Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Sandiwara


__ADS_3

Sementara itu Gavriel yang baru saja sampai di rumah langsung naik ke ranjang kemudian meminta Wildan untuk menyelimutinya dengan benar. Nyonya Helena yang melihat hal itupun merasa heran sekali. Dia lalu mengintip dari depan pintu kamar yang di biarkan terbuka, sudah kapok jika harus melakukannya lewat jendela. Gara-gara keingin-tahuannya itu, Helena terjatuh dari lantai dua setelah kakinya salah menginjak tangga. Dan gara-gara hal itu pula sekarang pinggang Helena menjadi sakit sekali. Mungkin tulangnya geser karena posisi jatuh yang sangat tidak estetik.


"Sayang, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Dary terheran-heran melihat kelakuan istrinya. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja istrinya mencurigai Gavriel. Bahkan wanita ini kemarin sempat jatuh dari tangga gara-gara usil ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan putra mereka.


"Jangan berisik, Dary. Nanti Gavriel tahu kalau aku sedang mengintip," jawab Helena setengah berbisik.


Dary menghela nafas. Dia lalu ikut mengintip di samping Helena sembari menunjuk daun pintu yang sudah terbuka.


"Bagaimana mungkin mereka tidak tahu kalau celah yang kau gunakan untuk mengintip terbuka selebar ini, sayang? Gavriel dan Wildan tidak buta. Mereka pasti sudah mengetahuinya sejak awal!"


Helena memperlihatkan cengiran kecil di bibirnya setelah mendengar ucapan Dary. Benar juga. Kenapa dia tidak menyadarinya ya? Sambil menggaruk belakang kepala, Helena memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar saja. Sekalian dia ingin bertanya ada apa pada kedua pria yang masih sibuk membenahi selimut.


"Gavriel, Wildan. Ada apa ini?"


Wildan menoleh. Dia kemudian mundur selangkah untuk memberi ruang pada Nyonya Helena. Sedangkan Gavriel, dia tampak menghela nafas. Gavriel sibuk memikirkan cara agar sang ibu tidak menaruh curiga.


"Oh, Ibu tahu. Kau sedang pura-pura sakit ya?" tanya Helena sambil memicingkan mata.


"Bu, memang benar kalau aku sedang berpura-pura sakit. Dan ini aku lakukan supaya Briana mau datang menjengukku. Awalnya aku hanya bercanda dengan menggodanya kalau aku sedang tidak sehat, tapi siapa yang menyangka kalau Briana akan langsung meluncur kemari. Makanya aku dan Wildan jadi kalang kabut seperti ini!" jawab Gavriel pasrah. Dia tahu ibunya memihak Briana.


"Benarkah? Jadi sekarang Briana akan datang ke rumah ini lagi ya?"


Tanpa di nyana, Helena bergegas menarik kursi kemudian menyeretnya ke samping ranjang. Setelah itu dia duduk di sana lalu mencolok matanya sendiri. Gavriel, Wildan, dan juga Dary kaget setengah mati melihat kelakuan wanita satu ini. Dan baru juga mereka ingin bertanya, sebuah isak tangis terdengar memenuhi sudut kamar.


"Hiksss, Gavriel. Tolong jangan tinggalkan Ibu, Nak. Ibu tidak sanggup jika harus kehilanganmu." Helena histeris sambil menyeka air mata yang membanjir di wajah. Dia sama sekali tak mempedulikan raut syok ketiga pria yang ada di sana.


"Ibu?" Gavriel menghela nafas berat. Tangannya nampak mengelus dada. Mencoba sabar melihat kelakuan ibunya.


"Iya, sayang. Ada apa?" sahut Helena masih sambil terisak.


"Aku ini hanya pura-pura sakit, tapi kenapa Ibu berlebihan sekali sandiwaranya? Aku belum mati, Ibu. Janganlah Ibu menangis seperti itu!"


Helena terkesiap kaget. Sedetik setelahnya dia meringis, merasa malu setelah di tegur oleh Gavriel. Di belakang Helena, terlihat Wildan dan Dary yang sedang mati-matian menahan tawa mereka. Sungguh, mereka tidak paham dengan cara berpikir wanita ini. Bisa-bisanya mencolok matanya sendiri supaya di anggap natural saat bersandiwara. Kalau saja ada sutradara yang melihatnya, di jamin wanita ini akan langsung ditawari pekerjaan sebagai pemain film. Sungguh.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian terdengar suara gaduh dari luar kamar. Gavriel yang tahu kalau Briana sudah datang segera meminta semua orang untuk menjalankan tugas masing-masing. Tak lupa juga Gavriel mengingatkan ibunya agar jangan menangis seperti tadi. Dia takut hal tersebut akan mengundang kecurigaan Briana. Tahu sendiri kan betapa tajam insting kekasihnya itu? Hmmm.


"Lu, kau kenapa?" tanya Briana sambil berlari masuk ke dalam kamar. Dan langkahnya langsung terhenti saat mendapati mata Bibi Helena yang sedikit sembab. Fiks, wanita ini baru saja menangis.


Julia yang juga sedang berlari tanpa sengaja menabrak punggung Briana. Dia jatuh terduduk di lantai sambil bernafas terengah-engah.


"Uhhh, sakit sekali pantatku. Tulangnya geser tidak ya?" gumam Julia.


