
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Biar aku saja,” ucap Lu sembari menahan tangan Briana yang hendak mengikat tali sepatu. Setelah itu Lu berjongkok sambil tersenyum kecil melihat Briana yang terbengang dengan mulut ternganga. “Jangan melamun. Aku pernah dengar kalau ada seorang gadis melamun di pagi-pagi begini akan mudah dirasuki setan.”
“Sialan.”
Briana mengumpat. Dia kemudian menunduk memperhatikan tangan Lu yang mulai mengikat tali sepatunya. Tanpa di sadari oleh keduanya, saat ini Lu dan Briana sama-sama sedang meng*lum senyum. Mungkin Lu mengakui di dalam hati kalau dia jatuh cinta pada wanita yang telah menolongnya. Akan tetapi Briana, sampai detik ini dia masih belum bersedia untuk berdamai dengan hatinya. Meski sikap dan perlakuan Lu sudah berulang kali membuat hatinya meleleh, tapi Briana masih belum mau mengakui kalau sebenarnya dia telah memiliki rasa ketertarikan terhadapnya. Entah karena Briana yang masih polos dalam hal percintaan atau karena dia yang keras kepala, penulis tidak tahu. Yang jelas Briana masih enggan untuk mengakui perasaannya terhadap Lu.
“Lu?”
“Ya. Ada apa?"
Lu mendongak. Pandangan matanya kemudian bertemu dengan pandangan mata Briana. Lu lagi-lagi tersenyum, bahagia karena pagi ini harinya di sambut dengan debaran jantung yang sangat kuat saat bertatapan mata dengan gadis yang di sukainya ini. Melihat Briana yang terlihat ragu untuk bicara, tanpa ragu Lu mengusap pipinya dengan lembut. “Ada apa, Briana? Kau ingin mengatakan apa padaku?”
“Em itu … ini tentang ingatanmu,” jawab Briana sambil mengigit bibir bawahnya. “Jika seandainya nanti ingatanmu tiba-tiba pulih, apa kau akan menuntutku karena sudah memperlakukanmu dengan buruk? Maksudnya begini. Aku penasaran apakah sampai sekarang kau masih belum mengingat apapun tentang masalalumu atau bagaimana. Bukannya aku ingin mengusirmu, tapi kau sudah berada di sini hampir dua bulan lamanya. Apa kau sama sekali tidak mengingat siapa keluargamu? Seujung kuku saja,"
“Briana, bukankah waktu itu aku sudah pernah memberitahumu kalau aku akan merasa pusing dan juga sesak nafas setiap kali mencoba mengingat masalaluku? Aku juga ingin sembuh dan bisa kembali menjalani hari-hari dengan normal seperti dulu. Tapi ya itu, aku tidak sanggup menahan rasa sakitnya saat aku memaksakan diri untuk mengingat sesuatu. Sungguh. Aku tidak bohong,” sahut Lu seyuyur-yuyurnya.
“Hmmmm, ya sudahlah kalau begitu. Aku juga tidak mau direpotkan jika kau sampai jatuh sakit gara-gara memaksakan diri untuk mengingat masalalu. Kau tahu sendirikan kalau aku ini miskin. Lambungku bisa meletus kalau uang makanku sampai digunakan untuk membayar biaya rumah sakitmu,” ucap Briana sedikit kejam. Padahal di dalam hatinya, saat ini Briana tengah meramalkan doa agar Lu tidak bisa lagi mengingat lagi masalalunya. Entah apa yang terjadi Briana tiba-tiba saja merasa tak rela jika seandainya Lu sampai pergi meninggalkannya. Aneh ‘kan?
Haisshhh, kau gila apa bagaimana, Briana. Bukankah kemarin-kemarin kau menganggap kalau Lu itu adalah beban? Kenapa sekarang kau malah berputar haluan dengan tidak rela jika dia pergi? Otakmu sudah rusak ya?
Alih-alih merasa tersinggung, Lu malah terkekeh mendengar ucapan Briana yang begitu perhitungan kepadanya. Sambil lanjut mengikat tali sepatu, Lu memberikan pengertian pada Briana kalau dia akan berusaha untuk tidak menyusahkannya lagi.
“Maaf ya kalau aku masih belum bisa membantu perekonomian hidupmu. Sebenarnya aku juga ingin membantumu mendapatkan uang, Bri. Tapi sampai sekarang aku masih belum menemukan lowongan pekerjaan. Pekerjaan apa saja aku tidak masalah. Asalkan uangnya halal, aku pasti akan melakukannya.”
__ADS_1
“Jangan!”
Briana menelan ludah. Dia lalu mengusap tengkuknya karena tak sengaja kelepasan bicara.
“Jangan?” Lu meng*lum senyum. “Kenapa jangan? Bukannya dengan aku bekerja itu akan membantu mengurangi bebanmu ya?”
Di tanya seperti itu oleh Lu membuat Briana jadi salah tingkah sendiri. Bagaimana tidak salah tingkah. Lu membantu di café saja itu sudah membuat Briana merasa resah. Apa jadinya nanti jika Briana sampai membiarkan Lu bekerja di tempat lain. Bisa-bisa Briana akan di pusingkan dengan hal-hal buruk yang tentunya berhubungan dengan wanita. Tinggal di rumahnya saja Lu sudah beberapa kali membuat Briana menerima protes dari para pria yang tinggal di sini, apalagi membiarkannya tebar pesona di luar. Tidak-tidak. Hal ini tidak boleh sampai terjadi.
