda-kuda kaki yang kuat, dia pasti sudah jatuh terpelanting saat seseorang menabraknya dari arah depan. Briana sebenarnya ingin marah, tapi begitu melihat siapa pelakunya, mendadak dia jadi melemah. Bukan karena takut, tapi merasa tak tega karena orang yang tengah berdiri diam sambil menatapnya terlihat sangat kasihan. Wajahnya pucat dan penampilannya sangat berantakan.


"Permisi Nyonya, apa kau orang gila?" tanya Briana sedikit sarkas.


"Aku mencari anakku," sahut si wanita. Sebelah tangannya terulur ke depan, dan tanpa merasa canggung dia mengelus pipi gadis yang tak sengaja di tabraknya. "Cantik. Matamu juga sangat indah. Mirip dengan mata anakku yang hilang di culik!"


Briana mengerutkan kening. Semakinlah dia merasa iba setelah tahu kalau wanita ini sedang depresi karena anaknya hilang di culik. Tak tega, Briana memutuskan untuk mengajaknya mencari tempat duduk. Dia sama sekali tak merasa jijik meski tangan wanita ini terus saja mengelus pipinya.


"Nyonya, apa kau haus?"


Jenny mengerjapkan mata. Dia telah menemukan separuh hidupnya yang hilang. Ya, Jenny tak mungkin salah mengenali putrinya. Tapi ... kenapa bibir ini begitu sulit saat ingin menyebutkan nama yang begitu dia rindukan? Ada apa? Belenggu apa yang membuatnya merasa begitu takut?


"Hallow Nyonya. Kau bisa mendengar perkataanku 'kan?" tanya Briana sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah wanita ini. Merasa sia-sia, dia menghembuskan nafas berat. Setelah itu Briana melihat kesana kemari, mencari toko terdekat agar dia bisa membeli minuman. "Nah, itu dia yang aku cari!"


Raut wajah Jenny berubah menjadi begitu panik saat gadis yang dia yakini sebagai putrinya tiba-tiba berdiri. Khawatir di tinggal lagi, dia segera memeluknya dengan sangat erat. Namun, tindakannya itu membuat gadis ini memekik ketakutan. Hingga menyebabkan beberapa orang datang berkerumun.


"Ada apa, Nona? Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Wanita ini ... wanita ini tiba-tiba saja memelukku, Tuan. Tolong aku. Sepertinya dia adalah orang gila!" sahut Briana dengan ekpresi yang begitu santai. Mumpung ada banyak orang, jadi dia pura-pura ketakutan saja. Lumayanlah untuk menghemat tenaga setelah tadi habis terkuras karena membersihkan cafe yang seperti kapal pecah.


"A-aku bukan orang gila. Ak-aku sedang mencari anakku!" ucap Jenny resah. Pelukannya semakin bertambah kuat, takut gadis ini akan kembali hilang dari pandangan.


"Dasar orang aneh. Cepat lepaskan Nona itu atau aku akan memanggil petugas keamanan. Cepat lepaskan!" hardik salah seorang pria sambil mencuri-curi pandang pada gadis yang tadi menjerit meminta tolong. Dia terpesona melihat kecantikannya.


"Tidak mau. Dia putriku, aku harus membawanya pulang!"


"Cepat lepaskan atau aku akan ....


"Hei, apa yang sedang kalian lakukan pada Nyonya kami. Menyingkir kalian semua dari sana!"


Ada sekitar sepuluh pria berseragam hitam datang berlarian kemudian mendorong semua orang agar tidak berkerumun. Setelah itu mereka merubah ekpresi dari garang menjadi ramah saat ingin mendekati wanita yang mereka sebut dengan panggilan Nyonya.


"Nyonya Jenny, mari ikut bersama kami. Tuan Hendar sedang kebingungan mencari anda. Kita pulang ya?" bujuknya lembut.


"Nyonya, wanita ini bukan Tuan Muda Kellen. Dia adalah orang lain. Tolong menurut ya. Kasihan Tuan Hendar. Pulang ya?"


"Hei kalian para pria berseragam hitam. Memang kemana perginya anak dari Nyonya kalian ini hah. Sudah meninggal atau bagaimana?" tanya Briana penasaran. Dia sama sekali tak merasa takut saat salah satu dari pria tersebut menatapnya garang. Kalau saja tubuhnya tidak sedang dipeluk oleh wanita bernama Nyonya Jenny ini, Briana pasti sudah mencolok biji mata pria tersebut. Enak saja memelototinya seperti itu. Memangnya Briana wanita macam apa. Main-main saja mereka.


"Nona, bisakah kau jangan sembarangan bicara? Kau tidak punya hak apapun untuk bertanya tentang Tuan Muda Kellen kepada kami. Tahu?" tegur si penjaga dengan galaknya.