"Lu, k-kau baik-baik saja, kan? Dan Bibi Helena, kenapa kau menangis? Apa yang terjadi?" tanya Briana dengan suara sedikit tercekat. Dia lalu melangkah pelan menuju ranjang tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Lu yang terbaring dengan mata terpejam. "Lu tidak mati, kan?"


"Tidak kok, dia masih hidup," jawab Helena pura-pura sedih.


"Kalau tidak mati lalu kenapa matanya tertutup seperti itu?"


"Dia hanya kelilipan,"


Dary berdehem.


Fyuhhh, untung Dary berdehem. Kalau tidak, sandiwara ini pasti ketahuan. Ya ampun ....


"T-tapi kenapa Lu bisa kesakitan? Apa dia tak sengaja mengingat sesuatu tentang masa lalunya?"


Briana segera meraih tangan Lu kemudian menggenggamnya dengan erat begitu dia duduk di sisi ranjang. Hatinya diselimuti ketakutan yang sangat besar. Takut kalau-kalau pria ini tidak mau bangun lagi.


Saat Helena ingin menjawab, Wildan memberi kode agar jangan menganggu dulu. Setelah itu Wildan menghela nafas panjang saat merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Pasti si wanita berbulu srigala. Haihhh.


"Hai, Wildan. Malam ini kau tampan sekali," sapa Julia setengah berbisik. Hatinya kembang kempis sendiri begitu melihat pria pujaannya ada di sini. Julia sampai lupa kalau tadi sedang mengkhawatirkan apakah tulang pantatnya bergeser atau tidak.


"Julia, bisakah jangan merusuh dulu? Tuan Gavriel masih belum sadar sampai sekarang, tolong jangan mencari masalah. Mengerti?" tegur Wildan agar ngeri pada wanita ini. Dia takut diterkam tiba-tiba.


"Jangan khawatir, Lu itu tahan banting. Dia tidak akan mungkin mati semudah itu. Apalagi di sebelahnya ada Briana. Aku yakin Lu pasti akan memilih bernegosiasi dengan malaikat yang datang untuk mencabut nyawanya. Dia mana mungkin rela meninggalkan kekasihnya begitu saja," sahut Julia dengan santainya.


Wildan kicep. Sedangkan Tuan Dary dan Nyonya Helena, kedua orang ini nampak membelalakan mata saking terkejutnya mendengar omongan Julia. Akan tetapi mereka sama sekali tak bersuara karena takut menganggu Briana yang sedang bersedih.

__ADS_1


Julia, kau benar-benar kurang ajar sekali. Kau sadar tidak kalau omonganmu itu hampir membuatku tersedak. Sandiwaraku bisa terbongkar kalau itu sampai terjadi. Bagaimana sih.


"Lu, bangunlah. Sekarang aku sudah ada di sini. Tolong jangan menakutiku. Ya?" bujuk Briana hampir menangis.


"Ekhmmm, sepertinya di ruangan ini terlalu banyak orang. Bagaimana kalau kita semua keluar saja supaya Tuan Gavriel bisa lebih banyak menghirup udara yang bersih. Dengan begitu beliau bisa secepatnya sadar," ucap Wildan membuka ruang untuk atasannya berduaan dengan Nona Briana. Sekalian dia ingin pulang karena takut pada Julia. Wanita srigala ini semakin menempel saja padanya.


"Ide bagus. Ayo sayang kita keluar. Biar Briana saja yang menemani Gavriel di sini. Ayo!" sahut Dary tanggap akan maksud tujuan Wildan. Segera dia menggandeng tangan Helena dan mengajaknya keluar meninggalkan kamar.


Julia yang melihat Wildan keluar buru-buru mengikutinya. Dia seketika lupa dengan rencana penggerebekan yang gagal dilakukan karena Lu yang tiba-tiba jatuh sakit. Sambil tersenyum-senyum tidak jelas, Julia mengikuti Wildan yang sedang berjalan menuju mobil. Dia lalu mengerutkan kening.


"Wildan, kau mau pergi kemana?" tanya Julia.


"Aku mau pulang." Wildan menjawab singkat. "Nona Briana sudah ada di sini untuk menemani Tuan Gavriel. Jadi lebih baik aku pulang saja untuk beristirahat."


"Aku ikut ya?"


"Tidak boleh!"


"Kenapa tidak boleh?"


"Karena Wildan sudah menikah!"


Sebuah suara tiba-tiba menyahut perkataan Julia yang ingin ikut pulang bersama Wildan. Erzan yang baru saja sampai di rumahnya tak sengaja melihat wanita ini yang sedang mengekori asisten kakaknya. Benar-benar wanita gatal. Huh.


"Halah, itu fitnah. Kau pikir aku akan percaya pada kata-katamu, hah? Tidak akan. Aku tahu kau hanya bicara omong kosong saja! Wildan belum menikah. Iya kan, Wil?"


Ngueeenggg


Julia hanya bisa terdiam melihat mobil Wildan yang sudah berlalu pergi dari hadapannya. Dia tidak menyangka pria itu akan tega meninggalkannya seperti ini. Dengan wajah yang di penuhi awan mendung, Julia kembali masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan keberadaan Erzan yang sedang tersenyum aneh sambil bersedekap tangan.


"Sudah di beritahu yang sebenarnya malah tidak percaya. Aku jamin nanti kau pasti akan sakit hati sekali saat tahu istrinya Wildan melahirkan. Dasar wanita bodoh. Huh!" gumam Erzan sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Dia lalu acuh saja melihat Julia yang sedang pura-pura menangis di ruang tamu. Drama.


***

__ADS_1


__ADS_2