“Ekhmmmm!” Briana berdehem. “Memang benar dengan kau bekerja itu bisa membantu meringankan bebanku. Tapi jika nantinya aku harus menghadapi para gadis yang tergila-gila padamu, lebih baik kau tetap membantuku bekerja di café Julia saja. Aku tidak mau ya berurusan dengan mereka-mereka yang merasa terganggu dengan ketampananmu!”
“Jadi aku tampan ya?” goda Lu. Dia kemudian bertopang dagu sambil menatap Briana setelah selesai mengikatkan tali sepatunya. “Apa kau sedang mengkhawatirkan aku?”
“Ten-tentu saja aku khawatirlah. Memangnya siapa yang akan bertanggung jawab padamu kalau bukan aku hah! Wajarkan kalau aku berkata seperti ini?” sahut Briana tergagap. Wajahnya langsung memanas saat Lu terus menatapnya sambil menyunggingkan senyum.
Sialan. Kenapa pria idiot ini manis sekali. Ya ampun, membuat orang jadi salah tingkah saja.
“Lalu aku tampan tidak?” tanya Lu.
“Jadi aku ini tampan atau tidak, hem?”
“Apaan sih!”
Kesal karena terus di desak, Briana sedikit mendorong Lu ke samping kemudian melangkah pergi. Dia berjalan dengan langkah yang cukup lebar, membiarkan Lu tertinggal di belakang. Di goda seperti itu oleh Lu membuat Briana jadi salah tingkah antara malu dan juga kesal. Sungguh.
“Briana-Briana, kenapa kau manis sekali sih,” gumam Lu sebelum akhirnya berlari menyusul Briana yang sudah pergi lebih dulu.
Karena suasana hatinya sedang baik, Briana memutuskan untuk naik bus saja. Dia lalu menempelkan kartu untuk membayar dua orang. Setengah menahan senyum, Briana menyenggol perutnya Lu yang terlalu menempel ke punggungnya. Jujur, dia merasa aneh.
“Ini tempat umum, Lu. Kau jangan mesum,” bisik Briana setelah dia dan Lu duduk di kursi.
__ADS_1
“Apa ini artinya aku boleh berbuat mesum jika kita sedang berada di tempat sepi?” tanya Lu dengan sengaja menggoda Briana. Dia lalu melenguh cukup kuat saat Briana tiba-tiba mencubit pahanya. “Awwwww!”
“Maaf-maaf. Temanku pantatnya di sengat lebah. Jadi dia berteriak karena kaget,” ucap Briana meminta maaf kepada para penumpang bus yang tengah menatapnya dengan pandangan heran gara-gara suara teriakan Lu. Memang benar-benar ya pria idiot satu ini. Kelewatan.
Setelah para penumpang tak lagi memperhatikannya, Briana langsung menoleh ke samping. Dia memicingkan mata ke arah Lu yang masih meringis kesakitan.
“Masih untung aku hanya mencubit kulit pahamu. Kalau kita sedang di café, aku pasti sudah merontokkan semua bulu yang ada di tubuhmu. Coba saja kalau tidak percaya. Bicaralah semesum mungkin kalau kau mau merasakan perawatan waxing gratis. Heh!”
“Bri, pahaku sakit sekali. Aku rasa cubitanmu akan membengkak dan meninggalkan bekas lebam,” bisik Lu masih sambil mengusap-usap pahanya yang terasa sangat panas.
“Benarkah?”
Kekesalan Briana langsung musnah. Antara sadar dan tidak sadar, tangan Briana bergerak mengusap pahanya Lu yang tadi di cubitnya. Tak menghiraukan keberadaan mereka yang tengah duduk di dalam bus, Briana meniup pahanya Lu dari jarak yang tidak terlalu jauh.
“Apa begini bisa mengurangi rasa sakitnya?” tanya Briana seraya menampilkan ekpresi penuh penyesalan. Sepertinya tindakannya tadi agak keterlaluan. Briana jadi merasa berdosa.
“Lumayan. Rasa sakitnya jadi agak berkurang setelah kau mengusap dan meniupnya,” jawab Lu sambil terus memperhatikan Briana. Dia terkesima melihat perhatian yang di tunjukan olehnya. Sikap Briana memang cetus, tapi gadis ini memiliki hati yang sangat lembut. Hal ini membuat Lu jadi semakin menyukainya.
“Maaf,”
“It’s oke.”
“Aku tidak sengaja melakukannya,” ucap Briana pelan.
“Iya aku tahu. Kau tidak perlu menyesalinya karena akulah yang sebenarnya bersalah. Kau tidak perlu meminta maaf,” sahut Lu maklum.
“Baguslah kalau kau sadar diri!”
Dan pada akhirnya, Briana tetaplah Briana yang cetus. Namun, kecetusannya itu sama sekali tak membuat perasaan Lu berubah. Yang ada Lu malah semakin menyukainya. Sungguh.
__ADS_1
***