
"Aku pulang dulu ya? Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Mengerti?" ucap Gavriel sembari mengusap lembut pipi Briana. Dia kemudian tersenyum saat kekasihnya ini menganggukkan kepala. "Manis sekali. Aku jadi malas pulang."
"Menginap saja kalau begitu," sahut Briana.
"Sebenarnya aku ingin, tapi tak enak dengan para penjaga yang mengawasi tempat ini."
Sebelah alis Briana terangkat ke atas saat mendengar perkataan Gavriel. Oh, jadi para penjaga itu masih punya nyali ya dengan diam-diam mengawasi tempat tinggalnya? Cari mati. Briana benci sekali diperlakukan seperti ini.
"Jangan marah. Mereka hanya melakukan tugas dari Ayahmu. Anggap saja mereka tidak ada. Ya?" Gavriel mencoba membujuk. Dia sudah sangat hafal dengan perangai Briana yang pastinya akan langsung menghampiri para penjaga itu kemudian menghajar mereka jika tidak segera di hentikan.
"Kalau kau memintaku agar menganggap mereka seperti tidak ada lalu kenapa kau merasa sungkan pada mereka? Aneh!" tegur Briana sambil mendengus marah. Kesal juga dia lama-lama.
"Sayang, jangan salah paham dulu. Walaupun kita sudah pernah tinggal seatap, di mata Ayahmu aku tetaplah pria asing yang tidak di izinkan untuk dekat-dekat dengan anaknya. Sebagai orangtua, aku jelas paham seperti apa kekhawatiran mereka. Jadi sebisa mungkin aku ingin menghargai mereka agar ke depannya nanti jalan kita tidak dipersulit," sahut Gavriel dengan sabar menjelaskan.
"Tapikan kau tidak pernah berbuat macam-macam padaku, Gav."
"Memang iya, tapi bukan berarti tidak."
"Maksudnya?"
"Kalau ada kesempatan, di tambah ada setan lewat, kenapa tidak melakukannya? Aku ini laki-laki normal, sayang. Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi meskipun aku selalu mengatakan akan menjaga kehormatanmu sampai tiba waktunya untuk aku mengambil hakku!"
Blussshh
Pipi Briana merona mendengar penuturan Gavriel. Padahal ini bukan yang pertama pria ini berucap demikian, tapi tetap saja hatinya berdebar kencang saat mendengarnya. Briana normal, kan?
"Wajahmu memerah. Kau sedang membayangkan sesuatu yang erotis ya?"
"Iyalah. Kenapa memangnya?" jawab Briana gamblang mengakui. "Kau kekasihku, dan kita sudah sama-sama dewasa. Apa salahnya jika aku berpikiran erotis? Yang pentingkan aku tidak memintamu untuk melakukannya."
"Kalau diminta aku juga sangat mau melakukannya untukmu, sayang," sahut Gavriel seraya mengerlingkan mata. Dia kemudian tertawa saat Briana dengan kejam meninju perutnya. "Just kidding. Seperti yang di awal aku katakan kalau aku akan menjaga kesucianmu sampai kita menikah. Aku tidak akan melanggar janji itu, sayang. Sungguh!"
"Iya aku tahu kau tidak akan pernah melanggarnya." Briana tersipu. "Aduuhh, kenapa aku jadi kegatalan begini ya. Kata-katamu membuat hatiku meleleh, Gav."
"Benarkah?"
"Iya,"
"Meleleh seperti apa, sayang? Lava gunung berapi atau es krim?" ledek Gavriel dengan semangatnya meladeni omongan nyeleneh Briana.
"Karena sekarang kita belum menikah, maka lelehannya masih seperti es krim. Beda cerita kalau kita sudah menikah. Lelehannya akan sebesar lava gunung berapi yang akan meletus," celetuk Briana dengan mesumnya. Ayolah, dia bukan lagi anak remaja. Briana sudah dewasa, bukan hal yang aneh juga jika membicarakan sesuatu yang berbau kemesuman. Benar tidak?
__ADS_1
Gavriel tertawa mendengar celetukan Briana yang sangat mengocok perut. Ada-ada saja jawaban kekasihnya ini. Masih dengan tertawa, tangan Gavriel beralih mengelus rambut Briana yang dibiarkan terurai. Wanita ini ... dia harus segera menjadikannya sebagai milik pribadi. Gavriel tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Sungguh.
"Besok malam kau mau tidak pergi bersamaku ke suatu tempat?"
"Kemana?" Kening Briana mengerut. Penasaran mengapa pria ini tiba-tiba meminta izin saat ingin mengajaknya pergi.
"Kemana ya?"
"Ck, jangan main-main, Gavriel."
"Hehehe,"
Gemas, Briana menusuk pelan dada Gavriel yang kekar. Dia kemudian meng*lum senyum saat pria ini menatapnya lekat.
"Mau kemana?" setengah bermanja Briana bertanya. Dia penasaran sekali kemana pria ini ingin membawanya pergi.
"Rahasia," sahut Gavriel enggan memberitahu.
"Pelit sekali sih,"
Gavriel terkekeh.
"Sayang, kau tahu tidak kalau aku merasa beruntung sekali karena Tuhan telah mempertemukan kita. Rasanya semua ini seperti khayalan yang nyata. Bisa memilikimu, juga bersenda gurau denganmu, semua itu bagaikan mimpi di siang bolong. Hari-hariku menjadi sangat berwarna setelah aku mengenalmu. Terima kasih ya karena malam itu kau dengan suka rela bersedia menolongku yang sedang hilang arah. Aku sayang sekali padamu," ucap Gavriel tiba-tiba bersikap romantis. Entahlah, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Terlalu bahagia dia memiliki wanita ini.
