
Dary dan Helena bergegas menuju mobil milik Wildan yang barusaja memasuki halaman rumah mereka. Mereka kemudian berdiri di samping mobil sambil terus melongok ke dalam dengan harapan bisa melihat wajah putra sulung mereka yang menghilang selama dua bulan. Sejak Erzan dan Wildan mengabarkan kalau Gavriel masuk ke rumah sakit, sejak saat itu pula Dary dan Helena tak bisa memejamkan mata. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Gavriel dan ingin cepat-cepat melihat keadaannya. Namun karena keadaan sedang tidak memungkinkan, terpaksa Dary dan Helena menunda keinginan mereka yang ingin datang menyusul.
“Ayah, Ibu. Kenapa kalian bertingkah seperti penjual koran di pinggir jalan?” tanya Erzan iseng setelah membuka kaca mobil. Dia kemudian terkekeh saat sang Ayah langsung memelototkan mata kepadanya. “Hehehe, bercanda, Ayah.”
“Bercanda ya bercanda, Er. Masa iya kau menyebut orangtuamu sampai seperti itu. Kau ini!” omel Dary seraya menghela nafas panjang. Dia kemudian melongok ke dalam mobil. “Apa kakakmu masih tidur?”
Erzan mengangguk. Dia kemudian keluar dan membuka pintu mobil selebar mungkin. “Pengaruh obatnya masih belum habis, Ayah. Apa kita perlu meminta penjaga untuk memindahkan Kak Gavriel ke dalam kamarnya saja?”
“Jangan!” cegah Helena dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia lalu berjalan mendekat. “Biar saja kakakmu beristirahat dulu di sini. Kasihan, nanti kepalanya pusing kalau di bangunkan paksa.”
“Baiklah kalau begitu. Ibu mau masuk?”
Dengan cepat Helena menganggukkan kepala. Setelah itu Erzan langsung mengulurkan tangan membantu sang ibu masuk ke dalam mobil dan membiarkannya duduk di samping sang kakak yang masih terlelap.
Terharu, itu perasaan yang Helena rasakan begitu menatap wajah putranya yang sangat dia rindukan. Akhirnya, akhirnya setelah hampir dua bulan menghilang putranya bisa kembali lagi ke rumah ini. Rasanya sungguh sangat luar biasa sekali hingga membuat Helena tak kuasa menahan tangis.
“Hiksss, Gavriel anak Ibu. Ibu sangat merindukanmu, Nak. Ibu rindu sekali,” ujar Helena lirih.
__ADS_1
Melihat ibunya mulai terisak, Erzan segera mengelus pelan bahu sang ibu untuk menenangkannya. Dia tentu sangat amat mengerti betapa dua bulan kemarin kedua orangtuanya sama sekali tak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan kakaknya yang hilang dalam kondisi lupa ingatan. Jadi sangatlah wajar kalau sekarang sang ibu tak bisa menahan luapan rasa harunya. Karena sejujurnya Erzan juga merasakan hal tersebut dikala dia bertemu kakaknya. Walaupun tidak sampai menangis, tapi jauh di dalam lubuk hati Erzan dia merasakan rasa haru yang sangat luar biasa hebat. Pertama karena dia bahagia bisa menemukan saudaranya yang hilang. Lalu kedua karena dia bisa segera terbebas dari segala macam siksaan yang ada di Anderson Group. Dia adik yang sedikit luknut bukan? Tidak apa-apalah, itu masih manusiawi.. ☺
“Nyonya Helena, ini bantal untuk Tuan Gavriel. Saya khawatir lehernya akan sakit jika terlalu lama menyender ke kursi mobil,” ucap Wildan setelah membuka pintu mobil dari arah samping. Dia lalu memberikan bantal dan juga selimut yang barusaja diambilnya kepada Nyonya Helena.
“Terima kasih banyak, Wil. Kau sudah begitu perhatian pada putraku,” sahut Helena seraya menerima bantal dan selimut pemberian Wildan. Setelah itu Helena dengan sangat hati-hati mengangkat kepala Gavriel lalu meletakkan bantal di bawahnya. Masih dengan berderai air mata, Helena menyelimuti tubuh Gavriel dengan penuh sayang seolah putranya ini adalah seorang bayi. “Tidurlah yang nyenyak, sayang. Ibu akan menemanimu di sini,”
Wildan menatap wajah atasannya sejenak sebelum akhirnya dia kembali menutup pintu mobil. Setelah itu Wildan berjalan memutar menghampiri Erzan dan juga Tuan Dary.
“Wildan, terima kasih banyak karena sudah membawa Gavriel pulang ke rumah ini lagi. Tanpamu, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa,” ucap Dary sembari menepuk pundak Wildan. “Kami berhutang budi padamu, Wil.”
“Tuan Dary, tolong jangan bicara seperti itu. Saya melakukan ini semua adalah karena sudah menjadi kewajiban saya atas keselamatan Tuan Gavriel. Meski sedikit memakan waktu, tapi saya lega karena Tuan Gavriel bisa kembali ke rumah ini tanpa kekurangan sesuatu apapun. Jadi saya harap anda dan keluarga yang lain tidak bersikap sungkan terhadap saya. Bisakah?” sahut Wildan merasa tak nyaman hati mendengar perkataan Tuan Dary. Padahal yang dia lakukan bukan hal yang besar, tapi Tuan Dary sampai menyebutkan kata hutang budi. Wajarkan kalau Wildan merasa sungkan?
