Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Hilang


__ADS_3

Malam ini kediaman keluarga Anderson dibuat gempar atas hilangnya salah satu anggota keluarga. Gavriel. Ya, pria amnesia itu mendadak tidak bisa di temukan keberadaannya saat Nyonya Helena ingin mengajaknya makan malam. Karenanya, Nyonya Helena sampai jatuh tak sadarkan diri saking syoknya dia atas apa yang terjadi.


“Ayah, bagaimana bisa Kak Gavriel hilang? Bukankah ada banyak sekali pelayan dan penjaga di rumah ini?” cecar Erzan panik begitu sampai di rumah. Dia yang kala itu tengah menemui seorang klien di luar perusahaan tanpa pikir panjang langsung pergi meninggalkannya begitu saja sesaat setelah dia mendapat kabar kalau kakaknya hilang. Masa bodo dengan pekerjaan, keluarga yang paling penting.


“Ayah juga tidak tahu, Er. Tadi setelah kakakmu menjalani terapi Ayah masih sempat mengajaknya berbincang sebentar. Akan tetapi saat Ibumu ingin mengajaknya makan malam, kakakmu tiba-tiba saja sudah tidak ada di dalam kamar. Aneh sekali, bukan?” jawab Dary seraya memijit pinggiran kepala. Dia lalu menatap tak tega pada istrinya yang masih belum sadarkan diri. “Kasihan Ibumu. Dia pasti merasa sangat terpukul sekali. Baru juga Ibumu merasa bahagia setelah dua bulan menderita, sekarang kakakmu malah kembali hilang. Entah dimana dia sekarang!”


“Dimana Wildan? Apa dia masih belum pulang dari tempat itu?”


“Wildan masih dalam perjalanan pulang, Er. Tempat itu sangat jauh, tidak mungkin untuk mereka sampai dalam waktu singkat.”


“Apa Ayah sudah menyebar orang untuk mencari Kak Gavriel?”


“Wildan sudah lebih dulu melakukan.”


Erzan menghela nafas. Dia diam memikirkan kira-kira kemana sang kakak akan pergi. Tak lama setelah itu Erzan dibuat tersentak oleh pemikirannya sendiri.


Briana. Mungkinkah Kak Gavriel pergi ke sana? Tapikan dia tidak bisa mengingat jalan, masa iya nekad pergi menemuinya?


“Ayah, mungkin tidak Kak Gavriel pergi menemui Briana? Dia selalu bilang kalau merindukan gadis itu. Mungkinkah dia nekad?” tanya Erzan ragu-ragu.


“Sudah ada penjaga yang Ayah perintahkan untuk datang ke sana. Kita tinggal menunggu kabar saja,” jawab Dary lesu.


“Aa, sudah ya.”


Saat Erzan dan ayahnya sedang bingung memikirkan kemana sang kakak pergi, salah seorang penjaga datang melaporkan sesuatu. Dan di saat yang bersamaan pula Nyonya Helena yang tadinya sedang pingsan secara perlahan mulai membuka mata. Erzan yang pertama kali melihat sang ibu mulai sadar segera datang mendekat kemudian membantunya untuk duduk. Dia lalu mengambilkan air minum untuk ibunya.


“Minumlah dulu, Bu. Pelan-pelan,”


“Kakakmu, Er. Hikss,”

__ADS_1


Helena terisak.


“Iya aku tahu. Ibu jangan cemas, aku yakin Kak Gavriel pasti hanya sedang tersesat saja di luar. Dia pasti kembali.”


Menunggu sang Nyonya tenang barulah si penjaga menyampaikan kabar yang di bawanya. “Tuan Dary, sore menjelang malam tadi seseorang melihat Tuan Gavriel berjalan sendirian. Dan di perkirakan arah yang di tuju merupakan jalan menuju lokasi tempat beliau pernah di sekap dulu. Sepertinya Tuan Gavriel masih belum sepenuhnya sadar dari terapi yang di jalaninya tadi siang.”


“APA??”


Erzan dan kedua orangtuanya kompak memekik kencang. Tanpa membuang waktu lagi diapun bergegas menghubungi Wildan guna memberitahukan kabar ini. Erzan takut sekali terjadi sesuatu pada sang kakak yang tiba-tiba saja ingat jalan menuju lokasi yang menjadi cikal bakal penyakit amnesianya. Dalam pengawasan dokter saja kakaknya masih terlihat kesakitan dan menderita, lalu apa jadinya kalau sampai di biarkan masuk ke ingatan itu tanpa ada ahli yang menemani? Bisa gawat nanti.


“Halo, Tuan Erzan. Ada apa? Apakah Tuan Gavriel sudah kembali ke rumah?” tanya Wildan dari dalam telepon.


“Wil, seseorang melihat Kak Gavriel pergi menuju jalan tempat dia pernah di culik dulu. Kau berkendaralah pelan-pelan. Siapa tahu kau bisa bertemu Kak Gavriel di jalanan,” jawab Erzan dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.


Dan begitu Erzan selesai bicara, dia di kejutkan oleh suara teriakan dari dalam telepon. Sontak saja hal itu membuatnya reflek berdiri sehingga membuat kedua orangtuanya kaget setengah mati.