"Lalu apa kalian pikir Nyonya kalian juga punya hak untuk memelukku seperti ini?" sahut Briana enggan mengalah. Dia lalu menunjuk ubun-ubun wanita yang tengah menyembunyikan wajah di balik jaket yang di kenakannya. "Lihat, mata kalian tidak buta, kan? Asal kalian tahu saja ya. Tindakan Nyonya kalian ini sudah masuk ke dalam tindak pelecehan. Mau naik ke meja hijau atau bagaimana? Jangan kalian pikir aku akan takut menghadapi pria berbadan besar seperti kalian. Seujung kuku pun aku sama sekali tidak merasa gentar. Maju kalau kalian tidak percaya. Kita selesaikan secara jantan!"


Semua orang yang ada di sana nampak tercengang syok melihat keberanian Briana. Dengan hanya membawa sepotong badan, berani sekali seorang wanita menantang beberapa penjaga yang bahkan ukuran tubuhnya dua kali lebih besar darinya. Ini aneh, atau malah gila. Semua orang jadi merasa penasaran akan seperti apa akhir dari keributan ini.


"Kenapa diam?" sentak Briana. "Takut?"

__ADS_1


"Abaikan saja wanita gila ini. Lebih baik sekarang kita segera membawa Nyonya kembali pada Tuan Hendar. Kita bisa terkena masalah jika terlalu lama membiarkannya berada di luar. Kondisi Nyonya sedang tidak sehat," bisik salah satu penjaga.


"Kau ini bagaimana sih. Memangnya tadi kau tidak dengar ya saat Nyonya menolak untuk pulang bersama kita. Kalau kita memaksa, takutnya itu akan berdampak pada kesehatannya. Tuan Hendar bisa membunuh kita semua kalau sampai terjadi sesuatu pada Nyonya. Tahu kau?"


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Entah, aku juga bingung!"


Jenny benar-benar tak mempedulikan para penjaga yang sedang kebingungan karena tak berhasil membujuknya. Dia fokus menikmati pelukan di tubuh putrinya ini. Hangat, sama persis seperti yang dulu pernah dia rasa. Mungkin karena terlalu nyaman, secara perlahan mata Jenny mulai memberat. Sebelum kesadarannya tertelan oleh rasa kantuk, dia sempat menggumam menyebutkan sebuah nama yang selama ini hanya di ketahui olehnya sendiri.


"Brianandita," ....


Briana yang sedang kesal kepada para penjaga di kejutkan oleh suara dengkuran halus dari arah dada. Segera dia menunduk, kemudian menarik nafas panjang saat tahu kalau Nyonya Jenny tertidur sambil memeluknya erat sekali. Sulit di percaya. Orang yang tadinya Briana kira adalah wanita gila, dengan begitu mudah bisa menempel kepadanya. Namun ketika ingin membangunkannya, tiba-tiba saja benak Briana dilanda perasaan tak tega. Dia diam mematung memperhatikan wajah wanita ini yang terlihat begitu damai dalam mimpinya.


"Kasihan sekali kau, Nyonya. Entah kesedihan macam apa yang telah merenggut kebahagiaan di hidupmu. Kelelahanmu terlihat dengan begitu jelas. Sudah lamakah kau menderita?" gumam Briana iba. Dia kemudian mengalihkan pandang kepada para penjaga, membuat kode agar mereka mendekat dengan perlahan.


Begitu mendapat kode, dua penjaga maju ke depan kemudian dengan sangat hati-hati memisahkan Nyonya Jenny dari tubuh gadis galak tersebut. Setelah itu lima dari mereka mengangkat tubuh sang Nyonya lalu membawanya pergi dari sana. Sementara sisa penjaga yang lain, mereka saling dorong saat ingin berpamitan pada Briana. Karena jujur, aura yang gadis ini keluarkan tekanannya hampir mirip dengan gaya intimidasi tuan mereka.


"Sudahlah, aku sudah memaafkan Nyonya kalian. Sekarang kalian pergi saja. Aku mau pulang," ucap Briana sambil menatap jengah ke arah para penjaga yang entah mengapa malah terlihat takut. Padahal tadi salah satu teman mereka begitu galak, tapi sisanya? Haihhh, benar-benar mengecewakan.


"Terima kasih banyak karena sudah memahami kondisi Nyonya kami, Nona. Kami permisi!"


"Ya ya ya, pergilah sejauh yang kalian bisa. Aku tidak peduli!"


Sebelum para penjaga itu pergi, Briana sudah lebih dulu melenggang kabur dari sana. Langkahnya sedikit terseok, lelah setelah tadi sempat adu mulut dengan salah satu penjaganya Nyonya Jenny.


Ngomong-ngomong nama wanita itu cantik sekali ya. Jenny, seperti nama artis saja. Hmmm.

__ADS_1


***


__ADS_2