“Ayah, tolong Ayah jangan lupakan aku juga ya. Yang pergi menjemput Kak Gavriel tidak hanya Wildan saja, tapi aku juga. Bagaimana sih. Kenapa Ayah pilih kasih sekali!” protes Erzan merasa tak terima namanya tak di sebut. Wajahnya sampai berubah masam saking kesalnya dia terhadap perkataan sang ayah.
“Aiyohh anak ini. Begitu saja langsung merajuk!” ejek Dary sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan putra bungsunya. Merasa lucu akan kelakuan Erzan, Dary dengan sayang mengelus puncak kepalanya. Putranya ini memang sudah dewasa, tapi kelakuannya masih saja seperti kanak-kanak. Sepertinya memang benar apa kata orang kalau setua apapun usia seorang anak, mereka akan tetap bersikap layaknya bocah kecil ketika merasa tak adil atas sikap orangtuanya. Erzan contohnya. Mengemaskan sekali bukan?
“Oya, Tuan Dary. Mengenai orang yang telah merawat Tuan Gavriel tadi Tuan Gavriel sempat berpesan kepada saya dan Tuan Erzan agar tidak melakukan apapun kepadanya karena nanti beliau sendiri yang akan mendatangi kediaman Nona Briana selepas ingatan beliau kembali pulih!” ucap Wildan menyampaikan pesan atasannya. Dia tentu masih ingat akan ucapan Tuan Dary tentang keinginannya untuk bertemu dengan Nona Briana. Wildan tak ingin ada kesalahpahaman antara atasannya dengan Tuan Dary jika dibiarkan pergi menemui Nona Briana.
__ADS_1
“Oh, benarkah?” sahut Dary agak janggal mendengar perkataan Wildan. Dia kemudian melihat ke arah Helena yang tengah memandangi Gavriel sambil menangis. “Sayang, kau dengar apa kata Wildan, bukan? Kita urungkan saja ya tujuan kita untuk memboyong Briana kemari dan menjadikannya sebagai anak angkat kita?”
“A-APAA?? ANAK ANGKAT??”
Percayalah, saat ini komuk Erzan dan Wildan terlihat sangat amat buruk begitu mereka mendengar kalau Briana hendak di angkat menjadi anak di keluarga Anderson. Sungguh, mereka seperti mendapat serangan jantung dadakan mendengar hal itu. Bagaimana mungkin Briana di angkat menjadi anak di keluarga pria yang begitu ingin menjadikanya sebagai kekasih? Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi. Mereka harus menggagalkan niatan Tuan dan Nyonya Anderson yang ingin menjadikan Briana sebagai anak angkat mereka.
“Wilda, Erzan, ada apa? Apa ada yang salah dengan niatan kami?” tanya Dary bingung melihat reaksi Erzan dan Wildan begitu mendengar kalau dia dan Helena ingin menjadikan Briana sebagai anak angkat mereka.
“Ayah, kalau Ayah dan Ibu tetap ngotot ingin menjadikan Briana sebagai anak angkat kalian, maka itu sama artinya dengan kalian yang ingin membunuh Kak Gavriel secara perlahan-lahan!” jawab Erzan dengan cepat. Dia lalu mengusap wajahnya hingga memerah. Erzan frustasi. “Ayah, Briana tidak boleh menjadi anak angkat kalian. Itu bisa mendatangkan petaka!”
“Erzan, kenapa kau bicara seperti itu tentang kakakmu dan Briana? Niat Ayah dan Ibu itu baik dengan menjadikan Briana sebagai bagian dari keluarga kita. Selain karena di rumah ini tidak ada anak perempuan, juga karena kita berhutang nyawa kepadanya. Coba kau bayangkan apa yang akan terjadi pada kakakmu jika seandainya Briana tidak menolongnya. Bagaimana sih!” omel Helena jengkel mendengar penolakan Erzan.
“Tapi Ibu, Briana dan Kak Gavriel ….
“Tuan Erzan, sudah jangan diteruskan lagi. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini. Kita tunggu sampai Tuan Gavriel bangun dan memberitahukannya sendiri pada Tuan Dary dan Nyonya Helena. Oke?” lerai Wildan menahan Erzan yang ingin mendebat perkataan Nyonya Helena. Bisa panjang urusannya jika anak nakal ini tidak segera di hentikan.
“Huffftt, menyebalkan!” keluh Erzan. Dia lalu menatap sang ibu sekilas. Erzan kemudian menggumam. “Ibu belum tahu saja betapa bucinnya Kak Gavriel pada Briana. Coba saja kalau berani mengusik hubungan mereka. Aku berani memastikan kalau Kak Gavriel pasti akan langsung melarikan diri dari rumah!”
__ADS_1
Dan pada akhirnya orang yang paling menderita adalah aku. AAAAAAA, aku tidak mau. Aku menolak mati muda. Titik.
***