“Tidak tahu, Ayah. Wildan tiba-tiba saja berteriak dan panggilannya langsung dimatikan,” jawab Erzan bingung dan juga cemas memikirkan apa yang membuat Wildan berteriak sampai sekencang itu. Dan di dalam benaknya kini mulai timbul beberapa pemikiran mengerikan tentang kakaknya yang mungkin saja telah menjadi korban kejahatan orang lain. Ah, ya ampun. Membayangkan kemungkinan seperti ini membuat Erzan jadi resah sendiri. Dia lalu memutuskan untuk pergi saja bersama penjaga yang tadi datang melapor.


“Ibu ikut!” teriak Helena sambil menyeka air mata. Tubuhnya memang lemas, tapi itu tak membuatnya menyerah.


“Ibu dan Ayah di rumah saja. Aku janji aku akan membawa Kak Gavriel pulang dalam keadaan selamat. Oke?” bujuk Erzan tak membiarkan sang ibu untuk ikut. Dia khawatir.


“Tapi Er, Ibu ….


Drrttt drrrtttt


Ponsel Erzan kembali berdering. Namun kali ini bukan Wildan yang menelpon, tapi Briana. Segera dia mengangkatnya.


“Halo, Bri? Ada apa?”

__ADS_1


“Erzan, kenapa saat aku menghubungi nomornya Wildan yang keluar adalah suara perempuan? Lu sedang berada di tempat prostitusi ya?”


Biji mata Erzan seperti akan terlempar keluar begitu mendengar cecaran Briana. Untung dia tidak menyalakan loudspeaker. Kalau iya, di jamin ayah dan ibunya pasti akan terkena serangan jantung. Tak mau ada salah paham, Erzan memilih untuk memberitahu Briana saja kalau kakaknya hilang dan besar kemungkinan suara wanita yang di dengar olehnya merupakan sosok penolong atau malah penjahat yang menjarah ponsel Wildan dari tangan sang kakak.


“Bri, tolong kau jangan salah paham dulu. Sekarang keadaan di sini sedang panik. Kak Gavriel hilang,” ucap Erzan. “Tapi tadi Wildan seda ….


Klik. Panggilan terputus begitu saja sebelum Erzan menyelesaikan perkataannya. Matilah. Ninja warior itu pasti mengamuk. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


“Kenapa dengan Briana, Er?” tanya Dary penasaran.


“Dia mengira Kak Gavriel sedang berada di tempat prostitusi karena saat Briana menelponnya yang menjawab adalah seorang perempuan,” jawab Erzan yang malah kelepasan bicara. Setelahnya dia diam termangu. “Kira-kira siapa ya wanita itu, Ayah. Kenapa perasaanku jadi tidak tenang begini. Kalau wanita itu adalah pencuri, bahaya sekali jika dia sampai melihat video Briana yang sedang kegatalan itu. Benar tidak?”


Rasanya Dary dan Helena ingin sekali membotaki kepala Erzan yang malah sibuk memikirkan orang lain alih-alih memikirkan keadaan kakaknya. Kesal, Dary lalu menjewer telinganya dengan kuat. Anak ini benar-benar ya. Sudah tahu semua orang sedang cemas, masih saja dia bercanda. Astaga.


“Ayah, kenapa menjewerku. Sakitt!” keluh Erzan tanpa berani memberontak. Dia sadar sekali kalau kekerasan ini di sebabkan oleh perkataannya barusan. Mau bagaimana lagi, memang itulah yang dia khawatirkan.


“Kau harusnya paham kalau sekarang bukan waktunya untuk bercanda. Sudah tahu semua orang sedang panik memikirkan kakakmu, bisa-bisanya ya kau malah mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting. Jadi jangan salahkan Ayah menghukummu!” omel Dary tak habis pikir dengan kelakuan putra bungsunya.


“Dary, Erzan, cukup. Sekarang lebih baik kita semua pergi menyusul Wildan saja. Ibu yakin Gavriel pasti sedang dalam bahaya. Ayo!”


Tanpa menunggu sang suami melepaskan jeweran dari telinga putranya, Helena sudah lebih dulu berlari keluar. Namun karena kondisi tubuhnya yang masih sedikit lemas membuatnya hampir jatuh tersungkur jika tidak ada penjaga yang sigap menangkap tubuhnya.


“Hati-hati, Nyonya. Anda baru saja sadar. Pelan-pelan saja jalannya,” ucap penjaga khawatir.


“Terima kasih,” sahut Helena lirih. Dia kemudian menoleh ke belakang. “Jika gara-gara kalian putraku sampai kenapa-napa, maka malam ini akan menjadi malam terakhir kalian bisa bertemu denganku. Paham?”


Secepat kilat Erzan dan ayahnya langsung berlari menyusul sang ibu yang berjalan dengan dipapah oleh penjaga. Oh, ayolah. Ancaman yang dilontarkan oleh wanita ini sangatlah mengerikan. Terlebih lagi bagi sang ayah. Jadilah mereka tak lagi berani membuat keributan sampai mereka semua akhirnya pergi menuju lokasi di mana Wildan berada.


***

__ADS_1


__ADS_2