Sebenarnya Briana cukup terhanyut akan nuansa romantis yang pria ini ciptakan, tapi lama-kelamaan Briana jadi merasa kalau Gavriel seperti sedang melakukan salam perpisahan. Dia takut menjadi janda sebelum sempat dinikahi oleh Presdir tampan ini. Kan tidak lucu.
"Selama kau bersamaku, maka semuanya akan baik-baik saja. Jangan takut. Oke?" sahut Gavriel. Setelah itu dia melihat jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan sudah waktunya untuk dia pergi dari sana. "Aku pulang dulu ya. Ini sudah malam dan kau butuh waktu untuk istirahat. Jangan lupa kalau besok aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Bersiap dan berdandanlah secantik mungkin. Ya?"
"Kenapa harus berdandan? Tidak bisa ya dengan penampilan yang biasa saja?"
"Tidak bisa. Harus cantik dan juga elegan."
"Why?"
"Tidak ada why-whyan. Cukup lakukan saja apa yang kuperintahkan. Mengerti?"
"Baiklah."
Cup
Lagi-lagi pipi Briana merona saat Gavriel mencium keningnya. Sambil menggigit bibir, Briana membuat pola aneh di tanah menggunakan sepatunya. Dia malu sekali.
__ADS_1
"Astaga, lama-lama aku bisa gila!" ucap Gavriel seraya mengusap wajah. Tingkah malu-malu Briana membuatnya jadi enggan untuk pulang.
"Kau kenapa, Gav?" kaget Briana.
"Aku malas pulang, sayang. Sikapmu yang seperti putri malu membuatku jadi tidak ingin jauh darimu. Bagaimana ini?"
"Ya sudah menginap saja di sini. Ayo masuk!"
Tanpa pikir panjang lagi Briana segera menarik tangan Gavriel dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah itu dia mengunci pintu kemudian berbalik dan menatap keadaan rumahnya. Rapi, terutama bagian ranjangnya. Hehehe.
"Mau mencicil dulu tidak?" tanya Briana menawarkan diri.
"Memangnya boleh?" sahut Gavriel sambil menelan ludah. Bohong besar kalau dia tidak menyadari adanya undangan di balik pertanyaan Briana barusan.
"Ya kalau kau tidak takut ditembak oleh Ayahku maka silahkan saja."
Glukk
Bayangan wajah Tuan Hendar yang sedang marah membuat Gavriel menelan ludah. Segera dia menggelengkan kepala dengan tujuan agar pikirannya bisa kembali jernih. Munafik jika Gavriel tidak tergoda akan tawaran yang Briana ucapkan barusan. Dia sangat tergoda malah. Akan tetapi begitu teringat siapa ayahnya, seketika nyali Gavriel langsung menciut. Gavriel putuskan untuk tidak menantang maut. Berusaha sekuat mungkin menahan desakan gelenyar n*fsu yang hampir menembus ubun-ubunnya.
"Kenapa diam? Takut ya?" ejek Briana sambil menahan tawa. Menyenangkan sekali bisa mengerjai kekasihnya yang alim ini. Hehehe.
"Sayang, sudah ya jangan menggodaku lagi. Aku takut khilaf. Yang mana akan berakhir mati di tangan Ayahmu," sahut Gavriel pasrah. Wajahnya tampak memelas.
"Tidak apa-apalah khilaf sedikit. Aku janji tidak akan mengadu pada Ayah."
Setelah berkata demikian Briana langsung mengalungkan tangan ke leher Gavriel. Di tatapnya wajah tampan pria ini yang terlihat sedikit memerah.
"Kalau sudah tidak tahan ya segera dilamar, Gav. Julia pernah bilang padaku tidak baik menahan lahar susu itu di usia yang sudah matang. Jadi aku sarankan sebaiknya kau segera melamarku saja. Dengan begitu kau tidak akan merasa tersiksa lagi seperti ini. Mengerti?"
Sudut bibir Gavriel berkedut. Benar-benar wanita langka. Sekarang Gavriel tahu kenapa tadi Briana terus menggodanya. Rupanya wanita ini sedang memberi kode. Hmmm.
Briana-Briana, kenapa sih selalu saja ada sikap nyeleneh dari cara berpikirmu. Tanpa harus kau memberi kode aku memang akan segera melamarmu, sayang. Dan rencana manis ini akan terjadi besok malam. Aku sudah tidak sabar ingin segera memilikimu seutuhnya. Aku ingin kau selalu berada di dekatku selamanya.
"Gavriel, kenapa diam saja sih. Kau sudah tidak mencintaiku lagi ya?" rajuk Briana kesal saat perkataannya tak di gubris oleh Gavriel. Wajahnya langsung berubah masam.
"Dasar wanita nakal. Sekarang kita istirahat ya. Aku lelah," sahut Gavriel sengaja tak mau memberikan respon. Biar saja. Siapa suruh berani mengerjainya, ya dia balaslah.
Briana mengerucutkan bibir. Setelah itu dia patuh ketika Gavriel mengajaknya berbaring di ranjang.
Responnya Gavriel dingin sekali. Dia tidak mungkin tidak mempunyai keinginan untuk melamarku, kan? Awas saja jika sampai benar. Akan kuminta Ayah menculik dan menikahkan kami secara paksa. Huh!.
__ADS_1
***